JW subtitle extractor

JW Broadcasting—Juni 2026: Wisuda Gilead Kelas Ke-159

Video Other languages Share text Share link Show times

Selamat datang di JW Broadcasting! 
Pada 14 Maret 2026,
para siswa dari kelas Gilead ke-159
menyelesaikan pelatihan rohani yang menguatkan.
Acara wisuda mempersiapkan para siswa
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tugas.
Prinsip-prinsip yang dibahas pada acara itu
juga berlaku untuk kita
karena kita juga bisa menghadapi perubahan.
Perhatikan bagaimana Saudara bisa
menerapkan pelajaran-pelajaran yang dibahas. 
Kami senang menyambut semua yang hadir,
yang mendengarkan, dan menonton acara wisuda Gilead ini.
Kami juga senang menyambut para siswa yang sudah belajar
dengan sungguh-sungguh selama lima bulan terakhir.
Kami tahu kalian sudah melakukan yang terbaik,
dan karena itu kami senang
kalian bisa menikmati acara ini
bersama dengan keluarga dan teman-teman kalian,
serta semua yang hadir secara fisik,
maupun yang terhubung melalui internet. 
Akhirnya, kalian diwisuda.
Tidak terasa ya,
hari yang kalian tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Deg-degan ya.
Nah, sekarang waktunya pergi ke tempat tugas kalian.
Kalian pasti sudah siap ya untuk menerapkan
apa yang sudah kalian pelajari selama lima bulan ini
dan untuk bekerja sama dengan damai
bersama saudara-saudari kalian. 
Apakah mendengar kata ”damai” membuat kalian khawatir?
Bagi yang pergi ke tempat tugas baru,
kalian mungkin khawatir:
’Apa saya bisa bekerja sama
dengan orang-orang di sana?’
Atau bagi yang kembali ke tugas sebelumnya,
kalian mungkin khawatir:
’Apa sekarang orang-orang berharap
saya jadi lebih rohani setelah Gilead?’
Kekhawatiran seperti itu masuk akal. 
Karena itulah, kita akan membahas
tema ”Pergilah Berdamai Dulu”.
Tidak ada yang bilang berdamai itu mudah dilakukan.
Yesus tahu hal itu.
Dia sebutkan itu di Matius pasal 5.
Mari kita buka Alkitab kita.
Perhatikan bagaimana Yesus menggambarkan itu. 
Di Matius 5:23, 24,
Yesus berkata kepada murid-muridnya,
”Maka kalau kamu membawa pemberian ke mezbah,
dan di sana kamu ingat bahwa
saudaramu sedang kesal terhadapmu,
tinggalkan pemberianmu di sana di depan mezbah,
lalu pergilah berdamai dulu dengan saudaramu itu,
baru kembali dan persembahkan pemberianmu.”
Bagi para pendengar Yesus pada waktu itu,
perintah Yesus itu sepertinya mustahil dilakukan.
Bayangkan, seseorang harus
tinggalkan dulu pemberiannya di mezbah,
lalu pergi mencari satu orang di antara ratusan ribu
orang yang sedang menghadiri perayaan di kota.
Dia harus mencari ke seluruh kota,
satu orang itu yang sedang kesal dengan dia.
Lalu setelah berdamai, dia harus segera kembali
ke bait untuk mempersembahkan pemberiannya. 
Dari kisah ini, Yesus mau kasih tahu kita bahwa
berdamai dengan orang lain itu tidak selalu mudah.
Jadi sekarang, kita perlu pikirkan pertanyaan ini:
Kenapa perintah itu tidak mudah dilakukan?
Dan, bagaimana kita bisa tetap
lakukan itu meski tidak mudah? 
Untuk menjawab pertanyaan itu,
kita akan bahas tiga kekhawatiran
yang bisa menghalangi kita untuk berdamai.
Kita juga akan membahas contoh Abram, atau Abraham.
Kita akan lihat apa yang membuat Abram
mau berdamai dengan keponakannya, Lot,
waktu muncul masalah di antara mereka berdua. 
Sekarang, mari bahas kekhawatiran
yang pertama: khawatir terlihat lemah.
Nah, banyak di antara kita berjuang
mengatasi perasaan tidak berharga.
Karena itu, kita mungkin berupaya keras
untuk terlihat lebih hebat daripada orang lain,
dan itu membuat orang lain merasa direndahkan.
Sikap itu bisa merusak perdamaian. 
Sekarang, mari lihat apakah Abram bisa
mengatasi kekhawatiran yang pertama.
Mari buka Alkitab kita di Kejadian pasal 13.
Ini kisah terkenal.
Jadi waktu itu, para penjaga ternak
Abram dan Lot bertengkar soal lahan ternak,
dan Abram melihat bahwa itu
sepertinya bisa merusak perdamaian. 
Mari kita baca Kejadian 13:8, 9.
Dikatakan, ”Abram pun berkata kepada Lot,
’Kita ini bersaudara, tidak baik kalau kita
dan para penjaga ternak kita bertengkar.
Karena itu, lebih baik kita berpisah.
Kamu boleh pilih tempat yang kamu mau di tanah ini.
Kalau kamu ke kiri, Paman ke kanan,
tapi kalau kamu ke kanan, Paman ke kiri.’” 
Luar biasa!
Abram sama sekali tidak khawatir
terlihat lemah di depan Lot.
Padahal, dia bisa saja langsung
menetapkan aturan untuk Lot
agar dia terlihat lebih unggul daripada Lot.
Abram bisa saja bilang begini:
’Lot, kamu kan yang ikut saya,
dan saya yang dapat tugas dari Yehuwa.
Jadi, saya yang berhak buat keputusan.
Kamu ikuti saja perintah saya.’ 
Abram bisa saja dapatkan tanah yang lebih baik.
Tapi, hubungannya dengan Lot mungkin jadi rusak.
Abram tidak lakukan itu.
Sama seperti kita, Abram mungkin
khawatir dia akan diremehkan.
Meski begitu, dia tetap mau mengalah.
Dia tidak takut terlihat lemah. 
Nah, apa alasan Abram melakukan itu?
Bagi Abram, pandangan Yehuwa terhadap dia
lebih penting daripada pandangan orang-orang.
Itu intinya.
Selama dia berada di Negeri Perjanjian,
dia tidak mempermasalahkan mau tinggal di mana.
Bagi dia, berada di sana sudah jadi bukti
bahwa Yehuwa senang kepadanya. 
Dan itulah poin utama dari Matius 5:23, 24.
Yesus sebenarnya bilang ke orang
yang berupaya untuk berdamai itu
untuk segera kembali, kembali ke mezbah,
dan persembahkan pemberiannya kepada Allah.
Dan itulah yang Abram sangat inginkan,
punya hubungan damai dengan Allah.
Jadi, apa pelajaran pertama
yang bisa kita dapatkan dari Abram?
Kekhawatiran-kekhawatiran,
seperti khawatir terlihat lemah,
khawatir tidak dianggap oleh orang lain
padahal kita merasa kita punya pengalaman
atau sudah dilatih di Gilead,
semua itu adalah kekhawatiran yang bisa
menghalangi kita menjaga perdamaian. 
Nah, bagaimana kita bisa mengatasi kekhawatiran itu?
Seperti Abram, kita mau puas dengan
kehormatan terbesar yang bisa dimiliki manusia,
yaitu disenangi oleh Yehuwa.
Berkat dan tugas tambahan lainnya memang bagus,
tapi bukan itu yang terpenting.
Nah, Abram bersikap rendah hati
sewaktu berurusan dengan Lot.
Dan dia mungkin berpikir,
’Lot mungkin akan melakukan hal
yang sama kepada saya.’
Kalau begitu, bagus kan?
Ini membawa kita ke kekhawatiran yang kedua: khawatir, atau takut, dimanfaatkan.
Nah, sewaktu terjadi perbedaan pendapat
dengan orang lain, dan kita mengalah,
kita mungkin mulai merasa khawatir, atau takut kalau
orang itu nanti akan memanfaatkan kebaikan kita. 
Mari kembali ke contoh Abram.
Perhatikan apa yang Abram lakukan di Kejadian 13:10-12.
Di sini, Abram bersikap baik kepada Lot
dan berusaha menjaga perdamaian.
Kita baca mulai ayat 10:
”Maka Lot memandang ke sekeliling dan melihat
bahwa seluruh wilayah Yordan sampai ke Zoar
adalah wilayah yang banyak airnya,
seperti taman Yehuwa,
seperti Mesir (sebelum Yehuwa
memusnahkan Sodom dan Gomora).
Lalu Lot memilih seluruh daerah Yordan
dan memindahkan perkemahannya ke sebelah timur.
Maka mereka berpisah.
Abram tinggal di negeri Kanaan,
sedangkan Lot di dekat kota-kota di daerah Yordan.” 
Apakah Lot memang memanfaatkan kebaikan Abram?
Kita tidak tahu.
Kita tidak tahu semua perinciannya,
dan kita tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi pada peristiwa itu.
Nah, itu nanti akan dibahas lebih lanjut di khotbah utama.
Jadi sabar ya.
Jangan ke mana-mana!
Nah, seandainya Abram merasa kaget
dan kesal karena Lot memilih yang terbaik,
dia bisa saja berpikir, ’Wah, buat apa saya baik sama Lot!
Saya enggak dapat apa yang saya mau.
Dia malah ambil yang terbaik.
Harusnya saya enggak usah tawarin Lot pilih duluan!’
Abram bisa saja berpikir seperti itu. 
Tapi, apakah Abram berpikir seperti itu?
Tidak.
Perhatikan apa yang dikatakan di bagian akhir
ayat 11 dan di bagian awal ayat 12:
”Maka mereka berpisah.
Abram tinggal di negeri Kanaan.”
Abram tidak protes, tidak menuntut haknya,
tidak merasa diperlakukan dengan tidak adil.
Abram benar-benar tulus, dia tidak pura-pura mengalah
untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. 
Jadi bagi Abram, menjaga perdamaian
jauh lebih penting daripada keinginan pribadinya.
Apakah ada pelajaran yang bisa kita tarik dari Abram?
Kita mungkin merasa khawatir orang lain
memanfaatkan kebaikan hati kita.
Mungkin mereka yang jadinya dapat
tugas tambahan, yang dapat pujian,
dan itu bisa membuat kita berpikir,
buat apa kita berbuat baik atau mengalah.
Tapi, sikap seperti itu bisa merusak perdamaian.
Jangan menyerah pada kekhawatiran itu. 
Sebaliknya, tirulah yang Abram lakukan.
Percayalah bahwa cara Yehuwa dalam hal
mengupayakan perdamaian
adalah cara yang terbaik,
meski hasilnya tidak seperti yang kita sangka.
Kita mungkin tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tapi, kita akan dapat hal yang terpenting,
yaitu hubungan damai dengan Allah. 
Nah, waktu pilihan Lot malah
membuat dia sendiri menderita,
bagaimana reaksi Abram?
Apa dia mengungkit-ungkit masa lalu?
Atau, apakah dia mengabaikan
apa yang terjadi di masa lalu?
Itu akan dibahas di akhir acara ini.
Nah, sekarang kita akan menikmati
acara Mengenal Lebih Dekat.
Ini adalah bagian dari acara wisuda
yang selalu kita nanti-nantikan ya.
Dan bagi kalian yang sedang memikirkan
untuk meluaskan pelayanan
atau melayani di daerah yang lebih membutuhkan,
kalian pasti akan menikmati acara ini.
Kali ini, Saudara Jeremy Clarke yang
akan memandu bagian Mengenal Lebih Dekat. 
Selamat datang di Mengenal Lebih Dekat.
Di Matius 5:6, Yesus mengatakan orang
yang lapar akan kebenaran akan bahagia
”karena mereka akan dipuaskan”.
Bagaimana Yehuwa memastikan kebutuhan
rohani anak-anak muda terpenuhi?
Dia memberikan mereka
orang tua yang pengasih.
Tapi, bagaimana kalau orang tua
mereka tidak melayani Yehuwa?
Dulu, Yehuwa menggunakan orang-orang
yang lebih tua dan matang secara rohani.
Misalnya, Imam Besar Yehoyada, yang
membantu Raja Yehoas yang masih muda,
atau Zakharia, yang mengajar Raja Uzzia.
Para siswa dalam episode ini akan menceritakan bagaimana
kebutuhan rohani mereka saat masih muda terpenuhi
dan bagaimana ini membantu
mereka meluaskan pelayanan
serta menjalani kehidupan yang memuaskan.
Mari kita sambut pasangan pertama kita,
Antron dan Rebeca Carraway, dari Amerika Serikat.
Selamat datang, Antron dan Rebecca.
Kalian melayani di Amerika Serikat, tapi boleh ceritakan
kalian dari mana dan bagaimana kalian dibesarkan?
Iya.
Saya lahir dan dibesarkan di Karolina
Selatan oleh kedua orang tua saya yang Saksi.
Saya belajar banyak dari Papa
tentang caranya memperlakukan orang.
Dan Mama selalu bantu saya untuk
tetapkan dan kejar cita-cita rohani.
Dan di sidang, ada saudara-saudara
lain yang benar-benar peduli sama saya.
Misalnya, ada satu saudara yang ajak saya dan
sepupu saya mempelajari buku Amsal sama-sama.
Oh, kenapa Amsal?
Saat itu saya masih remaja.
Dan karena di Amsal ada
banyak nasihat yang bijaksana,
dia merasa itu akan bantu saya dan sepupu
saya untuk lihat kalau Alkitab itu bermanfaat.
Dan ada saudara lain yang punya
pengaruh yang besar atas kehidupan saya.
Kami satu sidang, dan dia dipanggil
ke Betel selama beberapa tahun.
Waktu kembali, dia bilang,
”Kamu harus coba deh melayani di Betel.”
Saya renungkan itu,
dan dia juga bilang saya perlu belajar
bahasa lain, jadi saya juga coba juga itu.
Akhirnya Antron ke Betel
dan belajar bahasa baru.
Bagus ya, mereka peduli.
Nah, Rebeca juga dibesarkan dalam kebenaran ya?
Iya.
Saya dibesarkan di Spanyol,
dan rumah saya dekat dengan Betel.
Jadi saya ingat waktu saya kecil,
orang-orang Betel sering main ke rumah.
Bagaimana rasanya bisa sering
bergaul sama orang-orang Betel?
Saya bisa lihat walaupun
enggak punya banyak uang,
mereka enggak pernah
”kekurangan apa pun yang baik”.
Yehuwa benar-benar merawat
mereka dalam segala hal.
Dan mereka selalu senang,
mereka selalu tersenyum.
Dan itu yang benar-benar
menyentuh hati saya.
Saya juga mau merasakan sukacita yang sama.
Wah, bagus ya.
Nah, apa lagi yang orang tua Rebeca
lakukan untuk membantu Rebeca?
Saya ingat setiap malam, Papa berdoa
sama saya, kakak saya, dan kembaran saya.
Dan Papa juga mau mendengarkan
waktu kami berdoa masing-masing.
Saya rasa Papa mau lihat apakah
Yehuwa benar-benar nyata bagi kami.
Saya juga ingat Mama menyarankan kami untuk
sering bergaul dengan para perintis di sidang.
Dan itulah yang kami lakukan.
Karena itu, dari kecil kami
suka sekali pergi berdinas.
Jadi kalian merasakan manfaat dari
apa yang orang tua kalian ajarkan.
Dan itu bantu kalian untuk punya
semangat dan iman untuk luaskan pelayanan.
Nah kesempatan apa yang kalian dapat?
Waktu kami mulai pacaran,
Antron melayani di Betel di New York.
Tapi enggak lama, Antron dapat tugas baru
untuk melayani di kantor cabang di Uganda.
Uganda?
Iya, saya juga kaget dapat tugas itu.
Tapi saya juga ingin sekali pergi.
Jadi kami tetap berpacaran,
lalu kami menikah di Madrid.
Nah, beberapa hari setelahnya,
Rebeca pindah untuk ikut melayani
bersama saya di Betel Uganda.
Ini foto kalian di Uganda ya?
Iya, ini di kantor cabang.
Gimana di sana?
Iya, itu pengalaman yang
enggak akan kami lupakan.
Tapi sebenarnya, enggak gampang juga
buat banyak penyesuaian dalam waktu bersamaan.
Saya harus menyesuaikan diri jadi istri dan hidup di Betel.
Saya juga harus membiasakan diri dengan budaya,
bahasa, makanan, dan bahkan cara berpikir yang baru.
Kami jadi lebih kenal diri kami
dan belajar cara berpikir orang lain.
Itu bantu kami untuk lebih
mudah menyesuaikan diri.
Jadi, nasihat-nasihat dari
Amsal kerasa ya manfaatnya.
Iya.
Saya ingat di kelas kami bahas Amsal 19:11.
Dari ayat itu, kami belajar bahwa
meskipun ada banyak ciptaan yang indah,
kalau kita mengampuni atau mengabaikan kesalahan orang lain,
di mata Yehuwa itu juga sangat indah.
Dan seperti itulah saudara-saudari di Uganda.
Ada banyak hal yang kami lakukan yang
sebenarnya bisa buat mereka tersinggung,
tapi mereka enggak pernah marah.
Mereka terus mengabaikan
kesalahan kami, dan itu sangat indah.
Iya, saudara-saudari di sana
jadi seperti keluarga bagi kami.
Kami belajar kalau kita tulus mengasihi saudara-saudari,
mereka juga akan lakukan hal yang sama.
Dan mereka benar-benar membantu kami waktu kami kangen rumah.
Kami ingat sama sepasang utusan injil.
Mereka benar-benar memperhatikan kami,
dan mereka banyak membantu kami.
Mereka luangkan waktu buat kami.
Dan kami bisa rasakan bahwa kasih yang mereka
tunjukkan adalah salah satu bentuk kasih Yehuwa untuk kami.
Berapa lama kalian di Uganda?
Kami di sana sepuluh tahun.
Pasti berat ya waktu pindah?
Iya.
Berat banget.
Kami nangis waktu harus pindah.
Kami nangis sampai mata kami bengkak.
Iya.
Tapi kami masih sering
ngobrol sama mereka.
Saya juga masih sering kontak
sama beberapa saudari di sana.
Karena saudara-saudari,
kami enggak merasa seperti orang asing.
Bahkan sebelum kami pergi, mereka kasih kami kambing
dan sebidang tanah untuk jaga-jaga kalau kami kembali.
Bagus sekali.
Kalian dapat manfaat dari
pelatihan waktu kalian masih muda.
Kalian sudah dan akan bantu banyak orang penuhi kebutuhan rohani mereka.
Makasih banyak, Antron dan Rebeca.
Beberapa siswa dibesarkan oleh
hanya satu orang tua yang Saksi.
Salah satunya adalah
Saudari Lin Jia Hui dari Taiwan.
Mari kita sambut.
Selamat datang, Jia Hui.
Makasih.
Bisa cerita gimana Jia Hui dibesarkan?
Boleh.
Saya lahir dan besar di Taiwan.
Saya umur sepuluh waktu Mama
kenal kebenaran dan dibaptis.
Oh gitu.
Kalau Papa?
Sampai sekarang, Papa belum jadi Saksi,
tapi Papa sangat mendukung.
Mama yang pertama kali ajari saya dan adik saya
untuk mengasihi Yehuwa dan menyukai pengabaran.
Ini Jia Hui sama Mama . . .
Iya, di Balai.
. . . dan adik ya?
Mm-hmm.
Oh oke, oke.
Gimana Mama bantu
Jia Hui mengasihi Yehuwa?
Hmm.
Mama mulai merintis sambil kerja
sepenuh waktu dan membesarkan dua anak.
Tapi, Mama benar-benar semangat.
Mama benar-benar suka merintis.
Saya masih ingat wajah Mama setelah pulang dinas
senang sekali waktu ceritakan pengalaman
bagus yang Mama dapat hari itu.
Waktu itu, seperti apa dinas di sana?
Hmm.
Memang orang-orang
di sana fokus cari uang.
Jadi, mereka kurang berminat dan tidak
punya banyak waktu untuk belajar Alkitab.
Tapi, Mama selalu ketemu orang yang berminat.
Saya rasa itu karena Mama benar-benar kelihatan
bahagia dan punya kasih yang tulus untuk orang-orang.
Oh iya, saya juga ingat Mama sangat terampil
pakai bagian pengantar di Alkitab
Terjemahan Dunia Baru untuk mulai percakapan.
Mama benar-benar ’berkobar dengan kuasa kudus’.
Tapi, saya jadi penasaran
seperti apa pengabaran di Taiwan,
terutama karena orang-orangnya seperti itu.
Mmm, sebenarnya ada banyak hasil bagus.
Ada video yang bisa kita tonton soal itu.
Oke, ayo kita tonton.
Ilha Formosa, atau ”Pulau yang Indah”,
adalah sebutan untuk Taiwan,
pulau yang terkenal karena keindahannya,
dari pantai-pantainya sampai gunung-gunungnya.
Tapi sama seperti di negara-negara lain,
yang membuat Taiwan indah adalah orang-orangnya.
Tahun 1948, Saudara Stanley Jones,
lulusan Gilead kelas kedelapan, mengunjungi Taiwan.
Dia melakukan perjalanan melintasi
pulau ini untuk menghadiri kebaktian
di mana ada sekitar 300 orang yang dibaptis.
Benih-benih kebenaran itu bertumbuh,
dan sekarang ada lebih dari 11.000 penyiar di Taiwan.
Meskipun luas wilayahnya tidak besar,
ada banyak orang yang tinggal di Taiwan.
Di kota Taipei saja, ada lebih dari dua juta orang.
Di kota Taipei, ada banyak peluang untuk menjadi kaya.
Meski begitu, saudara-saudari kita
mengikuti teladan para utusan injil,
dan mereka bekerja keras dalam pekerjaan pengabaran.
Waktu saya kecil, orang tua saya
sering bertengkar karena uang.
Jadi saya bertekad untuk hasilkan
banyak uang kalau sudah besar.
Saya pikir itu akan membuat keluarga saya bahagia.
Waktu umur 17, saya belajar Alkitab.
Saya belajar kalau Allah
Yehuwa mau kita hidup di Firdaus.
Saya juga belajar kita bisa benar-
benar bahagia kalau merasa puas.
Saya dibaptis tahun ’99.
Setelah kami menikah, kami punya tujuan
untuk melayani sebagai perintis di daerah lain.
Tapi delapan tahun sebelumnya,
papa saya kena stroke.
Jadi, kesehatannya kurang baik.
Makin lama, saya makin
suka dengan pekerjaan saya.
Itu membuat saya merasa sukses.
Kadang saya berpikir apakah saya pakai
keluarga saya sebagai alasan,
padahal saya sendiri juga
suka gaya hidup seperti itu.
Tiap kali dengar saudara-saudari meluaskan pelayanan,
sukacitanya ikut SBPK, kami sangat dikuatkan.
Kami jadi berpikir apakah
kami harus membuat penyesuaian.
Belakangan, Papa meninggal.
Kami sadar inilah saatnya,
inilah kesempatan kami untuk
menyederhanakan kehidupan.
Enggak lama, kami berdua
berhenti dari pekerjaan kami.
Kami pindah ke daerah yang lebih membutuhkan,
dan kami mulai merintis di sana.
Waktu saya mau mengundurkan diri,
bos saya sangat tidak senang.
Dia enggak habis pikir.
Jadi dia bilang, ”Kamu udah gila ya?
Gimana masa depanmu?
Kamu enggak pikirin keluargamu?”
Tapi, itu tidak membuat saya berubah pikiran.
Yehuwa benar-benar memberkati kami.
Saya sangat menikmati kehidupan seperti ini.
Kami punya banyak waktu untuk
bergaul bersama saudara-saudari,
dan kami juga bisa membantu banyak pelajar
Alkitab untuk mendekat kepada Yehuwa.
Saya rasa dunia Setan ini menipu banyak orang.
Dunia ini menawarkan banyak
hal yang kelihatannya berharga,
tapi yang benar-benar berharga
adalah persahabatan dengan Yehuwa.
Kita bisa hidup selamanya di
Firdaus dan melayani Yehuwa.
Kalau saja dulu saya lebih
berani untuk membuat penyesuaian,
sebenarnya saya bisa pakai
lebih banyak waktu dalam pelayanan.
Saya sudah merasakan
benarnya kata-kata di Amsal 10:22:
”Berkat Yehuwa-lah yang
membuat orang menjadi kaya.”
Para utusan injil yang dulu datang ke
Taiwan membangun fondasi yang kuat.
Sekarang, ribuan saudara-saudari
di sini mengikuti teladan mereka
dan terus membuat banyak
pengorbanan demi melayani Yehuwa.
Lihat kerja keras mereka dalam pelayanan benar-benar menguatkan, ya.
Mmm-hmm, iya.
Jadi, selain Mama, siapa lagi yang
bantu Jia Hui maju secara rohani?
Waktu tambah dewasa,
ada saatnya saya lemah secara rohani.
Saya jarang berhimpun.
Tapi, ada sepasang utusan injil di sidang
saya yang benar-benar pedulikan saya.
Mereka perhatikan kalau saya enggak berhimpun,
dan saudarinya biasanya tanya kabar saya.
Ini foto mereka sama Mama dan adik, ya?
Mmm.
Iya.
Oh.
Mereka juga ke Gilead?
Iya.
Mereka juga muncul di video
Sampai ke Ujung-Ujung Bumi.
Saya senang sekali bergaul sama mereka.
Tapi belakangan, mereka ditugaskan ke kota lain.
Saya sempat sedih, tapi Yehuwa
kasih saya teman lain lagi,
satu saudari dari Jepang yang
pindah ke Taiwan untuk melayani.
Dia sering ajak saya dinas bareng
dan coba berbagai cara berdinas.
Wah, baik sekali ya.
Apa lagi yang dia lakukan?
Nah, waktu video Kaum Muda Bertanya—
Bagaimana Saya Bisa Memiliki Sahabat Sejati? dirilis,
dia ajak saya nonton bareng di rumahnya.
Pas nonton itu, saya lihat ada saudari
perintis yang bantu seorang saudari muda.
Saya sadar itu yang dilakukan
saudari dari Jepang itu untuk saya.
Sebelum itu, kebenaran masuk akal buat saya.
Itu logis.
Tapi, setelah merasakan kasih dan perhatian saudari itu,
saya jadi yakin Yehuwa mengasihi dan peduli sama saya.
Itu membuat saya ingin mendekat
kepada-Nya dan jadi sahabat-Nya.
Luar biasa.
Jadi, dengan bantuan Mama dan yang lain,
Jia Hui terus buat kemajuan, ya?
Mmm-hmm.
Saya mulai merintis biasa dan
belakangan ikut sidang bahasa Inggris.
Saya senang sekali bisa bantu
orang-orang merasakan kasih Yehuwa.
Dan ada banyak yang pindah
ke Taiwan untuk melayani.
Saya sangat dikuatkan waktu lihat saudara-saudari
dari seluruh dunia rela buat
pengorbanan untuk melayani Yehuwa.
Betul, kita selalu senang bantu orang lain
kenal Yehuwa dan ajarkan kebenaran.
Makasih, Jia Hui.
Semoga Yehuwa terus berkati Jia Hui dan saudara-saudari di Taiwan.
Makasih banyak ceritanya.
Terima kasih.
Banyak saudara-saudari kita kedua orang tuanya bukan Saksi.
Jadi, siapa yang bantu mereka?
Mari sambut Saudara Doug Terrell dari Amerika Serikat.
Selamat datang.
Kapan Doug mulai kenal kebenaran?
Sekitar umur 18.
Waktu itu hidup saya kacau.
Maksudnya?
Saya enggak dibesarkan dalam kebenaran.
Tapi Mama kerja keras untuk besarkan
saya dan dua kakak saya dengan baik.
Tapi sayangnya, saya buat keputusan yang salah,
dan teman-teman saya jadi pengaruh yang buruk.
Saya pemarah, depresi, cemas.
Hidup saya sangat kacau sampai-sampai
Mama ajak saya bicara dengan serius.
Nah sebelumnya, saya sudah kunjungi
beberapa gereja karena saya mau kenal Allah.
Saya coba pergi ke gereja Katolik, Pantekosta, Methodist.
Lalu, apa hasilnya?
Enggak ada yang buat saya puas.
Hati saya enggak tersentuh.
Jadi, setelah Mama ajak saya bicara,
saya berlutut sambil menangis,
saya berdoa panjang, saya
mohon Allah bantu saya kenal Dia
dan temukan jawaban untuk
pertanyaan-pertanyaan saya.
Pertanyaan-pertanyaan apa?
Saya mau tahu: Apa Allah punya nama?
Kenapa orang baik juga menderita?
Dan, kenapa banyak agama enggak
jalankan apa yang mereka ajarkan?
Banyak orang juga cari jawaban
dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Lalu gimana?
Dua minggu setelahnya, Saksi Yehuwa datang ke rumah.
Nah biasanya, kami enggak
pernah bukain mereka pintu.
Lalu, kenapa waktu itu dibukain?
Karena waktu itu yang datang dua saudari,
dan salah satunya guru SMA saya.
Saya ingat dulu dia baik sekali sama saya.
Jadi waktu lihat dia,
saya bukakan pintunya.
Dia tanyakan pertanyaan ini ke saya:
”Kamu tahu enggak Allah punya nama?”
Lalu, dia buka Mazmur 83:18.
Dia juga baca 1 Yohanes 5:19,
yang bilang kalau ’seluruh dunia dikuasai si jahat’.
Dan untuk pertama kalinya,
saya merasa senang sekali.
Saya enggak pernah merasa seperti itu sebelumnya.
Bagus.
Selain saudari itu, siapa lagi yang bantu
Doug belajar Alkitab dan buat kemajuan?
Nah, setelahnya saya mulai belajar Alkitab.
Lalu waktu saya ke Atlanta,
Georgia, saya ketemu sahabat saya.
Oh ya?
Waktu itu saya sudah belajar selama satu tahun.
Tapi, saya butuh bantuan untuk
menjalankan apa yang saya pelajari.
Dia benar-benar peduli sama saya,
dia bantu saya jalankan apa yang saya pelajari.
Dia perintis yang bersemangat.
Dan karena itu saya putuskan untuk pindah ke Atlanta
dan lanjutkan pelajaran Alkitab saya sama dia.
Kami jadi teman sekamar selama tujuh tahun.
Luar biasa ya.
Dia bukan hanya peduli, tapi dia
juga bantu Doug maju secara rohani.
Lalu gimana?
Saya ingat dia pernah ajak pengawas
wilayah untuk belajar Alkitab sama saya,
dan saudara itu baik sekali sama saya.
Jadi setelah pelajaran Alkitab itu,
saya berdoa kepada Yehuwa dan minta
bantuan-Nya untuk menetapkan cita-cita rohani.
Nah, ini ada foto.
Itu siapa aja?
Nah, ini foto waktu saya dibaptis.
Yang paling kanan itu guru SMA saya,
yang mengabar ke rumah,
dan yang paling kiri itu sahabat saya.
Oke, jadi dia yang kenalkan
Doug sama pengawas wilayah.
Dan, apa manfaatnya untuk Doug?
Ya jadi saat itu,
saya butuh bantuan karena saya masih merasakan
akibat dari beberapa hal buruk di masa lalu saya.
Pengawas wilayah saya waktu itu
benar-benar peduli sama saya.
Dia bantu saya lebih terampil dalam pelayanan.
Dia juga bantu saya lebih terampil mengajar,
melakukan kunjungan penggembalaan,
dan bantu saya melawan perasaan negatif.
Tidak lama setelahnya,
saya menjadi pengawas wilayah.
Luar biasa.
Jadi, kalau ingat lagi apa yang saudara-saudari
lakukan untuk bantu Doug, bagaimana perasaan Doug?
Saya jadi teringat tokoh Alkitab Onesimus.
Sebelum jadi orang Kristen,
dia budak yang melarikan diri.
Dan di zaman itu, budak hanya
dianggap seperti barang milik orang lain.
Tapi setelah jadi orang Kristen, Rasul Paulus
gunakan dia untuk kuatkan sidang-sidang.
Saya merasa saya seperti Onesimus.
Sebelum kenal kebenaran, saya seperti barang
yang tidak ada nilainya, tidak punya masa depan.
Tapi, Yehuwa gunakan Paulus-Paulus zaman modern
seperti guru SMA saya, sahabat saya, pengawas wilayah,
untuk bantu saya lihat
saya bisa jadi orang seperti apa.
Kami senang cita-cita rohani Doug tercapai.
Kami juga bisa lihat pentingnya memperhatikan
dan membantu anak-anak muda mengasihi Yehuwa.
Makasih Doug untuk pengalamannya.
Kalau kebutuhan rohani kita terpenuhi,
kita akan mau berbuat lebih
banyak untuk melayani Yehuwa.
Mari kita sambut pasangan terakhir kita,
Andy dan Julia Alton, yang melayani di Thailand.
Kalian berdua dari Inggris Raya,
tapi melayani di Thailand ya.
Gimana kalian bisa sampai di sana?
Sebenarnya, kami sudah lama
ingin melayani di Betel Britania.
Kami udah isi formulir,
tapi enggak ada kabar.
Kami agak kecewa dan bingung
juga mau melayani di mana.
Iya ya.
Memang ada beberapa yang punya cita-cita rohani,
tapi kecewa karena enggak tercapai sesuai harapan.
Jadi, apa yang kalian lakukan?
Ya waktu itu, kami doakan aja.
Setelah itu, ada kesempatan melayani di
tempat yang lebih membutuhkan di Thailand.
Kok bisa?
Adik saya dan suaminya udah pindah
ke sana untuk meluaskan pelayanan.
Jadi, mereka ajak kami untuk coba juga.
Kami bergabung dengan kelompok
berbahasa Thailand di Manchester,
yang dekat dengan rumah kami.
Jadi, kami merasa cocok juga kalau kami ke Thailand.
Gimana di sana?
Ya, kami senang di sana.
Tapi setiap kira-kira enam bulan sekali,
kami harus pulang untuk kerja.
Jadi kalau kami ketemu orang
yang berminat, kami harus oper.
Waktu kami kembali ke Thailand,
rasanya kami mulai lagi dari nol.
Dan sebenarnya, dalam hati kami
masih berharap melayani di Betel Britania.
Tapi kami tahu cepat atau lambat, kami harus buat keputusan:
terus melayani di Thaliand atau
kembali ke Inggris dan merintis di sana.
Tapi, tetep aja enggak ada
kabar ya dari Betel Britania.
Jadi, apa yang kalian putuskan?
Kami banyak berdoa,
dan kami putuskan Thailand.
Kenapa Thailand?
Jadi setelah kami pikirkan,
kami putuskan untuk kembali ke Thailand
karena di sana ada kebutuhan yang besar.
Kami enggak lagi berfokus pada apa yang
kami inginkan, tapi pada pelayanan di Thailand.
Alasan lain, karena kami lebih takut melayani di Thailand.
Bentar, bentar.
Kalau lebih takut, kenapa ke Thailand?
Kita biasanya takut kalau
harus keluar dari zona nyaman.
Tapi waktu kita keluar dari zona nyaman,
kita jadi harus benar-benar mengandalkan Yehuwa.
Dan hasilnya, kita jadi jauh
lebih dekat dengan Yehuwa.
Makasih ya sudah bagikan itu.
Makasih juga sudah berani.
Jadi, seperti apa dinas di sana?
Ya, di sana seru.
Ini foto saya dan Julia waktu
kami mengabar di Bangkok.
Ada banyak orang yang berminat di sana.
Dan yang menarik, walaupun di Bangkok
atau di seluruh Thailand, kebanyakan orang beragama Buddha,
banyak anak mudanya mencari sesuatu
yang buat hidup mereka jadi lebih memuaskan.
Jadi, ada banyak orang yang mau
dengar berita yang kita sampaikan.
Kami sudah siapkan video soal hal itu.
Yuk, kita lihat.
Selamat datang di Thailand!
Di negeri yang penuh warna ini,
kita bisa mencium aroma makanan di setiap sudut jalan
dan merasakan kehangatan Negeri Seribu Senyuman.
Orang-orang di Thailand suka menerima tamu,
dan itu sudah jadi bagian hidup mereka.
Bagi mereka, persahabatan dan keluarga sangat berharga.
Tapi, itu belum cukup bagi mereka.
Mereka mencari makna kehidupan
yang bisa membantu mereka merasa damai.
Ayo, kita dengar pengalaman Narumon dan Kanitta.
Waktu saya tumbuh besar, di lingkungan
saya ada pemimpin-pemimpin agama
yang harusnya jadi teladan bagi orang lain,
tapi mereka enggak menjalankan apa yang mereka ajarkan.
Waktu kecil saya bertanya-tanya,
’Para pemimpin agama ini kan bukan orang yang baik.
Kenapa orang-orang masih mengikuti mereka?’
Tapi kalau saya tanya sama
orang lain, mereka selalu bilang,
”Ya, mereka kan biksu, jadi
kamu harus hormat sama mereka.”
Buat saya, itu jawaban yang enggak masuk akal.
Papa saya orangnya baik dan penyayang.
Tapi, Papa kecanduan alkohol.
Menurut ajaran agama Buddha, kalau seseorang
kecanduan alkohol dan suka minum-minum,
orang itu bisa masuk neraka.
Saya takut karena saya enggak
mau papa saya masuk neraka.
Jadi saya pergi ke kuil untuk cari tahu gimana
caranya supaya papa saya enggak masuk neraka.
Tapi, para pemimpin agama bilang enggak
ada yang bisa saya lakukan untuk bantu Papa,
karena katanya, ”Perbuatan baik
enggak bisa menutupi perbuatan buruk.
Tapi kalau kamu sumbangkan beberapa hal
ke kuil, mungkin itu bisa bantu papamu di neraka.”
Saya enggak puas
dengan jawaban mereka.
Jadi sejak itu, saya mulai cari jawabannya.
Saya mau tahu apa yang
agama lain ajarkan soal ini.
Dari kecil saya dikasih tahu kalau saya
harus percaya aja sama
apa yang diajarin ke saya.
Saya enggak perlu cari tahu apa dasarnya.
Tapi, saya mau cari tahu
jawaban yang masuk akal.
Jadi, saya gabung beberapa grup di media
sosial untuk orang-orang yang mau pindah agama.
Dan ternyata, ada banyak
yang mau pindah agama.
Ada banyak juga yang ajak saya ke gereja.
Sebenarnya saya mau pergi, tapi saya takut.
Lalu, saya lihat Alkitab.
Saya merasa buku ini punya jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaan saya.
Jadi, saya mau pinjam untuk baca di rumah.
Tapi pemimpin agamanya bilang saya
enggak boleh pinjam, saya harus beli.
Jadi, saya tanya harganya berapa.
Katanya sekitar 500.000 rupiah.
Saya pikir, ’Saya bisa baca Alkitab di HP saya, kan?’
Jadi saya ketik ”Alkitab” di Google,
lalu saya klik link paling atas.
Saya lihat sampai bawah
dan ada tulisan ”Coba kursus Alkitab gratis.”
Belakangan, saya baru tahu itu situs web jw.org.
Saya ragu, ’Hmm, beneran gratis nih?’
Tapi saya tetep coba.
Saya masukkan data saya,
karena saya pikir kalau ternyata nanti
memang enggak gratis, saya akan berhenti.
Saya enggak akan hubungi mereka lagi.
Tapi kira-kira dua hari kemudian,
ada saudari yang hubungi saya.
Saya tanya bolak-balik ke dia, ”Ini beneran gratis?”
Dia bilang, ”Gratis.”
Suatu hari, saya pergi makan sama bos saya.
Waktu makanannya datang, saya lihat dia tutup mata.
Saya enggak ngerti dia ngapain,
jadi saya penasaran.
Waktu dia buka matanya,
saya tanya dia ngapain.
Dia bilang dia habis berdoa.
Dia Kristen, dan dia berdoa ke
Allah untuk bilang terima kasih.
Jadi saya bilang, ”Oh, sebenarnya saya
mau pindah agama, jadi saya harus gimana?”
Dia bilang, ”Oh, saya kasih kursus Alkitab gratis.
Kamu mau?”
Saya langsung setuju.
Papa saya meninggal tahun 2019.
Saya sedih, tapi saya enggak takut seperti dulu
karena saya tahu di masa depan
saya bisa ketemu Papa lagi.
Papa akan dibangkitkan,
dan kami bisa ngobrol lagi.
Saya sangat tersentuh waktu belajar
Buku Hidup Bahagia Selamanya! pelajaran 27.
Guru Alkitab saya bantu saya lihat bahwa
Yesus enggak cuma bilang dia mengasihi kita,
tapi dia juga buat pengorbanan yang besar
untuk menunjukkan kasihnya dan Bapaknya bagi kita.
Saya merasa seperti itulah seharusnya Pemimpin
yang kita ikuti karena mereka mengasihi kita
dan rela berkorban bagi kita.
Kami sangat senang melihat orang-orang
seperti Narumon dan Kanitta mengenal kebenaran.
Karena itulah kita terus mencari.
Karena saat seseorang menemukan
kebenaran, itu mengubah hidupnya.
Kalian kenal dua saudari itu ya?
Iya benar.
Dan, waktu kami pertama kali pindah ke
Thailand, Narumon masih belajar Alkitab,
dan kami satu sidang.
Saya bisa ngerti kenapa kalian suka dinas di sana.
Nah, siapa saja yang bantu
kalian menyesuaikan diri di sana?
Ada banyak saudara-saudari,
tapi ada satu pasangan
utusan injil yang pernah ke Gilead.
Mereka bantu kami lihat kami perlu kerja keras,
tapi tetap seimbang supaya bisa
menyesuaikan diri di negeri yang baru.
Kami juga belajar dari mereka rumah harus jadi tempat yang nyaman
supaya kami bisa istirahat
dan siap mengabar lagi besoknya.
Bagus sekali ya mereka kasih
bantuan dan teladan buat kalian.
Jadi, Andy dan Julia, apa yang awalnya bantu
kalian mau lakukan lebih banyak untuk Yehuwa?
Kalau buat saya, itu Papa Mama.
Mereka sangat menyayangi Yehuwa.
Mereka baik hati dan murah hati
saat bantu saudara-saudari.
Saya jadi ingat waktu saya muda,
saya dan Papa sering kerja bersama
di proyek pembangunan Balai Kerajaan.
Kami sangat suka itu.
Dan, ada dua penatua
yang sesidang sama saya
di tempat kerja saya yang dulu.
Mereka juga bantu di proyek pembangunan Balai Kerajaan.
Jadi, Papa, Mama, dan dua penatua ini bantu saya
untuk mengasihi Yehuwa dan menetapkan cita-cita rohani.
Itu Andy?
Iya, sama Papa Mama.
Wah.
Saya juga sama.
Papa Mama jadi teladan
yang bagus buat saya.
Mama dibaptis waktu saya kecil,
dan beberapa tahun setelahnya, Papa juga.
Dan sejak saat itu, kami selalu
berupaya mempertahankan rutin rohani,
meskipun itu enggak mudah karena kami tujuh bersaudara.
Tapi enggak soal apa yang terjadi,
kami selalu pergi berdinas dan berhimpun,
dan itu enggak bisa ditawar.
Saya juga enggak pernah lupa setiap pulang sekolah,
saya lihat Mama lagi pelajaran pribadi di meja dapur.
Dan setiap pagi, saya lihat Papa baca Menara Pengawal.
Saya mau tiru mereka.
Saya bisa lihat mereka sangat akrab dengan Yehuwa.
Itu foto Julia waktu masih kecil, ya?
Iya, itu foto saya sama Papa dan Mama.
Kalian sudah tunjukkan betapa
besarnya peran para orang tua,
utusan injil, dan saudara-saudari
dalam membantu anak-anak muda
untuk mengandalkan Yehuwa, percaya kepada-Nya,
dan berbuat lebih banyak dalam pelayanan.
Makasih ya Andy dan Julia untuk ceritanya.
Ya, Yehuwa bisa gunakan siapa saja
untuk memenuhi kebutuhan rohani orang lain.
Apa ada pengalaman yang mirip
dengan pengalaman Saudara?
Bagaimana Yehuwa menggunakan kalian sekarang
untuk memenuhi kebutuhan rohani orang lain?
Para orang tua, kami memuji kerja keras kalian
untuk membantu anak-anak mengasihi
Yehuwa dan memberikan yang terbaik.
Dan, kalian bisa berhasil meskipun
pasangan kalian bukan penyembah Yehuwa.
Dan semua yang di sidang, para saudara terlantik,
utusan injil, perintis, dan para lansia,
kalian semua bisa membantu
membentuk kehidupan anak-anak muda.
Kalian berperan besar dalam membantu
mereka memberikan yang terbaik untuk Yehuwa,
dan mereka pun bisa membantu
memenuhi kebutuhan rohani orang lain.
Semoga kalian menikmati
berbagai pengalaman di episode ini.
Dan sampai jumpa di episode
Mengenal Lebih Dekat berikutnya.
Baik.
Terima kasih banyak Saudara Clarke
dan juga para partisipan.
Kami sangat menikmati wawancaranya.
Hati kita sangat tersentuh ya
melihat bahwa masih banyak
orang yang berhati tulus yang perlu dikabari.
Saya bahkan sempat terpikir
untuk kembali menjadi utusan injil.
Ya, sayangnya kita enggak bisa milih ya. 
Nah di awal acara, waktu kita
membahas tentang Abram dan Lot,
bagaimana Saudara memandang Lot?
Apakah Saudara anggap dia orang yang egois?
Saudara David Splane, salah satu
anggota Badan Pimpinan,
akan membahas tentang hal ini.
Judulnya: ”Teruslah Berpikiran Positif Terhadap Orang Lain”.
Saya jadi ingat,
kira-kira hampir 60 tahun yang lalu,
saya tiba di Betel Brooklyn
untuk mengikuti Sekolah Gilead.
Itu kenangan yang indah.
Lalu, lima bulan kemudian, kami diwisuda.
Jadi, saya rasa saya mengerti
seperti apa perasaan kalian saat ini. 
Ini hari yang istimewa bagi kalian
yang sebentar lagi akan lulus.
Kami mau bilang kalau kami bangga sama kalian.
Kalian sudah bekerja keras,
Yehuwa juga sudah memberkati kalian,
dan kami tahu bahwa kalian ikut sekolah ini
bukan untuk membuat orang lain
terkesan dengan pengetahuan kalian,
tapi untuk semakin dekat dengan Yehuwa
dan semakin dekat dengan saudara-saudari.
Dan, itulah tema yang mau
saya bahas dalam khotbah kali ini,
yaitu hubungan kita dengan saudara-saudari. 
Kita tahu bahwa Allah kita, Yehuwa,
tahu semua hal tentang kita,
bahkan hal terkecil sekalipun.
Karena itu, kita yakin bahwa nanti
waktu Yehuwa menghakimi kita,
Dia akan melakukannya dengan benar dan adil.
Dia tidak akan melewatkan, mengabaikan,
atau melupakan perincian terkecil sekalipun tentang kita.
Yehuwa akan mempertimbangkan
semua hal yang selama ini Dia amati. 
Tapi, manusia tidak begitu.
Ingat apa yang Yehuwa bilang ke Nabi Samuel:
”Cara manusia melihat berbeda dengan cara Allah.”
Kita tidak mungkin bisa tahu
semua informasi tentang seseorang.
Karena itu, kita tidak mungkin bisa
menghakimi orang dengan benar dan adil.
Dan seperti yang Jacob Rumph bilang, hari ini
kita akan belajar banyak dari kisah Lot.
Jadi, kita akan lihat dari contoh Lot,
apakah ada manfaatnya kalau kita
berpikiran positif terhadap orang lain.
Tapi sebelumnya, mungkin ada yang pikir,
’Kok, Saudara Splane ikut-ikutan
Saudara Jake bahas tentang Lot?’
Ya, memang kami sudah janjian. 
Nah, Rasul Petrus menulis sesuatu
yang menarik tentang Lot.
Itu dicatat di 2 Petrus.
2 Petrus pasal 2.
Kita akan baca ayat 7 dan 8.
Dari sini, kita bisa lihat orang seperti apa Lot itu.
Saya akan tunggu kalian.
Bagi kalian yang jarinya kena
radang sendi seperti saya,
memang butuh waktu ya untuk buka ayatnya.
2 Petrus 2:7, 8, dikatakan:
”Dia [maksudnya adalah Yehuwa]
juga menyelamatkan Lot,
orang benar yang sangat menderita karena kelakuan
yang tidak tahu malu dari orang-orang jahat.
Dari hari ke hari, orang benar itu merasa
tersiksa karena kejahatan yang dia
[atau, orang benar itu] lihat dan dengar
selama tinggal di antara mereka.” 
Nah sekarang, siapa yang
menyebut Lot sebagai ”orang benar”?
Apakah ini pendapat pribadi Petrus?
Tidak ya.
Ini adalah surat kedua yang ditulis
Petrus atas bimbingan kuasa kudus.
Jadi, kuasa kuduslah yang membimbing Petrus
untuk menulis bahwa Lot adalah ”orang benar”.
Bahkan kalau kita lihat
bahasa aslinya di dua ayat ini,
Lot tiga kali disebut sebagai ”orang benar”.
Siapa yang ada di balik kuasa kudus?
Allah Yehuwa.
Jadi, waktu kita baca bahwa Lot disebut
sebagai ”orang benar” sebanyak tiga kali,
itu sebenarnya penilaian Allah Yehuwa terhadap Lot.
Nah, apakah selama ini Saudara juga
memandang Lot sebagai orang benar?
Atau, apa Saudara berfokus hanya
pada kesalahan-kesalahan dia saja? 
Mungkin ada yang bilang begini:
’Waktu Abraham mempersilakan Lot untuk
memilih duluan di mana dia mau tinggal,
Lot pilih daerah yang terbaik.
Padahal seharusnya dia mempersilakan
yang lebih tua untuk memilih duluan.
Apakah ini menunjukkan bahwa Lot egois?’
Memang, kalau kita tidak cari tahu lebih
lanjut atau cuma baca ayat-ayat ini saja,
kita bisa menarik kesimpulan seperti itu.
Dan mungkin kesimpulan itu juga benar.
Tapi, apakah Lot memang orang yang egois?
Atau, apakah sebenarnya ada perincian lain
yang bisa bantu kita melihat
gambaran yang lebih lengkap
sehingga pandangan kita tentang Lot jadi berubah? 
Misalnya, coba pikirkan:
Meski Lot adalah keponakan
dari Abraham, bisa jadi dia lebih tua,
bahkan jauh lebih tua dari Abraham.
Apa sekarang pandangan Saudara mulai berubah?
Kalau Saudara orang Betel, harusnya iya.
Senioritas. 
Jadi di Betel,
kalau ada beberapa kamar kosong,
kami punya cara menarik untuk menentukan
siapa yang akan tinggal di kamar mana.
Caranya bukan mengundi; bukan juga lempar koin;
atau permainan gunting, batu,
kertas; apalagi adu panco.
Jadi pertama, Kantor Betel akan
tawarkan kamar mana saja yang bisa dipilih.
Lalu, mereka yang berhak
memilih boleh lihat dulu kamarnya.
Kalau suka, dia akan kasih tahu Kantor Betel.
Tapi, bagaimana kalau ada dua
orang Betel yang pilih kamar yang sama?
Kamarnya akan dikasih ke orang yang lebih senior.
Atau dengan kata lain, itu dikasih ke orang yang
lebih lama melayani dalam dinas sepenuh waktu. 
Nah, orang yang tidak dapat kamar itu
tidak mungkin bilang ke orang yang dapat kamar itu,
”Kamu egois!
Saya mau kamar itu.
Kamu harusnya ngalah.”
Tidak ya.
Memang yang lebih seniorlah yang akan dapat.
Itu aturannya. 
Sekarang, katakanlah Lot lebih tua dari Abraham.
Mungkin dari segi umur, cocok jadi ayahnya.
Ya, kita memang tidak tahu pasti,
karena di buku Kejadian tidak
dituliskan perincian soal itu.
Tapi, ada fakta menarik yang dicatat di Alkitab.
Abraham punya dua saudara laki-laki, Haran dan Nahor,
dan Abraham kemungkinan besar
adalah anak yang paling kecil. 
Kenapa kita bisa bilang begitu?
Tahukah Saudara, berapa umur
ayah Abraham waktu Abraham lahir?
Apakah 60 tahun?
Tidak.
Apakah 100 tahun?
Tidak juga.
Umur ayah Abraham waktu
Abraham lahir, yaitu sekitar 130 tahun.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya,
Abraham merasa terlalu tua waktu
dia punya anak di umur 100 tahun,
sedangkan ayahnya, 130 tahun waktu Abraham lahir. 
Oke intinya, Abraham punya dua kakak laki-laki.
Dan kalau kita cari tahu lagi
dari Alkitab, lalu kita hitung-hitung,
kakak Abraham yang paling tua
berusia 60 tahun waktu Abraham lahir.
Bisa jadi dialah ayah Lot, karena
dia mati lebih dulu dari saudaranya. 
Nah, pria-pria di zaman dulu
biasanya punya anak di umur 30 tahun.
Jadi, kalau ayah Lot berusia
60 tahun waktu Abraham lahir,
itu artinya Lot sudah remaja atau
bahkan sudah dewasa waktu Abraham lahir.
Jadi sekarang, kita tahu
kenapa Abraham mempersilakan Lot untuk
memilih lebih dulu daerah di Negeri Perjanjian,
karena memang Lot lebih senior.
Nah, kalau ada orang Betel yang
dapat kamar karena senioritasnya,
saya rasa kalian pasti tidak akan protes. 
Tapi, mungkin ada yang bilang,
”Ya, saya ngerti penjelasan itu.
Tapi, kamu tidak bisa buktikan
kalau Lot lebih tua dari Abraham,
karena Alkitab tidak bilang begitu.”
Iya, benar.
Tapi, apa kamu juga bisa
buktikan kalau Lot yang lebih muda?
Di khotbah ini, kita bukan mau cari tahu
siapa yang lebih tua dan lebih muda.
Kisah Lot yang kita bahas hanyalah contoh bagi kita.
Inti khotbah ini, kita mau berpikir positif terhadap
seseorang waktu kita tidak tahu semua faktanya.
Dan dalam kasus Lot,
kita tidak tahu kan semua faktanya. 
Oke, sekarang mungkin ada yang bilang begini,
”Lot itu enggak suka tinggal
di tenda dan berpindah-pindah.
Dia mau hidup yang nyaman,
makanya dia pindah ke kota Sodom.
Itu bukti bahwa Lot materialistis, kan?”
Ya, bisa jadi itu benar.
Tapi, apa kita tahu semua faktanya?
Apa kita benar-benar tahu alasan
Lot pindah ke kota Sodom?
Apa benar dia pindah ke sana
hanya karena mau hidup nyaman?
Atau, apa karena dia mau keluarganya hidup aman?
Kalian ingat, Lot dan keluarganya pernah diculik. 
Nah, kalau Saudara jadi Lot,
apa Saudara akan merasa aman
hidup di tenda, di tempat terbuka?
Atau, apa Saudara akan memilih
untuk tinggal di kota bertembok?
Kalian tahu, ada banyak saudara-saudari kita
yang tinggal di lingkungan yang berbahaya.
Itu bukan keinginan mereka,
dan itu juga bukan karena mereka
mau hidup nyaman di kota besar.
Tapi, itu karena mereka tidak punya pilihan lain. 
Nah, Petrus juga punya pengetahuan
yang terbatas tentang Lot seperti kita.
Tapi, dia tetap menyebut Lot ”orang benar”,
bukan orang egois atau
orang materialistis, tapi ”orang benar”.
Lot dianggap orang benar bukan
setelah dia keluar dari Sodom,
tapi justru karena dia orang benar,
Yehuwa mau tarik dia keluar dari Sodom.
Jadi selama ini, di mata Yehuwa,
Lot melakukan hal-hal yang benar. 
Ya, bisa jadi Lot egois karena dia pilih
bagian yang terbaik dari Negeri Perjanjian.
Dan bisa jadi dia juga materialistis
karena dia pindah ke kota Sodom.
Tapi kalaupun itu benar, berarti pasti
ada banyak hal baik yang Lot lakukan
atau hal baik dalam diri Lot sampai
Yehuwa menyatakan dia ”orang benar”.
Dan sayangnya, kita tidak tahu hal-hal itu.
Jadi intinya, kita harus cari tahu semua faktanya.
Tapi sayangnya, kadang kita
tidak bisa dapat semua faktanya. 
Kalau kita mengambil kesimpulan
tanpa melihat semua faktanya,
kita bisa salah, dan kita sendiri yang malu.
Itulah yang terjadi pada orang Israel setelah
mereka menaklukkan sebagian Negeri Perjanjian.
Suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye
tetap tinggal di bagian timur Sungai Yordan,
karena di sana wilayahnya cocok untuk ternak mereka.
Sekarang, coba kita baca
kisahnya di Yosua pasal 22.
Kita akan lihat apa yang terjadi. 
Yosua pasal 22,
kita akan baca ayat 10.
Yosua 22:10:
”Begitu tiba di daerah Sungai Yordan di negeri Kanaan,
suku Ruben, suku Gad, dan setengah dari
suku Manasye membuat mezbah di dekat Sungai Yordan,
mezbah yang sangat besar.”
Suku Israel lainnya bukannya berpikiran positif,
mereka malah menyimpulkan bahwa
dua setengah suku itu mulai menjadi murtad.
Mereka bahkan sudah siap berperang.
Nah, tapi apa yang kita tahu
tentang dua setengah suku ini?
Sebelumnya, mereka ikut
berperang bersama suku Israel lainnya
untuk merebut Negeri Perjanjian.
Tapi tidak hanya itu, mereka bahkan
mempertaruhkan nyawa mereka.
Dari mana kita tahu?
Mereka ada di barisan paling depan
dalam setiap pertempuran.
Itu posisi paling berbahaya.
Merekalah yang maju lebih dulu.
Ini bukti bahwa mereka rela
mempertaruhkan nyawa mereka.
Mereka sangat berani.
Dan tidak ada catatan di Alkitab yang menyebutkan
bahwa mereka mau memberontak terhadap Yehuwa. 
Tapi, karena tidak berpikiran positif,
suku Israel lainnya menemui dua setengah suku itu
dan mengatakan kata-kata
yang dicatat di Yosua 22:16-18.
Mari kita baca Yosua 22:16-18:
”Inilah yang dikatakan seluruh jemaat Yehuwa:
’Kenapa kalian tidak setia kepada Allah Israel?
Kalian sekarang tidak lagi mengikuti Yehuwa,
kalian membuat mezbah dan
memberontak kepada Yehuwa.
Apa kesalahan di Peor belum cukup?
Meski jemaat Yehuwa sudah tertimpa wabah penyakit,
sampai sekarang pun kita masih
merasakan akibat dari kesalahan itu.
Dan sekarang kalian mau meninggalkan Yehuwa?
Kalau hari ini kalian memberontak kepada Yehuwa,
besok Dia akan marah kepada seluruh jemaat Israel.’” 
Bukan hanya itu yang mereka
katakan, masih banyak lagi.
Setelah para perwakilan dari
sepuluh suku itu bicara panjang lebar,
para pemimpin dari dua setengah suku menjelaskan
alasannya kenapa mereka membuat mezbah itu.
Jadi, itu dibuat sebagai pengingat bagi
suku Israel yang ada di seberang Yordan
bahwa dua setengah suku itu juga menyembah Yehuwa.
Bayangkan betapa malunya imam besar
dan para kepala dari sepuluh suku itu
waktu mereka sadar kalau
ternyata mereka salah paham. 
Tadi di awal, kita sudah bahas bahwa
Yehuwa tahu semua tentang kita.
Jadi masuk akal, kalau kita
mengenal baik saudara-saudari kita,
seperti apa latar belakang keluarganya, tantangannya,
kita pasti tidak akan cepat menghakimi mereka.
Kalau kita tahu bagaimana perjuangan
seseorang bisa sampai seperti sekarang,
kita pasti menyayanginya.
Jadi, jangan pernah berfokus
hanya pada kelemahannya saja. 
Kadang, kita bisa merasa kesal dengan seseorang.
Nah, kalau kita tahu seperti apa
latar belakang keluarganya,
mungkin dia sendirian dalam kebenaran
atau mungkin gaya hidup keluarganya
tidak benar, tapi dia tetap setia kepada Yehuwa,
Yehuwa sayang kepadanya.
Jadi, waktu ada yang membuat kita kesal,
kita perlu pikirkan:
’Apakah bagi Yehuwa, saudara ini orang benar?
Atau bagi Yehuwa, saudari ini orang benar?
Ya, dia memang buat saya kesal,
tapi di mata Yehuwa, dia orang benar.
Jadi, masalahnya di saya.
Saya hanya fokus pada kelemahannya.
Saya tidak melihat semua faktanya.’ 
Nah bertahun-tahun lalu,
di salah satu Betel, ada saudara muda
yang harus bekerja sama dengan
saudari lansia dalam sebuah proyek besar.
Saudari ini dan suaminya
adalah orang Kristen terurap.
Suaminya ini adalah orang yang
paling ramah yang pernah hidup di bumi.
Sedangkan istrinya, anggap saja orang yang setia.
Kita mau berpikir positif ya.
Nah, kalau kerjaan kita tidak sesuai
dengan keinginan saudari ini,
siap-siap saja diomelin.
Mungkin saudari ini menganggap dia
seorang nenek yang harus nasihati cucunya. 
Saya kagum dengan cara saudara
muda ini menanggapi situasinya.
Daripada kesal dan bilang
”seorang saudari harusnya merespek saudara,
enggak boleh bicara begitu”,
dia justru mengundang pasangan itu ke kamarnya.
Dia baru tahu bahwa mereka tetap bertekun
meski ada pelarangan di negeri mereka.
Sekarang, dia jadi bisa melihat saudari itu
dari sudut pandang yang berbeda.
Dan semoga sikap saudari itu
juga berubah ke saudara muda ini.
Jadi, waktu ada saudara atau
saudari yang membuat kita kesal,
cobalah kenal mereka lebih dekat.
Luangkanlah waktu bersama mereka,
mengabar bersama mereka, atau ajak minum kopi.
Tak kenal maka tak sayang.
Jadi, kalau nanti ada banyak yang
ajak saudara minum kopi, hmm . . .
Nah, ada orang yang mungkin pemalu,
atau ekspresi mukanya serius, dan jarang senyum.
Kita mungkin pikir dia
sombong, enggak ramah, atau galak.
Tapi, bisa jadi kita salah.
Mukanya begitu, ya karena memang dari sananya. 
Nah, ada orang yang tidak bisa
melakukan pekerjaan sebanyak kita,
karena sedang mengalami masalah kesehatan.
Dan dia tidak cerita ke siapa-siapa tentang penyakitnya.
Lalu, kita pikir dia pemalas.
Tapi bagi Yehuwa, dia sudah kasih yang terbaik.
Selain itu, kalau ada orang yang
sangat semangat bekerja, sangat aktif,
apakah kita pikir dia orang yang sok rajin
dan mau buat kita terlihat buruk?
Ingat, mungkin dia begitu karena cara dia dibesarkan.
Atau, itulah cara dia kasih yang terbaik untuk Yehuwa. 
Dulu, waktu saya melayani sebagai PW
di satu sidang, saya dengar banyak
komentar negatif tentang seorang saudari.
Orang-orang bilang, ”Katanya dia sakit,
tapi ada yang lihat dia pergi belanja.
Kalau buat belanja saja dia sehat, tapi
kalau berhimpun, jarang banget kelihatan.”
Lalu, saya kunjungi saudari itu,
dan saya bersyukur melakukannya.
Ternyata, dia menderita penyakit yang cukup parah.
Hampir setiap hari dia kesakitan.
Kadang, kalau sakitnya lagi mereda,
dia gunakan kesempatan itu
untuk belanja bahan makanan.
Dia tinggal sendirian, dan tidak ada yang membantunya.
Tapi, waktu penyakitnya kambuh,
dia hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Jadi, daripada kita mengkritik saudari itu,
lebih baik kita membantu dia, kan? 
Kalian ingat, di khotbah ini,
kita bukan sedang membuktikan sesuatu
tentang Lot atau tentang saudara-saudari lain.
Tujuan khotbah ini, yaitu untuk mengingatkan kita
bahwa hanya Yehuwa yang tahu segalanya.
Dia menyayangi saudara-saudari kita,
dan Dia mau kita lakukan yang sama.
Dia pasti senang kalau kita terus
positif terhadap saudara-saudari.
Dan kami yakin, kalian akan lakukan itu
waktu melayani bersama mereka. 
Saudara-saudari, kami sangat menyayangi kalian.
Semoga Yehuwa terus memberkati
pelayanan kalian dengan limpah.
Sekarang, apa kalian mau tahu
para siswa ditugaskan ke mana?
Pasti ya.
Ini bagian yang kita tunggu-tunggu.
Saudara Ronald Curzan akan membantu saya
untuk membagikan diploma
kepada para siswa Gilead. 
Pertama, Saudara Ajavon
akan kembali ke cabang Afrika Barat. 
Berikutnya, Saudara dan Saudari Alimănescu
akan kembali ke cabang Romania. 
Saudara dan Saudari Alton 
ditugaskan ke cabang Zambia. 
Saudara Arsiashvili 
akan kembali ke cabang Georgia. 
Saudara dan Saudari Bueche 
akan kembali ke cabang Amerika Serikat. 
Saudara dan Saudari Capece 
akan kembali ke cabang Mozambik. 
Saudara dan Saudari Carlisle 
ditugaskan ke cabang Portugal. 
Saudara dan Saudari Carmichael 
akan kembali ke cabang Amerika Serikat. 
Saudara dan Saudari Carraway 
ditugaskan ke cabang Zambia. 
Saudara Collymore 
ditugaskan ke cabang Afrika Barat. 
Saudara Figely akan kembali
ke cabang Ceko-Slowakia. 
Saudara Fujita akan kembali ke cabang Jepang. 
Saudara dan Saudari Gatembasi 
ditugaskan ke cabang Rwanda. 
Saudara dan Saudari Girma 
akan kembali ke cabang Etiopia. 
Saudara dan Saudari González 
akan kembali ke cabang Spanyol. 
Saudara dan Saudari Hayega 
akan kembali ke cabang Afrika Barat. 
Saudara dan Saudari Herron 
ditugaskan ke cabang Nigeria. 
Saudara dan Saudari Hugó 
akan kembali ke cabang Skandinavia. 
Saudara dan Saudari Lagavakatini 
akan kembali ke cabang Fiji. 
Saudara dan Saudari Lattanzi 
ditugaskan ke cabang Spanyol. 
Saudari Lin akan kembali ke cabang Taiwan. 
Saudara Lopes ditugaskan ke cabang Afrika Selatan. 
Saudara MacDonald 
akan kembali ke cabang Amerika Serikat. 
Saudara dan Saudari Mauri 
akan kembali ke cabang Australasia. 
Saudara Mutahi akan kembali
ke cabang Afrika Timur. 
Saudara Nelson akan kembali
ke cabang Skandinavia. 
Saudara dan Saudari Osogu 
akan kembali ke cabang Nigeria. 
Saudara Peralta akan kembali ke cabang Kolombia. 
Saudari Šakić akan kembali ke cabang Kroasia. 
Saudara dan Saudari Spina 
ditugaskan ke cabang Rwanda. 
Saudara Terrell akan kembali
ke cabang Amerika Serikat. 
Saudara Vaitiekus akan kembali
ke cabang Finlandia. 
Saudara Yoon akan kembali
ke cabang Amerika Serikat.
Saudara Zapp akan kembali
ke cabang Amerika Serikat. 
Sekarang, apa kalian mau lihat semua lulusannya?
Naikkan tirainya. 
Kami sangat bangga sama kalian.
Kami tahu kalian sudah belajar dengan tekun
di kelas, dan sekarang kalian sudah diwisuda.
Kami senang melihat bagaimana
Yehuwa memberkati kalian.
Sekarang, kita akan mendengarkan surat dari para siswa,
dan Saudara Aidan Mauri dari cabang Australasia
akan membacakannya untuk kita. 
”Badan Pimpinan yang terkasih,
kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang dalam
atas kesempatan istimewa bisa mengikuti
Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal.
Dari sejak kami tiba, sambutan kalian
dan keluarga Betel yang hangat
membuat kami merasa dikasihi dan mempersiapkan kami
untuk jamuan rohani yang akan kami nikmati.
Terima kasih karena sudah meluangkan waktu
untuk mengunjungi kami di kelas.
Pengajaran dari kalian, dari para asisten panitia
Badan Pimpinan, dari para instruktur,
juga dukungan dari Departemen Sekolah Teokratis
sangat menyentuh hati kami
dan membantu kami ’melihat sendiri
Pengajar kami Yang Agung’. 
Selama di kelas, kami dibantu
untuk melihat dengan jelas
dan lebih menghargai kasih Yehuwa
yang lembut dan tidak mementingkan diri.
Dari sejak manusia pertama berdosa,
Yehuwa sudah melakukan yang terbaik
agar manusia bisa berdamai dengan-Nya.
Dengan merenungkan janji Yehuwa di Taman Eden,
perjanjian yang Dia buat
dengan Abraham dan Daud,
juga dengan merenungkan perincian-perincian
di Hukum Musa, khususnya Hari Pendamaian,
kami jadi semakin bersyukur
atas korban tebusan Yesus.
Kami juga semakin yakin
bahwa Yehuwa mengasihi kami
sewaktu kami mempelajari lebih dalam
tentang kehidupan dan pelayanan Yesus,
dan bagaimana dia dengan
sempurna meniru Bapaknya. 
Kami sangat tersentuh melihat kesabaran
yang Yesus tunjukkan kepada rasul-rasulnya,
melihat caranya dia memperlakukan
para wanita dengan respek dan baik hati,
dan kasih yang rela berkorban yang dia tunjukkan
dengan menderita dan mati di tiang siksaan.
Kami sangat bersyukur karena punya Raja
dan Imam Besar yang berbelas kasihan seperti Yesus. 
Memeriksa bagaimana nubuat-nubuat
di Alkitab menjadi kenyataan,
memperkuat harapan kami akan janji Yehuwa,
dan membuat kami berani
menghadapi apa pun yang terjadi nanti.
Misalnya, karena mempelajari penglihatan
Zakharia tentang empat kereta kuda
yang ditarik ke keempat penjuru mata angin
dan tentang ’kemarahan Yehuwa
terhadap negeri utara yang telah reda’,
kami jadi yakin bahwa pasukan
malaikat Yehuwa melindungi umat-Nya,
baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang.
Kami tahu keadaan dunia akan semakin buruk,
tapi karena ada pasukan
malaikat Yehuwa yang menjaga kita,
kami jadi semakin dikuatkan untuk
mendukung hak Yehuwa memerintah,
tidak hanya sekarang,
tapi juga nanti pada kesengsaraan besar. 
Mempelajari buku Kasihi Semua Orang—Jadikan Murid
membantu kami semakin semangat mengabar.
Kami juga menikmati setiap pertunjukan
yang memperlihatkan sifat-sifat Kristen
yang dibutuhkan sewaktu mengabar.
Semua ini membuat kami semakin bertekad
untuk membagikan kabar baik Kerajaan
dengan kasih, kehangatan, dan perasaan mendesak,
karena kami tahu ’ladang-ladang
sudah putih dan siap dipanen’.
Kami benar-benar ingin menerapkan semua yang
diajarkan Pengajar Agung kita selama lima bulan ini.
Kami bertekad untuk meniru Kristus,
Kepala sidang Kristen,
sambil melayani ’bahu-membahu’ bersama kalian
dan juga saudara-saudari di seluruh dunia.
Semua kami lakukan demi memuji
dan memuliakan Bapak kita di surga, Yehuwa.
Saudara-saudarimu, kelas Gilead ke-159.” 
Nah, sekarang saya akan sampaikan bagian penutup.
Tadi di awal khotbah,
saya ada tinggalkan satu pertanyaan ya.
Pertanyaannya adalah waktu pilihan Lot
malah merugikan dirinya sendiri,
bagaimana reaksi Abram?
Ini berkaitan dengan kekhawatiran ketiga:
khawatir kalau kita memilih untuk berdamai,
orang lain jadi tidak belajar
dari apa yang terjadi di masa lalu. 
Kita tahu bahwa tidak lama setelah Lot
pindah ke daerah dekat Sodom dan Gomora,
terjadi peperangan,
dan dia beserta keluarganya ikut diculik.
Kalau memang seandainya
Abram masih kesal terhadap Lot,
apa yang bisa jadi dia pikirkan?
’Nah, salah sendiri kan!
Makanya jangan egois.
Kamu sih milihnya tanah di situ.’
Dia bisa saja pikir begitu.
Tapi, apa yang Abram lakukan? 
Mari buka Alkitab kita di Kejadian pasal 14.
Kejadian pasal 14.
Abram bisa saja khawatir, atau takut kalau
dia melupakan atau memaafkan perbuatan Lot,
nanti Lot merasa bahwa apa yang
dia lakukan dulu itu tidak masalah.
Tapi, perhatikan apa yang Abram lakukan di Kejadian 14:14.
Coba lihat apa yang Abram lakukan
setelah mendengar apa yang terjadi dengan Lot.
Dikatakan: ”Setelah mendengar
bahwa keponakannya ditawan,
Abram mengerahkan orang-orangnya yang terlatih,
yaitu 318 hamba yang lahir dalam rumah tangganya,
lalu pergi mengejar sampai ke Dan.” 
Jadi, itulah yang Abram lakukan.
Jarak dari Mamre ke Dan sekitar
200 kilometer ke arah utara.
Perjalanannya pasti membutuhkan waktu berhari-hari,
menghabiskan tenaga dan biaya, serta berbahaya.
Tapi, Abram tetap lakukan itu. 
Lalu, kalau kita baca di ayat 21 sampai 23,
Abram sebenarnya bisa mendapat
harta benda dari upayanya menyelamatkan Lot.
Tapi, dia tidak mau mengambil semua itu
karena memang bukan itu tujuan dia.
Abram benar-benar hanya ingin menyelamatkan Lot,
padahal kita tahu Lot menderita
akibat pilihannya sendiri.
Abram ingin menjaga perdamaian.
Dia tidak merasa kesal sama sekali. 
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari teladan Abram?
Apakah Saudara pernah mengalah?
Mungkin Saudara satu-satunya orang yang punya
pendapat yang berbeda, dan Saudara mengalah.
Tapi ternyata, rencana yang orang-orang lain buat itu gagal.
Dalam situasi seperti itu, mungkin Saudara
jadi mau bilang, ”Tuh kan, saya benar.”
Atau mungkin, secara tidak langsung
kasih tahu yang lain bahwa itu bukan ide Saudara.
Kita mungkin pernah begitu ya. 
Jangan menyimpan kekesalan.
Tirulah Abram.
Dukunglah keputusan yang sudah dibuat,
meski kalian tidak setuju dengan keputusan itu.
Tapi, kalau ternyata keputusan itu
tidak berjalan seperti yang diinginkan,
tirulah Abram dengan tidak menyalahkan yang lain,
tapi dengan rendah hati
membantu memperbaiki situasinya.
Kenapa?
Karena dengan begitu, kita bisa menjaga perdamaian.
Dan kalau kita menjaga perdamaian,
kita akan punya hubungan yang damai dengan Allah.
Dan itulah yang kita inginkan. 
Nah, apa kesimpulannya?
Kita sudah belajar banyak tentang Abram.
Dia berusaha berdamai dengan semua orang.
Dia tidak khawatir terlihat lemah,
tidak khawatir dimanfaatkan,
dan tidak khawatir orang lain jadi tidak belajar dari masa lalu. 
Nah, apakah dengan begitu Abram menjadi rugi?
Kita memang tidak tahu apakah Lot menghargai
upaya Abram untuk menjaga perdamaian.
Seperti yang dibilang Saudara Splane,
Alkitab tidak bilang apa-apa tentang itu.
Tapi, bukan itu intinya.
Alasan Abram menjaga perdamaian
bukan supaya Lot menghargai upayanya. 
Jadi, apa alasannya?
Nah di dua kisah tadi,
di mana Abram menunjukkan bahwa dia
berupaya menjaga perdamaian dengan Lot,
setelah Abram melakukan itu,
Yehuwa lakukan sesuatu yang istimewa kepada Abram.
Kita bisa baca itu di Kejadian 13:14, lalu di Kejadian 15:1.
Di situ, Yehuwa kasih tahu Abram
bahwa Dia senang kepada Abram.
Yehuwa menyayangi dia.
Dan itulah yang Abram inginkan.
Dia seolah-olah kembali ke mezbah.
Dia ingin punya hubungan damai dengan Allah,
dan itulah yang dia dapatkan.
Jadi, kalau Saudara merasa kesulitan
berdamai dengan orang lain,
misalnya dengan rekan Saudara di Betel,
di sidang, atau dengan anggota keluarga Saudara,
jangan biarkan semua kekhawatiran tadi
menghalangi Saudara untuk berdamai.
Lawanlah kekhawatiran itu dengan temui orang
yang sedang ada masalah dengan Saudara
dan berbuatlah sebisa-bisanya
untuk kembali berdamai.
Apakah itu mudah dilakukan?
Tidak.
Dan orang itu pun belum tentu
menanggapi upaya Saudara dengan baik.
Tapi yang pasti, Yehuwa senang
Saudara sudah berupaya.
Dan setelah itu, kembalilah ke mezbah
untuk mempersembahkan pemberian Saudara.
Yehuwa pasti akan senang menerima pemberian Saudara.
Kenapa?
Karena Saudara sudah berupaya menjaga perdamaian. 
Para lulusan Gilead kelas ke-159,
kami sangat menyayangi kalian,
dan semoga Yehuwa terus memberkati kalian
ke mana pun kalian ditugaskan. 
Khotbah-khotbah lain dari acara wisuda ini
akan tersedia nanti di jw.org
dan aplikasi JW Library.
Bulan ini, kita akan jalan-jalan
mengunjungi saudara-saudari kita di Australia. 
Australia adalah benua dengan
topografi tanah yang paling rata di bumi,
dan benua yang paling kering kedua
setelah Antartika.
Nama Australia berasal dari bahasa Latin
yang artinya ”Tanah Selatan yang Belum Diketahui”.
Di benua ini, ada banyak batu permata,
contohnya opal putih.
Australia adalah salah satu negeri
yang memiliki beragam suku dan budaya.
Ada lebih dari 270 suku di sini.
Lebih dari 25 persen penduduk Australia
lahir di negeri lain. 
Kebanyakan orang Australia
senang melakukan kegiatan di luar ruangan,
seperti berselancar dan bermain footy,
yaitu permainan perpaduan sepak bola dan rugbi.
Orang Australia juga suka menikmati barbecue,
atau yang sering mereka sebut barbie.
Acara makan-makan seperti itu bahkan
sudah menjadi bagian dari budaya mereka.
Biasanya, tamu akan bawa makanan
mereka masing-masing untuk dibagikan.
Jadi, makanan yang dinikmati lebih bervariasi. 
Makanan lain yang umum di Australia
adalah Vegemite,
yang ditemukan di Melbourne tahun 1923.
Ini adalah selai berwarna coklat tua
yang terbuat dari ragi bir.
Rasanya asin gurih, bahkan ada
yang bilang rasanya mirip dengan daging.
Orang-orang setempat biasanya mengolesi
selai itu di roti panggang atau biskuit. 
Orang-orang di negeri ini juga
terkenal sebagai penikmat kopi.
75 persen dari penduduk Australia
minum kopi setiap hari,
dan 95 persen kafe di sana
adalah milik perorangan.
Mereka biasa menggunakan biji kopi impor berkualitas,
dan mereka juga suka membuat latte art,
yaitu gambar di permukaan kopi
dengan menggunakan susu. 
Di akhir abad ke-18, ratusan salinan Alkitab
dikirim ke Australia melalui kapal yang berlayar dari Inggris.
Sekitar 100 tahun kemudian, berbagai
terjemahan Alkitab dalam bahasa setempat
mulai menggunakan nama Allah,
misalnya Yehóa dan Jehovah.
Kabar baik Alkitab mulai menyentuh
hati orang-orang di sana,
termasuk Kartanya, yang berusia 11 tahun.
Dia menulis kata-kata ini dalam bahasa ibunya,
yaitu bahasa Kaurna: ”Sembahlah Yehuwa selalu.
Yehuwa adalah Pencipta kita.
Yehuwa membebaskan kita dari dosa.” 
Arthur Willis dari Australia Barat bersemangat
membantu orang-orang belajar tentang Allah.
Tahun 1931, di usia 19 tahun,
dia mulai merintis dan pergi
ke tempat-tempat terpencil di negeri itu.
Pada 1932, dia mulai mengabar
kepada orang-orang suku asli Australia.
Pada 1943, Arthur tinggal di Pingelly dan mengabar
kepada keluarga Collard, suku Aborigin asli.
James Collard dan istrinya, Mabel, punya 17 anak.
Mereka semua belajar Alkitab,
dan pelajarannya diadakan di rumah mereka.
Akhirnya keluarga mereka menjadi
Saksi-Saksi Yehuwa pertama
yang berasal dari suku asli Australia.
Sekarang, ada lebih dari 71.000 penyiar
yang memberitakan kabar baik di Australia,
termasuk cucu-cucu dari James dan Mabel Collard.
Para penyiar mengabar kepada orang-orang
di daerah pantai, di pedesaan, dan di kota-kota besar.
Mereka juga belajar bahasa-bahasa baru,
salah satunya bahasa Mandarin,
dan mereka belajar kebudayaannya juga. 
Salah satu sidang yang bersemangat
adalah Sidang Carlton di Melbourne.
Mereka berhimpun di daerah pusat bisnis yang ramai
dan yang orang-orangnya
terdiri dari berbagai suku dan budaya.
Saudara-saudari di sidang ini
berasal dari 21 negeri yang berbeda.
Saudara-saudari kita di sana
mau bilang ini ke kalian: We love you! 
Kami juga mau bilang bahwa kami
menyayangi kalian semua.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.