00:00:01
Komentar dari Menara Pengawal untuk ayat hari ini00:00:04
00:00:04
dengan terus terang mengatakan, 00:00:07
00:00:07
”Setan menggunakan cerita di film dan acara TV00:00:11
00:00:11
untuk menyebarkan cara berpikirnya.”00:00:14
00:00:14
Jadi, hamba-hamba Yehuwa harus sangat
berhati-hati sewaktu mereka memilih film00:00:22
00:00:22
atau acara televisi yang akan mereka tonton. 00:00:25
00:00:26
Nah, Menara Pengawal yang sama juga memberikan
komentar yang menarik tentang cara Setan ini.00:00:31
00:00:31
Dikatakan,00:00:32
00:00:32
”Setan tahu bahwa cerita tidak hanya menghibur kita,00:00:36
00:00:36
tapi juga mengajarkan apa yang seharusnya
kita pikirkan, rasakan, dan lakukan.”00:00:43
00:00:44
Nah, karena itu, selama ribuan tahun,
Setan menggunakan cara ini.00:00:50
00:00:50
Dan dia sudah berhasil menyebarkan
pengaruh buruk kepada banyak sekali orang. 00:00:56
00:00:57
Akibat dari pengaruh Setan itu
bisa kita lihat di Yesaya 55:7.00:01:05
00:01:05
Di situ dikatakan,00:01:07
00:01:08
”Semoga orang bejat meninggalkan jalannya
dan orang jahat berpaling dari niatnya.”00:01:15
00:01:16
Jadi, orang yang dipengaruhi oleh Setan
pikirannya akan rusak00:01:22
00:01:22
dan dia akhirnya akan menjadi
orang yang bejat dan jahat.00:01:28
00:01:28
Nah, ayat 8 dan 9 memberi tahu kita bahwa memang,00:01:33
00:01:33
cara berpikir manusia yang tidak sempurna itu
berbeda dengan cara berpikir Yehuwa. 00:01:39
00:01:39
Mari kita buka Alkitab dan baca ayat 8:00:01:42
00:01:43
”’Sebab pikiran kalian bukanlah pikiran-Ku,
dan jalan kalian bukanlah jalan-Ku,’ kata Yehuwa.00:01:49
00:01:49
’Seperti langit lebih tinggi daripada bumi,
jalan-Ku lebih tinggi daripada jalan kalian00:01:55
00:01:55
dan pikiran-Ku lebih tinggi daripada pikiran kalian.’”00:01:59
00:01:59
Jadi, orang yang disebut ”bejat”
dan ”jahat” di ayat 7 tadi00:02:03
00:02:03
mungkin awalnya bukan orang yang seperti itu.00:02:06
00:02:06
Dia hanyalah manusia yang tidak sempurna.00:02:10
00:02:10
Tapi kemudian, ada yang membuat dia
menjadi orang yang bejat dan jahat.00:02:15
00:02:15
Apa itu?00:02:17
00:02:17
Pengaruh dari Setan si Iblis. 00:02:19
00:02:20
Nah, kita semua adalah manusia yang tidak sempurna.00:02:24
00:02:24
Jadi, bagaimana caranya kita
bisa terus memiliki pikiran Yehuwa00:02:29
00:02:29
agar jangan sampai kita menjadi
orang yang bejat dan jahat?00:02:33
00:02:34
Sebenarnya, Yehuwa juga menggunakan cerita00:02:37
00:02:37
untuk mengajar kita agar memiliki cara berpikir-Nya.00:02:42
00:02:42
Di Alkitab, ada banyak sekali pengalaman
dari orang yang baik dan yang jahat.00:02:48
00:02:48
Ada juga banyak perumpamaan dan cerita
yang menyentuh hati kita.00:02:53
00:02:54
Itu membantu kita memahami berbagai prinsip
yang penting dan hukum-hukum di Alkitab00:03:00
00:03:00
sehingga kita bisa membuat keputusan yang baik
dan sesuai dengan keinginan Allah Yehuwa.00:03:06
00:03:06
Mari kita lihat satu contoh.00:03:09
00:03:09
Alkitab sering memberi tahu kita
bahwa Yehuwa suka mengampuni.00:03:13
00:03:13
Mari kita bahas soal hal itu.00:03:15
00:03:15
Kita akan baca Keluaran 34:7.00:03:21
00:03:22
Nah, perhatikan apa yang ayat ini katakan tentang Yehuwa.00:03:27
00:03:27
Katanya,00:03:28
00:03:28
Yehuwa ”menunjukkan kasih setia
kepada beribu-ribu orang.00:03:32
00:03:32
Dia mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa”.00:03:36
00:03:36
Ya, Yehuwa suka mengampuni. 00:03:39
00:03:39
Di Yesaya 1:18, ada gambaran
yang bagus soal sifat Yehuwa ini.00:03:45
00:03:45
Mari kita baca Yesaya 1:18.00:03:53
00:03:55
Ini yang Yehuwa katakan:00:03:57
00:03:57
”Mari kita selesaikan masalah di antara kita . . .00:04:01
00:04:01
Walau dosa-dosa kalian semerah darah,
itu akan dibuat seputih salju;00:04:07
00:04:07
walau itu semerah kain merah tua,
itu akan dibuat seputih wol.”00:04:13
00:04:13
Dari gambaran ini, kita bisa lihat
bahwa Yehuwa suka mengampuni.00:04:18
00:04:18
Yehuwa juga menggunakan cerita supaya kita tersentuh
dan lebih memahami sifat-Nya ini.00:04:24
00:04:24
Contohnya adalah cerita tentang anak yang hilang,00:04:27
00:04:27
yang diceritakan oleh Yesus
di Lukas pasal 15, mulai ayat 11.00:04:33
00:04:33
Kita tidak akan baca semuanya.00:04:35
00:04:35
Tapi singkatnya, ceritanya seperti ini: 00:04:38
00:04:39
Kalau kita lihat ayat 11, ada seorang pria
yang punya dua anak lelaki.00:04:44
00:04:44
Di ayat 12, anak yang lebih muda
mengambil harta bagiannya.00:04:48
00:04:48
Lalu di ayat 13, dia pergi ke negeri yang jauh,
hidup bejat, dan berfoya-foya.00:04:54
00:04:55
Di ayat 15 dan 16, dia jatuh miskin.00:04:58
00:04:59
Akhirnya, dia sadar.00:05:01
00:05:01
Lalu di ayat 17 sampai 20,
dia kembali kepada ayahnya.00:05:06
00:05:06
”Ketika dia masih jauh, ayahnya melihat dia
dan tergerak oleh rasa kasihan.00:05:11
00:05:11
Maka ayahnya berlari, lalu memeluk
dan menciumnya dengan lembut.”00:05:15
00:05:16
Nah, apa saja pelajaran
yang Yehuwa ajarkan dari cerita ini?00:05:22
00:05:23
Salah satunya, Yehuwa benar-benar ingin mengampuni.00:05:28
00:05:28
Itu memang sifat-Nya.00:05:30
00:05:30
Apa lagi pelajarannya?00:05:32
00:05:32
Orang yang melakukan kesalahan mungkin tidak
menghargai apa yang dia terima dari Yehuwa.00:05:39
00:05:39
Tapi, kita terus berharap dia akan kembali.00:05:43
00:05:43
Dan kita akan menyambut dia
kalau dia benar-benar kembali kepada Yehuwa.00:05:48
00:05:49
Orang yang melakukan kesalahan bisa berubah
dan kembali menjadi bagian dari keluarga Yehuwa.00:05:55
00:05:55
Pelajaran lainnya, kalau seseorang
mengalami keadaan yang sangat sulit,00:06:00
00:06:00
mungkin saat itulah dia sadar. 00:06:02
00:06:03
Ya, semua pelajaran bagus tadi00:06:06
00:06:06
bisa membantu kita menyesuaikan
cara berpikir kita yang tidak sempurna00:06:11
00:06:11
dengan cara berpikir Yehuwa.00:06:13
00:06:14
Nah, Terjemahan Dunia Baru
menggunakan kurang lebih 400 kata00:06:20
00:06:20
untuk menceritakan seluruh kisah ini.00:06:23
00:06:23
Tapi dari antara semua kata itu,
hanya kurang dari 10 kata 00:06:28
00:06:28
yang digunakan untuk menggambarkan
hal-hal buruk yang anak itu lakukan.00:06:32
00:06:32
Di ayat 13 dikatakan,00:06:35
00:06:35
”Dia hidup bejat dan berfoya-foya.”00:06:37
00:06:37
Lalu ayat 30,00:06:39
00:06:39
dia ’menghabiskan harta ayahnya dengan pelacur’.00:06:43
00:06:43
Jadi memang, hal-hal buruk yang anak itu lakukan
disebutkan dalam cerita ini.00:06:48
00:06:48
Tapi, itu tidak menjadi fokus utamanya,00:06:51
00:06:51
dan itu tidak digambarkan sebagai sesuatu
yang menyenangkan atau menarik.00:06:56
00:06:56
Tujuan dari cerita ini adalah untuk membantu kita
semakin dekat dengan Yehuwa00:07:01
00:07:01
dan memahami sifat-Nya yang suka mengampuni.00:07:05
00:07:05
Nah sekarang, coba bayangkan
kalau Setan yang cerita.00:07:09
00:07:09
Bagaimana dia akan menggambarkan sosok sang ayah?00:07:12
00:07:13
Mungkin sebagai orang yang kaku,
keras, dan tidak toleran.00:07:18
00:07:19
Sang ayah juga mungkin digambarkan
sebagai ayah yang suka mengekang00:07:24
00:07:24
dan membuat hidup anaknya tidak bahagia.00:07:27
00:07:28
Bisa jadi, dalam cerita itu akan ada
banyak kata-kata yang kasar dan kotor.00:07:34
00:07:35
Setan mungkin juga akan menggambarkan hal-hal cabul
yang anak itu lakukan secara terperinci.00:07:41
00:07:42
Dalam cerita Setan, anak itu mungkin
tidak benar-benar bertobat,00:07:46
00:07:46
tapi sang ayah-lah yang mengalah dan menjadi
lebih toleran terhadap kesalahan anaknya.00:07:53
00:07:54
Bahkan, bisa jadi anak itu digambarkan
pulang dengan salah satu pelacur. 00:07:59
00:08:00
Ya, kalau Setan yang cerita, ceritanya selalu penuh
dengan hal-hal yang kotor dan kebohongan.00:08:08
00:08:08
Tema dari cerita yang Setan buat selalu itu-itu saja,00:08:13
00:08:13
selalu ada hubungannya dengan
pemberontakan, kekerasan, dan hal-hal cabul.00:08:18
00:08:19
Inti atau jalan ceritanya sebenarnya mirip-mirip.00:08:23
00:08:23
Yang berubah hanyalah tokoh-tokohnya.00:08:26
00:08:26
Tapi, bagaimana kalau Yehuwa yang cerita?00:08:29
00:08:29
Setiap kali kita membaca dan merenungkan ceritanya,00:08:34
00:08:34
ada sesuatu yang baru yang bisa kita temukan.00:08:37
00:08:38
Mungkin sebelumnya kita sudah sering baca cerita itu,00:08:41
00:08:41
tapi kita selalu bisa belajar
hal-hal baru tentang Yehuwa,00:08:46
00:08:46
yang akan membuat cara berpikir kita
semakin mirip dengan-Nya.00:08:50
00:08:51
Jadi, kita harus memilih hiburan kita dengan hati-hati.00:08:55
00:08:55
Coba pikirkan pertanyaan-pertanyaan ini:00:08:58
00:08:59
Siapa yang mengajar saya?00:09:01
00:09:02
Apakah hiburan ini bermanfaat
dan bisa menyegarkan untuk saya?00:09:07
00:09:08
Atau, apakah itu malah akan
melemahkan iman saya kepada Yehuwa?00:09:13
00:09:13
Kalau tidak yakin, lebih baik hindari saja.00:09:18
00:09:18
Kita semua ingin diajar oleh Yehuwa supaya
cara berpikir kita semakin mirip dengan-Nya.00:09:25
00:09:25
Selama hidup di dunia ini,00:09:27
00:09:27
kita harus hati-hati sewaktu
memilih hiburan yang akan kita nikmati.00:09:32
00:09:33
Tapi nanti di dunia baru, semua hiburan
akan bermanfaat dan memperkuat iman kita.00:09:39
00:09:39
Itu pasti sangat menyenangkan!00:09:41
Gary Breaux: Cerita Bisa Memengaruhi Kita (1 Yoh. 5:19)
-
Gary Breaux: Cerita Bisa Memengaruhi Kita (1 Yoh. 5:19)
Komentar dari <i>Menara Pengawal</i> untuk ayat hari ini
dengan terus terang mengatakan,
”Setan menggunakan cerita di film dan acara TV
untuk menyebarkan cara berpikirnya.”
Jadi, hamba-hamba Yehuwa harus sangat
berhati-hati sewaktu mereka memilih film
atau acara televisi yang akan mereka tonton.
Nah, <i>Menara Pengawal</i> yang sama juga memberikan
komentar yang menarik tentang cara Setan ini.
Dikatakan,
”Setan tahu bahwa cerita tidak hanya menghibur kita,
tapi juga mengajarkan apa yang seharusnya
kita pikirkan, rasakan, dan lakukan.”
Nah, karena itu, selama ribuan tahun,
Setan menggunakan cara ini.
Dan dia sudah berhasil menyebarkan
pengaruh buruk kepada banyak sekali orang.
Akibat dari pengaruh Setan itu
bisa kita lihat di Yesaya 55:7.
Di situ dikatakan,
”Semoga orang bejat meninggalkan jalannya
dan orang jahat berpaling dari niatnya.”
Jadi, orang yang dipengaruhi oleh Setan
pikirannya akan rusak
dan dia akhirnya akan menjadi
orang yang bejat dan jahat.
Nah, ayat 8 dan 9 memberi tahu kita bahwa memang,
cara berpikir manusia yang tidak sempurna itu
berbeda dengan cara berpikir Yehuwa.
Mari kita buka Alkitab dan baca ayat 8:
”’Sebab pikiran kalian bukanlah pikiran-Ku,
dan jalan kalian bukanlah jalan-Ku,’ kata Yehuwa.
’Seperti langit lebih tinggi daripada bumi,
jalan-Ku lebih tinggi daripada jalan kalian
dan pikiran-Ku lebih tinggi daripada pikiran kalian.’”
Jadi, orang yang disebut ”bejat”
dan ”jahat” di ayat 7 tadi
mungkin awalnya bukan orang yang seperti itu.
Dia hanyalah manusia yang tidak sempurna.
Tapi kemudian, ada yang membuat dia
menjadi orang yang bejat dan jahat.
Apa itu?
Pengaruh dari Setan si Iblis.
Nah, kita semua adalah manusia yang tidak sempurna.
Jadi, bagaimana caranya kita
bisa terus memiliki pikiran Yehuwa
agar jangan sampai kita menjadi
orang yang bejat dan jahat?
Sebenarnya, Yehuwa juga menggunakan cerita
untuk mengajar kita agar memiliki cara berpikir-Nya.
Di Alkitab, ada banyak sekali pengalaman
dari orang yang baik dan yang jahat.
Ada juga banyak perumpamaan dan cerita
yang menyentuh hati kita.
Itu membantu kita memahami berbagai prinsip
yang penting dan hukum-hukum di Alkitab
sehingga kita bisa membuat keputusan yang baik
dan sesuai dengan keinginan Allah Yehuwa.
Mari kita lihat satu contoh.
Alkitab sering memberi tahu kita
bahwa Yehuwa suka mengampuni.
Mari kita bahas soal hal itu.
Kita akan baca Keluaran 34:7.
Nah, perhatikan apa yang ayat ini katakan tentang Yehuwa.
Katanya,
Yehuwa ”menunjukkan kasih setia
kepada beribu-ribu orang.
Dia mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa”.
Ya, Yehuwa suka mengampuni.
Di Yesaya 1:18, ada gambaran
yang bagus soal sifat Yehuwa ini.
Mari kita baca Yesaya 1:18.
Ini yang Yehuwa katakan:
”Mari kita selesaikan masalah di antara kita . . .
Walau dosa-dosa kalian semerah darah,
itu akan dibuat seputih salju;
walau itu semerah kain merah tua,
itu akan dibuat seputih wol.”
Dari gambaran ini, kita bisa lihat
bahwa Yehuwa suka mengampuni.
Yehuwa juga menggunakan cerita supaya kita tersentuh
dan lebih memahami sifat-Nya ini.
Contohnya adalah cerita tentang anak yang hilang,
yang diceritakan oleh Yesus
di Lukas pasal 15, mulai ayat 11.
Kita tidak akan baca semuanya.
Tapi singkatnya, ceritanya seperti ini:
Kalau kita lihat ayat 11, ada seorang pria
yang punya dua anak lelaki.
Di ayat 12, anak yang lebih muda
mengambil harta bagiannya.
Lalu di ayat 13, dia pergi ke negeri yang jauh,
hidup bejat, dan berfoya-foya.
Di ayat 15 dan 16, dia jatuh miskin.
Akhirnya, dia sadar.
Lalu di ayat 17 sampai 20,
dia kembali kepada ayahnya.
”Ketika dia masih jauh, ayahnya melihat dia
dan tergerak oleh rasa kasihan.
Maka ayahnya berlari, lalu memeluk
dan menciumnya dengan lembut.”
Nah, apa saja pelajaran
yang Yehuwa ajarkan dari cerita ini?
Salah satunya, Yehuwa benar-benar ingin mengampuni.
Itu memang sifat-Nya.
Apa lagi pelajarannya?
Orang yang melakukan kesalahan mungkin tidak
menghargai apa yang dia terima dari Yehuwa.
Tapi, kita terus berharap dia akan kembali.
Dan kita akan menyambut dia
kalau dia benar-benar kembali kepada Yehuwa.
Orang yang melakukan kesalahan bisa berubah
dan kembali menjadi bagian dari keluarga Yehuwa.
Pelajaran lainnya, kalau seseorang
mengalami keadaan yang sangat sulit,
mungkin saat itulah dia sadar.
Ya, semua pelajaran bagus tadi
bisa membantu kita menyesuaikan
cara berpikir kita yang tidak sempurna
dengan cara berpikir Yehuwa.
Nah, <i>Terjemahan Dunia Baru</i>
menggunakan kurang lebih 400 kata
untuk menceritakan seluruh kisah ini.
Tapi dari antara semua kata itu,
hanya kurang dari 10 kata
yang digunakan untuk menggambarkan
hal-hal buruk yang anak itu lakukan.
Di ayat 13 dikatakan,
”Dia hidup bejat dan berfoya-foya.”
Lalu ayat 30,
dia ’menghabiskan harta ayahnya dengan pelacur’.
Jadi memang, hal-hal buruk yang anak itu lakukan
disebutkan dalam cerita ini.
Tapi, itu tidak menjadi fokus utamanya,
dan itu tidak digambarkan sebagai sesuatu
yang menyenangkan atau menarik.
Tujuan dari cerita ini adalah untuk membantu kita
semakin dekat dengan Yehuwa
dan memahami sifat-Nya yang suka mengampuni.
Nah sekarang, coba bayangkan
kalau Setan yang cerita.
Bagaimana dia akan menggambarkan sosok sang ayah?
Mungkin sebagai orang yang kaku,
keras, dan tidak toleran.
Sang ayah juga mungkin digambarkan
sebagai ayah yang suka mengekang
dan membuat hidup anaknya tidak bahagia.
Bisa jadi, dalam cerita itu akan ada
banyak kata-kata yang kasar dan kotor.
Setan mungkin juga akan menggambarkan hal-hal cabul
yang anak itu lakukan secara terperinci.
Dalam cerita Setan, anak itu mungkin
tidak benar-benar bertobat,
tapi sang ayah-lah yang mengalah dan menjadi
lebih toleran terhadap kesalahan anaknya.
Bahkan, bisa jadi anak itu digambarkan
pulang dengan salah satu pelacur.
Ya, kalau Setan yang cerita, ceritanya selalu penuh
dengan hal-hal yang kotor dan kebohongan.
Tema dari cerita yang Setan buat selalu itu-itu saja,
selalu ada hubungannya dengan
pemberontakan, kekerasan, dan hal-hal cabul.
Inti atau jalan ceritanya sebenarnya mirip-mirip.
Yang berubah hanyalah tokoh-tokohnya.
Tapi, bagaimana kalau Yehuwa yang cerita?
Setiap kali kita membaca dan merenungkan ceritanya,
ada sesuatu yang baru yang bisa kita temukan.
Mungkin sebelumnya kita sudah sering baca cerita itu,
tapi kita selalu bisa belajar
hal-hal baru tentang Yehuwa,
yang akan membuat cara berpikir kita
semakin mirip dengan-Nya.
Jadi, kita harus memilih hiburan kita dengan hati-hati.
Coba pikirkan pertanyaan-pertanyaan ini:
Siapa yang mengajar saya?
Apakah hiburan ini bermanfaat
dan bisa menyegarkan untuk saya?
Atau, apakah itu malah akan
melemahkan iman saya kepada Yehuwa?
Kalau tidak yakin, lebih baik hindari saja.
Kita semua ingin diajar oleh Yehuwa supaya
cara berpikir kita semakin mirip dengan-Nya.
Selama hidup di dunia ini,
kita harus hati-hati sewaktu
memilih hiburan yang akan kita nikmati.
Tapi nanti di dunia baru, semua hiburan
akan bermanfaat dan memperkuat iman kita.
Itu pasti sangat menyenangkan!
-