JW subtitle extractor

JW Broadcasting—Juli 2026

Video Other languages Share text Share link Show times

Saudara-saudari,
selamat datang di acara JW Broadcasting!
Kita semua butuh arahan, atau petunjuk,
agar kita bisa membuat keputusan yang benar
dan agar kita bisa menatap masa depan dengan yakin.
Tapi, di mana kita bisa
mendapatkan arahan yang benar,
dan bagaimana cara mengikutinya?
Kita akan bahas itu.
Dan, kita juga akan melihat
pengalaman keluarga Tshomba
yang diberkati karena mengikuti arahan.
Selain itu, kita akan menggali lebih dalam buku Habakuk.
Kita akan belajar caranya tetap tenang
waktu menghadapi situasi atau tugas yang sulit.
Lalu, kita juga akan melihat
pengalaman seorang saudara muda
yang pergi melayani di tempat yang
membutuhkan di Republik Dominika.
Ada banyak hal bagus yang akan kita
nikmati di acara JW Broadcasting bulan ini.
”Apa Saudara Tahu Harus Berjalan ke Mana?”
Itu adalah tema khotbah ini
yang diambil dari Yosua 3:4.
Jadi waktu itu, bangsa Israel akan
segera masuk ke Negeri Perjanjian
setelah menunggu sekitar 40 tahun.
Tapi, perjalanan mereka yang berikutnya tidak mudah.
Dibutuhkan upaya, iman, dan keberanian
supaya mereka bisa
menikmati berkat di Negeri Perjanjian.
Bagaimana mereka tahu apa yang harus dilakukan?
Nah, Yehuwa membimbing mereka
untuk melewati masa-masa yang sulit itu.
Mari baca arahan Yehuwa itu di Yosua 3:2-4.
Jadi supaya mereka tahu harus berjalan ke mana,
mereka harus mengikuti tabut perjanjian.
Kali ini, arahannya jelas ya.
Tapi, bangsa Israel sering kali
kesulitan mengikuti arahan,
karena mereka sering berfokus pada hal-hal
negatif dari orang-orang yang memimpin mereka,
dan mereka ingin bertindak
menurut kemauan mereka sendiri.
Nah, kenapa kisah ini penting untuk kita bahas?
Karena kita hidup pada
masa-masa yang sangat penting.
Ada banyak bukti yang menunjukkan
bahwa kita hidup di ”hari-hari terakhir”.
Itu berarti kesengsaraan besar
dan Armagedon akan segera terjadi.
Karena itu, mengikuti arahan sangat penting.
Bagaimana kita tahu harus berjalan ke mana?
Sama seperti di zaman Yosua,
kita perlu tahu bagaimana cara
Yehuwa mengarahkan umat-Nya,
dan kita perlu mengikuti arahan itu.
Untuk itu, kita akan bahas tiga pertanyaan ini:
Bagaimana kita tahu harus berjalan ke mana?
Bagaimana kita bisa tetap berjalan di situ?
Dan, bagaimana supaya kita tidak ketinggalan?
Nah, mari bahas yang pertama:
Bagaimana kita tahu harus berjalan ke mana?
Selama bangsa Israel dipimpin oleh
Musa dan Harun di padang belantara,
mereka tahu Yehuwa ingin mereka berjalan ke mana,
karena Yehuwa memberi mereka tiang awan
di siang hari dan tiang api di malam hari.
Tapi belakangan, Yehuwa menggunakan
Yosua untuk mengarahkan umat-Nya.
Jadi sekarang, bangsa Israel perlu percaya
bahwa Yosua-lah yang Yehuwa gunakan saat itu.
Dengan memastikan bahwa
tabut perjanjian berada di depan bangsa Israel,
Yosua membuat mereka yakin bahwa
sebenarnya Yehuwa-lah yang memimpin mereka.
Nah, siapa yang Yehuwa gunakan sekarang?
Yesus memberi tahu kita jawabannya di Matius 24:45.
”Budak yang setia dan bijaksana.”
Siapa mereka?
Mereka adalah Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa.
Mereka menyediakan makanan rohani, arahan,
dan bantuan untuk Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia.
Ya, kita tahu itu, kita sudah
sering baca ayat tadi di Alkitab.
Tapi, penting juga untuk pikirkan
kenapa kita percaya hal itu.
Di buku Hidup Bahagia Selamanya! pelajaran 54
berjudul ”Peranan ’Budak yang Setia dan Bijaksana’”,
ada pertanyaan-pertanyaan yang
bisa kita ajukan kepada pelajar Alkitab.
Misalnya, ”Apa yang membuat Anda yakin bahwa
Badan Pimpinan diarahkan oleh Yesus?
Apakah Anda yakin bahwa Badan Pimpinan
adalah ’budak yang setia dan bijaksana’?”
Itu pertanyaan yang sangat penting.
Bagaimana Saudara menjawabnya?
Mungkin Saudara bisa meriset
lebih dalam tentang pelajaran ini,
termasuk bagian ”Cari Tahu Lebih Banyak” di
ibadah keluarga atau pelajaran pribadi Saudara.
Kenapa ini penting?
Coba kita kembali ke contoh bangsa Israel.
Mereka akan mengikuti para imam
yang membawa tabut perjanjian
menyeberangi sungai yang sedang meluap.
Jadi, mereka harus benar-benar percaya bahwa
Yehuwa-lah yang membimbing para imam itu.
Begitu juga, kita akan mengikuti arahan
Badan Pimpinan untuk melewati hari-hari terakhir.
Karena itu, kita perlu benar-benar
percaya bahwa Yehuwa-lah
yang memimpin kita melalui Putra-Nya, Yesus Kristus.
Jadi, kita bisa jawab pertanyaan yang pertama:
Bagaimana kita tahu harus berjalan ke mana?
Seperti orang Israel yang setia,
kita juga mau mengikuti arahan orang-orang
yang Yehuwa pilih untuk memimpin kita.
Nah sekarang, pertanyaan yang kedua:
Bagaimana kita bisa tetap berjalan di situ?
Mungkin mudah bagi kita untuk mengikuti arahan
kalau kita setuju dengan arahan yang diberikan.
Tapi, kalau menurut kita
arahannya kurang masuk akal,
kita mungkin jadi sulit untuk mengikutinya.
Nah, apa yang bisa bantu kita?
Kita bisa meniru sikap Rasul Paulus dalam hal ini.
Di Kisah pasal 21, diceritakan
bahwa Paulus datang ke Yerusalem
untuk memberi tahu Yakobus dan
para penatua lain tentang perjalanan utusan injilnya.
Mereka senang mendengarkan
pengalaman-pengalamannya.
Tapi selain itu, mereka juga bertanya soal kabar
yang beredar di antara orang Kristen Yahudi.
Mari baca di Kisah 21:21.
Tidak ada bukti bahwa Paulus melakukan itu.
Tapi, apa arahan yang
para penatua itu berikan kepada Paulus?
Kita lihat di Kisah 21:24:
Bagaimana reaksi Paulus?
Dia tidak membenarkan diri atau berdebat.
Di ayat 26 dikatakan: ”Besoknya,
Paulus membawa keempat orang itu
dan menjalani upacara
menyucikan diri bersama mereka.”
Jadi, untuk membuktikan bahwa kabar itu
tidak benar, Paulus menggunakan uangnya sendiri
dan melakukan hal yang dia tahu tidak perlu dilakukan.
Kenapa dia lakukan itu?
Karena dia setia kepada orang-orang
yang Yehuwa lantik untuk memimpin. 
Apa pelajarannya?
Kalau kita menerima arahan yang
kita rasa tidak perlu dilakukan
atau yang berbeda dengan yang kita pikirkan,
apa kita mau tunjukkan kita percaya
kepada Yehuwa dengan mengikutinya?
Kalau Saudara menerima arahan, ikutilah itu
selama tidak ada prinsip Alkitab yang dilanggar,
karena bisa jadi Yehuwa-lah yang mengarahkan itu.
Tapi, kalaupun bukan Yehuwa yang mengarahkan,
Dia akan memberkati ketaatan Saudara.
Kadang, mengikuti arahan
bisa menyelamatkan nyawa kita.
Kita mungkin jadi ingat drama
”Percayakan Hidupmu kepada Yehuwa”.
Di drama itu, saudara-saudari di Afrika
harus melarikan diri agar bisa selamat.
Dan itu juga yang sekarang dialami oleh
saudara-saudari kita di tempat-tempat lain.
Kita pasti ikut sedih mendengar keadaan mereka.
Drama itu membantu kita memikirkan
bagaimana seharusnya reaksi kita
waktu kita diminta untuk melakukan sesuatu yang
tidak masuk akal atau yang kita rasa tidak perlu.
Silakan tonton lagi drama itu di ibadah keluarga Saudara.
Lalu, pikirkan apa yang akan kita lakukan dalam situasi itu.
Kenapa ini penting?
Coba pikirkan:
Apakah nanti saat kesengsaraan besar,
kita juga akan dapat arahan yang jelas tentang
apa yang perlu dan tidak boleh kita lakukan?
Bagaimana caranya itu akan diberikan?
Apakah arahannya akan masuk akal?
Kalau kita benar-benar percaya
kepada Yehuwa dan Putra-Nya,
kita akan selalu siap mengikuti arahan
dari orang-orang yang memimpin.
Jadi, kita sudah tahu harus berjalan ke mana
dan bagaimana kita bisa tetap berjalan di situ.
Sekarang, mari bahas yang ketiga:
Bagaimana agar kita tidak ketinggalan?
Jangan sampai kekecewaan, penganiayaan,
atau masalah yang kita hadapi
membuat kita berlambat-lambat atau tidak lagi
mengikuti arahan dari mereka yang memimpin.
Misalnya, kalau arahannya dari Badan Pimpinan,
kita mungkin mau langsung ikuti arahan itu.
Tapi, bagaimana kalau arahannya dari
penatua setempat atau dari pengawas wilayah?
Kita kenal mereka, dan kita tahu kelemahan mereka.
Apa kita jadi berlambat-lambat
dan tidak lagi mengikuti arahan?
Atau, apa kita masih bisa melihat
bahwa arahan itu dari Yehuwa?
Kita perlu tetap dekat dengan organisasi Yehuwa.
Kenapa itu penting?
Nah, pernahkah Saudara ikuti mobil teman Saudara,
lalu karena kondisi jalan yang
ramai, Saudara ketinggalan.
Dia sudah jauh di depan,
dia sudah belok, tapi Saudara malah lurus.
Saudara bisa ketinggalan karena sudah terlalu jauh.
Begitu juga, kita harus tetap dekat
dengan organisasi Yehuwa.
Bagaimana caranya?
Ikutilah nasihat-nasihat yang sudah sering kita dengar.
Apa saja itu?
Rutin datang berhimpun,
baca dan renungkan Alkitab,
belajar pribadi, berdoa,
dan berdinas secara teratur.
Hal-hal itulah yang bisa membantu kita
tetap dekat dengan organisasi Yehuwa.
Kadang, mungkin ada orang-orang
di sidang yang mengkritik keputusan
atau caranya sesuatu ditangani di organisasi.
Akibatnya, beberapa orang jadi
kurang semangat, tidak aktif,
atau bahkan tidak mau bergaul lagi dengan sidang.
Sama seperti bangsa Israel, mereka
berharap semuanya diatur dengan sempurna.
Padahal, itu tidak mungkin
karena orang-orang yang Yehuwa gunakan
di organisasi masih belum sempurna.
Jadi, kita tidak akan pernah
temukan organisasi yang sempurna.
Dan, manusia sempurna yang
pernah hidup di bumi hanya Yesus.
Orang-orang tidak sempurna di organisasi kita
berupaya untuk mengikuti arahan dari
pemimpin mereka yang sempurna, yaitu Yesus.
Seorang pengawas wilayah yang berpengalaman
sering mengatakan begini tentang organisasi Yehuwa:
”Ini adalah organisasi tidak sempurna
terbaik yang pernah ada di bumi.”
Setuju ya?
Ini mengingatkan kita dengan
kisah yang ada di Yohanes pasal 6.
Kita ingat, beberapa orang tersandung
dengan apa yang Yesus katakan
tentang makan daging dan minum darahnya.
Dikatakan bahwa ”hal ini membuat banyak muridnya
kembali kepada urusan mereka yang
sebelumnya dan berhenti mengikuti dia”.
Jadi, Yesus bertanya kepada
para rasulnya, ”Apa kalian mau pergi juga?”
Bagaimana reaksi mereka?
Petrus menunjukkan imannya dengan
mengatakan kata-kata yang dicatat di Yohanes 6:68:
”Kepada siapa kami harus pergi?”
Sama seperti murid-murid lain, Petrus dan para rasul
mungkin juga tidak paham apa maksud kata-kata Yesus.
Tapi, mereka yakin tidak ada
jalan lain selain melalui Yesus.
Begitu juga sekarang, jangan lupa
apa yang sudah Saudara dapatkan.
Hanya organisasi Yehuwa yang memberikan arahan,
penghiburan, dan makanan rohani untuk kita semua.
Organisasi lain tidak bisa memberikan itu.
Jadi, jangan biarkan hal yang tidak Saudara pahami
membuat Saudara tidak menghargai semua hal tadi.
Jadi, apa pelajarannya?
Ketaatan dan ketundukan bisa
menyelamatkan nyawa kita.
Ini sangat penting,
karena sama seperti bangsa Israel yang berada di
tepi Sungai Yordan dan mau masuk ke Negeri Perjanjian,
kita juga hidup di hari-hari terakhir dan
akan segera masuk ke dunia baru.
Jadi, sekaranglah saatnya untuk benar-benar yakin
bahwa Yehuwa-lah yang mengarahkan organisasi-Nya.
Jangan biarkan kekecewaan atau
ketidaksempurnaan melemahkan Saudara.
Dan teruslah ingat bahwa Saudara
adalah bagian dari organisasi Yehuwa,
yang meskipun tidak sempurna,
tapi tetap bersatu di seluruh dunia.
Dan yakinlah, tidak soal apa yang akan terjadi nanti,
kalau Saudara terus dekat dengan organisasi
Yehuwa dan mengikuti arahan yang diberikan,
Saudara akan selalu tahu
ke mana Saudara harus berjalan.
Nah sekarang, mari lihat
pengalaman Loic dan Yohari Tshomba,
kakak beradik dari Kongo,
yang bisa selamat karena mereka
taat mengikuti petunjuk atau arahan. 
Drama ”Percayakan Hidupmu kepada Yehuwa”
sangat menyentuh hati
karena kami sekeluarga mengalaminya sendiri.
Di sekitar awal 90-an, semuanya baik-baik saja,
dan waktu itu kami masih kecil-kecil.
Tapi tiba-tiba ada perang,
dan keluarga kami harus melarikan diri dari Kongo.
Kami dapat petunjuk yang sangat jelas
dari kantor cabang.
Tapi, beberapa orang tidak mau mengikutinya.
Akibatnya, mereka dan keluarga mereka meninggal.
Papa tidak punya cukup uang untuk membawa
seluruh keluarga kami ke tempat aman.
Kami jadinya harus terpisah.
Saya, Mama, dan empat kakak adik saya
pergi ke Tanzania.
Papa sudah kasih tahu ke mana kami harus pergi
dan di mana kami harus berkumpul lagi.
Dan, kami akhirnya bisa bertemu lagi
karena ikuti petunjuk Papa.
Adegan di drama itu, waktu Maombi dan Zawadi
ketemu lagi dengan papa mamanya,
itu persis seperti yang kami alami.
Iya.
Ya, kehidupan di kamp pengungsian tidak mudah.
Hmm, kamp kami sering terancam diserang tentara.
Situasi di kamp juga membuat kami
sulit fokus untuk melayani Yehuwa.
Jadi kami harus pindah lagi,
kali ini dari Tanzania ke Mozambik.
Saya masih ingat, waktu itu, hmm,
kami naik truk, kami duduk di bagian belakangnya.
Jalanannya tidak rata, berlubang,
naik-turun, jadi sangat tidak nyaman.
Akhirnya truknya berhenti.
Saya pikir, ’Akhirnya kami bisa istirahat.’
Itu sekitar jam tiga subuh, dan Papa bilang,
”Oke anak-anak, ayo kita turun dari truk.
Kita mau, hmm, kita mau bahas
ayat harian untuk hari ini.”
Waktu itu kami masih kecil.
Jadi sebenarnya, kami maunya tidur saja.
Itu adalah hal yang tidak akan pernah saya lupakan,
karena tidak soal apa situasinya,
Papa selalu mengutamakan hal-hal rohani
dalam kehidupan kami.
Saya bisa lihat Papa benar-benar
mengandalkan Yehuwa dalam hal apa pun.
Apa pun situasinya, Papa akan berdoa.
Dia akan terus berdoa dan tunggu
sampai Yehuwa jawab doanya.
Waktu kami ada di Mozambik,
Mama sakit dan dia harus dirawat
di Cape Town, Afrika Selatan.
Jadi, kami harus pindah.
Pengobatannya gagal, dan dia meninggal tahun 2003.
Jadi, Papa yang harus merawat kami semua.
Kami benar-benar kehilangan Mama.
Tapi, Papa sangat mengandalkan Yehuwa.
Dia selalu mengutamakan Yehuwa
dan berjuang membesarkan kami dalam kebenaran.
Dia selalu bilang dia ingin kami
ketemu lagi sama Mama.
Saya ingat kata-kata yang sering dia ucapkan.
Dia sering bilang,
”Berharaplah pada dunia baru, bukan dunia ini.”
Maksudnya, berbuatlah sebisa-bisanya
untuk melayani Yehuwa,
karena semua yang ditawarkan dunia ini sia-sia.
Dunia ini sudah gagal.
Itulah yang selalu Papa tanamkan sama kami.
Dia selalu bilang, ”Layani Yehuwa sepenuh waktu.”
Setelah lulus sekolah, saya mulai merintis.
Sambil merintis, saya juga bantu di RBS.
Sekarang, saya punya kesempatan istimewa untuk melayani di Betel.
Saya bisa gunakan waktu dengan
sebaik-baiknya tiap hari untuk melayani Yehuwa.
Saya juga diundang untuk membantu
proyek pembangunan di Betel.
Saya sangat senang melihat
semua anak saya berada dalam kebenaran.
Saya lihat sendiri bagaimana Yehuwa selalu
membantu saya, bahkan di saat-saat paling sulit.
Kami tidak tahu bagaimana perjalanannya,
tidak tahu apa yang akan terjadi,
belum lagi sambil mengurus bayi di perjalanan.
Tapi, kami percaya sepenuhnya kepada Yehuwa.
Yehuwa selalu ada di dekat kami.
Drama ”Percayakan Hidupmu kepada Yehuwa”
menunjukkan bahwa Yehuwa bukan hanya melihat,
tapi juga merasakan apa yang kami alami.
Ketaatan bisa menyelamatkan hidup kita.
Meski kita tidak tahu alasannya,
kita harus selalu ikuti petunjuk Yehuwa,
karena Dia tahu yang terbaik untuk kita.
Tadi, Saudara Leon Tshomba menjelaskan
alasannya dia dan anak-anaknya bisa selamat
dan bisa tetap setia kepada Yehuwa.
Ingat, apa yang dia bilang?
”Kami percaya sepenuhnya kepada Yehuwa.
Yehuwa selalu ada di dekat kami.”
Keluarga Tshomba bilang,
drama ”Percayakan Hidupmu Kepada Yehuwa”
mengingatkan mereka tentang pengalaman mereka sendiri.
Kami senang mengingatkan Saudara
untuk menonton lagi drama yang bagus itu.
Saudara bisa belajar dari pengalaman mereka
yang tetap taat dalam keadaan sulit. 
Nah, mungkin tidak mudah untuk mengikuti arahan
kalau kita sedang tertekan atau merasa khawatir.
Tapi, teladan Habakuk bisa membantu kita
untuk tahu caranya tetap tenang, fokus, dan taat. 
Wah, aku senang mau bahas buku 
Habakuk di ibadah keluarga hari ini.
Iya ya, dan kita bisa dapat banyak permata rohani
cuma dengan pakai fitur-fitur di Alkitab.
Coba deh kamu lihat di bagian ”Garis Besar”.
Oke.
Dibilang, ”Sang nabi berseru minta tolong . . .
’Oh Yehuwa, sampai kapan?’”
Hmm, kita sudah sering dengar ya kata-kata ini.
Tapi, kenapa ya Habakuk waktu itu bilang begitu?
Coba deh kita lihat sama-sama garis waktunya.
Boleh.
Habakuk hidup di akhir pemerintahan Raja Yosia
sampai pemerintahan Raja Yehoyakim.
Seingatku, waktu Yosia memerintah,
nabi-nabi Yehuwa masih dihargai.
Jadi, kehidupan Habakuk waktu itu
juga pasti baik-baik saja ya.
Tapi, setelah Yosia dibunuh, raja-raja setelah dia jahat,
jadi rakyat kembali menyembah allah-allah
palsu dan melakukan hal-hal yang buruk.
He-em.
Dan mereka akhirnya enggak pernah bertobat ya.
Yehoyakim malah menganiaya para nabi,
dan dia membunuh Nabi Uriya.
Gimana ya perasaan Habakuk
kalau dia dianiaya seperti itu juga?
Awalnya, dia hidup tenang,
tapi tiba-tiba, dia mungkin harus melarikan diri
dari orang yang berupaya membunuh dia.
Makanya Habakuk sampai berseru minta tolong ya.
Dia benar-benar butuh bantuan.
Iya benar ya.
Dan gimana reaksi Yehuwa?
Hmm, gimana ya?
Nah, di buku Habakuk, enggak ada kan ayat yang bilang
Yehuwa menegur Habakuk karena kata-katanya tadi?
Iya, enggak ada.
Aku rasa, kita bisa dapat 
pelajaran bagus dari situ.
Iya ya.
Yehuwa dengerin Habakuk tanpa banyak bicara.
Dia paham kenapa Habakuk merasa seperti itu.
Dan Yehuwa bahkan memastikan Habakuk menulis
kata-katanya itu supaya kita dapat manfaat juga.
Habakuk pasti terhibur banget ya.
Dan Yehuwa memang senang ya kalau
kita ceritakan perasaan kita dengan terbuka.
He-em.
Yehuwa itu mudah didekati ya.
Yehuwa seolah-olah bilang ke kita,
’Ceritakan saja perasaanmu.
Aku tidak akan marah.
Aku paham kenapa kamu merasa begitu.’
Aku juga tertarik sama kata-kata Yehuwa di pasal 2 ayat 4:
Wah bagus ya.
Aku sempat bikin catatan ini nih:
”Ini adalah salah satu kebenaran Alkitab yang penting.”
Jadi di ayat ini, Yehuwa menunjukkan bahwa Dia
tidak akan meninggalkan orang yang beriman kepada-Nya.
Mereka pasti akan tetap hidup.
Dan Yehuwa menepati kata-kata-Nya ya.
Yeremia, Barukh, Ebed-melekh, orang Rekhab,
mereka semua selamat dari kehancuran Yerusalem.
Dan kalau kita lihat di referensi silangnya,
Paulus mengutip kata-kata ini tiga kali untuk
menguatkan orang-orang Kristen di abad pertama
waktu mereka menghadapi kesulitan.
Yehuwa memastikan kata-kata itu
dicatat beberapa kali di Alkitab.
Itu berarti Yehuwa mau kita ingat kata-kata itu ya.
Dan kata-kata Yehuwa sangat menguatkan Habakuk.
Di dua ayat terakhir, dia bilang dia ”akan
bergembira karena Yehuwa” dan ”akan berbahagia”.
Aku ingat ada khotbah ibadah pagi yang bilang,
kata-kata ini bisa diterjemahkan menjadi ”menari-nari” atau ”melompat-lompat”.
Bagus banget ya.
Keadaan Habakuk enggak berubah,
tapi perasaannya berubah setelah dia cerita isi hatinya
pada Yehuwa dan menantikan Dia dengan sabar.
Iya.
Karena Yehuwa mudah didekati dan bisa dipercaya,
Habakuk yang tadinya sedih jadi terhibur.
Bagus ya.
Jadi kita bisa belajar apa ya dari kisah ini?
Kalau kamu, belajar apa?
Karena Yehuwa mudah didekati, aku jadi yakin
aku bisa ceritakan perasaanku waktu berdoa.
Aku bisa bicara apa adanya.
Yehuwa sudah tahu perasaanku.
Jadi, aku enggak perlu menahan diri
atau berupaya merangkai kata-kataku.
Yehuwa pasti senang kalau aku cerita isi hatiku
atau bilang hal-hal yang enggak akan
pernah aku ungkapkan ke orang lain.
Iya ya.
Dan aku juga mau tiru sifat
Yehuwa yang mudah didekati.
Aku mau tunjukkan itu bukan cuma dari kata-kataku
tapi juga dari sikap dan ekspresi wajahku.
Aku mau kamu dan orang-orang lain
enggak ragu untuk ngomong sama aku.
Dan kalaupun ada yang ngomong
terlalu terus terang kayak Habakuk,
aku mau coba pahami perasaan
mereka dan kenapa mereka merasa begitu.
Wah, bagus tuh.
Aku juga suka poin tentang Yehuwa yang bisa dipercaya.
Aku yakin apa yang Yehuwa katakan
tentang masa depan pasti akan jadi kenyataan.
”Orang yang berbuat benar akan tetap hidup.”
Itu kebenaran Alkitab yang penting.
Jadi, enggak soal gimana keadaanku,
aku mau tetap bersukacita seperti Habakuk.
Dan di pasal 3, Habakuk merenungkan
hal-hal yang pernah Yehuwa lakukan.
Kalau kita lakukan itu, kita bisa tetap percaya sama
Yehuwa dan arahan-Nya meskipun keadaannya sulit.
Kita akan tetap setia tidak
soal kapan akhir itu datang.
Yehuwa benar-benar mudah didekati dan bisa
dipercaya ya, dan itu yang kita butuhkan sekarang.
Wah ternyata benar ya,
kita bisa dapat banyak permata rohani
cuma dengan pakai fitur-fitur di Alkitab.
Kita bahkan belum bahas kesabaran
Yehuwa waktu Dia ditanyai oleh Habakuk
atau kenapa Habakuk mungkin berpikir dia akan ditegur.
Masih banyak nih yang bisa kita gali.
Iya benar.
Kita masih ada waktu kok.
Yuk kita lanjut lagi.
Aku pengen tahu . . .
”Orang yang berbuat benar akan
tetap hidup karena kesetiaannya.”
Habakuk orang yang seperti itu,
dan kita bisa menirunya. 
Apa hubungan percaya dengan ketaatan?
Untuk tahu jawabannya,
mari lihat khotbah ibadah pagi yang
dibawakan Saudara William Turner. 
Kalau kita bahas soal kata percaya,
kita semua setuju kita harus percaya
kepada Yehuwa sepenuhnya.
Tapi yang menarik, kalau kita
riset kata percaya di publikasi kita,
kita juga akan lihat pentingnya
untuk percaya kepada nama Yehuwa,
Firman-Nya, organisasi-Nya,
dan cara Putra-Nya memimpin.
Kalau yang paling penting itu
percaya kepada Yehuwa sepenuhnya,
kenapa kita juga perlu percaya sama hal-hal tadi?
Mari bahas dulu apa maksudnya
percaya kepada Yehuwa sepenuhnya.
Mari buka Alkitab kita di Amsal 3.
Ini ayat yang terkenal.
Kita akan baca Amsal 3:5, 6:
”Percayalah kepada Yehuwa dengan sepenuh hatimu,
dan jangan andalkan pengertianmu sendiri.
Dalam semua jalanmu, perhatikanlah Dia,
dan Dia akan membuat jalan-jalanmu lurus.”
Nah, kita semua pasti suka dengan seri artikel
”Ayat Alkitab Dijelaskan” yang
juga ada di aplikasi JW Library.
Jadi, mari lihat bagaimana
artikel itu menjelaskan ayat tadi.
Saudara bisa buka JW Library,
pilih ”Perpustakaan”, lalu ”Publikasi”,
lalu buka ”Seri Artikel” dan
pilih ”Ayat Alkitab Dijelaskan”.
Di bagian ”Buku Alkitab”, cari Amsal dan
buka artikel yang menjelaskan Amsal 3:5, 6.
Perhatikan di situ ada paragraf ”Percayalah
kepada Yehuwa dengan sepenuh hatimu”.
Nah, kalau kita lihat kalimat terakhir
di paragraf itu, dikatakan,
”Jadi, kita percaya kepada Allah dengan
sepenuh hati bukan karena dorongan emosi saja,
tapi karena kita yakin sepenuhnya bahwa
Pencipta kita tahu yang terbaik untuk kita.”
Percaya sepenuhnya itu tidak
didasarkan pada perasaan kita.
Itu pilihan.
Dari apa yang kita ketahui soal Yehuwa,
kita memilih untuk percaya kepada-Nya
meskipun ada hal-hal yang kita tidak mengerti.
Ada satu kisah Alkitab soal ini.
Silakan buka 2 Raja-Raja pasal 9.
Nah di 2 Raja 9 ini, ini kisah soal
saat Yehu dilantik menjadi raja.
Kalau kita lihat di ayat 1 sampai 3,
Nabi Elisa menyuruh salah satu dari
para keturunan nabi untuk melantik Yehu.
Dan Elisa memberikan petunjuk yang
sangat terperinci tentang cara melakukannya.
Setelah keturunan nabi itu menjalankan
apa yang Elisa perintahkan,
perhatikan percakapan antara
Yehu dan para panglima lain.
Coba lihat 2 Raja 9:11:
”Ketika Yehu kembali kepada para panglima lain,
mereka bertanya, ’Apa semua baik-baik saja?
Kenapa orang gila itu cari kamu?’
Dia menjawab, ’Kalian sendiri tahu orang seperti apa dia.
Kata-katanya tidak masuk akal.’
Tapi mereka berkata, ’Tidak!
Beri tahu kami yang sebenarnya.’
Dia mengatakan, ’Orang itu berkata begini kepada saya,
lalu dia menambahkan, ”Inilah yang Yehuwa katakan:
’Aku melantik kamu sebagai raja Israel.’”’”
Nah, coba kita pikirkan ini dulu.
Ada dua hal yang kita tahu.
Pertama, para panglima itu pasti tidak mengerti
apa yang dilakukan keturunan nabi tadi.
Bagi mereka, itu aneh dan tidak masuk akal.
Kedua, meski begitu,
mereka tahu bahwa apa yang dia katakan
berasal dari sumber yang bisa dipercaya.
Sikap dan penampilan Yehu menunjukkan
ada sesuatu yang penting yang baru terjadi.
Jadi, saat Yehu memberi tahu
mereka apa yang dia dengar,
apa yang Yehuwa katakan lewat keturunan
nabi itu, bagaimana tanggapan mereka?
Perhatikan ayat 13:
”Mendengar itu,
mereka langsung menaruh pakaian mereka
masing-masing di tangga yang akan dilewati Yehu,
dan meniup trompet tanduk dan
berkata, ’Yehu sudah jadi raja!’”
Meskipun ada hal-hal yang mereka tidak
mengerti dan mereka tidak tahu semua perinciannya,
mereka tarik kesimpulan dari apa yang mereka tahu.
Mereka tahu siapa sumber arahan itu, dan
mereka langsung tunjukkan dukungan mereka.
Sekarang, coba bayangkan kalau para
panglima itu meragukan apa yang terjadi
atau kalau mereka cuma
mengandalkan perasaan mereka.
Kira-kira, apa pengaruhnya untuk Yehu?
Kalau kita lihat di ayat 11,
sebelumnya Yehu kasih kesan bahwa
apa yang terjadi ini tidak terlalu penting.
Nah, memang Alkitab tidak
jelaskan kenapa dia lakukan hal ini.
Tapi karena para panglima itu
langsung mendukung Yehu
dan percaya bahwa itu arahan dari Yehuwa,
coba perhatikan apa pengaruhnya untuk Yehu.
Di ayat 14, Yehu langsung tergerak
untuk menjalankan tugas yang
Yehuwa berikan kepadanya.
Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari kisah ini?
Selama beberapa tahun terakhir,
kita dapat banyak arahan
di Betel dan di lapangan karena
keadaan dunia terus berubah.
Dan Yehuwa tahu, Dia paham, kita
mungkin merasa khawatir, terutama
kalau kita tidak benar-benar mengerti atau
tahu semua perincian tentang arahan itu.
Jadi, bayangkan perasaan Yehuwa
saat kita, seperti para panglima tadi,
menunjukkan bahwa kita percaya pada
sumber arahan yang kita dapat dan mendukungnya.
Kalau kita memilih untuk percaya
dan mengikuti arahan yang kita dapat,
Yehuwa benar-benar menghargainya.
Itu berharga untuk Yehuwa
karena itu bukan hanya membuktikan
kita mengasihi dan percaya kepada-Nya,
tapi itu juga bisa menguatkan orang-orang di sekitar kita.
Dan kita pasti sudah rasakan manfaatnya.
Nah, tapi apa kaitannya dengan
hal-hal lain yang kita percayai,
seperti nama Allah, Firman-Nya, organisasi-Nya?
Dalam setiap hubungan, apa yang kita
katakan dibuktikan dengan tindakan kita.
Jadi, Yehuwa senang kalau kita bilang
bahwa kita percaya kepada-Nya
dan mengasihi Dia sewaktu kita berdoa.
Tapi, persahabatan kita dengan-Nya
akan semakin kuat kalau kita membuktikan
bahwa kita percaya kepada-Nya lewat tindakan kita.
Ini artinya kita percaya dan
mau ikuti arahan Yehuwa.
Kita percaya cara Putra-Nya
memimpin dan mengarahkan sidang.
Kita percaya pada bagian organisasi Yehuwa di bumi,
termasuk budak yang setia
dan para penatua yang menjalankan arahan di sidang.
Kita tahu mereka tidak sempurna,
tapi kita berupaya untuk selalu ingat
Yehuwa percaya kepada mereka.
Jadi, coba pikirkan teladan seperti apa
yang kita berikan kalau kita
juga percaya kepada mereka.
Ya, kita tahu ada banyak hal baik yang kita nantikan.
Tapi seperti yang kita lihat,
kita masih hidup di keadaan yang
sulit dihadapi dan berbahaya.
Karena itu sekarang, lebih dari yang sudah-sudah,
kita perlu terus ingat dan
ikuti kata-kata di Yesaya 30:15
kalau kita ”terus percaya”, percaya
sepenuhnya kepada Yehuwa, kita akan kuat.
Kita percaya kepada Yehuwa bukan
karena kita mengikuti kata hati,
tapi karena kita yakin bahwa
Yehuwa tahu apa yang terbaik buat kita.
Kalau kita semua percaya kepada Yehuwa
dan organisasi-Nya, kita semua bisa bersatu. 
Nah, video musik bulan ini memperlihatkan,
meski kita menghadapi kesulitan,
kita bisa tetap kuat karena
kita punya saudara-saudari. 
Dengarlah, kawan
Hatiku tertekan
Bantulah aku ’tuk bisa bertahan
Kenapa ini sampai terjadi?
Akankah ’ku sanggup lewati bencana ini?
Kamu segera datang
Menghibur hatiku
Saudara-saudari saling menyayangi
Siap membantu di setiap waktu
Aku tak perlu berjuang sendiri
Kita saudara hingga s’lamanya
Kita saudara
Yakinlah, kawan
Kau bisa bertahan
Jangan pernah kehilangan iman
Aku di sini
Siap menemani
Yehuwa akan membantumu berdiri lagi
Aku segera datang
Menghibur hatimu
Saudara-saudari saling menyayangi
Siap membantu di setiap waktu
Kamu tak perlu berjuang sendiri
Kita saudara
Saudara-saudari saling menyayangi
Siap membantu di setiap waktu
Kita tak perlu berjuang sendiri
Kita saudara hingga s’lamanya
S’lamanya
Kita saudara
S’lamanya
Waktu kita tertimpa bencana,
bantuan yang diberikan
saudara-saudari sangat menguatkan kita.
Dan kalau kita percaya pada organisasi Yehuwa,
kita bisa menguatkan orang lain. 
Anak-anak muda,
apa teman-teman kalian percaya
bahwa ada banyak jalan menuju Allah?
Bagaimana kalian bisa yakin
bahwa hanya ada satu jalan?
Mari lihat pengalaman dua anak muda
yang berhasil mengatasi keraguan mereka. 
Di sekolah, banyak yang mau buat kita percaya
kalau semua agama dan pilihan hidup itu benar.
Waktu dinas, saya pernah ketemu seorang pria yang bilang,
”Agama saya bangun rumah sakit, buat acara
amal, kami bantu banyak orang, tapi kalian?”
Saya jadi berpikir, ’Benar juga, ya.
Jadi, kenapa kita enggak lakukan itu juga?
Kalau agama-agama lain
juga lakukan hal-hal yang baik,
apa memang cuma agama kita yang benar?’
Pengalaman itu sempat membuat saya ragu.
Di sekolah perawat, saya harus ikut kelas yang bahas pengaruh
kepercayaan kami terhadap cara kami memperlakukan pasien.
Waktu kami lagi bahas tentang orang-orang
yang punya orientasi seksual yang berbeda,
guru tanyai kami masing-masing
bagaimana pendapat kami tentang mereka.
Saat itu, saya harap saya bisa hilang ditelan bumi.
Saya sangat stres waktu itu.
Matius 7:13,14 menyebutkan tentang
dua jalan: yang satu benar, yang satu salah.
Saya tahu saya harus memperkuat iman saya
dan memastikan saya ada di jalan yang benar,
yaitu jalan yang sempit dan sesak.
Saat pelajaran pribadi, saya pikirkan apa yang
pria itu katakan, lalu saya tulis semua pertanyaannya.
Saya riset itu semua satu per satu.
Saya temukan satu ayat di Matius 7:22, 23.
Di situ Yesus sendiri bilang bahwa tidak semua orang
yang melakukan ”tindakan penuh kuasa
dengan nama[nya]” akan membuatnya senang.
Saya pikirkan apa yang kita lakukan.
Kita tetap netral secara politik,
mengasihi semua orang,
dan memberitakan kabar baik di seluruh dunia.
Itulah yang sebenarnya Yesus perintahkan.
Saya langsung berdoa,
dan Yehuwa kasih saya keberanian.
Jadi, saya berani untuk bilang kalau saya ikuti
pandangan Allah, bukannya pemikiran saya sendiri.
Di Yohanes 18:38, Pilatus
menyindir Yesus dengan bertanya,
”Apa kebenaran itu?” karena
baginya kebenaran itu tidak ada.
Jadi, tidak mungkin Yesus mengetahuinya.
Dari dulu sudah ada orang-orang yang percaya
bahwa tidak ada yang namanya kebenaran,
semuanya boleh-boleh saja.
Amsal 22:3 bilang
”orang cerdik bersembunyi kalau melihat bahaya”.
Jadi sebelum masuk kelas,
saya selalu lihat apa yang akan dipelajari.
Saya tahu saya tidak bisa bela iman
saya kalau saya tidak buat persiapan dulu.
Yang sudah membantu saya
adalah berbagai artikel di jw.org.
Artikel-artikel itu bantu saya menjelaskan
kepercayaan saya dengan sederhana.
Saya tahu saya tidak boleh terus
kecil hati dan diam di rumah saja.
Saya harus keluar dinas.
Beberapa minggu setelahnya, saya dapat
kesempatan lagi untuk bela iman saya.
Meskipun kita sudah tunjukkan
dasar-dasar kepercayaan kita dari Alkitab,
memang belum tentu kita bisa
yakinkan orang lain ini kebenaran,
tapi kita bisa yakinkan diri kita sendiri.
Orang yang pemalu seperti saya mungkin
kadang merasa sulit untuk punya pendirian.
Tapi, Yehuwa sudah tetapkan cara
yang benar untuk beribadah kepada-Nya.
1 Korintus 1:10 bilang kalau kita
”harus benar-benar sepikiran”.
Jadi, hanya ada satu kebenaran.
Saya sangat bersyukur karena
Yehuwa kasih saya kesempatan
untuk bisa mengenal Dia dan tahu
satu-satunya agama yang benar.
Karena itu, saya berupaya sebisa-bisanya
untuk kasih tahu orang-orang tentang Yehuwa supaya
mereka juga bisa merasakan apa yang saya rasakan.
Karena percaya hanya ada satu agama yang benar,
saya bisa berpikir dengan jernih dan buat
keputusan yang baik bahkan saat ada masalah.
Saya tidak ragu bahwa apa yang saya percayai itu benar
karena saya punya Alkitab yang menjawab semua
pertanyaan saya dan membimbing saya dalam situasi apa pun.
Organisasi kita memang tidak bangun rumah sakit,
tapi pekerjaan yang kita lakukan menyelamatkan kehidupan
dan bantu orang-orang bersahabat dengan Yehuwa.
Apakah guru atau teman-teman kalian
pernah menanyakan hal yang sama?
Nah, seperti yang dilakukan Naomi dan Vince,
kalian perlu memperkuat iman kalian.
Yakinlah, upaya kalian tidak akan sia-sia.
Yehuwa pasti akan membantu
kalian mengatasi keraguan
dan memberikan bimbingan yang dibutuhkan. 
Yehuwa juga akan memberkati
orang-orang yang mau keluar dari zona nyaman
untuk meluaskan pelayanan mereka.
Mari lihat pengalaman seorang
perintis yang sudah mencobanya. 
Hai, saya Robert McGee,
dan saya merintis di daerah
yang lebih membutuhkan.
Republik Dominika itu seperti firdausnya perintis.
Memang, ada banyak pantai dan
tempat-tempat yang indah.
Tapi, yang paling indah adalah orang-orangnya.
Sejak kecil, saya ingin jadi utusan injil
dan mengabar kepada orang-orang
di berbagai tempat di dunia.
Sekarang, saya bisa lakukan itu setiap hari.
Melayani di tempat yang lebih
membutuhkan memang ada tantangannya,
misalnya kangen rumah.
Tapi, teman-teman di sini sudah
seperti keluarga buat saya.
Mereka selalu siap membantu orang lain, dan
kebetulan, di sini saya yang sering butuh bantuan.
Waktu saya baru datang,
mereka bantu saya cari tempat tinggal.
Mereka juga sering mampir untuk
kasih makanan dan tanya kabar saya.
Jadi, meski kadang saya rindu kampung halaman,
keluarga rohani di sini mengobati kerinduan itu.
Dan, kepuasan karena dinas di sini
jauh melebihi pengorbanan saya.
Mau lihat bagaimana keseharian saya di Republik Dominika?
Saya biasanya bangun jam 7.15 pagi.
Lalu, keluar rumah jam setengah 9.
Di sini, banyak orang tidak punya mobil,
jadi biasanya orang-orang naik sepeda motor.
Naik motor juga lebih irit.
Sebelum ke sini, saya enggak bisa bawa motor.
Saya juga enggak sangka bakal pakai ini untuk dinas.
Tapi, saudara-saudari bantu saya belajar
caranya bawa motor dengan aman.
Sekarang, saya ke mana-mana naik motor.
Dari rumah ke Balai Kerajaan,
saya butuh sekitar 15 menit.
Saya melayani di sidang Bahasa Isyarat Amerika.
Setelah PDL, kami langsung ke daerah dinas.
Mengabar di sini itu gampang.
Orang-orangnya ramah dan mudah diajak bicara.
Waktu kami cari mereka yang tunarungu,
penghuni rumah yang bukan tunarungu
bahkan akan antar kami
sampai ketemu dengan mereka.
Kadang-kadang, kami harus jalan jauh sekali.
Awalnya, apa yang mereka lakukan ini
membuat saya waswas.
Tapi, rekan dinas saya selalu
tenang, jadi saya pun ikut tenang.
Ternyata, orang-orang di sini memang
suka membantu kami cari yang tunarungu
karena mereka merasa yang
kami lakukan ini hal yang baik.
Kebanyakan orang di sini menghargai Alkitab,
jadi mudah untuk memulai percakapan.
Setelah selesai dinas pagi, cuacanya sangat panas,
jadi kami pulang untuk istirahat.
Ini kebiasaan setempat yang saya sukai.
Saya biasanya pakai waktu itu untuk makan siang.
Salah satu makanan kesukaan saya adalah la bandera.
Makanan ini terdiri dari nasi,
kacang-kacangan, dan daging.
Setelah makan siang, saya minum kopi,
bersantai, atau pelajaran pribadi.
Beberapa jam kemudian, kami akan
kumpul lagi untuk pandu PAR sampai sore.
Di sini, kita bisa punya banyak sekali PAR.
Ini hal yang paling saya sukai
dari melayani di Republik Dominika.
Waktu kita ’duduk dulu dan hitung biayanya’,
jangan hanya pikirkan apa yang harus kita korbankan,
tapi juga apa yang akan kita dapatkan.
Saya bisa lakukan hal yang paling saya sukai,
yaitu mengajar orang lain tentang Yehuwa.
Ada yang bahkan sampai dibaptis.
Sukacitanya luar biasa!
Saya juga bisa dapatkan banyak pengalaman
dan kenangan bersama sidang,
yang tidak akan saya dapatkan
kalau tidak datang ke sini.
Yehuwa kasih saya ’kakak, adik, ibu, dan ayah’,
jadi saya tidak pernah merasa sendirian.
Kita sering bicara soal persaudaraan sedunia,
tapi rasanya beda kalau
kita sendiri yang merasakannya.
Mazmur 34:8 bilang, ”Rasakanlah
dan lihatlah bahwa Yehuwa itu baik.”
Dengan merelakan diri, kita bisa
menikmati berkat Yehuwa yang berlimpah!
Salah satu hal yang paling seru dan menyenangkan
adalah mengajar orang-orang tentang Yehuwa.
Nah, kalau belum bisa pergi
ke tempat yang membutuhkan,
kalian bisa pikirkan cara lain
untuk meluaskan pelayanan. 
Di acara bulan ini, kita sudah belajar bahwa
terus mengikuti arahan dari organisasi Yehuwa
bisa menyelamatkan kehidupan kita.
Seperti Habakuk,
kita harus mencurahkan perasaan kita
kepada Yehuwa dan percaya kepada-Nya
agar kita bisa tetap tenang.
Keluarga Tshomba menjadi teladan yang
bagus dalam hal percaya kepada Yehuwa
dan terus mengikuti arahan selama masa sulit.
Dan kalau kita membuktikan sendiri
bahwa Alkitab berisi kebenaran,
kita jadi lebih mudah mengikuti arahan dari
Yehuwa melalui ”budak yang setia dan bijaksana”. 
Bulan ini, kita akan jalan-jalan ke Serbia.
Serbia adalah negeri yang dikelilingi daratan.
Di bagian utara, tanahnya sangat subur.
Di bagian timur, ada pemandangan tebing batu kapur,
lalu ada perbukitan di sebelah barat,
dan pegunungan di sebelah selatan. 
Tanah yang subur menghasilkan
pangan yang berlimpah.
Serbia adalah salah satu negeri yang
paling banyak mengekspor rasberi.
Di sana, juga ada perladangan
tanaman kanola yang luas,
yang bisa memberi makan banyak ternak.
Daging ternaknya biasa dibuat menjadi
ćevapi, makanan khas negeri-negeri Balkan.
Itu adalah daging cincang yang
dibumbui dengan rempah-rempah,
lalu digulung dan dipanggang.
Setelah matang, daging itu ditaruh
di atas roti dan diolesi kajmak,
krim lembut yang terbuat dari
susu yang difermentasi.
Kalian mau mencicipinya bersama
saudara-saudari di sana?
Mereka biasanya berkumpul di Minggu siang
untuk makan bersama dan berbagi cerita.
Itu membuat mereka sangat akrab. 
Bagaimana kabar baik Kerajaan masuk ke Serbia,
atau yang dulu dikenal sebagai Yugoslavia?
Salah satunya melalui seorang
tentara bernama Nica Tralea.
Tahun 1918, waktu dia masih
menjadi tentara Austria-Hongaria,
dia ditangkap oleh pasukan Rusia dan
dikirim ke Siberia, yang jauhnya ribuan kilometer.
Di situlah dia mengenal kebenaran.
Nah setelah dia dibebaskan,
dia kembali ke kampung halamannya dan
mulai mengatur pertemuan-pertemuan ibadah. 
Selain Nica Tralea,
ada juga seorang pemuda yang bekerja
sebagai tukang cukur bernama Franz Brand.
Namanya pernah muncul di JW Broadcasting
waktu kita jalan-jalan ke Montenegro.
Dia dikenal sebagai ”tukang cukur yang percaya Alkitab”.
Franz bersama Rudolf Kalle,
yang dulu adalah pelanggannya,
belakangan menjadi rekan perintis.
Lalu, mereka dilantik sebagai
pengawas di kantor cabang. 
Tahun 1930-an, 20 perintis yang
berpengalaman, termasuk Martin Poetzinger,
ditugaskan untuk memperluas pekerjaan pengabaran.
Mereka tidak bisa bahasa Serbo-Kroasia,
tapi mereka tetap mengabar
menggunakan kartu kesaksian.
Sambil membawa tas ransel
yang penuh dengan bacaan,
Martin Poetzinger berjalan
sampai ke desa-desa terpencil
untuk mencari orang-orang yang
mau mendengar kabar baik. 
Sekarang, kabar baik masih terus diberitakan
dengan bersemangat oleh saudara-saudari di Serbia.
Di Vojvodina, pada musim panen,
biasanya ada banyak petani di ladang.
Jadi, saudara-saudari menempuh perjalanan jauh
naik sepeda untuk mengabar kepada mereka. 
Saat ini, ada banyak orang dari
negara lain yang tinggal di Serbia.
Di antara mereka ada yang berbahasa
Rusia, Cina, Urdu, Farsi, dan Romani.
Untuk menjangkau orang-orang berbahasa Romani,
para penyiar biasanya pergi ke
daerah komunitas orang Romani.
Itu adalah pemukiman yang padat
dengan rumah-rumah berukuran kecil,
tapi hasil pengabaran di sana luar biasa. 
Sidang Beograd bahasa Romani
memandu 46 pelajaran Alkitab
dan rata-rata jumlah hadirin perhimpunannya
lebih banyak daripada jumlah penyiarnya.
Saudara-saudari kita di
Sidang Beograd bahasa Romani
mengirimkan salam dan kasih Kristen untuk kita semua. 
Kami menyayangi kalian.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.