JW subtitle extractor

JW Broadcasting—April 2026

Video Other languages Share text Share link Show times

Selamat datang di JW Broadcasting®!
Di acara bulan ini,
kita akan belajar bagaimana kita bisa memandang
diri kita dengan cara pandang Yehuwa yang pengasih.
Kita juga akan menggali buku Mikha
dan mencari pelajaran yang bagus
tentang kejujuran dan kerendahan hati.
Dan, kita akan melihat bagaimana
perbuatan baik yang kelihatannya kecil
bisa sangat berkesan untuk orang lain.
Inilah JW Broadcasting!
Saudara-saudari,
kalian mungkin pernah merasa seperti
seorang saudari yang menulis begini:
”Tidak soal seberapa sayang saya sama Yehuwa
atau seberapa besar upaya saya untuk melayani Dia,
saya selalu merasa itu semua tidak pernah cukup.”
Karena hati kita tidak sempurna,
kadang kita mungkin merasa
tidak soal seberapa besar upaya kita,
kita tidak akan pernah bisa menyenangkan Yehuwa.
Kita tahu Yehuwa itu Allah yang suka mengampuni.
Meski begitu, bisa jadi kita
masih tetap merasa bersalah
karena kata-kata yang kita ucapkan
atau tindakan kita yang salah di masa lalu.
Kita mungkin terus mengingat hal-hal itu,
dan akibatnya kita jadi merasa kecil hati atau depresi.
Kebanyakan dari kita mungkin
pernah punya perasaan seperti itu.
Kenapa kita bisa merasa begitu?
Nah, mari kita lihat kata-kata terilham dari Rasul Yohanes
yang ditulis di 1 Yohanes 3:19, 20.
Ayat-ayat ini akan jadi dasar untuk pembahasan kita.
Temanya: ”Allah Lebih Besar Daripada Hati Kita”.
1 Yohanes 3:19, 20 mengatakan,
Perhatikan, di sini Yohanes pakai kata jamak:
”hati kita”.
”Kita akan meyakinkan hati kita” dan
”hati kita membuat kita merasa bersalah”.
Jadi seperti yang kita baca,
bahkan Rasul Yohanes pun pernah
merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
Tapi, Rasul Yohanes juga meyakinkan kita bahwa
Yehuwa melihat hal-hal baik dalam diri kita.
Dia mengatakan, ”Kita tahu
bahwa kita ada di pihak kebenaran.”
Nah, bagaimana Saudara jadi orang Kristen?
Kita mendengar dan menerima
kebenaran dari Firman Allah.
Kita beriman pada Yesus Kristus
dan kebenaran yang dia ajarkan.
Kita menolak dunia ini dan ajaran palsunya.
Kita berupaya meniru Kristus dengan mengasihi
saudara seiman dan melakukan apa yang benar.
Jadi, ’kita tahu kita ada di pihak kebenaran’.
Kebenaranlah yang mengubah
kehidupan Saudara dan saya.
Dengan memikirkan hal itu, kita bisa yakin
bahwa Yehuwa memang menerima
kita untuk menjadi keluarga-Nya.
Meski begitu, hati kita kadang
menyalahkan diri kita sendiri.
Kenapa kita bisa merasa seperti itu?
Karena hati nurani kita bekerja.
Waktu Firman Allah berbicara tentang ”hati”,
itu sering kali memaksudkan hati kita secara kiasan,
maksudnya siapa kita sebenarnya.
Menara Pengawal 1 Agustus 1997 mengatakan,
”Alkitab juga menghubungkan
hati nurani dengan hati kiasan,
yang mencakup perasaan dan emosi kita.”
Artikel itu mengutip Roma 2:15 yang
menjelaskan bagaimana hati nurani bekerja,
meskipun seseorang tidak
berada di bawah Hukum Musa.
Mari baca ayatnya.
Roma 2:15 mengatakan,
Jadi, hati nurani yang berasal dari Allah
bisa menyalahkan atau membela kita.
Itu bisa memperingatkan kita untuk tidak berbuat salah
dan juga akan memberi tahu kita
kalau kita sudah melakukan kesalahan.
Waktu Daud jadi buronan dan
bersembunyi di dalam gua,
dia memotong pinggiran rompi panjang Saul.
1 Samuel 24:5 mengatakan,
”Setelah itu, hati nurani Daud terus mengganggu dia
karena dia memotong pinggiran rompi panjang Saul.”
Ya, hati nurani Daud memberi tahu dia
bahwa dia sudah bertindak lancang
kepada Saul, raja yang Yehuwa lantik.
Jadi, hati nurani bisa membantu kita
untuk memeriksa dan menilai diri sendiri.
Waktu kita merasa bersalah, kita jadi
tergerak untuk bertobat dan berubah.
Tapi di sisi lain, kalau
hati nurani terus menghakimi kita,
kita bisa terbebani oleh
perasaan bersalah dan jadi merasa
bahwa Yehuwa tidak akan pernah
memaafkan kita meskipun kita sudah bertobat.
Atau, kita mungkin jadi merasa kita baru
bisa menyenangkan Allah kalau kita sempurna.
Seperti yang Paulus jelaskan di Roma 2:15,
hati nurani kita seperti hakim yang
menyatakan kita bersalah atau tidak.
Sebagai ilustrasi, coba bayangkan
kita sedang diadili di pengadilan.
Hakimnya, yang adalah hati nurani kita,
mendengarkan semua fakta
dan bukti yang diungkapkan oleh
para saksi, yaitu pikiran-pikiran kita.
Nah, hakim yang baik akan
dengarkan kesaksian dua belah pihak,
supaya keputusannya adil dan benar.
Tapi, apa jadinya kalau hakim hanya
mendengarkan para saksi yang menuduh kita?
Para saksi itu mungkin mengatakan
kita memang layak untuk dihukum.
Mereka mungkin berkata,
”Dia seharusnya enggak lupa apa yang dia lakukan.
Seharusnya dia sadar.
Dia itu lemah.
Niatnya memang salah.
Dia memang layak dipenjara
untuk waktu yang lama.”
Nah, karena hakimnya hanya
dengarkan para saksi yang menuduh kita
dan tidak dengarkan para saksi yang membela kita,
dia buat keputusan begini:
”Kamu dinyatakan bersalah dan
akan mendapatkan hukuman penjara.”
Begitu juga, kalau hati nurani kita
tidak dilatih dengan baik,
itu bisa seperti hakim yang tidak adil,
yang memberi kita hukuman
penjara, yaitu perasaan bersalah.
Bisa jadi, kita terus merasa kecil hati dan
tidak bisa melupakan kesalahan yang kita lakukan.
Nah, hati nurani Saudara itu hakim yang seperti apa?
Ingat, kalau hati nurani kita dilatih dengan baik,
itu juga bisa membela kita
waktu kita terus merasa bersalah.
Jadi, supaya hati nurani kita bekerja dengan baik,
kita perlu mengenal hukum Yehuwa
dan juga mengenal Sang Pemberi Hukum,
Hakim kita yang terbaik.
Artikel berjudul ”Melatih Hati Nurani Kita
untuk Berbuat Lebih Banyak bagi Kita”
di The Watchtower 1 September 1976 mengatakan,
Itu kuncinya.
Alkitab mengajarkan bahwa
Yehuwa menyukai keadilan.
Tapi, Dia juga masuk akal waktu menghakimi kita.
Dia penuh dengan belas kasihan dan kasih setia.
Semua yang Yehuwa lakukan dasarnya adalah kasih.
Kalau kita tahu sifat-sifat Yehuwa,
hati nurani kita akan dilatih untuk
menghakimi diri sendiri dengan seimbang.
Kita tidak akan berkompromi untuk
melakukan hal-hal yang salah.
Tapi di saat yang sama, kita juga tidak
akan terlalu menghakimi diri sendiri.
Sekarang, kita teruskan ilustrasinya.
Hakim yang baik, yang mengenal Yehuwa,
juga akan mendengarkan para saksi yang membela kita.
Para saksi ini mungkin mengatakan,
”Yang Mulia, tolong jangan hakimi dia
karena kesalahannya di masa lalu.
Kesalahannya bisa diampuni dan dilupakan.
Dia sudah cukup menderita dan merasa
bersalah untuk waktu yang sangat lama.
Dia sudah bertobat.
Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah.
Tapi lihat dia sekarang.
Dia sudah benar-benar berubah.”
Kalau kita kenal Yehuwa dan sadar
bahwa Yehuwa mengenal kita,
kita akan yakin meskipun
”hati kita membuat kita merasa bersalah, . . .
Allah lebih besar daripada
hati kita dan tahu segala sesuatu”.
Kita jadi tenang ya.
Yehuwa tahu hati kiasan kita,
maksudnya siapa kita sebenarnya.
Dia memang lihat kesalahan kita.
Tapi Dia juga lihat niat hati kita,
perasaan kita, keinginan kita untuk
melakukan yang benar, dan potensi kita.
Dia mengerti apa alasannya kita melakukan sesuatu.
Dia juga paham ada hal-hal
yang tidak bisa kita kendalikan,
misalnya ketidaksempurnaan.
Tentang belas kasihan Yehuwa,
buku Pemahaman di bawah
judul ”Belas Kasihan” berkata,
’Sudah jelas bahwa cacat manusia
yang mendasar dan terbesar
adalah akibat dosa warisan
dari bapak leluhur mereka, Adam.
Jadi, keadaan manusia mengenaskan,
mereka sangat butuh pertolongan.
Allah Yehuwa telah bertindak dengan belas kasihan
dengan memberikan sarana bagi mereka
untuk terbebas dari cacat besar itu.’
Jadi bisa dibilang, di pandangan
Yehuwa, kita ini memang cacat.
Itu alasannya Yehuwa berbelaskasihan.
Nah, coba kita lihat bagaimana Yehuwa
terbukti lebih besar daripada hati hamba-Nya.
Pikirkan pengalaman Petrus.
Di malam terburuk dalam hidupnya,
Petrus menyangkal Yesus sampai tiga kali.
Dia bahkan mengatakan dia tidak mengenal Yesus.
Malam itu, waktu Tuan menoleh dan
menatap Petrus, mereka saling menatap.
Menurut Saudara, apakah
Petrus bisa melupakan kejadian itu?
Apakah mungkin setiap kali
Petrus mendengar ayam berkokok,
dia teringat lagi kejadian itu?
Apakah mungkin dia terus ingat
apa yang dia katakan malam itu,
waktu dia mengatakan,
”Saya tidak kenal dia”; ”Saya tidak kenal dia”?
Bisa jadi.
Kita tidak tahu pasti.
Tapi, kita tahu bagaimana Yesus membantu
Petrus mengatasi perasaan bersalahnya.
Di hari Yesus dibangkitkan,
dia menemui Petrus secara pribadi.
Kelihatannya, Petrus dikasih
kesempatan untuk meminta maaf.
Kita memang tidak tahu apa yang Yesus katakan.
Tapi, Petrus pasti tidak akan
pernah melupakan percakapan itu.
Di Yohanes 21, Yesus belakangan
memberi Petrus kesempatan
untuk menyatakan kasihnya kepada
Yesus di hadapan murid-murid lain.
Dia dikasih kesempatan untuk
melakukan hal itu sebanyak tiga kali.
Dan di hadapan rasul-rasul lain,
Yesus memberi Petrus tugas yang penting.
Jadi, sekarang yang ada
dalam ingatan Petrus bukan lagi,
’Saya tidak kenal dia’; ’Saya tidak kenal dia.’
Tapi, Petrus jadi punya hal indah untuk diingat.
Melalui Yesus, Yehuwa menunjukkan kepada Petrus
bahwa Dia lebih besar daripada
hati Petrus yang tidak sempurna.
Jadi, apa yang sudah kita pelajari?
Hati nurani yang baik tidak akan berkompromi
tapi juga tidak akan terlalu menghakimi.
Kita perlu belajar untuk
memandang diri kita pakai cara Yehuwa
dan yakin Dia menghargai
upaya kita untuk melayani-Nya
serta tidak akan menghakimi kita dengan kejam.
Ya, Allah memang lebih besar daripada hati kita.
Kita harus yakin bahwa Yehuwa mengasihi kita
dan akan membantu kita untuk
melayani-Nya dengan bersukacita.
Mari kita lihat bagaimana saudara-saudari kita
berhasil mengatasi perasaan rendah diri.
Kalau kita mengalami kesulitan
yang tidak bisa dilihat orang lain
dan tidak bisa disingkirkan, itu berat sekali.
Dulu, keluarga kami sangat bahagia.
Saya dan suami punya dua anak.
Di sidang, suami saya penatua, dan saya perintis biasa.
Tapi suatu hari, suami saya mendadak meninggal,
dan saya tiba-tiba jadi seorang janda.
Dulu, saya tidak suka kata itu.
Itu membuat saya merasa lemah dan tidak berdaya.
Saya merasa tidak berguna.
Waktu saya kecil, orang yang
jadi sosok ayah buat saya
tidak mengurus saya dengan baik.
Dia selalu membuat saya
merasa tidak percaya diri
dan tidak bisa melakukan apa pun dengan baik.
Sampai saya dewasa,
perasaan negatif itu masih tetap saya rasakan.
Saya berumur 22 tahun waktu
saya tahu saya mengidap OCD.
Itu penyakit mental yang membuat
saya meragukan segala hal.
Sepanjang hari, saya selalu berpikir
bahwa saya melakukan sesuatu yang salah.
Saya bahkan pernah merasa telah berbuat kriminal
sampai-sampai saya menelepon polisi untuk mengaku.
Itu membuat saya benar-benar menderita.
Saya harus terus berjuang
melawan perasaan negatif itu.
Saya belum berhasil mengatasi penyakit ini.
Saya sebenarnya mau bilang saya baik-baik saja.
Tapi kenyataannya, tidak begitu.
Tanpa bantuan Yehuwa dan saudara-saudari,
perasaan negatif itu bisa membuat saya menyerah.
Ada satu saudara yang juga mengidap OCD.
Waktu saya tahu kami berdua mengalami
dan merasakan hal-hal yang sama,
wah, saya benar-benar terhibur.
Saya merasa Yehuwa yang
mengirim dia untuk menjadi teman saya.
Waktu lagi sedih, saya suka chat teman-teman saya.
Dan mereka selalu siap bantu saya,
bahkan kalau saya hanya mau curhat.
Waktu buat persiapan untuk tugas di sidang,
kadang saya merasa kurang terampil
dan tidak cocok untuk mendapat tugas itu.
Tapi, saya tahu Yehuwa melihat upaya saya.
Seperti yang dikatakan di Wahyu 4:11,
Yehuwa layak menerima semua yang bisa
saya berikan, semua kemuliaan dan kehormatan.
Dan saya yakin Dia menghargainya.
Yehuwa senang kalau kita memberikan yang terbaik
meskipun kita mungkin merasa kurang berharga.
Berupayalah untuk tetap datang berhimpun
walaupun kita tahu kita akan menangis
waktu dengar bahannya atau waktu bernyanyi.
Kalaupun kita sampai menangis
di perhimpunan, tidak apa-apa.
Itu sama sekali tidak masalah.
Itu justru akan membuat kita jadi semakin akrab
dengan saudara-saudari dan juga dengan Yehuwa.
Setiap hari, saya harus berupaya
meniru cara Yehuwa memandang diri saya.
Doa sangat membantu.
Saya sangat terhibur karena
Yehuwa tahu saya mengidap OCD.
Kadang saya mengalami serangan panik,
dan biasanya saya langsung berdoa
kepada Yehuwa supaya saya lebih tenang.
Saya juga dikuatkan waktu lihat
cara Yehuwa jawab doa-doa saya.
Saya selalu terharu kalau ingat itu.
Saya sering minta sesuatu ke Yehuwa,
dan tidak ada yang tahu soal itu.
Jadi, waktu ada yang kasih bantuan itu
ke saya, saya jadi yakin itu pasti Yehuwa.
Dia selalu bantu saya.
Anggaplah Yehuwa sebagai Bapak,
sama seperti yang Yesus lakukan.
Di Yohanes 17,
Yesus mengungkapkan perasaannya kepada Yehuwa
tidak lama sebelum dia dihukum mati.
Dan waktu saya baca itu, saya bisa lihat
bahwa Yesus sangat dekat dengan Yehuwa.
Saya ingin sedekat itu dengan Yehuwa.
Belakangan, waktu saya
merenungkan berbagai kisah di Alkitab,
saya sadar, pandangan Yehuwa terhadap janda
sangat berbeda dengan pandangan dunia ini.
Yehuwa membuat hukum untuk bangsa Israel
agar para janda diperlakukan dengan baik.
Dulu, saya sangat tidak suka dengan kata ”janda”.
Tapi sekarang, pandangan saya sudah berubah.
Saya sadar Yehuwa sangat peduli kepada saya.
Dia pasti akan menjaga dan melindungi saya.
Bagi Yehuwa, kita sangat berharga meskipun
kita mungkin merasa diri kita kurang berharga.
Karena kasih-Nya, kita jadi merasa dihargai
dan kita bisa membuang
perasaan negatif tentang diri kita sendiri.
Pikiran Yehuwa lebih tinggi daripada pikiran kita.
Dia tahu semua kekhawatiran kita,
kepedihan kita, dan juga kebahagiaan kita.
Yakinlah, Yehuwa sayang kepada kita.
Yehuwa akan menghibur kita melalui doa
dan teman-teman yang sayang sama kita.
Seperti kata Saudari Wood,
”Yehuwa akan menjaga dan melindungi kita”.
Kita bisa belajar lebih banyak
dari video wawancara Saudari Wood dalam
durasi lebih panjang yang akan dirilis bulan ini.
Waktu ada yang baik sama kita,
kita biasanya jadi ingin baik juga sama orang lain.
Di episode terbaru dari ”Besi Menajamkan Besi”,
kita akan lihat bagaimana caranya
meniru kebaikan hati Yehuwa.
Halo, saya Jonathan.
Ini acara ”Besi Menajamkan Besi”.
Kita mau bahas salah satu sifat
yang membuat Yesus mudah didekati
oleh orang berdosa,
orang sakit, dan anak-anak—sifat baik hati.
Seperti Yehuwa, Yesus baik hati
kepada orang benar dan orang jahat.
Yesus baik hati bukan hanya
kepada orang-orang yang baik sama dia
atau yang suka sama dia.
Tapi, Yesus selalu menunjukkan kebaikan hati
karena dia tahu itu ada pengaruhnya
untuk orang lain dan itu memuliakan Yehuwa.
Bagaimana dengan kita?
Kita bisa baik hati ke siapa dan kapan?
Permisi, jam besuknya habis ya.
Silakan pulang.
Oh. Maaf ya.
Kayaknya masih ada waktu deh.
Lima menit lagi kan?
Gak apa-apa.
Tori, kami pulang dulu ya.
Nanti kami mampir lagi.
Saudari kita bijak ya.
Dia dan teman-temannya pergi meskipun
sebenarnya masih punya waktu beberapa menit.
Tapi, ada lagi yang bisa dia lakukan.
Nah, langkah pertama untuk berbaik hati adalah:
Bayangkan perasaan orang itu.
’Apa yang mungkin sedang dia pikirkan atau butuhkan?’
Lalu, tunjukkan kepedulian
dengan mendengarkan baik-baik.
Kalian duluan ya.
Aku mau ke situ dulu.
Halo.
Iya?
Makasih banyak ya sudah bantu rawat teman saya.
Sama-sama.
Maaf ya, tadi saya agak kasar.
Kami lagi kurang orang.
Stres banget deh.
Luar biasa ya!
Karena saudari itu bilang terima kasih,
perawat itu merasa dihargai.
Setelah seseorang cerita perasaannya ke kita,
kita perlu berbicara dengan ramah dan sopan.
Itulah langkah kedua.
Kalau kita benar-benar peduli kepada orang lain,
itu akan terdengar dari cara bicara kita.
Gunakan kata-kata dan nada suara yang cocok.
Jangan sampai kata-kata kita
membuat dia tersinggung.
Kami lagi kurang orang.
Stres banget deh.
Gak apa-apa.
Saya rasa jadi suster itu pasti gak mudah.
Iya, apalagi hari ini.
Tapi, untung kamu masih sempat ngeteh ya.
Maunya sih gitu.
Tapi tadi tumpah, dan saya belum sempat beli lagi.
Wah, benar-benar berat ya hari ini buat kamu.
Ya gitu lah.
Saya Amanda.
Saya Mary.
Makasih ya perhatiannya.
Oke, selamat kerja ya.
Bagus ya hasilnya.
Perawat itu jadi senang.
Tapi, apa lagi yang bisa dilakukan?
Berikan bantuan.
Itulah cara ketiga.
Berbaik hati itu tidak hanya memikirkan
perasaan orang lain dan bersikap ramah.
Kita mau cari kesempatan untuk membantu orang itu.
Apa ini butuh waktu, tenaga, atau uang kita?
Iya, tapi itu tidak akan sia-sia.
Mary, ini buat kamu.
Kamu kok repot-repot.
Enggak, gak repot kok.
Makasih banyak ya.
Kalau boleh tahu . . .
. . . pasien yang kamu kunjungi itu orang penting ya?
Saya lihat ada banyak yang jenguk dia.
Dia teman dekat kami.
Sudah kayak keluarga sih.
Kami Saksi-Saksi Yehuwa.
Ah, kalian memang orang baik-baik ya.
Makasih.
Tori itu teman baik saya.
Alasan kita berbaik hati harus tulus.
Jadi kadang, kita melakukannya
tanpa memberikan kesaksian.
Kalau orang merasa bahwa kita peduli,
mereka akan lebih tertarik untuk mendengarkan kita.
Jadi kesimpulannya,
tiga langkah untuk berbaik hati adalah:
Pertama, bayangkan perasaan orang itu.
Pikirkan apa yang dia butuhkan atau khawatirkan.
Kalau dia cerita perasaannya, dengarkan.
Kedua, berbicara dengan ramah dan sopan.
Orang bisa tahu kita peduli kepada mereka
dari nada suara dan kata-kata kita.
Ketiga, berikan bantuan.
Cari kesempatan untuk membantu orang.
Dengan begitu, kita mungkin bisa
memberikan kesaksian.
Tapi ingat, hal yang paling penting adalah: Tirulah Yesus.
Kasihi semua orang, karena seperti kata Alkitab,
”kasih itu . . . baik hati”.
Kalau kita mempelajari
Firman Allah dan menerapkannya,
kita akan lebih mudah seperasaan dengan orang lain.
Nah, mari kita lihat bagaimana
caranya mengupas ayat Alkitab
dan merenungkan setiap bagiannya.
Kita akan menggali
permata-permata rohani dari buku Mikha.
Sebelum kamu riset,
apa yang kamu tahu tentang buku Mikha?
Waktu itu, aku cuma tahu
ayat favorit Mama, Mikha 6:8.
Tapi soal yang lain, aku masih belum tahu banyak.
Iya, aku juga.
Jadi, gimana kamu mulai risetnya?
Pertama-tama, aku coba cari tahu dulu
gimana situasinya waktu buku itu ditulis.
Iya, itu penting ya.
Terus gimana kamu bisa dapat informasi soal itu?
Aku lihat referensi silangnya,
salah satunya 2 Tawarikh 27-29.
Dari situ, aku jadi tahu apa saja
yang terjadi waktu Mikha bernubuat.
Dia jadi nabi waktu pemerintahan
Raja Yotam, Ahaz, dan Hizkia.
Waktu Ahaz memerintah, dia bukan raja yang baik ya.
Benar.
Dia bahkan mengorbankan anak-anaknya sendiri!
Parah banget ya.
Rakyatnya, orang Yehuda,
juga enggak setia sama Yehuwa.
Bahkan waktu mereka diperintah
sama raja yang baik, misalnya Yotam,
mereka ”masih bertindak bejat”.
Iya, makanya Mikha diutus untuk menegur mereka.
Dia harus bernubuat bahwa Samaria
dan Yerusalem akan dihancurkan.
Tapi, Yehuwa tetap kasih mereka harapan ya.
Iya, Yehuwa sabar banget.
Tapi, kesabaran-Nya tetap ada batasnya.
Mm-hmm.
Karena Yehuwa adil dan mau
melindungi orang yang enggak bersalah,
Dia perlu mendisiplin bangsa Israel.
Tapi, Dia tetap berupaya bantu mereka.
Mikha bernubuat bahwa bangsa Israel
akan kembali ke negeri mereka.
Yehuwa mau mereka berdamai lagi sama Dia.
Iya ya.
Mikha dengan taat menyampaikan pesan
yang penting dari Yehuwa ke bangsa Israel,
dan pesannya mirip dengan
yang disampaikan Yesaya.
Misalnya, waktu aku bandingkan Mikha 4:1-3
sama Yesaya 2:2-4,
hampir semua kata-katanya sama.
Wah menarik ya.
Dan bagus tuh, tadi kamu bandingkan
buku Mikha sama buku Yesaya.
Aku juga mau coba cara itu waktu riset.
Yesaya sudah bernubuat lebih dulu daripada Mikha.
Mereka berdua dengan setia
mengikuti petunjuk dari Yehuwa,
meskipun pesan yang mereka sampaikan
mungkin kedengarannya berulang-ulang.
Jadi waktu Mikha bernubuat,
orang-orang mungkin pikir,
’Bukannya kita sudah dengar ini dari Yesaya?’
Mungkin ya.
Dan bisa jadi Mikha pikir, Yehuwa pasti
sayang banget sama bangsa Israel
dan Dia mau mereka paham pesan-Nya.
Seperti Mikha, aku mau terus mengabar meskipun
pesan yang kita sampaikan seperti berulang-ulang.
Kalau kamu, belajar apa dari buku Mikha?
Ada satu ayat yang menurutku
menarik banget: Mikha 3:5.
Coba deh kita baca sama-sama ayatnya.
Hah?
Kok lucu ya?
Iya, aneh banget, kan?
Iya.
Tapi aku senang kalau
ketemu ayat yang agak sulit begini,
soalnya aku jadi enggak buru-buru
dan benar-benar pikirkan ayat itu.
Kalau ada ayat yang enggak terlalu banyak
dijelaskan di publikasi atau yang aku kurang mengerti,
aku coba pikirkan setiap bagian
ayat itu dan cari tahu maknanya.
Wah, bagus tuh.
Coba aku catat.
”Jangan buru-buru.
Pikirkan setiap bagian ayatnya.”
Jadi, bagian awalnya kasih tahu kalau
Yehuwa enggak senang sama para nabi palsu
yang ”menyerukan damai selama
ada sesuatu untuk dikunyah”.
Aku juga sempat lihat catatan kakinya:
Menurut kamu, maksudnya apa?
Hmm, mungkin maksudnya, selama para
nabi itu diberi makanan sama orang-orang,
pesan dari mereka selalu damai.
Iya ya.
Kelihatannya waktu mereka dikasih sesuatu
sama orang-orang, misalnya makanan,
mereka ”menyerukan damai”.
Tapi kalau mereka enggak dikasih apa-apa,
mereka jadi ”menyerukan perang”.
Jadi, mereka cuma pikirkan diri mereka
sendiri ya, sama kayak banyak orang sekarang.
Hmm, dari ayat ini aku jadi belajar,
bagi Yehuwa, motif dan cara kita
memperlakukan orang lain itu penting.
Dan Dia perhatikan itu.
Aku jadi pikir, ’Apa aku berbuat baik ke orang lain
karena aku memang peduli sama mereka
atau karena aku mengharapkan sesuatu dari mereka?
Dan waktu dinas, apa aku rela berkorban,
misalnya untuk belajar bahasa baru
atau mengubah jadwal dinasku
supaya bisa ketemu lebih banyak orang?’
Nabi-nabi palsu tadi pasti enggak mau lakukan itu.
Mereka enggak menghargai dan
enggak memahami tugas mereka.
Makanya, Yehuwa menegur mereka.
Dari sini, aku belajar,
Yehuwa sayang banget sama umat-Nya.
Dia mau umat-Nya diperlakukan dengan adil.
Cocok ya sama ayat favorit Mama,
Mikha 6:8.
Memang bagus ya ayat itu.
Yehuwa kayak bilang, ’Kamu cuma perlu
lakukan beberapa hal ini supaya kamu bahagia.’
Iya, dan itu nyambung ya
sama pembahasan kita tadi.
Yehuwa mengutus Nabi Mikha untuk
memperingatkan orang-orang yang egois dan tidak adil.
Mereka beda banget sama Mikha.
Dia selalu setia karena dia menghargai
hubungannya dengan Yehuwa.
Dia enggak berupaya untuk
jadi terkenal atau dipuji orang.
Dia benar-benar sadar diri.
Wah, kalau kita riset, ternyata ada banyak ya
pelajaran yang kita dapat dari buku Mikha.
Iya.
Tadi kita sudah cari tahu
situasi waktu buku itu ditulis,
bandingkan buku itu sama buku lain,
dan benar-benar pikirkan setiap bagian ayatnya.
Wah, seru ya!
Kamu masih ada waktu enggak
buat riset ayat-ayat yang lain?
Masih dong.
Yuk, kita cari lagi permata rohani dari buku Mikha.
Kalau kita merenungkan apa yang kita baca,
kita akan tahu cara menerapkannya.
Permata apa yang akan
Saudara dapat dari buku Mikha?
Di video ibadah pagi berikut ini,
Saudara Malenfant membahas apa manfaatnya
kalau kita merenungkan kasih Yehuwa.
Acara peringatan kematian Yesus mengingatkan kita
betapa besarnya kasih yang Yehuwa
dan Yesus tunjukkan kepada kita.
Mereka menunjukkan kasih itu
dengan memberi kita korban tebusan.
Itu pemberian yang luar biasa.
Kita pasti mau melakukan sesuatu untuk
menunjukkan bahwa kita menghargai pemberian itu.
Nah, kata-kata di 2 Korintus 5:14 sangat menarik
dan bisa membantu kita mengerti tentang hal ini.
Silakan buka Alkitab di HP atau
tablet Saudara di 2 Korintus 5:14, 15.
Ayatnya mengatakan,
”Kami tergerak oleh kasih Kristus,
karena kesimpulan kami adalah:
Satu orang itu mati demi semua orang,
karena sebenarnya semua orang sudah mati.
Dia mati demi semua orang, sehingga orang
yang hidup tidak lagi hidup untuk diri sendiri,
tapi untuk Kristus, yang mati
demi mereka dan dibangkitkan.”
Coba perhatikan kalimat pertama
dari ayat yang tadi kita baca.
Di situ dikatakan: ’Kita tergerak oleh kasih Kristus’
sehingga kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri.
Kata ”tergerak” tidak memaksudkan
bahwa kita dipaksa untuk hidup bagi Kristus.
Kita juga bukannya terpaksa untuk melakukan
kehendak Yehuwa karena sudah kewajiban.
Kata itu punya makna yang lebih dalam.
Menurut sebuah kamus, kata ”tergerak”
bisa berarti kita ”terdorong untuk melakukan
sesuatu karena perasaan yang kuat”.
Bukankah itu yang kita rasakan setelah
kita merenungkan pengorbanan Yesus?
Kita jadi benar-benar menghargai
pemberian yang luar biasa itu.
Dan hasilnya, kita jadi mau melakukan
kehendak Yehuwa sepanjang hidup kita.
Ya, itulah yang kita lakukan setelah kita tahu
seberapa besar nilai pemberian dari Yehuwa.
Dan, itu juga yang dirasakan Rasul Paulus.
Dia tidak menahan diri untuk mengungkapkan
perasaannya tentang korban tebusan Yesus
dan manfaat tebusan itu bagi dirinya.
Mari buka Alkitab kita di buku Galatia pasal 2.
Galatia pasal 2, dan kita baca ayat 20.
Di sini Paulus menceritakan perasaannya
tentang korban tebusan Yesus.
Dia mengatakan, ”Saya dipaku
di tiang bersama Kristus.
Maka, yang hidup bukan saya lagi,
tapi Kristus yang hidup dalam diri saya.
Saya menjalani hidup yang sekarang ini
sesuai dengan iman kepada Putra Allah,
yang mengasihi saya dan
mengorbankan dirinya bagi saya.”
Bagus ya.
Paulus menganggap korban tebusan Yesus
sebagai pemberian untuk dirinya secara pribadi,
dan kita juga bisa seperti itu.
Yesus mati demi kita masing-masing
supaya kita tidak perlu mati
untuk menebus dosa kita sendiri.
Selain itu, kita perlu ingat, korban tebusan Yesus adalah bukti
yang paling kuat bahwa Yehuwa adalah Allah yang murah hati.
Karena itu, kita hidup ”sesuai
dengan iman kepada Putra Allah”.
Dan, kita tahu bahwa Allah Yehuwa adalah
Pemberi yang paling murah hati di alam semesta.
Kita sudah menerima pemberian
yang paling luar biasa dari-Nya.
Nah, perhatikan bagaimana Alkitab
menggambarkan pemberian ini
di 2 Korintus 9:15.
Dikatakan, ”Syukur kepada Allah atas
karunia-Nya yang tak terlukiskan.”
Kata-katanya bagus sekali ya,
”karunia-Nya yang tak terlukiskan”.
Tebusan itu begitu luar biasa dan manfaatnya begitu besar
sampai-sampai tidak ada kata-kata yang bisa melukiskannya.
Menara Pengawal tahun 2017
edisi umum No. 2, halaman 6
menggambarkan korban tebusan Yesus seperti ini.
Dan menurut saya kata-katanya sangat bagus:
”Tidak ada hadiah yang lebih
berharga daripada korban Yesus.
Ini pemberian dari pribadi tertinggi di alam semesta
dan diberikan karena kasih yang terbesar.
Tidak ada yang pernah membuat
pengorbanan yang lebih besar untuk kita
daripada Allah Yehuwa.
Dan, korban Yesus sangat kita butuhkan karena
itu membebaskan kita dari dosa dan kematian.
Jadi, hadiah apa pun tidak bisa
menandingi besarnya nilai tebusan.”
Kata-kata dari Menara Pengawal
itu benar-benar bagus ya.
Korban tebusan Yesus tidak
hanya menyelamatkan kita,
tapi juga membawa banyak
sekali berkat yang luar biasa.
Misalnya, penyakit tidak akan ada lagi.
Bumi ini akan diubah menjadi Firdaus yang indah.
Dan yang pasti, harapan yang paling indah yang kita miliki,
yaitu kebangkitan orang-orang yang sudah meninggal.
Apa yang Yesus lakukan itu benar-benar
’karunia yang tak terlukiskan’.
Sekarang, mari kita lihat kata-kata Rasul Petrus
tentang apa yang perlu kita lakukan karena kita sudah
menerima korban tebusan dan menghargainya.
Mari baca 1 Petrus.
1 Petrus pasal 1, dan kita akan baca ayat 8 dan 9.
Cara Petrus menjelaskannya bagus sekali.
Ayatnya mengatakan, ”Kalian memang tidak pernah
melihat dia [kita tidak pernah melihat Yesus],
tapi kalian mengasihinya.
Sekarang kalian tidak melihat dia, tapi kalian
beriman kepadanya dan sangat bersukacita,
dengan sukacita besar yang tak terlukiskan,
karena yakin bahwa iman kalian
akan membuat kalian diselamatkan.”
Ya, senang sekali rasanya waktu kita memikirkan
baik-baik semua yang sudah Yehuwa lakukan untuk kita.
Misalnya, Dia sudah memberi kita
janji tentang masa depan yang indah.
Melalui kuasa kudus-Nya, Dia juga memberi kita
banyak persediaan yang membantu kita untuk melayani Dia,
memuliakan Dia, dan menikmati
kehidupan kita, bahkan sekarang.
Itu benar-benar berkat yang luar biasa.
Pikiran kita bisa damai, dan
hati kita bisa sangat bersukacita
kalau kita memikirkan dan merenungkan semua hal baik
yang Yehuwa lakukan sekarang dan di masa depan.
Kuasa kudus Yehuwa membuat kita bahagia,
bersyukur, dan semakin percaya kepada Allah.
Itulah yang dikatakan Roma 15:13.
Roma 15:13:
”Semoga Allah, yang memberikan harapan,
membuat kalian penuh sukacita dan
damai karena kalian percaya kepada-Nya,
sehingga kalian bisa berharap dengan
sepenuh hati dengan kekuatan kuasa kudus.”
Sungguh berkat yang istimewa!
Karena Yehuwa dan Yesus sudah
melakukan banyak hal luar biasa untuk kita,
kita jadi mau berupaya sebisa-bisanya untuk memuliakan
nama Yehuwa dan melakukan kehendak-Nya.
Nah, perasaan kita cocok
dengan kata-kata di buku Mazmur.
Coba buka Alkitab kita di Mazmur 116:12, 14.
Mazmur 116:12, 14.
Ayat 12-nya mengatakan,
”Dengan apa aku akan membalas Yehuwa
atas semua kebaikan-Nya kepadaku?”
Nah, kalau kita turun ke ayat 14,
di situ dijelaskan apa peran kita.
Dikatakan, ”Akan kupenuhi ikrarku kepada
Yehuwa di depan seluruh umat-Nya.”
Dulu kita sudah berikrar kepada
Yehuwa di depan umum, kan?
Jadi, dengan apa kita akan membalas
Yehuwa atas semua kebaikan-Nya?
Kita memuliakan Dia.
Tidak ada jalan hidup yang lebih baik daripada
menghormati Kristus dan melakukan kehendak Allah,
karena itulah yang Allah inginkan dari
kita dan karena kita mau memuliakan Dia.
”Dengan apa aku akan membalas Yehuwa?”
Claude dan Sandra Sauvageau
terus memikirkan pertanyaan itu.
Mari lihat bagaimana mereka mendapat
banyak berkat karena membalas Yehuwa.
Waktu saya kecil, orang tua saya
membantu saya menyukai dinas pengabaran.
Satu atau dua kali seminggu,
setelah Papa pulang kerja,
Papa ganti baju dan
mengajak saya pergi dinas.
Mama saya, Rita, belajar Alkitab.
Saya kenal kebenaran dari dia,
karena dia sering taruh buku-buku di
berbagai tempat di rumah, jadi saya baca.
Saya pikir, ’Wah, ini luar biasa!
Saya juga mau hidup selamanya seperti ini.’
Waktu itu, kami baru menikah dan
kami tidak punya banyak tanggungan.
Kami merasa kami bisa berbuat
lebih banyak untuk Yehuwa.
Jadi, karena ingin meluaskan pelayanan,
kami mengisi permohonan untuk Sekolah Gilead.
Lalu, kami pergi ke Republik Afrika Tengah
dan belajar bahasa baru.
Yang mau belajar Alkitab banyak sekali,
sampai-sampai kami kewalahan!
Tapi, belakangan saya sakit.
Dokter di sana bilang tidak
ada yang bisa dia lakukan,
jadi dia sarankan agar kami pulang ke negeri kami.
Rasanya sangat sulit meninggalkan tempat tugas kami
karena kami suka tugas ini, dan kami
tidak tahu selanjutnya harus bagaimana.
Di salah satu pertemuan wilayah
pertama setelah kami pulang,
ada seorang pengawas wilayah.
Dia menyampaikan khotbah di pertemuan itu.
Dia sudah kenal saya sejak saya masih kecil.
Mungkin dia bisa lihat saya sedang kecil hati,
jadi dia mengajak saya bicara.
Dia bilang, ”Kamu sudah dapat pelatihan.
Terus gunakan apa yang sudah kamu pelajari.
Jangan lihat ke belakang.
Kamu harus lihat ke depan dan fokus
sama apa yang bisa kamu lakukan.”
Itu sangat menguatkan saya.
Pelan-pelan, kesehatan saya membaik.
Jadi, kami bisa berbuat lebih
banyak dan mulai merintis lagi.
Belakangan, karena pekerjaan saya,
kami pindah ke Amerika.
Waktu itu, kami bisa pilih antara tiga sidang:
bahasa Inggris, Prancis, atau Spanyol.
Sidang bahasa Spanyol baru
dibentuk beberapa bulan sebelumnya.
Jadi kami bahas bersama, dan kami pikir,
’Gimana kalau kita pakai lagi
pelatihan yang sudah kita dapatkan?’
Sandra cepat sekali belajar bahasa baru.
Dalam beberapa bulan saja, dia sudah bisa,
sedangkan saya belajarnya sangat-sangat lama.
Saya payah sekali.
Sekarang, kami sudah di sidang ini selama
25 tahun, dan kami sangat menikmatinya.
Kami sudah bisa bahasa Spanyol.
Sepertinya begitu, ya.
Dan, kami dapat banyak
hasil bagus selama di sini.
Waktu usia bertambah, muncul
juga kesulitan-kesulitan baru.
Kami juga khawatir karena makin tua.
Tapi Yehuwa selalu membantu kami,
dan Dia tidak pernah minta kita berikan
apa yang di luar kemampuan kita.
Dan Yehuwa kasih kami kesempatan lain,
jadi kami ambil kesempatan itu.
Waktu itu, kami sudah 50-an dan kami
membantu Panitia Pembangunan Regional.
Lalu, ada kesempatan untuk ikut proyek Warwick.
Ada banyak saudara-saudari yang mendaftar,
dan setelah pulang, mereka terlihat sangat senang.
Tapi, mereka juga bilang kalau pekerjaan
di sana sangat menguras tenaga.
Jadi saya pikir, ’Wah, saya harus latihan nih.’
Saya cerita ya.
Dia taruh tangga di tengah-tengah rumah.
Itu latihannya.
Dia naik turun, naik turun, naik turun.
Berapa lama ya? 15 menit?
Supaya dia terbiasa.
Waktu itu, saya lihatnya agak lucu.
Tapi, ya, itu latihan dia.
Dan ternyata itu sangat membantu, ya.
Kalau ditotal, kami berdua sudah melayani
Yehuwa selama lebih dari 100 tahun.
Kami bisa bantu RBS,
mengabar di penjara,
mengabar di pelabuhan.
Kami belajar tidak soal seberapa
banyak yang bisa kita kasih ke Yehuwa,
yang Yehuwa kasih ke kita selalu lebih banyak lagi.
Kami bersyukur Yehuwa
kasih jalan hidup yang terbaik.
Kami masih semangat sampai sekarang.
Kami sangat suka melatih yang lebih muda
supaya mereka juga semangat melayani Yehuwa.
Tidak ada kata pensiun.
Kami terus melayani sampai sekarang.
Ini hal terbaik yang bisa kita lakukan.
Jadi, buat apa berhenti?
Ayo semangat terus.
Pasangan Sauvageau ingin terus
membalas kebaikan hati Yehuwa.
Itu cocok dengan video musik bulan ini,
yang temanya tentang berterima kasih
kepada Yehuwa untuk kebaikan hati-Nya.
’Ku menatap indahnya senja
Warna-warni di cakrawala
Angin sore mulai menyapa
’Ku mengingat-Mu, Yehuwa
Kau s’lalu buka tangan-Mu
Kau penuhi kebutuhanku
Tiap hari tak akan ’ku lupa
S’lalu bersyukur pada-Mu, Yehuwa
Kau sungguh murah hati
Limpah kebaikan-Mu
Kasih-Mu selalu
Ada setiap waktu
Kepada semua, ’ku mau berbagi
’Ku ingin memberi, ’ku tak pilih kasih
Tiru kebaikan-Mu
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Firman-Mu penuh dengan permata
Tak akan pernah ada habisnya
Saat ’ku lelah dan putus asa
Damai-Mu segarkan jiwa
Air kehidupan Kau berikan
Indah harapan yang Kau ulurkan
Kabar baik dari-Mu, Yehuwa
’Ku ingin bagikan kepada semua, kar’na
Kau sungguh murah hati
Limpah kebaikan-Mu
Kasih-Mu selalu
Ada setiap waktu
Kepada semua, ’ku mau berbagi
’Ku ingin memberi, ’ku tak pilih kasih
Tiru kebaikan-Mu
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Kau sungguh murah hati
Limpah kebaikan-Mu
Kasih-Mu selalu
Ada setiap waktu
Kepada semua, ’ku mau berbagi
’Ku ingin memberi, ’ku tak pilih kasih
Tiru kebaikan-Mu
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Itu yang ’ku mau
Kita bisa merasa sangat dekat
dengan Allah yang sangat murah hati.
Dia memberi kita Firman-Nya
yang berisi banyak pelajaran berharga.
Dia memberi kita kesempatan untuk menunjukkan
kasih dan kebaikan hati kepada orang lain.
Dan, Dia terus mengingatkan kita
bahwa kita sangat berharga.
Nah sekarang, kami mau
bagikan hadiah yang istimewa,
yaitu undangan
Pertemuan Regional 2026 ”Bahagia Selamanya”.
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan bahagia
kalau ada hal-hal yang buat mereka senang.
Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba ada masalah?
Apakah kita bisa tetap bahagia?
Hampir 2.000 tahun yang lalu,
Yesus mengajarkan bahwa kita bisa benar-benar bahagia
kalau kita bersahabat dengan Sang Pencipta.
”Bahagialah orang yang sadar
bahwa mereka punya kebutuhan rohani . . .
Bahagialah orang yang lembut hati . . .
Bahagialah orang yang menunjukkan belas kasihan . . .
Bahagialah orang yang hatinya murni . . .
Bahagialah orang yang menciptakan damai.”
Untuk mencari tahu bagaimana Anda bisa
mendapat manfaat dari ajaran Yesus itu,
hadirilah Pertemuan Regional
Saksi-Saksi Yehuwa 2026 ”Bahagia Selamanya”.
Ada berbagai ceramah
berdasarkan Alkitab, wawancara,
dan video yang menunjukkan bagaimana ajaran Yesus
membantu orang-orang mendapat kebahagiaan.
Pertemuan ini diadakan di seluruh dunia,
dan acaranya gratis.
Cari lokasi terdekat di jw.org.
Sampai jumpa di sana!
Silakan bagikan undangan untuk pertemuan
yang bagus ini kepada teman dan keluarga.
Kami juga senang merilis lagu
untuk Pertemuan Regional 2026.
Judulnya, ”Bahagia Karena Melihat Kebenaran”.
Lagu dan liriknya sekarang sudah bisa
didownload di JW Library® dan jw.org.
Kami menganjurkan kalian untuk
berlatih menyanyikan lagu ini
supaya nanti di acara pertemuan, kita bisa
menyanyikan lagu ini dengan semangat.
Dan, kalau lagu ini sudah tersedia dalam bahasa kalian,
lagu ini akan dinyanyikan di akhir perhimpunan
tengah pekan di minggu mulai 20 April 2026.
Bulan ini, kita akan jalan-jalan ke negara yang
paling sering dikunjungi di Kepulauan Karibia,
yaitu Republik Dominika.
Di sana, ada puncak gunung
yang paling tinggi di Kepulauan Karibia
dan ada batu ambar yang nilainya sangat tinggi.
Kalau kita jalan-jalan ke
pegunungan atau air terjun di sana,
kita bisa lihat hewan-hewan yang unik,
misalnya iguana badak,
solenodon Hispaniola, atau agouta,
dan burung palmchat yang suaranya sangat nyaring.
Orang-orang di Republik Dominika
terkenal ramah dan hangat.
Kalau mereka buat acara besar,
biasanya mereka akan menyajikan sancocho,
sup yang sangat disukai oleh banyak orang di sana.
Negeri ini juga adalah tempat lahirnya merengue,
jenis musik dan tarian yang jadi
bagian dari kehidupan mereka.
Bendera Dominika adalah satu-satunya
bendera di dunia yang ada gambar Alkitabnya.
Di bendera itu, kita bisa lihat Yohanes 8:32,
yang isinya, ”Kebenaran itu akan membebaskan kalian.”
Sesuai dengan kata-kata Yesus,
ribuan orang di sana sudah belajar Alkitab dan
dibebaskan dari nasionalisme serta agama palsu.
Pada April 1945, sepasang utusan injil,
yaitu Lennart dan Virginia Johnson,
memulai pekerjaan pengabaran di Dominika.
Di hari mereka tiba di sana,
mereka langsung mengabar
dan memulai pelajaran Alkitab.
Belakangan, lebih banyak
utusan injil yang ditugaskan ke sana
dan banyak orang yang hadir di
acara perhimpunan di rumah utusan injil.
Hanya dalam tiga tahun, ada sekitar
110 penyiar yang mengabar di sana.
Pertumbuhan ini disadari oleh para penentang.
Waktu seorang diktator,
yaitu Rafael Trujillo, memerintah,
saudara-saudari kita dianiaya dengan kejam.
Vatikan membantu Trujillo mendapatkan kekuasaan.
Semua gereja di pulau itu
harus memasang tanda yang bertuliskan:
”Allah di Surga, Trujillo di Bumi”.
Tapi, saudara-saudari kita tetap setia kepada Yehuwa.
Pemerintah melarang kegiatan kita
pada tahun 1950 dan tahun 1957.
Tapi pada masa pelarangan itu,
saudara-saudari terus bertekun.
Mereka mengabar dengan bijaksana
dan mencetak publikasi secara diam-diam,
seperti yang kita lihat dalam peragaan ini.
Meskipun kegiatan kita dilarang,
semakin banyak orang di
Republik Dominika menjadi umat Yehuwa.
Pelarangan yang kedua dicabut pada 1960.
Sekarang, ada lebih dari 38.000 penyiar
yang memandu lebih dari 45.000
pelajaran Alkitab setiap bulan.
Perhimpunan di sana diadakan dalam bahasa Spanyol,
Kreol Haiti, Bahasa Isyarat Amerika,
Inggris, Mandarin, dan Rusia.
Di pegunungan kira-kira 150 kilometer dari ibu kota,
ada kota kecil bernama Constanza.
Kita akan jalan-jalan ke Sidang Los Laureles.
Di sidang ini, ada 134 penyiar,
dan 36 di antaranya melayani sebagai perintis biasa.
Setiap bulannya, saudara-saudari di sana
memandu lebih dari 170 pelajaran Alkitab!
Mengabar di sana sangat menyenangkan,
bukan cuma karena
pemandangan gunungnya yang indah,
tapi juga karena ada banyak orang yang
dengan tulus mau belajar tentang Yehuwa.
Saudara-saudari di Sidang Los Laureles di Constanza
mengirimkan salam hangat untuk kalian semua.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.