JW subtitle extractor

JW Broadcasting—Maret 2026

Video Other languages Share text Share link Show times

Selamat datang di JW Broadcasting®.
Kita semua sering menghadapi masalah,
dan kadang, kita tidak tahu cara mengatasinya.
Waktu menghadapi situasi seperti itu,
bagaimana kita bisa mengendalikan perasaan kita?
Kita juga akan menggali lebih dalam buku Yunus dan
belajar ten‎tang kasih setia.
Godaan untuk menjadi kaya dan terkenal itu sangat kuat.
Kita akan mendengar pengalaman seorang saudari
yang meninggalkan itu semua untuk melayani Yehuwa.
Video musik bulan ini menceritakan bagaimana beberapa saudara
mempertahankan iman mereka waktu dipenjarakan.
Inilah JW Broadcasting.
”Jangan sampai hati kalian gelisah.”
Yesus mengatakan itu setelah dia memberi tahu murid-muridnya
bahwa sebentar lagi, dia akan berpisah dengan mereka.
Yesus mungkin bisa melihat bahwa
mereka sangat syok dan sedih.
Jadi untuk menguatkan mereka,
dia mengatakan di Yohanes 14:1,
Di dalam Alkitab, orang jahat disamakan
dengan ”laut bergelora yang tidak bisa tenang”.
Karena itulah waktu kita melihat berita,
kita merasa berita yang buruk itu
tidak ada habisnya, seperti gelombang laut.
Peristiwa di dunia ini dan masalah pribadi kita
bisa membuat kita lelah secara emosi.
Dan kadang, emosi kita terkuras
sampai kita tidak punya tenaga lagi.
Nah, kata-kata yang Yesus sampaikan
kepada murid-muridnya
bisa membantu kita agar emosi kita tidak sampai terkuras.
Jadi, mari kita bahas dua bagian dari kata-kata Yesus itu.
Yang pertama: ”Jangan sampai hati kalian gelisah.”
Waktu Yesus bilang, ”Jangan sampai,”
dia menunjukkan bahwa kita sebenarnya
bisa mengendalikan perasaan kita.
Kita bisa membiarkan hati kita jadi gelisah
atau berupaya agar tidak sampai gelisah.
Perasaan kita sangat dipengaruhi oleh
apa yang kita pikirkan.
Perasaan biasanya muncul kalau kita
memikirkan atau mengingat sesuatu.
Jadi, kata-kata Yesus ”jangan sampai”
menunjukkan bahwa kita perlu berupaya
mengendalikan pikiran kita.
Intinya, kalau kita memikirkan hal yang sedih,
kita akan sedih.
Kalau kita memikirkan sesuatu yang berbahaya,
kita akan merasa takut.
Pikiran kita itu bisa disamakan seperti
rumah yang banyak ruangannya.
Setiap ruangan adalah sebuah peristiwa dalam hidup kita.
Kalau kita ada di satu ruangan,
kita akan merasakan semua perasaan
yang berhubungan dengan peristiwa itu.
Nah, murid-murid Yesus sedang berada di ruangan
yang membuat mereka sedih dan khawatir
karena Yesus akan segera meninggalkan mereka.
Tapi, Yesus meyakinkan mereka bahwa
mereka bisa mengendalikan perasaan mereka.
Mereka bisa membiarkan emosi mereka
terkuras karena perasaan sedih mereka
atau mereka bisa memilih untuk berfokus
pada iman mereka kepada Yehuwa dan Yesus.
Itu pengingat yang bagus ya.
Kita bisa mengendalikan perasaan kita
dengan memilih apa yang kita pikirkan.
Nah kadang, seperti murid-murid Yesus,
kita seperti berada di ruangan gelap
yang membuat kita sedih atau khawatir.
Tapi ingatlah,
kita bisa memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Kita tidak mau terus di situ.
Nah, apa lagi yang bisa kita lakukan
supaya emosi kita tidak terkuras
dan energi kita tidak terbuang percuma?
Yesaya 55:2 mengatakan,
Sama seperti kita tidak mau memboroskan uang kita,
kita juga tidak mau energi kita sampai terbuang percuma.
Coba pikirkan ini:
Kalau kita punya 50.000 rupiah untuk makan dalam sehari
dan kita pakai 40.000-nya untuk sarapan,
uangnya tidak akan cukup untuk
makan siang dan makan malam.
Sama seperti itu, energi kita setiap hari ada batasnya.
Jadi, kita mau menggunakannya dengan baik.
Nah, bagaimana dengan Saudara?
Coba pikirkan,
’Apakah saya menghabiskan energi saya untuk
hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipusingkan?’
Misalnya,
bagaimana kalau ada yang seenaknya memotong jalan,
atau bagaimana kalau Saudara diperlakukan
dengan buruk atau dikecewakan?
Saudara bisa saja menjadi sangat kesal
sampai-sampai energi Saudara terkuras.
Tapi coba pikirkan,
menurut Saudara, apakah itu bijaksana?
’Apakah saya sering menggunakan energi saya
untuk hal-hal yang tidak bermanfaat?’
Apakah Saudara akan kasih dompet ke seseorang
dan bilang, ”Ambil saja berapa pun”?
Mungkin Saudara mau ya
kalau itu orang yang Saudara sayangi.
Tapi kalau tidak, Saudara pasti tidak akan mau.
Sama seperti itu,
energi kita seharusnya digunakan hanya
untuk orang-orang yang kita sayangi
—hal-hal yang benar-benar penting—
seperti keluarga kita, saudara-saudari kita,
dan yang terutama, persahabatan kita dengan Yehuwa.
Media sosial, masalah sosial dan politik,
hiburan, dan hal-hal lainnya
bisa menguras emosi dan energi kita.
Jadi, kita tidak mau seolah-olah memberi mereka dompet kita
dan bilang, ”Ambil saja berapa pun.”
Kalau kita lakukan itu,
tidak akan ada lagi energi yang tersisa
untuk orang-orang yang kita sayangi.
Kalau kita menggunakan energi kita untuk orang yang
kita sayangi atau untuk hal-hal yang benar-benar penting,
kita pasti akan merasa bahagia.
Banyak orang membeli dan melakukan apa pun yang
mereka sukai untuk membuat diri mereka bahagia.
Tapi, sikap mementingkan diri seperti itu
tidak akan membuat kita bahagia.
Yesus mengatakan, ”Lebih bahagia memberi.”
Dari kata-kata Yesus itu,
apa yang bisa kita pelajari tentang
caranya menggunakan energi kita?
Gunakan itu untuk orang lain.
Karena sebenarnya, kebahagiaan adalah
hasil dari mengasihi orang lain.
Sebagai gambaran,
apa hasilnya kalau kita membuat api unggun?
Kehangatan dan cahaya.
Tapi, kita tidak bisa mendapat kedua hasil itu tanpa berupaya.
Kita harus berupaya dulu untuk mengumpulkan kayu
lalu menyalakan apinya untuk mendapat
kehangatan dan cahaya.
Jadi, kalau kita berupaya menggunakan
energi kita untuk mengasihi orang lain,
hasil yang kita dapatkan adalah rasa puas dan bahagia.
Jadi, kata-kata Yesus ”jangan sampai hati kalian gelisah”
menunjukkan bahwa kita bisa memilih untuk
memikirkan hal-hal yang akan membuat kita bahagia
dan memilih untuk menggunakan energi kita dengan baik,
misalnya untuk keluarga kita, saudara-saudari kita,
dan yang terutama, persahabatan kita dengan Yehuwa.
Nah sekarang,
mari kita perhatikan bagian kedua dari Yohanes 14:1.
Yesus mengatakan,
Nah perhatikan,
Yesus tidak hanya mengatakan, ”Berimanlah,”
seolah-olah iman tidak ada hubungannya dengan siapa pun.
Yesus mengatakan kita harus beriman
kepadanya dan kepada Yehuwa.
Jadi, kalau Saudara sangat khawatir,
ingatlah bahwa Yehuwa dan Yesus
paham perasaan Saudara
dan akan menyelesaikan semua masalah Saudara.
Mereka seolah-olah berada di ruangan lain
yang dekat dengan Saudara,
dan Saudara bisa datang ke situ
kapan pun dengan berdoa dan merenung.
Kalau kita beriman bahwa Yehuwa bisa dan
akan membuat dunia ini menjadi lebih baik,
kita pasti bisa merasa lebih tenang.
Yesus tahu bahwa kita sering merasa
harus menyelesaikan sendiri masalah kita.
Jadi dalam Khotbah di Gunung, dia mengatakan,
”Jangan lagi khawatir [karena] Bapak kalian yang
di surga tahu bahwa kalian butuh semua hal itu.”
Apakah Saudara beriman pada kata-kata Yesus itu?
Kalau ya, Saudara pasti bisa merasa lebih tenang.
Kalau kita berupaya menyelesaikan
semua masalah di dunia ini,
kita akan semakin khawatir.
Kita tahu kita tidak bisa menyelesaikan kemiskinan,
usia tua, perang, kejahatan, atau kerusuhan.
Ada banyak sekali masalah yang
tidak akan bisa kita selesaikan sendiri.
Yehuwa dan Yesus-lah yang akan
menyelesaikan semua masalah itu.
Kalau kita beriman akan hal itu,
kita tidak akan terlalu merasa khawatir
waktu mendengar berita buruk
atau waktu mengalami kesulitan.
Kadang, saya merasa sangat khawatir dengan
keadaan saudara-saudari kita di negeri lain,
misalnya di Eritrea atau Rusia,
dan Saudara juga mungkin sangat mengkhawatirkan mereka.
Apa yang perlu kita lakukan agar hati kita
tidak sampai gelisah?
Saya biasanya memikirkan hal-hal ini:
Apakah sidang sudah membantu mereka?
Apakah kantor cabang dan kantor pusat juga sudah?
Apakah saya sudah doakan mereka?
Kalau jawabannya ya, saya bisa bilang,
”Yehuwa, kami sudah lakukan sebisanya.
Sekarang kami serahkan kepada-Mu.”
Mazmur 112:7 menunjukkan kenapa orang benar
bisa tetap tenang saat ada berita buruk.
Dikatakan,
Jadi, kita harus benar-benar percaya
bahwa Yehuwa akan menggunakan
kuasa kudus-Nya untuk membantu kita.
Waktu energi kita benar-benar terkuras,
ingatlah bahwa Yehuwa berjanji untuk
memberi kita kekuatan ”yang begitu luar biasa”.
Yakinlah bahwa Dia akan melakukan itu.
Kalau kita menceritakan perasaan kita kepada Yehuwa,
Dia pasti akan mendengar dan membantu kita.
Itu tidak berarti Dia akan menyingkirkan masalah kita.
Tapi, Dia pasti akan membantu kita untuk bertekun.
Roma 12:11 bilang,
kita harus ’berkobar [atau menurut terjemahan lain,
’menyala’] dengan kuasa kudus.’
Dan saya jadi ingat sebuah batu yang sangat unik.
Coba kita lihat sama-sama.
Kalau batu ini disinari cahaya tertentu,
batunya akan menyala.
Kalau tidak disinari, batunya terlihat biasa ya.
Tapi kalau ada sinarnya, batu ini akan menyala.
Kita juga begitu kalau kita mendapat kuasa kudus Yehuwa.
Setiap hari, meskipun kita merasa lelah,
Yehuwa bisa gunakan kuasa kudus-Nya
untuk seolah-olah membuat kita terus menyala.
Nah, kalau seorang anak takut waktu sendirian di kamarnya,
dia pasti ke kamar orang tuanya ya.
Dia tahu mereka bisa membantu dan menenangkan dia.
Waktu berdoa,
kita seolah-olah lari ke Yehuwa
untuk menceritakan perasaan kita.
Lalu, Dia akan menghibur kita melalui
kuasa kudus, Alkitab, dan saudara-saudari.
Dia seolah-olah menyinari kita dengan cahaya-Nya
dan memberi kita kekuatan ”yang begitu luar biasa”.
Waktu kita merasa sangat khawatir,
ingatlah bahwa kita bisa seolah-olah
pergi ke ruangan yang lain.
Waktu Saudara berdoa kepada Yehuwa
dan membaca Alkitab,
bayangkan Yehuwa menghibur Saudara
dengan menuntun Saudara ke ruangan lainnya.
Waktu Saudara berduka,
Dia akan mengajak Saudara ke ruang kebangkitan.
Waktu sakit,
ke ruang kesehatan yang sempurna.
Waktu merasa sangat bersalah,
ke ruang pengampunan.
Apakah Saudara bisa bayangkan perasaan
murid-murid Yesus waktu dia dibangkitkan?
Mereka pindah dari ruangan yang membuat
mereka sedih karena Yesus akan pergi
ke ruang kebangkitan Yesus,
yang membuat mereka bersukacita.
Iman mereka kepada Yehuwa dan Yesus
benar-benar diberkati.
Sebagai penutup, mari kita ingat-ingat lagi
beberapa pelajaran yang kita dapatkan
dari kata-kata Yesus di Yohanes 14:1.
Kata-kata ”jangan sampai hati kalian gelisah”
menunjukkan bahwa kita bisa memilih apa yang kita
pikirkan supaya perasaan kita menjadi lebih baik.
Kita juga belajar, kita perlu menggunakan
energi dengan baik
untuk keluarga kita, saudara-saudari kita,
dan yang terutama, persahabatan kita dengan Yehuwa.
Yesus juga mengatakan,
”Berimanlah kepada Allah,
dan berimanlah kepadaku juga.”
Ada banyak masalah yang tidak akan
bisa kita atasi sendiri.
Tapi, kita bisa yakin Yehuwa dan Yesus
bisa menyelesaikan semua masalah itu.
Sampai itu terwujud,
yakinlah bahwa Yehuwa akan memberi kita
kekuatan ”yang begitu luar biasa”
agar kita bisa terus bertekun di masa-masa yang sulit ini.
Jadi, waktu Saudara merasa energi
atau emosi Saudara terkuras,
renungkanlah kata-kata Yesus di Yohanes 14:1:
Yunus sempat kurang beriman.
Tapi belakangan, dia belajar untuk lebih percaya kepada Yehuwa,
dan dia jadi lebih mudah untuk mengendalikan perasaannya.
Di video Gali Permata Rohani bulan ini,
kita akan belajar lebih banyak dari kisah Yunus.
Pa, aku suka banget video Kisah Yunus—Pelajaran tentang Keberanian dan Belas Kasihan.
Bagus ya.
Sekarang, coba kita renungkan kisah Yunus dari Alkitab.
Kita bisa pikirkan, ’Apa yang bisa saya pelajari tentang Yehuwa?’
Oke, aku catat ya.
Kamu belajar apa tentang Yehuwa?
Aku belajar Yehuwa itu sabar dan suka mengampuni ya, Pa.
Iya, Yehuwa tahu kalau Yunus butuh waktu untuk lebih beriman.
Di pasal 3 ayat 1, Yehuwa kasih dia kesempatan kedua.
Yehuwa juga melindungi Yunus dari akibat buruk kesalahannya
dan dengan lembut mengoreksi pandangan Yunus.
Hebat ya. Yehuwa mau terus bantu Yunus.
Yehuwa bisa begitu karena Dia punya kasih setia.
Kamu ingat apa itu kasih setia?
Hmm, aku lupa-lupa ingat.
Nah, kalau ada istilah yang kurang kita pahami,
kita bisa cari artinya.
Coba deh kamu ketik ”kasih setia”
di kotak pencarian di Alkitabmu.
Nanti ada pilihan Daftar Istilah.
Oh iya, benar.
Coba tolong kamu baca.
Katanya, kasih setia itu . . .
Jadi, Yehuwa mau bantu Yunus
karena Dia mengasihi Yunus ya.
Tapi, Yunus kayaknya enggak mengerti.
Dia sudah lewati badai, tiga hari di perut ikan,
dan lihat orang Niniwe bertobat.
Tapi, dia masih saja pikirkan diri sendiri.
Waktu Yehuwa enggak jadi membinasakan orang Niniwe,
Yunus marah.
Mungkin dia takut orang kira dia nabi palsu.
Jadi buat Yunus, lebih baik orang Niniwe mati
daripada dia dikira bohong.
Wah, keterlaluan ya dia.
Tapi, gimana reaksi Yehuwa?
Sabar banget. Kalau aku sih sudah marah.
Sebenarnya Yunus bukan orang jahat ya.
Jadi, Yehuwa pakai tanaman labu air
untuk mengajar Yunus satu hal penting.
Kalau di pasal 4 ayat 6, dibilang apa?
Katanya, Yehuwa kasih tanaman itu untuk ’menaungi kepala Yunus dan membuat dia lebih nyaman’.
Baik banget ya Yehuwa.
Padahal, sikap Yunus enggak baik.
Dan ayat itu bilang, ”Itu membuat Yunus sangat senang.”
Jadi, karena Yehuwa menunjukkan kasih setia-Nya,
sikap Yunus bisa berubah,
dan dia jadi siap mendapat pelajaran lain dari Yehuwa.
Iya benar ya, Pa.
Nah, habis itu Yehuwa mendatangkan seekor ulat
untuk bikin tanamannya mati.
Gimana reaksi Yunus?
Dia marah lagi ya, Pa.
Iya. Terus Yehuwa mengajar Yunus sesuatu yang penting.
Di ayat 10 dan 11 ya, Pa?
Benar.
Yehuwa bilang, ’Kalau kamu kasihan sama tanaman itu,
bukankah Aku seharusnya juga kasihan
sama orang-orang dan binatang di Niniwe?’
Dan kata-kata itulah yang terakhir Yunus tulis di bukunya.
Itu berarti Yunus sudah paham ya pandangan Yehuwa,
dan dia mau menyesuaikan cara berpikirnya.
Yehuwa terus bantu Yunus ya, Pa, sampai dia mengerti.
Yehuwa benar-benar tunjukkan kasih setia.
Nah, selain Yunus, siapa lagi yang mendapat manfaat
dari kasih Yehuwa?
Coba kita ikuti saran dari buku Tirulah Iman Mereka:
Coba bayangkan gimana perasaan Yunus waktu dia lihat para pelaut minta tolong ke allah mereka,
yang enggak akan bisa bantu mereka.
Dan bahkan setelah Yunus mengaku salah,
mereka enggak mau lempar Yunus ke laut.
Iya.
Mereka malah berupaya sebisa mungkin supaya Yunus selamat.
Jadi, Yehuwa kasih lihat ke Yunus kalau para pelaut itu
punya sifat baik dan mereka butuh bantuan.
Dan Yunus mungkin mulai paham ya cara Yehuwa
memandang para pelaut itu.
Iya ya.
Dan kalau kita pikir-pikir,
kenapa Yehuwa mengutus Yunus ke bangsa
yang enggak menyembah Dia?
Mungkin supaya orang Niniwe punya kesempatan
untuk kenal sama Yehuwa ya.
Jadi, siapa saja yang dapat manfaat dari kasih Yehuwa?
Hmm, Yehuwa tunjukkan kasih setia ke Yunus.
Dia juga tunjukkan kasih ke para pelaut dan orang-orang Niniwe.
Betul.
Dan walaupun Yunus sempat buat salah,
nanti waktu dia dibangkitkan,
dia akan tahu kalau Yehuwa pakai pengalaman Yunus
untuk mengajarkan sesuatu tentang Putra-Nya.
Menurutmu, gimana kira-kira perasaan Yunus waktu dia tahu
Yesus pernah sebut namanya
dan bahkan menyamakan dirinya dengan Yunus?
Wah.
Yehuwa benar-benar kasih teladan yang sempurna ya
dalam menunjukkan kasih.
Nah sekarang, gimana kita bisa meniru Dia?
Aku bisa tiru Yehuwa waktu mengabar.
Jujur, kadang aku enggak terlalu suka mengabar,
apalagi kalau banyak orang enggak mau dengar.
Tapi, aku jadi diingatkan, ada yang lebih penting
daripada perasaanku sendiri.
Kalau Yehuwa saja enggak menyerah buat bantu orang-orang,
aku harusnya juga enggak menyerah.
Bagus banget. Papa senang kamu pikir begitu.
Kalau Papa, Papa jadi ingat waktu Papa dapat tugas yang sulit.
Kadang reaksi Papa kurang bagus,
dan Papa jadi mengatakan sesuatu yang belakangan Papa sesali.
Itu bikin Papa merasa bersalah.
Tapi, Papa terhibur waktu tahu kalau Yehuwa
enggak terus ingat kesalahan kita.
Dia tahu diri kita yang sebenarnya,
dan Dia dengan sabar mau bantu kita jadi orang yang lebih baik.
Wah, bagus Pa.
Tadi kita sudah pikirkan pelajaran tentang Yehuwa,
cari tahu arti istilah sulit,
dan pakai imajinasi kita.
Dan masih ada banyak permata rohani lainnya!
Misalnya, apa yang bisa kita pelajari
kalau kita bayangkan jadi Yunus,
yang berdoa dari perut ikan?
Apa yang bisa kita pelajari waktu tahu bahwa
mengabar kepada orang-orang Niniwe
ternyata tidak sesulit yang Yunus bayangkan?
Coba kita baca lagi di Yunus pasal 2 . . .
Pelajaran yang sangat bagus!
Meskipun sempat bereaksi negatif, Yunus bukan orang jahat.
Waktu membaca buku Yunus, Saudara pasti bisa belajar
lebih banyak hal tentang kasih Yehuwa.
Di seluruh dunia, sidang-sidang sangat senang sewaktu
dikunjungi oleh pengawas wilayah
dan juga istri mereka, kalau mereka sudah menikah.
Mari kita tonton video berikut ini, yang menceritakan
sejarah pengaturan tersebut.
Kunjungan pengawas wilayah sangat
istimewa bagi setiap sidang Saksi Yehuwa.
Mereka bisa mengabar dengan pengawas wilayah,
mendengarkan khotbahnya, dan bergaul dengannya. 
Bagaimana sejarah pekerjaan keliling?
Dan, apa saja yang sudah berubah?
Mari lihat itu di Perjalanan Sejarah Organisasi Kita. 
Pekerjaan keliling dimulai sejak abad pertama.
Saudara-saudara seperti
Paulus, Barnabas, dan Timotius
ditugaskan untuk mengunjungi
dan menguatkan sidang-sidang.
Sekarang, organisasi Yehuwa
juga melakukan hal yang sama.
Mulai tahun 1894,
para saudara ditugaskan untuk mengunjungi dan
menguatkan kelompok-kelompok Siswa-Siswa Alkitab.
Para saudara itu disebut rohaniwan keliling.
Mereka mengunjungi sidang-sidang dan menggunakan
satu atau dua hari untuk menguatkan saudara-saudari.
Pada waktu itu, perjalanan
mereka sama sekali tidak mudah. 
Misalnya, perhatikan pengalaman Edward Brenisen.
Sewaktu mengunjungi saudara-saudari di
sebuah desa terpencil di Amerika Serikat bagian barat,
Edward harus menggunakan kereta api,
kemudian semalaman menggunakan kereta kuda,
lalu menggunakan gerobak yang ditarik kuda untuk
melintasi jalan berbatu melewati pegunungan. 
Para rohaniwan keliling adalah
pengajar-pengajar yang terampil,
tapi mereka juga harus rendah hati.
Misalnya seperti Alexander Graham.
Saudara Graham adalah pembicara yang bersemangat.
Tapi, kadang-kadang khotbahnya,
ya, bisa sampai berjam-jam. 
Waktu Saudara Russel tahu soal itu,
dia menulis surat kepada Saudara Graham:
”Saya tahu Saudara sangat mengasihi kebenaran
dan sangat semangat membagikannya.
Karena itu, Saudara mungkin jadi
lupa waktu saat menyampaikannya.”
Saudara Graham dengan rendah hati menerapkan itu.
Khotbahnya yang bagus sekarang
disampaikan dengan lebih singkat.
Dia sangat dikasihi saudara-saudari. 
Dulu, tugas utama rohaniwan keliling
adalah menyampaikan khotbah.
Tapi pada tahun 1920-an ada penyesuaian.
Mereka juga harus mengatur dan
memberikan teladan dalam pekerjaan pengabaran.
Sejak saat itu, rohaniwan keliling
disebut sebagai direktur dinas lapangan,
dan belakangan disebut sebagai hamba daerah.
Itu menunjukkan bahwa tugas mereka adalah
untuk melayani dan mendukung saudara-saudari. 
Selain itu, ada penyesuaian besar lain.
Pada 1930-an, para penentang berupaya
menghentikan pekerjaan pengabaran.
Karena itu, beberapa sidang di Amerika Serikat membuat pengaturan untuk mengabar secara kelompok.
Saudara-saudari pun semakin bersatu. 
Lalu agar lebih teratur, dibentuklah zona-zona.
Dan setiap zona terdiri dari sekitar 20 sidang.
Saudara yang ditugaskan untuk
mengunjungi setiap sidang disebut hamba zona.
Secara berkala, sidang-sidang dalam
satu zona mengadakan kebaktian zona,
atau yang sekarang disebut sebagai pertemuan wilayah. 
Pada 1942, pengawas keliling
disebut hamba para saudara.
Salah satunya adalah Angelo Catanzaro.
Dia baru berumur 19 tahun sewaktu mendapat tugas itu.
Saudara Catanzaro menyebut dirinya
”pelayan yang selalu berpindah-pindah”.
Selama 60 tahun,
Saudara Catanzaro dan istri sudah mengunjungi
hampir semua wilayah di Amerika Serikat.
Mereka menguatkan yang sudah lama
dalam kebenaran dan ribuan yang baru
agar makin dekat dengan Yehuwa. 
Pada 1948, sebutan untuk para rohaniwan
keliling diubah menjadi hamba wilayah,
dan sekarang pengawas wilayah.
Selama bertahun-tahun,
para pengawas wilayah dan istri mereka
sudah membuat banyak pengorbanan
untuk melayani saudara-saudari.
Mereka rela tidak punya rumah sendiri
dan harus pergi ke tempat-tempat yang jauh. 
Salah satunya adalah Winston Payne dan istrinya, Pam.
Waktu berumur 20-an, mereka mulai melayani
dalam pekerjaan keliling di Pasifik Selatan.
Tinggal di pulau tidak mudah.
Ada banyak nyamuk, cuacanya panas,
dan kadang mereka tidak punya cukup makanan.
Tapi, mereka tetap menikmati tugas itu
karena saudara-saudari di sana sangat
mengasihi dan menghargai mereka. 
Sekarang, sudah ada ribuan pengawas wilayah.
Sejak tahun 1999, pelatihan diadakan
untuk membantu mereka lebih terampil.
Sekolah bagi Pengawas Wilayah dan Istri
sekarang diadakan di seluruh dunia. 
Sebutan untuk pengawas wilayah
memang sudah berubah beberapa kali,
tapi ada satu yang tidak pernah
berubah sejak zaman Paulus.
Para pengawas wilayah dan istri
selalu senang ”memberikan segalanya”
dan mengorbankan diri mereka
dengan melatih yang lain dalam dinas,
menganjurkan anak-anak muda,
dan menguatkan sidang-sidang. 
Jadi, waktu mereka berkunjung ke sidang Saudara,
pikirkan apa yang bisa Saudara lakukan untuk
menunjukkan bahwa Saudara menghargai mereka. 
Sampai bertemu lagi di episode berikutnya
dalam Perjalanan Sejarah Organisasi Kita. 
Kita pasti sangat bersyukur ya atas kerja keras dan kerelaan
para pengawas wilayah dan istri mereka.
Mungkin, Saudara juga pernah punya pengalaman yang bagus dengan mereka
dan sangat terkesan dengan semangat dinas mereka.
Mungkin seorang pengawas wilayah menganjurkan Saudara
untuk berbuat lebih banyak dalam pelayanan.
Kita mungkin tidak bisa menjadi pengawas wilayah,
tapi kita bisa meniru kasih mereka kepada sesama.
Sekarang, mari kita lihat penyesuaian apa yang dibuat beberapa saudara-saudari untuk meluaskan pelayanan.
Waktu kami lihat kebutuhan di daerah ini,
Yehuwa seperti menunjukkan
kami bisa membantu banyak di sini.
Kami sudah melayani di Sidang
Quechua Boliviano selama empat tahun.
Saya Fernando.
Saya Micaela.
Kami melayani di Sidang Quechua Boliviano
di Ingeniero Huergo, Argentina.
Di banyak daerah di Bolivia,
mencari uang itu sangat sulit.
Karena itu, banyak orang pindah
ke sini untuk bekerja di ladang.
Pekerjaan ini sangat melelahkan.
Kadang mereka bekerja sampai
jam 11 atau sampai jam 12 malam.
Mereka disuruh apa, ya mereka kerjakan.
Waktu yang paling pas untuk ketemu mereka di ladang
itu persis sebelum mereka mulai kerja siangnya.
Mengabar di jam-jam segitu tidak mudah
karena panasnya sampai 40 derajat Celsius.
Sering kali, kami belajar
sama mereka waktu mereka lagi kerja.
Jadi, sambil mereka kumpulkan
hasil panen atau lakukan kerjaan lain,
kami akan ikuti mereka sambil
baca paragraf atau ayatnya.
Misalnya, kami tunjukkan nama Allah
di Alkitab, yang belum pernah mereka dengar.
Waktu mereka dengar itu atau hal-hal lain yang
menarik buat mereka, mereka berhenti sebentar.
Mereka benar-benar ingin tahu dan
memperhatikan, meski mereka harus tetap kerja.
Sering kali, mereka minta kami
untuk tunggu sampai mereka selesai.
Ya, jadi kami bantu mereka saja
biar mereka cepat selesai.
Awalnya, mereka kaget.
Mereka bilang, ”Kalian beneran mau bantuin kami?
Nanti baju kalian kotor, lho.”
Tapi, kami senang membantu mereka.
Dan lama-lama, kami jadi teman mereka.
Itu yang kami inginkan.
Kami mau bersahabat dengan pelajar Alkitab kami
supaya kami bisa bantu mereka buat kemajuan.
Mereka jadi bisa melihat
kami benar-benar peduli sama mereka.
Saya suka mengabar karena saya jadi bisa
lihat pengaruh kabar baik atas orang-orang.
Saya sangat suka mengabar.
Bagi saya, itu sama sekali bukan pengorbanan.
Saya Toni Marrero.
Saya Maryluz.
Kami dari Spanyol dan sekarang
kami melayani di Paraguay.
Selama pandemi, kami enggak keluar ke mana-mana.
Kehidupan kami berubah total.
Waktu dinas telepon, tidak bisa lihat orangnya,
wah rasanya tegang.
Suatu hari, saya coba langsung
tawarkan pelajaran Alkitab ke seorang pria.
Dan ternyata, dia mau.
Waktu itu, saya tanya sama dia apa saya
boleh kirim pertanyaan untuk dia pikirkan,
dan dia bilang boleh.
Awalnya, saya pikir dia enggak
berminat karena dia enggak balas.
Tapi malamnya, dia balas.
Ternyata, dia itu sibuk sekali.
Dia kerja dari pagi sampai malam.
Tapi karena saya tahu keadaannya,
ya saya buat penyesuaian.
Suatu hari, saya tanya, ”Istrimu mau ikut belajar?”
Dia bilang iya.
Tapi untuk mulai belajar saja,
kami harus tunggu beberapa bulan.
Iya, kami harus selalu siap angkat teleponnya.
Benar.
Karena dia bisa telepon kapan saja.
Bisa jam 9, jam 10, jam 11 malam.
Biasanya dia kabarin saya,
”Bentar ya. Lima menit lagi.”
Kami bisa lihat dia lewat di belakang.
Setelah dia selesai siap-siap, kami mulai pelajaran Alkitabnya.
Awalnya, memang berat.
Iya, benar sih.
Tapi lama-lama, kami jadi menikmatinya.
Setiap sudah selesai kami merasa . . .
. . . senang sekali . . .
. . . sangat senang.
Setiap kali kami selesai belajar,
saya bilang, ”Wah enggak nyangka, ya!”
Benar.
”Luar biasa ya ada orang yang berminat kayak gini!”
Dan ya, mereka memang benar-benar berminat.
Mereka cepat sekali buat kemajuan,
dan setelah satu tahun, mereka dibaptis.
Saya senang sekali.
Saya bersyukur kepada Yehuwa setiap hari
karena pengorbanan kami tidak sia-sia.
Saya sangat bersyukur.
Memang, waktu mengajarkan kebenaran, kadang butuh pengorbanan untuk menyesuaikan waktu dan tempatnya.
Tapi, kita punya kesempatan luar biasa untuk membantu orang jadi sahabat Yehuwa.
Lebih dari 20 tahun yang lalu, majalah Sedarlah! memuat pengalaman Saudari Rosalia Philips.
Berkat apa saja yang dia dan orang-orang sekitarnya rasakan
setelah dia memutuskan untuk melayani Yehuwa?
Di keluarga saya, banyak yang
jadi penyanyi dan artis terkenal.
Yang paling terkenal mungkin papa saya,
Germán Valdés, yang biasa dipanggil Tin Tán.
Musik sangat penting bagi saya.
Dari kecil, saya suka menuangkan perasaan saya lewat musik.
Jadi, saya mulai main gitar dan
mengarang lagu saya sendiri.
Saya tidak pernah berencana untuk punya karier musik.
Tapi, tidak lama kemudian Papa meninggal,
dan karena alasan ekonomi,
saya merasa saya harus cari kerja.
Saya ikut dalam sebuah grup musik,
dan belakangan saya jadi aktris
dan penyanyi yang terkenal.
Tapi, saya mulai merasa banyak rekan sekerja
saya tingkah laku dan moralnya sangat buruk.
Saya jadi tidak percaya sama orang-orang.
Waktu saya belajar kebenaran,
saya bertemu dengan orang-orang yang
tulus dan benar-benar sayang sama saya.
Saya sendiri juga mulai berubah.
Saya jadi orang yang bahagia, menyenangkan, dan ceria.
Waktu kami kembali ke Meksiko,
kami sebagai orang tua khawatir kalau
anak-anak kami terjun ke dunia hiburan.
Saya dan suami berupaya sebisa-
bisanya supaya itu tidak terjadi.
Saya mengajak anak perempuan saya, Gianna,
yang waktu itu masih umur 17 tahun,
untuk menemani saya ke Mexico City.
Kami pergi ke salah satu stasiun televisi terbesar.
Di sana ada seorang pria pencari bakat.
Dia lihat anak saya, lalu dia tanya,
”Kamu nyanyi juga?”
Anak saya bilang ”Iya.”
Lalu dia nyanyi, dan pria itu sangat suka suaranya
sampai-sampai anak saya diundang ke kantornya.
Saya dengar pria itu bilang ke anak saya,
”Kamu bisa punya karier yang bagus di sini.
Kamu akan jadi terkenal.
Saya akan buat kontrak untuk kamu.
Kamu tinggal datang hari
Senin dan tanda tangan.”
Waktu Gianna keluar dari kantor itu, saya sangat khawatir.
Lalu saya tanya dia,
”Kamu terima tawarannya?”
Gianna bilang, ”Enggak lah Ma,
aku jauh lebih senang melayani Yehuwa.
Mana mungkin aku terima tawaran itu?
Aku udah suka banget merintis.”
Ternyata, seminggu kemudian, kami mendapat telepon,
dan anak saya diundang untuk ikut proyek musik di Betel.
Sampai sekarang dia menggunakan
suaranya yang indah untuk memuji Yehuwa.
Selama beberapa tahun ini,
kami berdua senang bisa digunakan oleh
Yehuwa untuk proyek musik di Betel.
Kadang, saya merasa Setan
berupaya mengalihkan fokus saya.
Saya ditawari beberapa kontrak kerja
yang ada hubungannya dengan papa saya,
dan itu akan menyita banyak waktu.
Saya harus tolak pekerjaan itu, karena
itu pasti mengganggu dinas perintis saya.
Yehuwa selalu memberkati saya.
Setiap kali saya ditawari kontrak dan saya tolak,
Yehuwa memberi berkat sebagai gantinya.
Misalnya, saya punya kesempatan untuk menjadi
relawan di beberapa sekolah yang diadakan organisasi.
Semua tantangan ini mengajar saya
untuk selalu percaya kepada Yehuwa.
Saya juga merasakan benarnya kata-kata Rasul Paulus:
”Tanpa iman, orang tidak mungkin menyenangkan Allah . . .
Dia mengupahi orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Saya sangat senang bisa mengabar bersama
mama saya yang umurnya sudah 90 tahun lebih.
Kami menikmati berbagai jenis dinas bersama-sama.
Beberapa anggota keluarga saya minta belajar Alkitab,
dan beberapa dari mereka sudah menjadi Saksi Yehuwa.
Saya senang waktu saya, mama saya,
anak saya bisa kumpul sama saudara-saudari.
Kami main gitar, bernyanyi
dan menikmati waktu bersama.
Saya tidak sabar bisa ketemu
papa saya lagi di dunia baru.
Saya akan sambut dia, kenalkan
dia sama anak-anak saya,
dan dia juga bisa ketemu lagi sama Mama.
Semoga kami tinggalnya dekat laut.
Saya menantikan saatnya kami bisa
nyanyi sama-sama lagi seperti dulu.
Saya bertekad untuk selalu setia
kepada Yehuwa selamanya.
Pengalamannya sangat menguatkan!
Karena Saudari Rosalia terus mengandalkan Yehuwa,
dia dan keluarganya mendapat banyak sekali berkat.
Yehuwa ingin kita mengandalkan Dia, khususnya waktu kita menghadapi masa yang sangat sulit.
Dalam ibadah pagi berikut ini, Saudara Stephen Lett menjelaskan caranya mengandalkan Yehuwa saat dianiaya.
Tema pembahasan kita adalah
”Kuasa Kudus Membantu Kita Bertekun
Menghadapi Penganiayaan”.
Komentar Menara Pengawal
membahas tentang berbagai cara
yang digunakan untuk menganiaya umat Allah.
Tapi ayat harian kita hari ini, Zakharia 4:6,
meyakinkan kita bahwa tidak soal
penganiayaan apa yang kita hadapi,
kita bisa bertekun kalau punya kuasa kudus.
Nah, apa tujuan Setan menganiaya umat Allah?
Dia mau umat Allah menyerah, tidak lagi
setia, dan berhenti melayani Yehuwa.
Setan digambarkan seperti seekor singa.
Seperti singa sungguhan, dia mau melahap orang.
Waktu singa melahap sesuatu,
apa yang terjadi pada mangsanya?
Mangsanya menjadi bagian atau
menyatu dengan tubuh singa itu.
Itulah yang Setan mau lakukan.
Dia mau agar orang-orang
yang ”bukan bagian dari dunia”
menjadi bagian dari dunianya, sistemnya,
seolah-olah menyatu dengan dirinya.
Tapi dengan bantuan kuasa kudus,
kita tidak mau membiarkan hal itu terjadi.
Nah, cara apa saja yang Setan telah gunakan dari dulu
dan akan terus dia gunakan
untuk menganiaya umat Allah?
Mari kita bahas lima cara.
Dari kelima cara itu,
kita tidak tahu penganiayaan yang mana
yang akan kita semua alami sebelum Armagedon.
Tapi tidak soal yang mana, kita mau
bertekad untuk tetap setia kepada Yehuwa
dan membantu orang lain
untuk melakukan yang sama.
Nah, yang pertama adalah pelarangan.
Pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa
dilarang di lebih dari seratus negeri.
Pekerjaan kita pernah dilarang
di negeri seperti Albania sampai Zimbabwe.
Bayangkan, itu dari negara A sampai Z.
Kita tahu berbagai pemerintah
melarang pekerjaan umat Allah dulu.
Misalnya, umat Allah pernah dilarang
waktu membangun kembali bait tahun 522 SM.
Di abad pertama, murid-murid Yesus juga dilarang
untuk memberitakan kabar baik di banyak tempat.
Karena tetap melakukannya meski dilarang,
mereka ”dibawa ke hadapan
raja-raja dan gubernur-gubernur”.
Saat menghadapi itu semua,
bagaimana kuasa kudus membantu para murid,
dan bagaimana kuasa kudus
bisa membantu kita sekarang?
Untuk tahu jawabannya,
mari buka Alkitab kita di Matius pasal 10.
Bagaimana kuasa kudus akan membantu kita?
Mari baca mulai dari ayat 19.
Yesus mengatakan,
”Tapi sewaktu mereka menyerahkan kalian,
jangan khawatir tentang apa yang harus dikatakan
atau bagaimana mengatakannya.
[perhatikan Yesus bilang jangan khawatir, kenapa?]
Apa yang harus kalian katakan akan
diberikan kepada kalian pada waktu itu juga,
karena yang berbicara bukan hanya kalian,
tapi kuasa kudus Bapak kalianlah
yang berbicara melalui kalian.
Jadi, bukan hanya kita yang berbicara.
Memang, kita harus lakukan bagian kita,
tapi seperti yang ayat tadi bilang,
kuasa kudus akan membantu kita
untuk tahu apa yang harus dikatakan.
Sekarang, mari bahas cara kedua: pemenjaraan.
Orang-orang Kristen abad pertama
sudah sering dipenjarakan,
dan Yesus sudah peringatkan soal itu.
Di Lukas 21:12, Yesus mengatakan,
”Orang-orang akan menangkap dan . . .
menyerahkan kalian ke . . . penjara.”
Memang, inilah yang terjadi.
Selama bertahun-tahun,
umat Allah sering dipenjarakan.
Kita tahu Rusia dan negara-negara yang mendukungnya
sering menggunakan cara ini
untuk menganiaya umat Allah.
Tapi, bukan hanya mereka.
Banyak pemerintahan lain juga melakukan hal itu.
Jadi, kita perlu mendoakan
saudara-saudari kita yang dipenjarakan.
Kita sering diingatkan untuk
mendoakan mereka yang dipenjarakan
di Eritrea, Turkmenistan, Rusia,
dan banyak tempat lainnya.
Dan saya suka kata-kata di Ibrani 13:3:
”Ingatlah orang-orang yang ada di penjara,
seolah kalian dipenjarakan bersama mereka.”
Memang, kita mungkin sedang tidak dipenjarakan,
tapi itu bisa saja terjadi.
Dan, kita pasti senang karena tahu
saudara-saudari berdoa untuk kita
’seolah-olah mereka dipenjarakan bersama kita’.
Cara ketiga kita dianiaya adalah
dikeluarkannya anak-anak Saksi dari sekolah.
Setan tahu kalau dia menyerang anak-anak,
itu sama saja seperti menyentuh
biji mata orang tua mereka.
Dan, Setan berharap kesulitan ini akan
membuat banyak keluarga tidak lagi setia.
Ini sempat menjadi masalah besar
tahun 1940-an di Amerika Serikat.
Tapi sebenarnya, pelarangan,
dikeluarkannya anak-anak Saksi dari sekolah,
ini terjadi di banyak negeri
selama puluhan tahun terakhir.
Kita jadi ingat catatan Alkitab tentang seorang anak
yang dikeluarkan dari rumah
ibadah karena beriman pada Yesus.
Cara keempat yang digunakan untuk
menganiaya kita bisa kita baca di Wahyu 13:16, 17.
Di situ disebutkan bahwa binatang buas,
atau pemerintahan dunia yang dipengaruhi Setan,
”memaksa” orang-orang untuk
menerima tanda di tangan atau di dahi mereka.
Kalau mereka tidak mau menerima
tanda itu, mereka tidak bisa membeli atau menjual.
Jadi, apa cara yang Setan gunakan?
Kesulitan ekonomi.
Setan sering menggunakan cara ini
untuk membuat saudara-saudari
tidak lagi netral atau setia melayani Yehuwa.
Banyak saudara kita kehilangan
pekerjaan karena memilih untuk tetap netral.
Yang lain bisnisnya mungkin sepi karena
tidak ada yang mau beli dari mereka.
Ini yang dialami saudara-saudari kita di Malawi.
Mereka menghadapi kesulitan ekonomi
dan banyak kesulitan lainnya
karena menolak untuk membeli
kartu partai politik seharga 25 sen.
Mereka tahu harganya sangat murah.
Tapi kalau mereka beli itu,
mereka akan kehilangan sesuatu yang
paling berharga—hubungan baik dengan Yehuwa.
Sekarang, mari bahas cara kelima
yang digunakan untuk menganiaya kita.
Di Matius 5:11, Yesus mengatakan,
”Bahagialah kalian kalau orang-orang mencela kalian,
menganiaya kalian, dan mengatakan berbagai
dusta yang jahat tentang kalian demi aku.”
Apa cara yang digunakan?
Fitnah.
Ada banyak berita bohong
tentang kita di TV, koran, dan Internet.
Yesus juga pernah difitnah.
Dia dituduh kerasukan,
menghina Allah, rakus, dan pemabuk.
Orang Kristen abad pertama juga pernah difitnah.
Di Kisah 28:22, para pemimpin agama
Yahudi mengatakan kepada Paulus:
”Kami tahu bahwa sekte ini ditentang di mana-mana.”
Mereka benar-benar difitnah.
Tapi, kita bisa bertekun menghadapi
semua tuduhan itu karena kita dibantu kuasa kudus.
Jadi, kita sudah bahas lima cara Setan menganiaya kita
—pelarangan, pemenjaraan,
dikeluarkannya anak-anak Saksi dari sekolah,
kesulitan ekonomi yang bisa
membuat kita tidak lagi setia, dan fitnah.
Sebenarnya, masih ada
cara-cara lain yang Setan gunakan.
Tapi, apa pun itu, dengan bantuan kuasa kudus,
kita bisa tetap setia melayani Yehuwa.
Nah, tapi pertanyaannya:
Bagaimana kita bisa mendapat
dan terus memiliki kuasa kudus?
Ada tiga cara yang akan kita bahas.
Di Lukas 11:13, Yesus mengatakan,
’Bapak yang di surga pasti akan memberikan
kuasa kudus kepada orang yang meminta kepada-Nya.’
Jadi, kita perlu memintanya.
Nah, cara yang kedua, kita mau bertindak
sesuai dengan arahan kuasa kudus.
Kita mau berhimpun, berdinas, dan membaca Alkitab.
Cara ketiga,
catatan kaki di Efesus 4:30 mengatakan,
”Jangan mendukakan kuasa kudus.”
Jadi, kita mau berupaya untuk
tidak melakukan apa pun
yang bisa menghambat bekerjanya kuasa kudus.
Jadi, kita harus minta kuasa kudus,
bertindak sesuai arahannya,
dan benar-benar berupaya untuk
tidak mendukakan kuasa kudus.
Selain itu, kuasa kudus yang adalah kekuatan
paling hebat di seluruh alam semesta
akan membantu kita dengan empat cara.
Cara apa saja?
Tiga di antaranya Yesus sebutkan di Yohanes 14:26.
Pertama, kuasa kudus akan ’menolong kita’,
kedua ’mengajar kita’, dan ketiga
’mengingatkan kita’ tentang hal-hal yang Yesus ajarkan.
Jadi, bisa dibilang kuasa kudus itu
berperan sebagai ”pengingat”.
Khususnya waktu kita dianiaya, kita bisa
berdoa pada Yehuwa agar kuasa kudus
bisa bantu kita untuk ingat kembali
hal-hal yang kita butuhkan pada saat itu.
Cara keempat kuasa kudus bisa
membantu kita ada di Yohanes 16:13.
Yesus mengatakan bahwa kuasa kudus
akan ”membimbing [kita] untuk
memahami kebenaran sepenuhnya”.
Jadi, ada empat cara:
Kuasa kudus bisa membantu, mengajar,
mengingatkan, dan membimbing kita.
Bayangkan kalau Saudara harus
menyeberangi jalan yang penuh ranjau.
Saudara pasti bersyukur kalau ada pemandu yang bisa
membantu Saudara menyeberang dengan selamat.
Jadi, apa hasil dari bantuan kuasa kudus?
Tidak soal penganiayaan apa yang kita alami,
kita tidak akan dilahap oleh Setan
atau menyatu dengan dunianya.
Kita akan tetap terpisah dari dunia ini dan
bisa menyuarakan kata-kata Yehuwa di ayat hari ini:
”Bukan dengan pasukan tempur ataupun dengan
kekuatan manusia, tapi dengan kuasa kudus [Yehuwa]”,
kita bisa bertekun menghadapi penganiayaan.
Saya selalu tersentuh kalau ingat bahwa setiap hari,
kita bisa mengandalkan kekuatan yang paling hebat
di alam semesta.
Di video musik bulan ini,
kita akan melihat bagaimana kuasa kudus
membantu seorang saudara muda
untuk menjaga imannya tetap kuat
selama masa yang sangat sulit.
Yehuwa, Kau adil
Allah yang pengasih
Melihatku disakiti
Hati-Mu pun pedih
’Ku bertahan, tetap diam
Lawan rasa dendam
Kejahatan sang penindas
Tak akan kubalas
’Kan kunanti Allahku
Datang membelaku
Kau yang kuharapkan
Bawa keadilan
Bersama-Mu, aku siap
Hadapi semua
Ditinggalkan keluarga
Atau dipenjara
Kau selalu menopangku
Tenangkan hatiku
Berikan ’ku kekuatan
Lewati ujian
’Kan kunanti Allahku
Datang membelaku
Kau yang kuharapkan
Bawa keadilan
Tegakkan keadilan!
Siapakah yang bisa?
Tegakkan keadilan!
Hanya Allah saja
Yang bisa wujudkan
’Kan kunanti Allahku
Datang membelaku
Kau yang kuharapkan
Bawa keadilan
Meskipun dipenjarakan, iman saudara itu tetap kuat.
Dia tidak berfokus pada ketidakadilan yang dia alami.
Sebaliknya, dia membayangkan hal-hal yang menguatkan:
berdinas, berada di Balai Kerajaan,
dan bergaul dengan saudara-saudari.
Di acara bulan ini, apakah ada pelajaran yang menguatkan
yang Saudara dapatkan?
Tadi kita sudah membahas bahwa kita perlu
menggunakan energi kita dengan baik.
Salah satu caranya adalah dengan membantu orang lain.
Kita sudah melihat berkat apa yang dirasakan beberapa
saudara-saudari
yang menyesuaikan jadwal mereka untuk
memandu pelajaran Alkitab.
Kita juga sudah membahas beberapa pelajaran yang bagus
dari buku Yunus.
Bulan ini, kita akan jalan-jalan ke Montenegro.
Dalam bahasa Italia Venesia,
Montenegro berarti ”Gunung Hitam”,
mungkin karena pegunungan di sana
tertutup hutan lebat dan terlihat hitam.
Meskipun namanya begitu, Montenegro sebenarnya adalah
negeri yang indah dan penuh warna,
yang terletak di sepanjang pesisir Laut Adriatik.
Ngarai Sungai Tara adalah salah satu ngarai yang paling dalam di Eropa.
Danau Skadar adalah danau terbesar di wilayah Balkan,
dan di sana, ada sekitar 280 spesies burung.
Banyak orang senang berkunjung ke kota Kotor untuk melihat pemandangan yang indah,
menelusuri jalan-jalan kecilnya, dan bersepeda
di sebuah jalan unik yang berliku-liku.
Sejarah Montenegro dipenuhi peperangan dan keadaan yang sulit.
Pada 1918, Montenegro menjadi bagian dari
Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia.
Pada 1929, namanya diubah menjadi Kerajaan Yugoslavia,
yang mencakup wilayah yang sekarang disebut
Bosnia dan Herzegovina,
Kroasia, Kosovo, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia,
dan Slovenia.
Setelah Perang Dunia II,
wilayah itu diberi nama Yugoslavia Sosialis,
yang dibubarkan pada 1992.
Pada 2006, Montenegro merdeka dari Serbia.
Karena sejarah mereka yang kelam dan penuh perjuangan,
orang-orang Montenegro sangat menghargai
sifat-sifat seperti
kejujuran, kerendahan hati, sikap rela berkorban, dan respek.
Pada 1922, seorang pemuda dari Serbia, Franz Brand,
mendengar kabar baik
dari sebuah khotbah yang disampaikan di Austria.
Khotbah itu terpotong karena aksi massa.
Tapi, Franz sangat tersentuh oleh khotbah itu,
dan dia ingin memberitakan kebenaran dari Alkitab.
Dia pulang ke kampung halamannya dan mulai mempelajari Alkitab bersama beberapa orang.
Belakangan, dia menjadi tukang cukur di Maribor, Slovenia,
dan dia sering mengabar kepada para pelanggannya.
Di kota lain, Alfred Tuček, seorang dirigen dari orkestra militer, mendapat publikasi Alkitab dari kenalannya.
Belakangan, dia meninggalkan pekerjaannya yang bergaji tinggi
dan menjadi salah satu perintis pertama di Yugoslavia waktu itu.
Di awal tahun 30-an,
dia dan beberapa saudara lain memutarkan
”Drama-Foto Penciptaan” di berbagai daerah.
Dia dan istrinya, Frida, juga naik sepeda dan motor untuk mengabar
di wilayah yang sekarang adalah Kroasia, Makedonia,
Montenegro, dan Serbia.
Di Montenegro, ada 432 penyiar.
Itu peningkatan 4 persen dari tahun 2024.
Hampir sepertiga penyiar di sana adalah perintis.
Keadaan alam di wilayah utara dan wilayah selatan sangat berbeda,
dan metode pengabarannya pun berbeda.
Di Podgorica, ibu kota Montenegro, Sidang Podgorica Utara
punya daerah pengabaran yang sangat luas.
Beberapa penyiar mereka tinggal kira-kira 100 kilometer
dari Balai Kerajaan,
dan untuk berhimpun, mereka harus menempuh perjalanan
kira-kira dua jam.
Satu atau dua kali sebulan,
para penyiar di Podgorica
pergi ke desa-desa yang jauh
untuk mengabar bersama saudara-saudari di sana.
Di pagi hari, mereka biasanya mengadakan pertemuan dinas
di sebuah taman.
Setelah mengabar seharian dan berhimpun
melalui video-conference,
mereka menginap di rumah saudara-saudari setempat.
Besoknya, mereka baru pulang.
Di wilayah selatan, ada banyak pantai yang bagus.
Dan di bulan-bulan tertentu, jumlah turis
bisa dua kali lebih banyak daripada warga lokal.
Jadi, di bulan-bulan itu, sidang-sidang
banyak mengabar di daerah turis.
Dan di bulan-bulan lainnya, mereka lebih sering mengabar
dari rumah ke rumah atau di daerah bisnis.
Ada banyak hasil bagus yang mereka dapatkan.
Pada 2024, ada 769 orang yang menghadiri acara Peringatan.
Ke-37 penyiar di Sidang Herceg Novi
mengirimkan salam hangat kepada saudara-saudari
di seluruh dunia.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.