JW subtitle extractor

JW Broadcasting—Mei 2026

Video Other languages Share text Share link Show times

Selamat datang di acara JW Broadcasting!
Apa yang akan kita
nikmati di acara bulan ini?
Kita akan melihat Ayah
seperti apa Yehuwa itu.
Dan, kenapa kita bisa merasa aman
karena menjadi bagian dari keluarga-Nya.
Kita juga akan melihat pengalaman seorang saudari yang
terus setia kepada Yehuwa meski mengalami banyak cobaan.
Dan kali ini, kita akan menggali
permata rohani dari buku Nahum.
Kami juga senang mengumumkan:
Ada dua seri video baru di acara bulan ini.
Di seri video pertama, kita akan
melihat bagaimana Yehuwa melatih kita
kalau kita bersedia melayani
dalam dinas sepenuh waktu.
Dan di seri video kedua, kita bisa melihat
seperti apa kegiatan organisasi di balik layar.
Inilah JW Broadcasting! 
Menurut Saudara, seperti apa itu sosok ”ayah”?
Apakah seseorang yang pengasih
dan peduli terhadap keluarganya?
Atau orang yang tidak pernah ada,
tidak peduli, bahkan mungkin kasar?
Pendapat Saudara mungkin dipengaruhi
oleh seperti apa ayah, atau bapak, Saudara. 
Nah, kenapa kita bahas soal ”ayah”, atau ”bapak”?
Salah satu alasannya karena
Alkitab menyebut Yehuwa sebagai Bapak.
Ya, Alkitab memang menggunakan
banyak panggilan untuk Yehuwa.
Tapi, Yesus sering kali menyebut Yehuwa sebagai ”Bapak”
karena memang Yehuwa mau umat-Nya
menganggap Dia sebagai bapak. 
Begitu juga, Alkitab punya
banyak panggilan untuk Yesus.
Misalnya, Pekerja Ahli, Firman, dan Mikhael.
Tapi yang terutama, Yesus
dikenal sebagai Putra Allah.
Dan atas dasar korban tebusan Yesus,
Yehuwa juga memandang kita,
hamba-Nya yang tidak sempurna,
sebagai anak-anak-Nya.
Yehuwa ingin agar kita dan Dia punya hubungan
yang akrab seperti seorang bapak dengan anaknya. 
Istilah ”Bapak” menunjukkan bagaimana
perasaan Yehuwa terhadap umat-Nya.
Yehuwa sangat menyayangi keluarga-Nya.
Perhatikan bagaimana Nabi Yesaya
menggambarkan itu di Yesaya 64:8:
Ungkapan yang sangat indah:
”Yehuwa, Engkaulah Bapak kami.”
Tidak soal seperti apa sosok ayah, atau bapak,
bagi kita, Yehuwa adalah Bapak yang pengasih.
Alkitab banyak menjelaskan
bapak seperti apa Yehuwa itu.
Bahkan kalau kita baca di Kitab Injil,
Yesus menggunakan istilah ”Bapak”
sebanyak lebih dari 160 kali. 
Pelajarannya:
Bagi Yehuwa, kita keluarga-Nya.
Semakin kita mengenal Bapak seperti apa Yehuwa itu,
misalnya kepribadian-Nya,
kepedulian-Nya kepada kita,
semakin kita mengasihi Dia dan
mengandalkan Dia sebagai Bapak kita. 
Sekarang pikirkan, kenapa kita bisa punya
hubungan yang akrab dengan Yehuwa?
Mari kita baca Kejadian 1:26
bagian pertamanya saja.
Di sini, Yehuwa sedang berbicara kepada
Yesus sewaktu akan menciptakan manusia.
”Lalu Allah berkata,
’Mari kita membuat manusia yang mirip dengan kita, yang punya kesamaan dengan kita.’” 
Yehuwa menciptakan kita mirip dengan-Nya.
Ini sama seperti seorang anak yang
punya kesamaan dengan orang tuanya.
Kesamaan apa yang
kita miliki dengan Yehuwa?
Tentunya bukan mirip secara fisik, karena Yehuwa itu roh.
Coba kita lihat jawabannya di 1 Yohanes 4:8:
Kenapa?
Nah, karena kita diciptakan mirip dengan Allah,
kita bisa menunjukkan sifat-sifat-Nya,
salah satunya kasih, sifat utama-Nya.
Yehuwa adalah Bapak yang peduli
dan sangat menyayangi keluarga-Nya.
Dan sebagai anak-anak-Nya
yang diciptakan mirip dengan-Nya,
kita punya kemampuan untuk
mengasihi Dia dan merasakan kasih-Nya.
Jadi, kasihlah yang membuat kita bisa
punya hubungan yang akrab dengan Yehuwa. 
Sekarang, mari bahas tiga cara Yehuwa
menunjukkan kasih kepada anak-anak-Nya.
Yang pertama, sebagai Bapak yang pengasih, Yehuwa peduli kepada kita.
1 Petrus 5:7 mengatakan,
Seorang ayah dikatakan peduli kalau dia
memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya.
Tapi, apa Bapak kita Yehuwa hanya
menyediakan kebutuhan jasmani kita?
Tidak.
Perhatikan apa yang dikatakan 2 Korintus 1:3, 4:
Yehuwa adalah ’Bapak yang lembut, berbelas kasihan,
dan Allah segala penghiburan’.
Jadi, Yehuwa tidak hanya menyediakan
kebutuhan jasmani kita, tapi lebih dari itu.
Dia sangat menyayangi kita.
Dia mau menghibur kita.
Bapak kita, Yehuwa,
peduli pada kebutuhan jasmani,
emosi, dan rohani kita. 
Nah, coba bayangkan ini: Saudara jatuh, kaki
Saudara terluka, dan Saudara pergi ke dokter.
Dokter bilang bahwa Saudara butuh pengobatan,
dan dia janji bahwa dia akan merawat Saudara.
Sekarang bayangkan, dokter ini bukan hanya
berpengalaman, tapi dia juga ayah Saudara.
Mengobati Saudara sekarang
jadi hal yang paling penting buat dia.
Dan karena dia ayah Saudara,
dia tidak hanya akan merawat Saudara selama sakit,
tapi dia akan merawat Saudara seterusnya.
Saudara jadi tenang, kan?
Karena memang bagi seorang ayah,
anaknya sangat berharga. 
Yehuwa juga begitu.
Dia adalah Dokter yang berpengalaman, dan nanti
Dia akan menyingkirkan semua penyakit dan penderitaan.
Tapi tidak hanya itu, Dia ’Bapak yang lembut,
berbelas kasihan, dan Allah segala penghiburan’.
Dia peduli kepada kita masing-masing.
Dan Dia merawat kita setiap hari, baik di zaman sekarang,
maupun nanti di dunia baru. 
Apakah Saudara pernah merasakan
kasih dan kepedulian Yehuwa?
Mungkin Saudara merasakan itu
melalui saudara-saudari di sidang yang berupaya
untuk meniru kasih dan belas kasihan Yehuwa.
Atau mungkin Yehuwa menguatkan dan menghibur
Saudara melalui kisah tertentu di Alkitab.
Atau saat Saudara baca Alkitab, Saudara menemukan
satu ayat yang sangat menyentuh hati Saudara.
Kepedulian yang Yehuwa tunjukkan
adalah bukti kasih-Nya kepada kita.
Dan karena Dia akan terus mengasihi kita,
Dia pun akan terus peduli kepada kita.
Mari lihat bukti kedua bahwa
Yehuwa adalah Bapak yang pengasih.
Dia mau kita berbicara
kepada-Nya dengan leluasa.
Komunikasi adalah kunci keluarga bahagia.
Ada banyak keluarga yang menggunakan waktu
berkumpul untuk mengobrol dan saling berbagi cerita.
Sebelumnya, kita baca di 1 Petrus 5:7
bahwa Yehuwa mau kita
’melemparkan kekhawatiran kita kepada-Nya’. 
Tapi, karena Yehuwa ada di surga,
bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan-Nya?
Caranya adalah berdoa.
Doa adalah kesempatan
untuk menceritakan isi hati kita.
Misalnya, apa yang buat kita khawatir,
senang, apa yang mau kita lakukan,
dan untuk berterima kasih kepada Yehuwa.
Yehuwa mendengarkan doa-doa kita, sama seperti
seorang ayah yang mendengarkan anak-anaknya.
Tapi, Yehuwa tidak hanya mendengarkan
doa-doa kita, Dia juga menjawab doa-doa kita.
Yehuwa membimbing para penulis
Alkitab untuk mencatat pikiran-Nya.
Waktu kita membaca dan merenungkan Alkitab,
juga berbagai publikasi yang disediakan
oleh ”budak yang setia dan bijaksana”,
kuasa kudus-Nya akan mengarahkan kita
untuk menemukan jawaban dari doa kita
dan menyesuaikan cara berpikir
kita dengan cara berpikir-Nya. 
Yehuwa bisa menggunakan hamba-Nya, atau orang
yang bukan penyembah-Nya, untuk menjawab doa kita.
Kita perlu peka waktu Yehuwa menjawab doa kita.
Kita bisa catat itu supaya kita bisa melihatnya lagi. 
Nah, tapi kenapa kadang kita perlu
menunggu Yehuwa menjawab doa kita?
Apa itu artinya masalah kita
tidak penting bagi Yehuwa?
Atau, Yehuwa taruh doa
kita di urutan terakhir?
Pasti tidak, ya.
Itu bisa saja berarti kita perlu bersabar.
Atau mungkin jawaban dari Yehuwa
tidak sesuai dengan keinginan kita. 
Bayangkan seorang anak yang diajak orang
tuanya pergi ke rumah kakek neneknya.
Orang tuanya tahu perjalanannya
memakan waktu sepuluh jam,
dan sepanjang jalan anak itu terus tanya,
”Kapan kita akan sampai?”
Wajar kalau anak itu ingin sampai di sana secepatnya.
Tapi, tidak soal seberapa sering dia
tanyakan itu, perjalanannya tetap sepuluh jam.
Dia hanya perlu sabar dan
lakukan hal lain selama perjalanan. 
Begitu juga, kita berdoa agar
dunia Setan cepat berakhir.
Kita pasti mau Armagedon segera datang.
Kita mungkin terus tanya ke Yehuwa,
”Kapan itu akan datang?”
Dan memang kita harus mendoakan hal itu.
Tapi, kita perlu bersabar
menunggu jawaban doa kita.
Dan seperti anak tadi,
meskipun dia harus bersabar selama perjalanan,
dia tidak sendirian, dia bersama orang tuanya.
Kita pun begitu, meski kita perlu bersabar,
ingatlah bahwa Bapak kita,
Yehuwa, selalu ada bersama kita.
Pada waktunya, dunia ini pasti akan berakhir.
Kalau kita sibuk melayani Yehuwa,
tidak terasa waktu akan cepat berlalu. 
Tapi kadang, Yehuwa bisa saja
tidak mengabulkan permintaan kita.
Itu sama seperti orang tua yang pengasih,
yang tidak selalu mengabulkan
permintaan anak mereka.
Coba ingat contoh Paulus.
Dia mengalami penderitaan
yang dia sebut ”duri dalam daging”.
Bayangkan, Yehuwa kasih Paulus
kuasa untuk membuat mukjizat,
tapi untuk penyakitnya, meskipun dia sudah berdoa
sebanyak ”tiga kali” agar ”duri” itu disingkirkan darinya,
apa Yehuwa mengabulkannya? Tidak.
Yehuwa mengatakan, ”Kebaikan
hati-Ku yang luar biasa sudah cukup bagimu.”
Yehuwa tidak menyingkirkan duri itu,
tapi Yehuwa memberi Paulus kekuatan
yang dia butuhkan agar dia bisa bertekun.
Nah, Yehuwa juga pasti
akan membantu kita bertekun.
Dan ketekunan kita membuktikan bahwa kita
mengasihi dan mengandalkan Bapak kita, Yehuwa. 
Tidak soal kita harus menunggu jawaban Yehuwa,
atau seperti Paulus yang permintaannya tidak dikabulkan,
kita tetap yakin akan kasih Yehuwa.
Sekarang, coba kita lihat tulisan Rasul
Yohanes yang dicatat di Yohanes 14:21.
Ini adalah kata-kata Yesus:
Nah perhatikan:
Kalau kita berupaya untuk meniru teladan Yesus,
Yehuwa bilang Dia akan mengasihi kita.
Dan Dia sungguh-sungguh mengatakan itu.
Dia sayang sama kita.
Kita pasti bersyukur karena kita bisa berbicara
dengan leluasa kepada Bapak kita, Yehuwa. 
Nah, bukti ketiga yang menunjukkan bahwa Yehuwa itu Bapak yang pengasih adalah
Dia bekerja keras untuk keluarga-Nya.
Biasanya, orang tua menganggap bahwa
membesarkan anak adalah pengalaman yang berharga.
Tapi itu butuh kerja keras,
meskipun anak mereka anak yang baik.
Ya, kita sendiri mungkin pernah ya
buat orang tua kita kerja lebih keras.
Nah, sekarang coba sebutkan apa saja
yang orang tua lakukan untuk anak-anaknya.
Mereka menyediakan makanan, pakaian, rumah,
ajak berlibur, mengurus kesehatan,
menyekolahkan, dan memberikan disiplin.
Tunggu!
Disiplin?
Kita sering berpikir bahwa disiplin itu adalah hukuman,
dan hukuman memang salah satu bentuk disiplin.
Tapi tahukah Saudara, menurut Alkitab,
disiplin itu mencakup bimbingan,
petunjuk, pelatihan, dan koreksi?
Disiplin adalah hal yang bagus,
karena itu bisa mendidik dan melatih seseorang. 
Nah, Yehuwa mau kita
hidup bahagia selamanya.
Untuk itu, kadang Dia mendisiplin kita.
Misalnya, Dia membimbing kita, memberikan
petunjuk, melatih, dan mengoreksi kita
supaya kita bisa bertumbuh menjadi
orang Kristen yang lebih matang.
Yehuwa melakukannya melalui Alkitab,
makanan rohani yang disediakan oleh
”budak yang setia dan bijaksana”,
dan melalui saudara-saudari
yang matang di sidang. 
Nah, untuk jadi orang tua
yang baik perlu kerja keras,
dan banyak dari kalian orang tua
melakukannya dengan sukacita.
Yehuwa menghargai upaya kalian.
Yehuwa juga bekerja keras untuk kita.
Sebagai Bapak yang pengasih, Dia sudah bekerja
keras untuk kita selama lebih dari ribuan tahun. 
Sekarang, coba pikirkan apa yang
sudah Yehuwa sediakan untuk kita.
Pemandangan matahari terbenam yang
indah, makanan enak, musik dan lagu,
bunga-bunga yang wangi, pergaulan bersama teman
dan keluarga, dan makanan rohani yang berlimpah.
Semua pemberian yang baik
itu berasal dari Bapak kita, Yehuwa.
Dia selalu bekerja keras untuk kita,
keluarga-Nya, karena Dia mengasihi kita. 
Di awal khotbah ini, saya sempat tanya:
Menurut Saudara, seperti apa itu sosok ”ayah”?
Dan jawabannya bisa bergantung dari bagaimana
ayah Saudara memperlakukan Saudara.
Tapi, bagaimana dengan
mereka yang tidak punya ayah?
Sekarang, mari lihat bagaimana perasaan
Yehuwa terhadap mereka yang tidak punya ayah.
Kita akan baca Mazmur 68:5:
Dari ”tempat tinggal-Nya yang suci” di surga,
Yehuwa memperhatikan situasi Saudara,
bahkan Dia menganggap Saudara
sebagai bagian yang penting dari keluarga-Nya.
Perhatikan, ayat tadi bilang, Allah ”seperti ayah
bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda”.
Dengan kata lain, Yehuwa bilang ke Saudara,
’Aku tahu kamu tidak punya ayah,
dan kamu pasti butuh dukungan seorang ayah.
Ingatlah, ada Aku, Akulah ayahmu.’ 
Sekarang, bagaimana kalau
Saudara punya ayah atau keluarga,
tapi mereka tidak suka Saudara melayani Yehuwa?
Perhatikan janji Yesus yang dicatat di Markus 10:29, 30.
Jadi, kalau orang tua atau keluarga Saudara meninggalkan Saudara karena kepercayaan Saudara,
ingatlah, Saudara adalah bagian dari keluarga Yehuwa,
dan ada jutaan penyembah Yehuwa
di seluruh dunia yang menyayangi Saudara.
Tapi, jangan berhenti berharap bahwa suatu saat nanti keluarga
kita yang bukan Saksi akan mengenal dan mengasihi Yehuwa juga. 
Tidak soal seperti apa situasi kita,
sebagai penyembah Yehuwa,
kita adalah bagian dari keluarga besar Yehuwa.
Yehuwa sayang sama kita,
dan Dia akan selalu menyayangi kita, anak-anak-Nya.
Nah sebentar lagi, Yehuwa akan mengakhiri dunia ini
dan menggantinya dengan dunia baru,
di mana tidak ada lagi dosa dan penderitaan. 
Sebelum itu tiba, Yehuwa
terus memenuhi kebutuhan kita.
Dia mendengarkan kita dan menjawab doa-doa kita.
Dia juga bekerja keras untuk kita, keluarga-Nya.
Dia mempersiapkan kita untuk hidup abadi.
Yehuwa melakukan itu semua
dan banyak hal luar biasa lainnya
karena Dia sayang sama kita!
Kita pasti bersyukur kepada Yehuwa,
dan sama seperti Yesaya, kita mau bilang,
”Oh Yehuwa, Engkaulah Bapak kami.” 
Pada umur 22 tahun, Saudari Bethel Rodish
dipanggil untuk melayani di Betel Brooklyn.
Tapi, tiba-tiba dia didiagnosis tumor otak,
dan itu mengubah hidupnya.
Kisahnya dicatat di Sedarlah! 22 April 1990.
Sejak mengalami penyakit itu,
Saudari Rodish sudah melihat banyak bukti
bahwa Yehuwa adalah Bapaknya yang pengasih.
Suatu pagi di akhir bulan September,
saya ingat saya dapat telepon
dari saudara di Betel Brooklyn.
Saya diundang untuk bantu Betel selama tiga bulan.
Tapi karena di hari itu saya ada janji ketemu dokter,
saya harus segera akhiri teleponnya.
Saya menjalani pemeriksaan otak,
lalu saya dipanggil masuk ke ruangan dokter.
Dokter bilang kalau dari hasilnya
ada tumor yang besar di otak saya,
dan saya perlu kabari orang tua saya.
Waktu itu saya dioperasi dua kali,
dan dokter yang mengoperasi saya
sangat berpengalaman.
Setelah operasi yang kedua, dokternya bilang kalau
dia sudah berhasil mengangkat semua tumornya.
Kurang dari setahun, saya kembali sehat lagi.
Pada musim semi tahun 1990, saya pindah ke Brooklyn,
dan di sana saya ketemu dengan Bob Rodish.
Kami bertunangan,
lalu kami ajukan permohonan apakah kami berdua
bisa melayani di Betel nanti setelah menikah.
Dan, kami sangat senang
waktu permohonan kami disetujui.
Sekitar dua tahun setelah menikah,
saya hamil anak perempuan.
Belakangan, kami punya anak lagi, laki-laki.
Lalu, saya hamil lagi anak ketiga.
Tapi waktu usia kandungan saya
baru tiga bulan, saya keguguran.
Bayi kami meninggal.
Waktu kami dalam perjalanan pulang dari rumah sakit,
mama saya lagi jaga dua anak kami di rumah.
Dia bantu kami kasih tahu mereka kalau
bayinya gak ikut pulang bersama kami.
Waktu saya sampai di rumah,
anak-anak langsung lari ketemu kami.
Saya gak tahu harus bilang apa.
Saya sangat sedih.
Lalu, Bob peluk kami dan kasih tahu
ke anak-anak kalau bayinya sudah meninggal.
Karena tahu sifat anak-anak kami,
kami merasa perlu kasih tahu mereka dengan lembut
tapi juga terus terang bahwa
hal-hal buruk seperti ini bisa terjadi.
Dengan begitu, kami bisa mengatasi
kesedihan ini bersama-sama.
Hati saya hancur waktu saya masuk ke kamar
dan melihat baju-baju bayi yang sudah saya siapkan.
Waktu itu, saya gak tahu harus gimana.
Pernah di hari perhimpunan,
itu kira-kira lima bulan setelah bayi kami meninggal,
waktu itu saya masuk ke Balai,
tapi saya gak bisa tahan air mata saya.
Jadi, saya langsung keluar dan balik ke mobil.
Nah, dua sahabat saya lihat,
jadi mereka temani saya di mobil.
Mereka dengarkan baik-baik waktu saya
cerita tentang bayi saya, anak-anak saya.
Mereka pegang tangan saya,
dan bahkan mereka buat saya ketawa.
Gak lama setelah itu, kami bertiga masuk lagi ke Balai.
Yehuwa selalu ada buat kami.
Dia kasih teman-teman di sidang.
Walaupun mereka sibuk,
tapi hari Jumat malam mereka suka datang
ke rumah dan makan malam sama kami.
Kami kumpul-kumpul dan ngobrol santai.
Itu semua bantu kami supaya tidak terus-menerus
merasa sedih karena apa yang kami alami.
Karena saya sudah rasakan kasih Yehuwa
lewat saudara-saudari,
saya juga mau berupaya tunjukkan itu kepada mereka.
Saya berupaya untuk sering
kirim pesan singkat, tulis kartu,
atau bilang ke mereka, ”Saya sayang kamu.
Saya peduli sama kamu.
Saya siap bantu kamu.”
Saya selalu mendapat kekuatan dari Yehuwa
di setiap masa-masa sulit dalam hidup saya.
Kita semua pasti pernah merasa lelah,
dan kita mungkin berpikir,
’Saya gak mau dinas dulu atau berhimpun dulu.’
Tapi waktu kita butuh kekuatan, Yehuwa pasti bantu kita.
Waktu kita sedih, gak semangat,
Yehuwa juga pasti bantu kita.
Saya sudah rasakan sendiri Ulangan 33:27,
”Allah adalah tempat berlindung sejak zaman dulu,
lengan-Nya yang abadi akan menopangmu.”
Saya belajar bahwa tidak soal kesulitan
apa pun yang kita alami,
kita bisa bertekun dengan bantuan Yehuwa.
Memupuk sifat-sifat Kristen,
seperti iman, bisa membantu kita
bertekun menghadapi cobaan,
sama seperti yang dilakukan Saudari Rhodish.
Cara lain kita bisa memupuk sifat-sifat Kristen,
yaitu dengan melayani dalam dinas sepenuh waktu.
Dinas itu bisa bantu kita untuk meniru
sifat Yehuwa dengan lebih baik lagi
dan untuk menjadi orang
Kristen yang lebih matang.
Karena itu, kami senang mengumumkan
sebuah seri video baru yang berjudul
Dinas Sepenuh Waktu Membentuk Sifat Kristen.
Seri ini akan memperlihatkan bagaimana tugas-tugas di organisasi
bisa membantu saudara-saudari untuk menunjukkan
buah kuasa kudus dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Mari kita saksikan episode pertamanya:
Dinas Sepenuh Waktu Membentuk Sifat Kristen—Kasih.
Saya dibesarkan di sebuah kota kecil.
Orang-orang di sana punya kebudayaan yang sama.
Cara berpikir dan kebiasaan mereka juga sama.
Jadi, waktu saya gabung
ke Kelompok Pembangunan Balai Kerajaan,
itu gak mudah buat saya.
Saya jadi harus tinggal dan kerja
sama orang-orang yang bahasa,
budaya, dan sukunya berbeda-beda.
Saya jadi sadar, saya punya sedikit prasangka.
Selama ini, saya hanya mengasihi
orang-orang yang
budaya atau yang sukunya sama dengan saya.
Saya melayani di Kelompok Pembangunan Balai Kerajaan.
Suasananya sangat menyenangkan.
Kami kerja bersama, tinggal bersama,
dan kadang nangis bersama.
Kami sudah seperti keluarga.
Tapi, karena saya gabung
dengan kelompok pembangunan ini,
saya jadi harus berpisah sama
teman-teman di sidang dan sahabat saya.
Saya sempat merasa saya kurang disayangi
di tempat tugas yang baru.
Tapi dari ayat di 1 Korintus 13:4,
saya belajar sepertinya saya belum
benar-benar mengasihi saudara-saudari.
Masih ada banyak hal yang perlu saya upayakan
untuk menunjukkan kasih kepada orang lain.
Saya melayani sebagai
pengawas wilayah di negeri lain.
Salah satu hal penting yang saya pelajari
adalah untuk lebih menunjukkan kasih
dan sikap seperasaan.
Pernah, waktu saya lagi khotbah,
ada saudara yang datang telat,
dan selama khotbah dia tidur.
Memang, mungkin khotbah saya membosankan.
Tapi karena dia datang telat dan tidur
pas saya khotbah, saya jadi agak kesal.
Tapi saya tahu saya salah.
Saudara itu mungkin harus bekerja
12 sampai 16 jam sehari, enam hari seminggu lagi!
Saya sendiri dalam kebenaran.
Jadi, saya anggap saudara-saudari
seperti keluarga saya sendiri.
Kehidupan mereka itu sulit.
Mereka harus berjuang untuk bisa tetap setia.
Saya mau cepat akrab sama saudara-saudari.
Tapi, ternyata itu sulit.
Mereka mungkin gak bisa akrab secepat itu sama orang baru.
Dan kadang, saya jadi tersinggung.
Tapi Mike bilang ke saya,
”Sayang, kamu juga kadang malu-malu kayak mereka.”
Terus saya pikir, ’Iya juga ya.’
Dari pengalaman ini,
saya belajar untuk lebih sabar,
lebih penyayang, dan untuk lebih pengertian.
Kita semua sedang dibentuk oleh Yehuwa.
Tapi, saya rasa dengan membantu
di proyek Balai Kerajaan, saya lebih cepat dibentuknya.
Sekarang, yang penting buat saya bukan warna kulit,
bahasa, atau suku seseorang, tapi sifatnya.
Waktu saya masuk kelompok pembangunan,
rasanya seperti Yehuwa bilang ke saya,
’Cebo, mungkin kamu pikir kamu sudah tahu arti kasih
yang sesungguhnya dan caranya mengasihi.
Tapi, saya akan ajarin kamu caranya
untuk lebih mengasihi saudara-saudari.’
Hasilnya, saya bisa sangat akrab sama
saudara-saudari di mana pun saya ditugaskan.
Saya dan istri belajar banyak
karena melayani sepenuh waktu.
Kami jadi tahu caranya benar-benar menunjukkan kasih
dan sikap seperasaan kepada saudara-saudari.
Karena melayani sepenuh waktu,
saya pakai banyak waktu bersama saudara-saudari.
Saya jadi lebih memahami dan menyayangi mereka.
Bahkan, hasilnya juga bagus untuk perkawinan kami.
Karena terbiasa jadi pendengar yang baik
untuk saudari-saudari,
saya juga jadi pendengar yang baik untuk suami saya.
Apa Saudara perhatikan manfaatnya
memupuk kasih persaudaraan?
Kita bisa punya hubungan yang
akrab dengan satu sama lain,
lebih mudah menunjukkan
empati, pengertian, dan kesabaran.
Semoga seri video baru ini
bisa menggerakkan kita semua
untuk merelakan diri melayani
Yehuwa dalam dinas sepenuh waktu.
Tadi di awal, kita sudah bahas bahwa Yehuwa
sebagai Bapak yang pengasih mendisiplin kita.
Kadang, Dia melakukannya
dengan memberi kita pengingat.
Nah, dalam rekaman ibadah pagi berikut, Saudara Troy Snyder
akan menjelaskan bagaimana kita bisa punya
pandangan yang benar terhadap pengingat dari Yehuwa. 
Apa yang Saudara pikirkan waktu dengar kata-kata ini:
”Perhatikan pengingat berikut!”
”Sebagai pengingat . . .”
”Saya senang mengingatkan Saudara . . .”?
Nah, apa Saudara langsung mengabaikannya?
’Oh, ini saya sudah tahu.’
Atau, Saudara merasa kesal karena diingatkan orang lain
tentang pekerjaan yang belum Saudara lakukan.
Atau, Saudara jadi kecewa sama diri sendiri
karena ada orang lain yang
harus mengingatkan Saudara.
Tapi, pengingat dari Yehuwa berbeda,
dan cara pandang kita
tentang itu pun harus disesuaikan.
Nah, mari buka Mazmur 119 dan
perhatikan pengaruh dari pengingat Yehuwa.
Mazmur 119:2, 3:
”Bahagialah orang yang menaati pengingat-Nya,
yang mencari Dia dengan sepenuh hati.
Mereka tidak suka berbuat jahat;
mereka melangkah di jalan-Nya.”
Ya, kita pasti bahagia kalau
kita mengikuti pengingat dari Yehuwa.
Itu bantu kita memperdalam pemahaman kita,
punya sudut pandang yang lebih luas,
tetap setia, dan bantu kita menghadapi kesulitan.
Dan seperti yang dikatakan ayat 3, itu juga
membantu kita melangkah di jalan Yehuwa,
atau membantu kita melakukan apa yang benar.
Seperti rambu-rambu lalu lintas
di jalan raya yang ramai,
pengingat Yehuwa membimbing
kita di dunia yang kacau ini.
Itu meyakinkan kita bahwa kita ada di jalan yang benar.
Dan kalau kita menyimpang, itu bisa
membantu kita kembali ke jalan yang benar.
Nah, ayat harian hari ini adalah
salah satu pengingat dari Yehuwa.
Di 1 Petrus 2:13, 14, perhatikan
apa pengingat dari Yehuwa.
Dikatakan, ”Demi Tuan kita, tunduklah
kepada semua pemerintahan manusia,
baik kepada raja yang lebih tinggi
maupun kepada gubernur,
yang dia tugaskan untuk menghukum yang
berbuat jahat dan memuji yang berbuat baik.”
Ini adalah pengingat bagi
orang-orang Kristen abad pertama
untuk tunduk kepada pemerintah
sesuai kehendak Allah dan tetap netral.
Ini bukan hal yang baru.
Orang-orang Kristen abad pertama tahu
kata-kata Yesus tentang Kerajaan Allah
dan pentingnya mendukung Kerajaan itu,
dan juga tentang memberikan ”milik Kaisar
kepada Kaisar, tapi milik Allah kepada Allah”.
Mereka tahu kata-kata para rasul yang bilang
bahwa mereka ’harus lebih taat kepada Allah
sebagai penguasa daripada kepada manusia’.
Kenapa mereka butuh pengingat itu?
Karena pada saat itu, ada banyak masalah
politik yang membuat orang terbagi-bagi.
Mereka mungkin ditekan untuk
memihak salah satu pemimpin tertentu.
Karena itu, mereka butuh
pengingat agar bisa tetap netral.
Dan bagaimana pengingat itu membantu mereka?
Kalau kita lihat lagi ayat 13,
dikatakan, ”Demi Tuan kita”.
Itu membantu mereka punya
sudut padang yang berbeda.
Itu mengingatkan mereka bahwa
tunduk kepada pemerintah
bukan berarti setuju pada kebijakan
mereka, termasuk soal perang.
Sebaliknya, itu berarti kita merespek Yehuwa
yang memberikan wewenang kepada pemerintah
dan yakin Yehuwa akan bertindak jika dibutuhkan.
Itu juga membantu mereka untuk
tidak menentang pemerintah,
tapi berfokus pada Kerajaan Allah
dan pekerjaan pengabaran.
Sebenarnya, ini adalah satu
dari beberapa pengingat.
Beberapa tahun sebelumnya,
orang-orang Kristen di Roma mendapat
surat yang menjelaskan peranan pemerintah
dan bagaimana seharusnya
sikap mereka terhadap pemerintah.
Dan prinsip yang sama disebutkan
juga dalam surat kepada Titus,
yaitu untuk tetap tunduk kepada pemerintah.
Nah, semua pengingat ini
membantu orang-orang Kristen untuk tetap netral
dan terus mengikuti petunjuk dari Yehuwa.
Prinsip, atau pengingat ini, juga sangat tepat waktu,
karena tidak lama setelah itu,
mereka menghadapi penganiayaan.
Dan kalau mereka mengikuti pengingat itu,
Yehuwa akan terus membantu mereka.
Nah, di 1 Petrus 2:13, 14 tadi, kita
diminta untuk tunduk kepada pemerintah.
Sekarang perhatikan ayat 15-nya.
Dikatakan: ”Allah ingin agar kalian berbuat baik,
supaya kalian bisa membungkam
orang-orang bodoh yang menuduh kalian
karena tidak punya pengetahuan.”
Dengan mengikuti pengingat itu,
yaitu untuk terus berbuat baik,
itu bisa membantu mereka untuk tetap
beribadah kepada-Nya meski situasinya sulit.
Dan kita tahu, itulah yang dilakukan
orang-orang Kristen abad pertama.
Prinsip itu juga terbukti benar sekarang.
Misalnya, saudara-saudari kita
yang tinggal di salah satu negeri
mendapat pengingat untuk tetap netral.
Tidak lama setelah itu, perang sipil terjadi,
dan mereka mengikuti pengingat itu.
Mereka tetap netral dan tunduk kepada pemerintah.
Nah, setelah perang selesai,
pemerintah membuat beberapa hukum baru
dalam upaya untuk mempersatukan rakyat.
Salah satunya, yaitu mereka yang
mau mendaftarkan perkawinan mereka,
wajib mengikuti prosedur yang
mengharuskan mereka untuk salut bendera.
Hal ini bisa membuat
saudara-saudari jadi tidak netral lagi.
Jadi, mereka datang dan
jelaskan kepada pejabat pemerintah
bahwa dulu, selama perang sipil, mereka tetap netral.
Para pejabat pemerintah tahu tentang
hal itu dan merespek pendirian mereka.
Bahkan ada pejabat yang bilang,
”Kami sebenarnya tidak mau lakukan ini.”
Nah, segera setelah itu,
pemerintah menyesuaikan hukum tersebut sehingga
para Saksi bisa tetap menjaga kenetralan mereka.
Ini bisa terjadi karena mereka
mengikuti pengingat dari Yehuwa.
Sebagai umat Yehuwa,
kita juga sering mendapat pengingat.
Misalnya, di Laporan Badan Pimpinan baru-baru ini
ada pengingat untuk menetapkan
tujuan sewaktu berdinas
dan untuk mengabar kapan pun dan
di mana pun karena kita mengasihi orang-orang.
Kita juga diingatkan tentang cara pandang Yehuwa
terhadap mereka yang jatuh dalam dosa serius
atau yang menjauh dari Yehuwa,
dan caranya kita bisa mengikuti petunjuk itu
serta menyambut mereka yang kembali ke sidang.
Semua pengingat itu membantu kita
lebih mengerti prinsip-prinsip di Alkitab.
Kita juga diingatkan untuk
memilih pakaian dan penampilan
yang bisa membawa kemuliaan bagi nama Yehuwa
meski gaya berpakaian dan berpenampilan
beragam dan berubah sesuai zaman.
Selain itu, kita diingatkan untuk mendoakan
mereka yang dipenjarakan karena iman.
Dan kalau kita yang dipenjara atau dianiaya,
kita diingatkan untuk tidak berhenti mengabar.
Dan baru-baru ini, kita diingatkan untuk tetap
netral seperti orang Kristen di abad pertama.
Kenapa?
Karena kita hidup di dunia yang terbagi-bagi.
Banyak pendapat yang berbeda soal
kebijakan pemerintah, masalah politik dan sosial.
Dalam laporan itu dikatakan:
”Badan Pimpinan membagikan
pengingat yang penting ini
karena Setan sedang berupaya
menekan umat Yehuwa habis-habisan.”
Lalu, kita diingatkan untuk melihat
prinsip-prinsip yang ada di buku
Ayat-Ayat untuk Kehidupan Kristen
di bawah judul ”Pemerintah”.
Dengan melakukannya, kita bisa
lebih memahami prinsip-prinsip itu,
dan kita pun jadi siap menjawab
orang yang mempertanyakan iman kita.
Itu juga membantu kita tetap bersatu.
Nah, bagi kita yang adalah pelayan sepenuh waktu,
kita juga sering mendapat pengingat.
Misalnya, pengingat untuk rela
memaafkan saudara-saudari kita.
Saat terjadi masalah di antara
kita atau antar departemen,
kita diingatkan untuk tetap menjaga
perdamaian supaya kita tetap bersatu.
Kita sering diberi pengingat untuk
membaca Alkitab setiap hari.
Kenapa?
Karena kita sibuk dan perlu diingatkan pentingnya
mendengarkan Yehuwa setiap hari
melalui pembacaan Alkitab kita.
Sebagai pengawas, kita diingatkan pentingnya
menggembalakan domba-domba Yehuwa.
Kenapa kita diberi pengingat itu?
Karena kadang, kita bisa terlalu
sibuk sama tugas-tugas kita
dan mengabaikan domba-domba Yehuwa.
Dan kita juga diingatkan,
waktu kita merasa tidak berharga,
kita perlu melawan perasaan itu
dan yakin Yehuwa sayang sama kita.
Dia melihat hal-hal baik dalam diri kita.
Dan saat kita kecil hati,
Dia memeluk dan menghibur kita.
Jadi, saat kita mendapat pengingat dari Yehuwa,
kita mau perhatikan itu baik-baik.
Itu sesuai dengan yang dikatakan Mazmur 119:111:
”Pengingat-Mu akan selalu menyertaiku,
karena itulah yang membuat hatiku gembira.”
Ya, pengingat Yehuwa membuat
kita bahagia dan tetap bersatu.
Itu membantu kita melangkah di jalan
Yehuwa dan tetap dekat dengan-Nya.
Itu pengingat yang bagus soal bagaimana
seharusnya kita memandang pengingat dari Yehuwa.
Nah, kalau kita mendengarkan Yehuwa,
kita akan semakin dekat dengan-Nya
dan semakin ingin membantu saudara-saudari.
Pernahkah Saudara membayangkan
dapat tugas dari organisasi Yehuwa?
Atau, bagi yang sekarang sedang menjalankannya,
pernahkah Saudara terpikir untuk
mencoba tugas yang berbeda?
Kami senang mengumumkan seri video baru yang
akan membantu kita melihat berbagai tugas di organisasi.
Judul serinya: Satu Hari Sebagai . . .
Di tiap episode, kita akan melihat pengalaman saudara-
saudari dari seluruh dunia dengan tugas mereka yang berbeda-beda.
Kita juga bisa tahu apa saja yang mereka lakukan
dan bagaimana mereka bekerja keras setiap hari.
Bulan ini, judul episodenya adalah
Satu Hari Sebagai Penerjemah
Halo semua, saya Kim Han-na.
Saya seorang penerjemah
di tim Bahasa Isyarat Korea.
Departemen Penerjemahan menerjemahkan
makanan rohani dari bahasa Inggris
ke dalam bahasa-bahasa lainnya.
Kami berupaya membuat terjemahan
yang akurat, wajar, dan mudah dimengerti.
Nah, kalau bahasa isyarat, kami
menerjemahkan tulisan ke dalam bentuk video.
Jadi, kami gunakan gerakan tangan dan
ekspresi wajah untuk menyampaikan gagasannya.
Sekarang, saya lagi baca-baca bahan
yang akan kami terjemahkan hari ini.
Saya coba pikirkan gimana ya urutan
gagasannya, apa poin utamanya,
dan caranya terjemahkan itu ke dalam bahasa isyarat.
Seorang penerjemah perlu punya
kemampuan bahasa yang bagus.
Dulu saya pikir saya lumayan jago bahasa isyarat.
Jadi, waktu mulai kerja, saya sih cukup PD.
Tapi, makin lama saya sadar masih
banyak yang perlu saya tingkatkan.
Selama pelatihan, saya mulai
lebih memperhatikan tata bahasa,
struktur kalimat, bahasa isyarat yang umum digunakan,
dan bahan-bahan dalam bahasa lain.
Saya jadi belajar caranya menyampaikan
gagasan dengan wajar dan jelas.
Setiap tim penerjemahan
biasanya terdiri dari tiga orang.
Kami menerjemah sama-sama
dan memastikan terjemahannya sudah wajar dan akurat.
Karena bahasa isyarat tidak bisa ditulis,
kami merekam hasil terjemahannya dalam bentuk video.
Nah, hari ini bahannya soal ikan paus.
Tapi, kami semua pakai isyarat yang
beda-beda untuk menggambarkan ikan paus.
Jadi, kami bahas mana yang lebih
dipahami dan sering digunakan.
Kadang, sulit untuk temukan isyarat
yang tepat waktu menerjemah.
Di saat seperti itu, kami biasanya putar otak sama-sama.
Dan waktu kami temukan terjemahan
yang tepat, yang semua setuju,
rasanya seperti Yehuwa sendiri yang bantu kami.
Kami senang sekali.
Di tim kami, ada saudara-saudari
dari berbagai latar belakang.
Kami bekerja bersama, berhimpun
bersama, dan mengabar bersama.
Kami sudah seperti satu keluarga.
Satu, dua, tiga!
Belakangan, proses penerjemahan sudah disederhanakan.
Jadi sekarang, penerjemah sendiri
yang merekam dan mengedit videonya.
Awalnya, saya merasa itu susah dan
saya khawatir hasil kerja saya kurang bagus.
Tapi, saya belajar banyak dari
pelatihan dan bantuan yang saya terima.
Oke, sip, mantap!
Saya dan Hyun-ji bekerja di departemen
yang sama, gabung di sidang yang sama,
dan kami juga sekamar.
Saya senang karena bisa
ngobrol soal apa pun sama dia.
Waktu menerjemah, saya tidak
berfokus pada pelajarannya untuk saya,
tapi bagaimana supaya terjemahannya wajar.
Belakangan, waktu publikasinya sudah dirilis,
saya akan cari apa yang ingin Yehuwa ajarkan
ke saya dan bagaimana menerapkannya.
Bahkan publikasi yang sudah
berulang kali saya baca waktu menerjemah
bisa terasa baru waktu saya
pakai itu untuk pelajaran pribadi.
Saya jadi sadar saya tetap perlu menyediakan
waktu untuk menyantap makanan rohani
supaya bisa rasakan manfaatnya.
Orang tua saya tunarungu, jadi saya
belajar bahasa isyarat sejak masih kecil.
Waktu jadi penerjemah, saya sangat
tersentuh melihat banyak saudara-saudari
bekerja keras demi para tunarungu
yang jumlahnya tidak terlalu banyak.
Saya bisa lihat Yehuwa sangat sayang
dan peduli kepada mereka yang tunarungu.
Saya bertekad untuk terus melakukan yang terbaik
supaya publikasi kita bisa mudah
dimengerti dan menyentuh hati.
Saya merasa puas dan bahagia
karena bisa membantu saudara-saudari
yang menggunakan bahasa isyarat.
Saya juga khususnya merasa sangat senang
karena melihat orang tua saya bisa rasakan
manfaatnya dan semakin dekat dengan Yehuwa.
Ini pekerjaan yang membuat saya sangat bahagia.
Saya bisa lihat langsung hal-hal
luar biasa yang sedang Yehuwa lakukan.
Saya harap yang lain juga bisa merasakan
sukacitanya jadi seorang penerjemah.
Tadi, kita lihat Saudari Kim
melakukan satu hal penting.
Meskipun tugasnya setiap hari
menerjemahkan makanan rohani,
dia tetap melakukan pelajaran pribadi dengan
bahan itu supaya bisa mendapatkan manfaatnya.
Itu pengingat yang bagus bagi kita
yang sibuk dalam tugas di organisasi.
Kalian anak-anak muda, semoga seri ini bisa
menggerakkan kalian untuk berbuat lebih banyak bagi Yehuwa.
Video musik berikut menunjukkan sukacitanya
menjadi bagian dari keluarga Yehuwa.
Waktu kita membagikan kabar baik kepada orang lain,
atau waktu menguatkan seseorang di sidang,
kita mau pastikan agar kata-kata kita selalu baik.
Kata-kata yang penuh kasih
Sanggup menghibur hati yang bersedih
Tetapi kata yang tak dipikir
Jangan sampai terucap di bibir!
Oh, betapa bahagia
Mendengar anjuran seorang sahabat!
Sungguh hangat, membangkitkan tekad
Terdengar merdu, manis bagai madu
Marilah selalu berikan semangat
Dengan kata di waktu yang tepat
Jagalah hati dari dunia
Isilah pikiran dengan Firman Yehuwa
Kata yang terpuji akan mengalir
Jangan sampai tertahan di bibir!
Oh, betapa bahagia
Mendengar anjuran seorang sahabat!
Sungguh hangat, membangkitkan tekad
Terdengar merdu, manis bagai madu
Marilah selalu berikan semangat
Dengan kata di waktu yang tepat
Betapa bahagia
Mendengar anjuran seorang sahabat!
Sungguh hangat, membangkitkan tekad
Terdengar merdu, manis bagai madu
Marilah selalu berikan semangat
Dengan kata di waktu yang tepat
Saatnya menggali permata rohani!
Dari ke-12 buku yang disebut Nabi-Nabi Kecil,
buku Nahum adalah buku ketujuh
yang dibahas di seri video ini.
Mari lihat permata rohani
apa yang bisa kita terapkan
atau hal lain yang mau kita pelajari lebih dalam. 
Aku senang kita bisa riset sama-sama
untuk pembacaan Alkitab minggu ini.
Di buku Nahum, ada banyak ya pelajaran yang bagus.
Iya, misalnya tentang hak Yehuwa
untuk memerintah dan penyucian nama-Nya ya.
Yuk, kita mulai riset.
Nah, di salah satu Menara Pengawal,
budak yang setia bilang,
kita perlu baca Alkitab pelan-pelan dan kita
perlu punya keinginan untuk tahu lebih banyak.
Kalau cepat-cepat, bisa ada poin yang terlewat ya.
Benar.
Coba kita lihat dari Nahum 1:1:
”Berita untuk Niniwe . . . ”
Eh sebentar.
Ini Niniwe yang sama dengan yang di buku Yunus ya.
Mm-hmm.
Yehuwa kan udah pernah utus Yunus ya ke sana,
dan Yunus enggak terlalu senang dengan tugas itu.
Iya. Dia sempat lari ya karena takut
sama orang Asiria yang kejam.
Hmm. Nahum pasti juga tahu ya
orang Asiria seperti itu.
Gimana ya perasaan Nahum waktu Yehuwa
minta dia menyampaikan pesan ini?
Dia pasti khawatir ya.
Dan enggak heran sih dia merasa begitu.
Aku sempat baca tentang orang Niniwe
di Indeks, di bawah topik ”Niniwe”,
di bagian ”kota penumpahan darah”.
Wah bagus tuh, kita bisa pakai Indeks ya
untuk cari informasi lebih banyak.
Di salah satu referensi di Indeks,
ada pakar yang bilang, ’Anak-anak lelaki
dan perempuan dibakar hidup-hidup.
Pria-pria ditusuk, dikuliti hidup-hidup, dibutakan,
tangan dan kakinya dibuntungi,
atau telinga dan hidungnya dipotong.’
Seram banget ya.
Nahum pasti takut ya.
Tapi kayaknya enggak cuma Nahum deh.
Kalau lihat garis waktu, kelihatannya nubuat ini
diberikan waktu Raja Yosia lagi memerintah.
Seingatku, waktu itu Raja Yosia berupaya
membasmi ibadah palsu dari seluruh Israel.
Aku rasa, dia dan orang Israel pasti takut juga ya.
Apalagi waktu itu Asiria masih kuasa dunia ya.
Mereka bisa bertindak semau mereka.
Iya, mungkin orang Israel takut perubahan ibadah
yang mereka lakukan bakal bikin orang Asiria marah ya.
Dan mereka mungkin takut dikuliti juga,
seperti orang Samaria.
Kalau kita hidup di zaman itu, kita pasti
khawatir banget ya memikirkan anak kita.
Tapi kalau kita baca di ayat 3,
di situ Yehuwa kasih tahu umat-Nya
Dia itu penguasa yang seperti apa.
Dia bilang ke mereka, Dia
”tidak cepat marah dan besar kuasa-Nya”.
Aku sempat riset soal ayat ini,
dan sepertinya cuma di ayat ini saja
Yehuwa mengaitkan sifat-Nya yang tidak
cepat marah dengan kuasa-Nya yang besar.
Mungkin Yehuwa mau mereka fokus sama
kuasa-Nya ya, bukan sama rasa takut mereka.
Mereka pasti terhibur banget ya.
Terus di ayat 15, Yehuwa bilang ke mereka,
Jadi Yehuwa seolah-olah bilang,
’Aku memang belum mengalahkan
orang Asiria, tapi tidak usah takut.
Teruslah beribadah kepada-Ku.’
Hmm. ’Percaya saja sama Aku.’
Iya, dan Yehuwa akhirnya menunjukkan kuasa-Nya dengan benar-benar menghancurkan Niniwe.
Karena itu, ada yang sampai
mengira Niniwe tidak pernah ada.
Wah, kata-kata Yehuwa pasti bikin Yosia,
Nahum, dan yang lainnya lega ya.
Mereka bisa beribadah kepada Yehuwa dengan damai.
Karena mereka fokus sama cara Yehuwa memerintah,
mereka jadi tidak terlalu khawatir.
Wah, poin yang bagus tuh.
Coba aku catat ya: Kalau kita fokus sama cara
Yehuwa memerintah, kita tidak akan terlalu khawatir.
Dan kita bisa hubungkan poin ini
sama persahabatan kita sendiri dengan Yehuwa.
Iya ya.
Dari cara Yehuwa memerintah,
kita bisa tahu sifat Yehuwa itu seperti apa.
Aku ingat kata-kata di Nahum 1:3 tadi:
”Yehuwa tidak cepat marah dan besar kuasa-Nya.”
Yehuwa beda banget ya sama manusia.
Nah, kalau sama musuh-Nya yang kejam
seperti Asiria saja Yehuwa enggak cepat marah,
apalagi sama kita ya.
Iya.
Kadang waktu aku buat salah,
aku langsung merasa Yehuwa kecewa sama aku.
Tapi dari sini aku jadi belajar,
Yehuwa itu Bapak yang pengasih dan sabar.
Dia enggak cepat marah sama aku
karena Dia sayang sama aku.
Aku jadi makin yakin
Yehuwa itu Sahabat yang sejati.
Iya ya.
Kadang kita memang terlalu
keras ya sama diri sendiri.
Kita bisa merasa bersalah secara berlebihan.
Tapi itu bukan cara berpikir Yehuwa.
Aku mau meniru Yehuwa
dan tidak cepat marah sama diri sendiri.
Kalau aku lagi kecil hati, aku mau ingat
gimana perasaan Yehuwa sama aku.
Dan aku jadi pikir, ’Gimana perasaan Yehuwa
waktu Dia lihat aku menjalankan wewenang
sebagai kepala keluarga dan sebagai penatua?
Apa Dia merasa aku sudah meniru Dia,
yang tidak cepat marah?’
Wah, bagus tuh.
Aku juga merenung soal kuasa Yehuwa.
Orang Israel sebenarnya enggak perlu takut ya,
karena orang Asiria enggak ada
apa-apanya dibandingkan Yehuwa.
Meskipun kita sekarang
hidup di dunia Setan yang jahat,
kita juga enggak perlu takut,
karena Yehuwa pasti akan bantu kita.
Jadi waktu ada kesulitan, aku mau fokus
sama cara Yehuwa memerintah.
Aku tahu aku enggak sendirian.
Yehuwa pasti akan kasih kekuatan yang aku butuhkan.
Iya, pasti ya.
Aku juga suka baca pengalaman
saudara-saudari di jw.org.
Waktu aku baca gimana mereka
bisa tetap bertekun meskipun dianiaya,
aku jadi yakin, kalau aku terus
berupaya untuk bertekun,
Yehuwa pasti akan bantu aku juga.
Dari pengalaman mereka, aku bisa lihat
Yehuwa masih menggunakan kuasa-Nya
untuk membantu umat-Nya sekarang.
Dia benar-benar Allah yang
”tidak cepat marah dan besar kuasa-Nya”.
Oke, tadi aku sempat buat catatan.
Pertama, baca pelan-pelan dan punya
keinginan untuk tahu lebih banyak.
Kedua, pakai Indeks untuk riset.
Dan ketiga, pikirkan sifat Yehuwa
yang kelihatan dari cara Dia memerintah.
Dan masih ada banyak yang bisa kita cari tahu.
Misalnya, gimana nubuat Nahum
tentang Niniwe menjadi kenyataan?
Kalau kita pelajari itu, iman kita pasti bisa lebih kuat.
Bener. Yuk, kita lanjut lagi.
Aku juga ketemu ini nih.. . .
Di acara bulan ini, kita diingatkan bahwa kita punya
Bapak yang sangat sayang sama kita, Allah Yehuwa.
Kita pasti mau berupaya untuk
menjadi bagian dari keluarga Yehuwa.
Kita juga mau memupuk
kasih terhadap saudara-saudari,
karena kasih adalah ”ikatan pemersatu yang sempurna”.
Selain itu, kalau kita terus
bertumbuh secara rohani,
Yehuwa bisa menggunakan
kita dalam berbagai tugas di organisasi.
Dan saat kita menghadapi cobaan yang tak terduga,
kita tidak akan kehilangan iman bahwa
Yehuwa adalah Bapak kita dan Gunung Batu kita.
Bulan ini, kita akan jalan-jalan ke Gabon,
yang terletak di pesisir barat Afrika Tengah.
Kadang, negeri itu disebut Taman Eden-nya Afrika.
Sekitar 85 persen negeri itu adalah hutan hujan.
Dan, ada juga Air Terjun Kongou yang sangat besar. 
Di Taman Nasional Loango, kita bisa bertemu
dengan gajah-gajah yang berkeliaran.
Spesies gajah ini hampir punah,
tapi jumlah populasinya paling banyak ada di Gabon.
Selain gajah, di sana juga ada gorila,
monyet mandril, dan ribuan simpanse.
Kehidupan bawah laut di Gabon
juga sangat beraneka ragam.
Ada lebih dari 20 jenis lumba-lumba dan paus.
Jadi, orang-orang datang ke sana
untuk melihat paus dari jarak dekat. 
Tapi, kalau main ke Gabon,
hati-hati dengan ular Gabon.
Ini adalah jenis ular berbisa
dengan taring terpanjang.
Panjang taringnya bisa
sampai lima sentimeter.
Untungnya, ular ini tidak agresif
dan jarang sekali menggigit orang.
Ibu kota Gabon, Libreville,
dibangun pada abad ke-19
oleh para budak yang dibebaskan.
Kota itu punya arsitektur yang modern.
Taman dan pantainya juga sangat indah.
Di bagian tenggara negeri itu ada kota Franceville.
Dari situ kalian bisa pergi ke Air Terjun Poubara.
Tahun 1957,
dua saudara dari Kongo Brazzaville pergi ke
bagian selatan Gabon untuk mencari pekerjaan.
Di sana, mereka juga mengabar
kepada Antoine Moubanga.
Dia menerima kebenaran dan membuat kemajuan
dengan cepat dan dibaptis pada Juni 1957.
Dia adalah Saksi Yehuwa pertama di Gabon.
Di tahun yang sama, para Saksi dari Kongo yang
bekerja di perusahaan konstruksi pindah ke Gabon.
Bersama Saudara Moubanga,
mereka mulai mengabar dan mengadakan
perhimpunan di sebuah pondok yang disewa.
Setiap Sabtu siang, para saudara menyusun kursi-kursi
panjang agar orang-orang bisa mendengarkan khotbah umum.
Karena itu, mereka dikenal sebagai Agama Kursi Panjang. 
Tahun 1964, kegiatan Saksi Yehuwa di sana diakui secara hukum,
dan belakangan para utusan injil mulai datang.
Setiap hari Minggu, mereka menyiarkan
khotbah berdasarkan Alkitab melalui radio. 
Lalu pada April 1970,
pemerintah melarang pekerjaan Saksi Yehuwa
dan mendeportasi para utusan injil.
Tapi selama pelarangan,
saudara-saudari tetap bersemangat.
Mereka berhimpun dan mengadakan pertemuan
besar sembunyi-sembunyi pada malam hari. 
Setelah beberapa waktu,
keadaannya membaik.
Saudara-saudara bisa membangun Balai Kerajaan,
mengadakan pertemuan-pertemuan besar,
dan menyiarkan khotbah-khotbah di radio. 
Khotbah-khotbah itu jadi sangat terkenal
sampai masuk koran pada tahun 2004.
Salah satu saudara yang menyiarkan acaranya
bilang bahwa suaranya sering dikenali orang-orang,
dan beberapa dari mereka akhirnya mulai belajar Alkitab dengannya. 
Sekarang, ada lebih dari 4.600 penyiar di sana.
Mereka memandu lebih dari 8.000 pelajaran
Alkitab menggunakan banyak bahasa,
termasuk bahasa Perancis, Fang,
Myene, Punu, Nzebi, dan Teke.
Baru-baru ini, 28 saudara-saudari muda mengikuti
kelas SBPK pertama yang diadakan di Gabon.
Kelas itu diadakan di Balai Kerajaan di Okala, Libreville. 
Pada tahun 2025, Sidang Okala melaporkan puncak baru.
Ada lebih dari 140 pelajaran Alkitab yang dipandu,
dan ada 287 orang yang menghadiri acara Peringatan.
Ke-116 saudara-saudari di Sidang Okala mengirimkan
salam kasih Kristen yang hangat untuk kalian.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.