JW subtitle extractor

JW Broadcasting—Oktober 2026

Video Other languages Share text Share link Show times

Selamat datang di JW Broadcasting.
Banyak dari kita melakukan
pemeriksaan mata secara rutin.
Tapi, seberapa sering
kita memeriksa mata rohani kita? 
Kalau kita menyadari bahwa
mata rohani kita mulai buram,
bagaimana cara kita bisa memperbaikinya?
Beberapa orang menjaga mata rohani mereka
tetap jernih dengan melayani sebagai komuter Betel.
Bagaimana keseharian para komuter?
Kita juga akan menjelajahi waktu untuk
melihat sejarah penerjemahan Alkitab. 
Inilah JW Broadcasting. 
Apakah Saudara punya gangguan penglihatan
yang mengharuskan Saudara
pakai lensa kontak atau kacamata?
Nah, kalau saya rabun jauh, atau miopi.
Itu adalah gangguan penglihatan di mana cahaya
yang masuk ke mata jatuh di depan retina.
Jadi, saya sulit melihat objek dari jarak jauh.
Gangguan lain, yaitu rabun dekat, atau hipermetropi,
di mana bayangan yang dilihat jatuh di belakang retina.
Jadi, penderitanya sulit melihat objek dari jarak dekat.
Nah, ada orang yang satu matanya
rabun dekat dan satunya lagi rabun jauh.
Gangguan penglihatan semacam itu bisa dikoreksi
dengan menggunakan lensa yang tepat.
Selain itu, ada juga masalah
penglihatan lain, yaitu kebutaan.
Ini baru bisa diperbaiki nanti di dunia baru.
Tapi sebenarnya, ada masalah penglihatan
yang lebih parah daripada yang saya sebutkan tadi.
Yesus memberi tahu hal itu
dalam Khotbahnya di Gunung.
Mari kita baca sama-sama di Matius 6:22, 23:
Sampai sini, apa maksud Yesus sewaktu
dia bilang ”mata adalah lampu bagi tubuh”?
Ini adalah perumpamaan.
Mata itu seperti lampu yang
bisa menerangi tempat yang gelap
sehingga seseorang bisa berjalan tanpa tersandung.
Perumpamaan ini juga bisa
berlaku untuk mata rohani kita,
yaitu cara kita memandang hal-hal
yang Yehuwa ingin kita lakukan.
Lalu, Yesus melanjutkan kata-katanya dengan menyebutkan dua perbandingan ini.
Kita lanjut baca,
Di sini, perbandingannya:
mata yang fokus dengan mata yang suka iri.
Yang satu buat hidup jadi terang,
satunya lagi buat hidup jadi gelap.
Fokus kita bisa memengaruhi apakah
kehidupan kita akan baik atau buruk.
Kita harus menjaga fokus kita pada hal-hal rohani.
Jadi, tema pembahasan kita kali ini:
”Selalu Fokus Melakukan Kehendak Allah”.
Nah, apa kehendak Allah bagi kita?
Dia mau kita mengenal Dia,
mendekat kepada-Nya, menaati-Nya,
dan menyayangi serta melayani-Nya
dengan sepenuh hati kita.
Yesus kasih teladan yang bagus dalam hal ini.
Di Yohanes 6:38, dia bilang tujuan hidupnya
’bukan untuk melakukan kehendaknya sendiri,
tapi kehendak Bapaknya’.
Jadi, Yesus menjaga matanya
tetap fokus, yaitu pada pelayanan.
Dia menggunakan seluruh waktu
dan tenaganya untuk kabar baik.
Dia tidak tertarik sama sekali untuk mengejar
kedudukan, kekayaan, ataupun ketenaran.
Yesus juga mengajar murid-muridnya
untuk tetap fokus melayani Yehuwa.
Dia memberi tahu mereka
bahwa yang bisa masuk ke Kerajaan Allah hanyalah
orang-orang yang ’melakukan kehendak Bapaknya’.
Sekarang, kita juga perlu fokus pada hal yang sama,
yaitu melakukan kehendak Allah
dan mengutamakan Kerajaan-Nya
serta bersemangat memberitakan
tentang Kerajaan itu kepada orang-orang.
Nah, kalau mata kita fokus, kita akan
puas dengan kehidupan yang sederhana.
Kita tidak akan mengejar keinginan kita sendiri
atau mencoba untuk menikmati
hal-hal yang ditawarkan dunia ini.
Dengan menjaga mata kita
tetap fokus pada kehendak Allah,
kehidupan kita akan terang secara rohani.
Berbeda dengan orang-orang
yang punya mata yang suka iri
dan tidak bisa fokus pada
hal yang benar-benar penting.
Mereka hanya mengejar keinginan mereka
yang egois, mereka serakah dan tidak pernah puas.
Amsal 17:24 bilang, mata mereka
”mengembara sampai ke ujung bumi”.
Pikiran mereka ke mana-mana,
dan mereka punya banyak keinginan.
Tapi, itu semua tidak membuat mereka bahagia.
Jadi, kalau fokusnya ke hal-hal materi, bukan
ke Yehuwa, hidup kita akan gelap secara rohani.
Untuk bisa memahami
perumpamaan Yesus, coba lihat gambar ini.
Ini adalah lukisan karya seorang seniman
bernama William Hill, yang diterbitkan tahun 1915.
Gambar apa yang Saudara lihat?
Perhatikan, ini kepala dan ini bahu.
Yang Saudara lihat wanita tua atau wanita muda?
Bergantung fokus Saudara, ini bisa kelihatan
seperti wanita muda yang membelakangi Saudara.
Ini sisi kiri wajahnya, telinganya, hidungnya,
bulu matanya, rahangnya, dan kalung di lehernya.
Ini rambutnya dan tudung kepalanya,
dan ini bahunya.
Tapi, ini juga bisa kelihatan seperti wanita tua.
Ini hidungnya, matanya, mulutnya, dan dagunya.
Ini rambutnya, tudung kepalanya, dan bahunya.
Saudara tidak bisa melihat
dua gambar ini secara bersamaan.
Saudara harus pilih mau fokus
untuk melihat yang mana.
Coba kita kaitkan gambar ini dengan pembahasan kita.
Bagaimana Saudara melihat dunia Setan sekarang
dibandingkan dengan dunia baru Allah?
Setan mau kita melihat dunia ini sebagai
tempat yang menarik dan menyenangkan,
dan ada banyak kesempatan
untuk menjadi kaya dan terkenal.
Padahal kenyataannya,
dunia sekarang seperti wanita tua ini.
Dunia ini sebentar lagi akan berakhir.
Itu akan dihancurkan oleh Kerajaan Allah.
Sebaliknya, dunia baru Allah
seperti gambar wanita muda tadi.
Di sana, Yehuwa akan ”memuaskan
keinginan semua yang hidup”.
Tidak ada lagi penyakit, penderitaan,
kita akan hidup bahagia selamanya.
Nah, Yehuwa sudah membantu kita melihat
dengan jelas perbedaan antara dunia Setan yang jahat
dengan dunia baru yang Dia janjikan melalui
Firman-Nya, Alkitab, yang seperti lensa yang jernih.
Kita tidak bisa fokus melihat keduanya.
Itu berarti kita tidak akan bisa
melayani Allah sepenuh hati,
tapi di saat yang sama juga mengejar
hal-hal yang ditawarkan dunia ini.
Nah, Rasul Yohanes memandang
dunia ini sama dengan cara Yehuwa.
Mari kita baca kata-katanya
yang dicatat di 1 Yohanes 2:15-17.
Dia memberi tahu kita
dua hal yang tidak boleh kita cintai.
Sambil membacanya, coba pikirkan,
’Dari perintah itu, mana yang lebih mudah kita ikuti?’
Dua hal yang tidak boleh kita cintai:
’Dunia ini dan apa pun di dalamnya’.
Nah, perintah mana yang lebih mudah kita ikuti?
Bukankah lebih mudah untuk tidak mencintai dunia ini?
Karena kita memang sudah menantikan
agar dunia Setan, yang terdiri dari agama palsu,
sistem politik yang korup,
dan dunia bisnis yang serakah,
dihancurkan untuk selamanya.
Tapi, apa yang ada di dalam
dunia Setan itu bisa menyimpangkan kita.
Setan menawarkan hal-hal atau barang-barang
yang terlihat menarik, menggoda, dan menggiurkan.
Nah, dari antara semua siasat yang
Setan gunakan untuk menyesatkan manusia,
yang paling ampuh adalah
”keinginan mata” akan hal-hal yang ada di dunia ini.
Buktinya, Setan berhasil menjebak Hawa
hanya dengan menawarkan buah.
Karena itu, kita perlu rutin memeriksa hati kita
untuk menjaganya agar tidak tersimpangkan.
Kalau seorang Kristen mulai fokus
mengejar ’apa yang ada di dunia ini’,
itu membuat dia sulit berfokus pada apa
yang paling penting, yaitu melakukan kehendak Allah.
Jadi, kita harus berfokus
memberikan yang terbaik untuk Yehuwa
dan menunjukkan kasih yang sepenuh hati.
Sama seperti mata jasmani kita
yang perlu rutin diperiksa,
mata rohani kita juga perlu rutin diperiksa
supaya kita bisa tahu apakah
ada hal-hal yang perlu kita sesuaikan.
Bagaimana cara kita memeriksanya?
Nah, Alkitab menyediakan alat bantu
untuk memeriksa ketajaman mata rohani kita.
Alat bantu itu adalah daftar
sifat-sifat yang ada di 2 Petrus 1:5-7.
Mari kita baca.
Kita perlu pikirkan apakah kita punya sifat-sifat itu.
Nah, mari kita bahas satu per satu.
Iman.
Ini sangat penting karena iman adalah
fondasi untuk membangun sifat-sifat lainnya.
Jadi, kita perlu memperkuat iman kita.
Iman yang kuat bisa membantu kita
percaya akan semua janji Yehuwa.
Bahkan kita bisa
membayangkan janji itu menjadi kenyataan.
Kebaikan.
Itu artinya kita melakukan
hal-hal yang baik menurut Allah.
Kalau kita punya sifat ini, kita pasti akan
berupaya untuk tidak menyakiti orang lain.
Sebaliknya, kita akan mencari cara
untuk berbuat baik kepada mereka.
Pengetahuan.
Itu membantu kita membedakan
yang benar dan yang salah,
khususnya saat ada tantangan yang
belum pernah kita hadapi sebelumnya.
Jadi, kita perlu belajar Alkitab
agar kita bisa tahu apa yang Yehuwa ingin kita lakukan
dan caranya membuat keputusan yang bijaksana.
Pengendalian diri.
Dalam bahasa Yunani, itu artinya
’memiliki kendali atas diri sendiri’.
Sifat ini membantu kita untuk
hidup sesuai dengan standar Allah.
Jadi kita tidak akan memikirkan, mengatakan, atau
melakukan hal-hal yang bisa mengarah pada perbuatan dosa.
Ketekunan.
Kalau kita bertekun, kita tidak mudah menyerah
karena kita sepenuhnya mengandalkan Yehuwa.
Waktu diuji, kita bisa tetap yakin pada harapan kita.
Kalau kita bertekun, kita bisa rasakan
bantuan Yehuwa untuk menolak godaan
dan untuk tetap setia waktu dianiaya.
Pengabdian kepada Allah.
Itu artinya kita mengasihi Yehuwa, menghormati Dia,
dan mendukung hak-Nya untuk memerintah.
Orang yang mengabdi kepada Allah akan
selalu berupaya untuk menyenangkan Dia
dan mau meniru cara-Nya
dalam memperlakukan orang lain.
Kasih sayang persaudaraan.
Kita perlu menunjukkan itu
kalau kita mau meniru Yehuwa.
Sifat ini bantu kita mengabaikan
kelemahan saudara-saudari,
memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri,
dan berupaya sebisanya untuk membantu mereka.
Kasih.
Kita mau mengasihi semua orang,
bukan hanya rekan-rekan seiman kita saja.
Kita mau meniru Yehuwa yang tidak berat sebelah
dengan memberitakan kabar baik setiap ada
kesempatan kepada segala macam orang.
Setelah melakukan pemeriksaan,
perhatikan yang dikatakan di 2 Petrus 1:8, 9.
Punya penglihatan rohani
yang baik itu sangat berharga.
Kalau kita mengikuti nasihat Petrus untuk
’berusaha sekuat tenaga’ memiliki kedelapan sifat tadi,
itu semua akan ”berlimpah” dalam diri kita,
dan kita tidak akan menjadi ”malas”.
Sebaliknya, kita akan semangat
dan aktif melayani Yehuwa.
Tapi, kalau kita tidak mengembangkan sifat-sifat itu,
iman kita kepada Yehuwa akan melemah
dan kita akan buta secara rohani.
Kita mungkin sadar bahwa ada
beberapa sifat yang perlu kita tingkatkan.
Kalau begitu, kita perlu mengembalikan
fokus kita ke hal-hal yang penting.
Bagaimana caranya?
Mari lihat empat saran ini.
Pertama, pelajari dan renungkan Alkitab.
Kalau mata kita iritasi karena kering,
biasanya dokter akan memberikan
tetes mata untuk meredakan iritasinya.
Lalu, dia juga akan menutup mata kita dengan
perban agar obatnya bekerja dengan maksimal.
Nah, agar mata rohani kita tidak kering,
kita perlu menetesinya dengan air kebenaran,
yaitu membaca Alkitab setiap hari.
Lalu, agar kita dapat manfaat yang maksimal,
kita perlu merenungkannya dan
memasukkannya dalam hati kita.
Dengan begitu, kita akan terus
mengingat kehendak Yehuwa,
apa yang sudah Dia lakukan,
dan janji-Nya di masa depan.
William Barclay, seorang
pakar Alkitab, mengatakan,
”Bagi orang Kristen yang tulus, mempelajari
Firman Allah bukanlah suatu kerja keras,
melainkan suatu hal yang menyenangkan
karena dia tahu bahwa dia akan menemukan
kekuatan dan kesegaran yang dia butuhkan.”
Kedua, menerapkan apa yang dipelajari.
Agar mata jasmani kita tetap sehat,
kita perlu latihan mata.
Nah, secara rohani, latihannya dengan
menerapkan prinsip-prinsip Alkitab
dan membuktikan sendiri manfaatnya.
Selain itu, kita juga bisa latihan
dengan menceritakan iman kita
sewaktu mengabar dan
memberi komentar di perhimpunan.
Ketiga, mengikuti arahan kuasa kudus.
Beberapa penyakit mata mungkin perlu dilaser,
misalnya untuk memperbaiki retina
yang robek atau masalah lainnya.
Begitu juga secara rohani.
Kuasa kudus Allah seperti laser yang sangat kuat.
Kalau kita membiarkan kuasa kudus Allah
membimbing tingkah laku dan cara berpikir kita,
hubungan kita dengan Yehuwa akan semakin kuat.
Keempat, terima bantuan orang lain.
Untuk beberapa penyakit mata, dokter
yang terampil mungkin menyarankan untuk operasi.
Nah, Firman Allah itu seperti pisau bedah.
Para penatua yang terampil akan
menggunakannya untuk seolah-olah mengoperasi kita,
yaitu dengan memberikan teguran
dan nasihat yang terus terang.
Kalau kita mau menerimanya,
kita bisa terus sehat secara rohani.
Jadi, apa yang sudah kita pelajari?
Kalau mata kita fokus, kita bisa melihat
dengan jelas apa kehendak Allah bagi kita,
apa yang akan dilakukan Kerajaan Allah,
dan harapan di masa depan.
Tapi, kalau mata kita suka iri, kita
tidak bisa melihat harapan itu dengan jelas.
Itu hanya akan seperti khayalan.
Seperti yang sudah kita bahas, mata jasmani
kita tidak bisa fokus pada dua hal sekaligus.
Kalau mata rohani kita berfokus
pada hal-hal di dunia ini,
kita akan sulit melihat
apa yang Yehuwa ingin kita lakukan,
dan lama-kelamaan kita bisa buta secara rohani.
Itu sangat menyedihkan!
Jadi, penting sekali untuk selalu
menjaga mata kita tetap fokus,
yaitu fokus melakukan kehendak Allah
dan berusaha memberikan yang terbaik
untuk Bapak kita, Yehuwa, selama-lamanya.
Perhatikan bagaimana sepasang suami istri
bisa kembali fokus melayani Yehuwa
sehingga hidup mereka lebih bahagia. 
Sebelum kami umur 25, kami sudah
punya apartemen di tengah kota Wina.
Tapi, kami jadi harus bayar
pinjaman ke bank tiap bulan.
Iya, dan apartemennya bagus.
Iya benar.
Dan rasanya puas bisa punya sesuatu.
Saya fokus cari uang karena saya pikir
itu bakal buat Doris senang.
Tapi, kami jadi mulai jarang berhimpun.
Kami enggak teratur lagi lakukan kegiatan rohani.
Dan, itu enggak bagus untuk perkawinan kami.
Kami dapat penggembalaan.
Penatuanya terus terang sama saya.
Dia ingatkan saya
bahwa saya itu kepala keluarga.
Dan sebagai kepala keluarga,
saya juga punya tanggung jawab
untuk penuhi kebutuhan rohani Doris, dan . . .
. . . enggak cuma kasih uang aja.
Benar. Bukan cuma itu.
Kata-katanya menyentuh hati saya.
Saya mau jadi kepala keluarga yang baik.
Saya benar-benar mau Doris bahagia,
dan dia cuma bisa bahagia
kalau kami berfokus melayani Yehuwa.
Kami banyak obrolin ini.
Kami mulai lagi kebiasaan
untuk doa sama-sama setiap hari.
Dan kami sadar kami harus jual apartemen kami.
Kami doakan itu.
Kami bilang, ”Yehuwa, tolong.
Kami mau jual apartemen ini.
Kami enggak mau bawa beban ini terus.”
Dan akhirnya, kami berhasil jual apartemennya.
Kami bebas dari utang.
Kebaktian tahun 2014 juga semangati kami . . .
. . . untuk utamakan Kerajaan Allah
dan biarkan Yehuwa
yang penuhi kebutuhan kami.
Itu pertama kalinya kami menyadari
bahwa Yehuwa lakukan itu
enggak cuma untuk orang lain
tapi juga untuk kami.
Kami langsung doakan itu.
Itu pertama kalinya saya mau berbuat
lebih banyak untuk Kerajaan Allah.
Dan kami lakukan itu.
Beberapa bulan setelah kebaktian itu,
kami mulai merintis ekstra.
Saya kerja di bidang konstruksi,
dan jarang ada yang kerja paruh waktu.
Jadi, waktu saya mau kurangi jam kerja saya,
saya harus benar-benar menguji Yehuwa.
Karena waktu saya coba hitung-hitung,
wah, ternyata mepet juga.
Saya banyak doakan ini.
Saya mohon Yehuwa kasih saya keberanian
untuk minta bos kurangi jam kerja saya
dan supaya Yehuwa bantu saya beriman
bahwa Dia akan penuhi kebutuhan kami.
Kami sangat suka merintis ekstra,
dan untuk tahun dinas berikutnya, kami pikir,
’Kayaknya, bisa kita merintis biasa.’
Jadi kami buat rencana.
Kami putuskan untuk merintis biasa.
Kami sangat bahagia.
Hidup kami jadi menyenangkan.
Dan semakin menyenangkan.
Ya. Lalu, kami sederhanakan lagi hidup kami.
Kami pindah ke apartemen yang lumayan kecil.
Tapi, semua yang kami butuhkan ada,
dan kami sangat nyaman.
Saya mau tunjukkan artikel Menara Pengawal
yang sangat menyentuh kami.
Ini artikel ”Bekerja Samalah
dengan Yehuwa Setiap Hari”.
Di akhir artikelnya, ada kalimat,
tapi ini sebenarnya pertanyaan:
”Apakah Saudara ingin mendapat pelatihan
supaya bisa berbuat lebih banyak dalam pelayanan?
Saudara mungkin bisa mendaftar untuk ikut
Sekolah Bagi Penginjil Kerajaan.”
Kami merasa ini untuk kami.
Kami enggak punya alasan untuk enggak mendaftar.
Dan ternyata . . .
. . . kami ternyata diundang!
Kami benaran diundang.
Kami senang sekali.
Iya.
Enggak gampang untuk dapat cuti
dua bulan supaya bisa ikut SBPK.
Sebenarnya, saya enggak dapat cuti.
Makanya, saya harus berhenti kerja.
Tapi saya enggak menyesal sama sekali.
Saya enggak akan ragu untuk
buat keputusan yang sama lagi.
Dapat pelatihan di SBPK itu . . .
. . . bukti kasih Yehuwa.
Kami merasa Yehuwa percaya sama kami.
Itu luar biasa.
Kami ditugaskan ke satu sidang yang sangat hangat,
dan saya senang sekali bisa merintis sama Doris.
Ini kehidupan yang terbaik.
Yehuwa selalu baik sama kami
dan penuhi kebutuhan kami.
Kami enggak punya banyak hal,
tapi kami juga enggak punya banyak beban
karena Yehuwa selalu memelihara kami.
Enggak ada yang kami sesali.
Hmm, ada kok.
Apa?
Harusnya kita lakukan ini dari dulu.
Bener juga sih.
Pasangan Satlauers mengikuti arahan Yehuwa
dengan menyederhanakan kehidupan.
Sekarang kehidupan mereka
lebih bahagia dan bermakna! 
Tapi, kalau Saudara merasa menyederhanakan
kehidupan itu hal yang sulit, jangan kecil hati.
Kita bisa belajar dari buku Zakharia. 
Wah, buku Zakharia ternyata seru ya.
Iya, aku udah enggak sabar nih
cari permata rohani dari buku ini.
Aku juga. Minggu lalu, kita sempat bahas, ya,
orang Yahudi menghadapi banyak banget masalah.
Mereka dapat tentangan dari musuh.
Mereka juga merasa kecil hati.
Belum lagi, mereka harus membangun kembali bait,
membenahi Yerusalem, dan mengurus
kebutuhan keluarga mereka.
Mereka pasti capek banget ya,
mirip kayak hidup di zaman sekarang.
Iya ya. Dan karena waktu itu
mereka enggak punya pasukan
dan enggak punya raja, mereka mungkin
jadi merasa enggak berdaya ya.
Karena itu, ya, Yehuwa kirim Hagai dan Zakharia
supaya mereka bisa dikuatkan.
Iya, Hagai bikin mereka sadar kalau mereka
harus kembali menjalankan tugas mereka.
Dan Zakharia menguatkan mereka supaya
mereka terus menjalankan tugas itu.
Ada banyak banget nih yang bisa kita pelajari.
Mungkin kita bisa mulai dari salah satu topik.
Bener juga. Dari video pengantar, kita bisa tahu
pasal-pasal yang menarik di buku ini,
terutama yang membahas tentang Mesias.
Iya. Aku juga suka lihat ”Garis Besar” di Alkitab.
Aku mulai dari sini nih:
Wah menarik tuh. Kamu sempat riset apa?
Aku nemu artikel di Menara Pengawal Maret 2022:
”Apakah Saudara Juga
Melihat Apa yang Zakharia Lihat?”
Penjelasan sama gambar-gambarnya bagus banget lho.
Oh, kok kamu bisa nemu artikel itu?
Aku pakai Indeks Ayat.
Aku coba lihat satu-satu aja ayatnya.
Iya, bisa pakai itu ya.
Nah di artikel itu dibilang,
Hmm. Orang Yahudi kan waktu itu udah lelah dan kecil hati.
Jadi mereka pasti dikuatkan ya waktu diingetin
kalau kuasa Yehuwa itu enggak
terbatas dan enggak akan pernah habis.
Terus Yehuwa kuatin mereka lagi
dengan bilang gini di ayat 6 dan 7:
Keren banget ya. Masalah
orang Yahudi sebesar gunung,
tapi Zakharia bilang itu akan rata dengan tanah.
Jadi, pemerintah Persia atau tentangan dari musuh
enggak akan bisa menghentikan pekerjaan Yehuwa.
Orang Yahudi enggak butuh pasukan
karena mereka punya Yehuwa.
Mungkin waktu itu mereka langsung bayangin, ya,
gunung besar yang tiba-tiba
jadi rata di depan mata mereka.
Dan mereka pasti jadi sadar, ya, keberhasilan mereka
enggak bergantung sama kemampuan atau keadaan mereka.
Itu bergantung sama kuasa kudus Yehuwa.
Bener banget. Dan pesan dari Zakharia
bener-bener bikin mereka dikuatkan.
Mereka jadi beriman sama
Yehuwa dan langsung kembali bekerja.
Hanya sekitar 4 tahun kemudian, bait udah selesai.
Mereka pasti bisa lihat, ya, betapa
luar biasanya kuasa kudus Yehuwa.
Tiba-tiba larangan dicabut,
dan bangsa-bangsa di sekitar
mereka bahkan diperintahkan
untuk menyediakan bahan-bahan yang
dibutuhkan untuk pembangunan bait.
Gunungnya benar-benar jadi rata ya.
Iya. Jadi menurutmu, kita bisa
belajar apa tentang Yehuwa?
Penglihatan Zakharia bikin aku yakin kalau kuasa kudus
Yehuwa bisa melakukan apa yang kita anggap mustahil.
Hmm. Yehuwa tahu, ya, kita kadang bisa merasa
lelah, kecil hati, atau bahkan takut, seperti orang Yahudi.
Jadi Dia mau kita membayangkan seberapa besar kuasa-Nya.
Nubuat Zakharia bisa bantu kita.
Wah tips bagus tuh. Kita harus bener-bener
berupaya ngebayangin apa yang kita baca.
Iya, kayak judul artikel yang kamu temuin tadi ya:
”Apakah Saudara Juga Melihat Apa yang Zakharia Lihat?”
Jadi apa pelajarannya untuk kita?
Jujur aja, aku kadang merasa capek banget.
Selain kegiatan kita di sidang, kita kan juga
punya tanggung jawab keluarga, harus cari nafkah,
dan mikirin kesehatan kita.
Terus, ada tekanan yang enggak
pernah berhenti dari dunia Setan.
Jadi kadang, di hari perhimpunan, aku
rasanya males banget untuk berhimpun fisik.
Iya, aku juga.
Tapi kalau aku renungin penglihatan Zakharia,
aku jadi yakin Yehuwa pasti bisa
bikin aku lebih kuat dan semangat.
Aku setuju. Kalau aku mulai enggak semangat,
aku biasanya doa minta kuasa
kudus dan langsung bertindak.
Jadi kadang, meskipun males, aku
tetap pergi berhimpun atau dinas.
Aku yakin, Yehuwa akan kasih aku kekuatan.
Aku juga mau niru Yehuwa dengan berupaya
sebisa-bisanya untuk nguatin orang lain,
terutama mereka yang mungkin lagi kecil hati atau takut.
Aku mau yakinin mereka kalau Yehuwa sayang
sama mereka dan pasti akan kasih mereka kekuatan.
Bagus, Sayang.
Kita juga bisa ingat ini, ya, kalau nanti kita
ngalamin penganiayaan atau keadaan yang menakutkan.
Kayak yang kamu bilang tadi, keberhasilan kita
enggak bergantung sama kemampuan atau
keadaan kita tapi sama kuasa kudus Yehuwa.
Jadi kita udah pakai beberapa cara nih untuk belajar.
Tadi kita mulai dari bagian yang menarik,
pakai Indeks Ayat, dan
membayangkan apa yang kita baca.
Kita jadi dapat banyak pelajaran ya.
Bener. Kayaknya seru juga nih
kalau kita bahas soal ”dua tongkat”.
Boleh. Aku juga mau riset soal nubuat tentang
Mesias dan hubungannya sama tema Alkitab.
Misalnya, gimana tindakan Zakharia bikin
kita yakin bahwa Yesus adalah Mesias?
Dan masih ada banyak
penglihatan lain yang bisa kita bahas.
Wah, kayaknya buku Zakharia masih harus
kita bahas nih beberapa minggu ke depan.
Pelajaran yang sangat bagus!
Keberhasilan tidak bergantung
pada kemampuan atau keadaan kita.
Yehuwa bisa memberkati kita
melalui kuasa kudus-Nya kalau kita taat. 
Salah satu cara agar bisa tetap fokus melayani Yehuwa
adalah dengan menjadi komuter di Betel.
Mari lihat pengalaman satu saudari
di video Satu Hari Sebagai Komuter Betel.
Nama saya Hye-in.
Saya melayani sebagai komuter
di kantor cabang Korea.
Sebagai komuter saat tertentu,
hari kerja saya tiap minggu berbeda-beda,
bergantung kebutuhan.
Perjalanan dari rumah ke Betel
sangat bergantung seberapa macet jalanan,
tapi biasanya sekitar 45 menit sampai satu jam.
Untungnya, saya suka menyetir,
jadi saya enggak merasa perjalanannya melelahkan.
Hari saya di Betel diawali
dengan ibadah pagi.
Baru-baru ini, saya suka satu topik
yang dibahas di ibadah pagi,
yang diambil dari Yakobus 1:2-4.
Kita jadi bisa memandang kesulitan
dan tantangan sebagai ”guru”
yang bantu kita untuk bertumbuh.
Memang, waktu hadapi situasi sulit,
enggak mudah untuk bertanya ke diri sendiri,
’Apa yang bisa saya pelajari
dari kesulitan ini?’
Tapi, kalau kita tetap bertekun dan bersukacita
dengan terus lakukan pelajaran pribadi,
baca Alkitab, berdoa, dan merenung,
kita akhirnya bisa tersenyum
dan berhasil mengatasi kesulitan apa pun.
Ibadah pagi selalu menguatkan saya.
Pasti ada saja yang bisa saya pelajari.
Saya melayani di
Departemen Transportasi.
Departemen kami menyediakan transportasi
ke Betel bagi para pelayan sepenuh waktu
khusus yang datang dari negeri lain.
Saya selalu berupaya untuk ingat
bahwa pekerjaan kita di Betel
mendukung pekerjaan pengabaran.
Tiap kali saya ketemu pelayan sepenuh
waktu khusus dari luar negeri yang datang ke Betel,
mereka selalu merasa sangat bersyukur,
dan itu membuat saya jadi sadar
apa yang saya lakukan ini
sangat bermanfaat buat mereka.
Saya merasa sangat puas.
Perjalanan di mobil biasanya 1,5 sampai 2 jam.
Meski kami baru pertama ketemu,
tapi rasanya seperti berjumpa dengan teman lama.
Kami saling cerita bagaimana
Yehuwa menguatkan kami,
misalnya bagaimana Dia bantu kami
bertekun di masa-masa sulit.
Saya benar-benar menikmati
percakapan di sepanjang perjalanan.
Awalnya, saya merasa ragu
untuk melayani di Betel.
Tapi suatu hari,
teman dekat saya bilang ke saya,
”Kita enggak boleh pilih-pilih tugas
dalam melayani Yehuwa.”
Setelah saya merenungkannya,
saya jadi sadar kata-kata itu memang benar.
Jadi, saya putuskan untuk isi formulir
dan serahkan sisanya ke tangan Yehuwa.
Ya, begitulah ceritanya.
Dan sampai sekarang,
saya masih melayani di Betel.
Dulu, saya sempat kesulitan
mengatur jadwal pekerjaan sekuler saya.
Jadi saya khawatir, kalau bantu Betel,
apakah saya masih bisa
memenuhi kebutuhan materi saya?
Tapi waktu mulai bantu Betel,
apa yang saya khawatirkan tidak terjadi,
dan semuanya berjalan
dengan sangat lancar.
Selain bantu Betel dan kerja sekuler,
saya juga sempat harus mengurus
beberapa anggota keluarga saya.
Jadi, untuk mempertahankan rutin rohani,
saya selalu luangkan satu hari khusus
setiap minggu untuk pelajaran pribadi.
Itu benar-benar penting,
karena waktu saya mulai merasa kewalahan,
rutin rohani inilah yang
kasih saya kekuatan lagi
sehingga saya bisa terus melayani
di Betel dan tetap semangat berdinas.
Itu seperti masker oksigen rohani buat saya.
Jadi, tidak soal sesibuk apa pun,
saya selalu sisihkan waktu
untuk lakukan rutin rohani.
’Satu hari di rumah Yehuwa
lebih baik daripada seribu hari di tempat lain!’
Saya selalu pikirkan ayat ini
tiap kali saya mau berangkat ke Betel.
Dan apa pun tugas yang akan saya terima,
saya mau terus layani Yehuwa
dengan sukacita dan penuh rasa syukur.
Untuk menjadi komuter, kita perlu fokus
dan mengerahkan banyak tenaga.
Nah, apa yang membantu Hye-in
tetap seimbang dan tidak kelelahan?
Dia mengatur waktunya dengan baik dan
membuat jadwal untuk pelajaran pribadi. 
Mempelajari Firman Allah
bisa menjaga mata rohani kita tetap sehat
sehingga kita bisa melihat masa depan dengan jelas.
Nah, mari lihat teladan Nabi Daniel
dalam video ibadah pagi berikut.
Tema kita hari ini adalah
”Perkuat Keyakinan Saudara akan Kasih Setia Yehuwa”.
Kenapa kita perlu melakukannya?
Bisa jadi karena apa yang kita alami di masa lalu.
Mungkin cara kita dibesarkan, kesalahan yang pernah kita buat,
atau hal-hal yang kita alami bisa saja membuat kita ragu
apakah Yehuwa menyayangi kita.
Selain itu, ada juga situasi yang buat kita khawatir sekarang.
Mungkin tanggung jawab keluarga, beban pekerjaan,
masalah kesehatan, atau kesulitan lainnya.
Semua itu buat kita sadar bahwa
kita butuh kasih dan bantuan Yehuwa.
Dan, kita tahu kita akan menghadapi kesulitan di masa depan,
misalnya ujian iman.
Kita mungkin tidak yakin apakah kita bisa tetap setia.
Jadi, tidak soal apa yang kita alami di masa lalu, sekarang,
atau di masa depan, kita mau perkuat
keyakinan kita akan kasih setia Yehuwa.
Salah satu hal yang bisa bantu kita adalah merenungkan
kata-kata Daniel di Daniel 9:4.
Sebagian ayatnya tadi sudah
dikutip di komentar ayat harian kita.
Mari kita buka Daniel 9:4.
Daniel berkata, ”Saya berdoa untuk mengaku dosa
kepada Yehuwa Allah saya, ’Oh Yehuwa, Allah yang benar,
Allah yang agung dan menakjubkan, yang menepati perjanjian-Nya,
yang menunjukkan kasih setia kepada orang yang mengasihi-Nya
dan menaati perintah-Nya.’”
Itu sebagian dari doa yang Daniel ucapkan.
Dia menyebutkan bahwa Yehuwa menunjukkan kasih setia
dan menepati perjanjian-Nya
kepada orang yang mengasihi-Nya
dan menaati perintah-Nya.
Nah, kalau kita pelajari lagi doanya dan cari tahu
apa yang sebenarnya terjadi
pada waktu doa itu disampaikan,
kita bisa semakin yakin bahwa Yehuwa
akan menunjukkan kasih setia-Nya.
Nah, apa yang membuat Daniel menyampaikan doa itu?
Mari kita baca Daniel 9:2,
”Pada tahun pertama dia memerintah,
saya, Daniel, memahami dari buku-
buku bahwa menurut firman Yehuwa
kepada Nabi Yeremia, Yerusalem
akan dibiarkan hancur selama 70 tahun.”
Jadi, kapan doa itu diucapkan?
Itu tahun 539 sebelum Masehi, dan waktu itu
Yerusalem sudah dibiarkan hancur selama 68 tahun.
Karena itu, Daniel memeriksa ”buku-buku”,
atau di catatan kaki ”maksudnya, kitab-kitab suci”.
Jadi selain tulisan Yeremia,
saat itu kemungkinan dia
juga bisa membaca tulisan Musa,
Yesaya, Yehezkiel, Amos, dan Hosea.
Jadi, Daniel pasti membaca Yeremia 29:10.
Ayat itu mengatakan, ”Sebab inilah yang Yehuwa katakan:
’Setelah 70 tahun di Babilon itu berakhir,
Aku akan mengingat kalian lagi, dan Aku akan menepati
janji-Ku dengan membawa kalian kembali ke sini.’”
Daniel bisa lihat bahwa hal-hal yang terjadi
saat itu sesuai dengan nubuat Alkitab.
Dia tahu bahwa Kores yang saat itu sedang memerintah
akan membebaskan bangsa Israel
seperti yang sudah dinubuatkan.
Memang, Daniel tidak tahu persis
bagaimana nubuat itu akan jadi kenyataan.
Tapi, dia tahu itu akan segera terjadi.
Karena itulah dia menyampaikan doa tadi
dan berfokus pada kasih setia Yehuwa.
Nah, doa Daniel dicatat di ayat 4 sampai ayat 19.
Dari isi doa Daniel, kita tahu bahwa dia memikirkan
kata-kata Yeremia, dan dia yakin akan nubuat itu.
Bahkan sebuah referensi mengatakan,
”Doa Daniel tidak hanya didasarkan atas
satu atau dua ayat dari buku Yeremia,
tapi atas seluruh buku itu.”
Doa Daniel menunjukkan bahwa bangsa Israel
sangat membutuhkan kasih setia Yehuwa.
Dia membandingkan antara
Yehuwa yang setia dan beriba hati
dengan bangsa Israel yang tidak
taat dan menolak petunjuk-Nya.
Dan dalam doanya, Daniel menegaskan
bahwa semua yang mereka alami
terjadi persis seperti yang
sudah Yehuwa nubuatkan.
Ayat 13 mengatakan, ”Semua bencana itu menimpa kami,
persis seperti yang tertulis di Hukum Musa.”
Daniel tahu bahwa nubuat
itu tidak hanya menyebutkan
tentang apa yang akan dialami orang Israel,
tapi juga janji bahwa mereka akan kembali ke negeri mereka.
Buku Imamat, Ulangan, Yesaya, dan Yeremia berisi janji
bahwa kalau Israel bertobat,
Yehuwa akan memulangkan mereka
ke negeri asal mereka.
Perhatikan akhir dari doa Daniel di ayat 19:
”Oh Yehuwa, dengarlah. Oh Yehuwa, ampunilah.
Oh Yehuwa, perhatikanlah dan bertindaklah!
Oh Allahku, demi kepentingan-Mu
sendiri, janganlah menunda,
karena kota-Mu dan umat-Mu ini menyandang nama-Mu.”
Jadi, Daniel memohon agar Yehuwa bertindak
demi kepentingan-Nya sendiri.
Nah perhatikan, di buku Daniel
nama Yehuwa muncul 19 kali;
18 diantaranya ada di pasal 9,
dan 14 kali muncul dalam
doa yang Daniel sampaikan.
Nah, kenapa Daniel berdoa dan memohon demi nama Yehuwa?
Daniel tahu bahwa kalau Yehuwa tidak bertindak,
itu akan merusak nama baik Yehuwa.
Kalau Yehuwa tidak menepati
janji-Nya untuk membebaskan
bangsa Israel, itu bisa mencela nama-Nya.
Daniel juga tahu bahwa untuk bisa benar-benar memahami
siapa Yehuwa itu dan apa arti nama-Nya,
dia perlu mengakui bahwa Yehuwa
memang Allah yang penuh kasih setia.
Dan waktu Yehuwa bertindak demi umat-Nya,
Yehuwa turut menyucikan nama-Nya.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari doa Daniel,
yang bisa meyakinkan kita akan kasih setia Yehuwa?
Yang pertama: Yehuwa tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Hal-hal buruk yang orang Israel alami memang terjadi
persis seperti yang Yehuwa katakan.
Tapi kalau mereka bertobat, mereka bisa menikmati
semua hal baik yang Yehuwa janjikan.
Dan memang, itulah yang terjadi.
Itu pasti menguatkan kita, ya.
Kadang kita mungkin buat kesalahan, tapi kalau
kita memperbaiki kesalahan kita, kita bisa yakin
bahwa Yehuwa akan membantu kita.
Sama seperti Yehuwa mendukung Daniel dan orang Israel,
Dia juga tidak akan meninggalkan kita.
Pelajaran kedua adalah mempelajari nubuat Alkitab bisa
memperkuat keyakinan kita akan kasih setia Yehuwa
dan membuat kita semakin yakin
bahwa Yehuwa akan bertindak.
Itulah manfaat yang Daniel rasakan
karena belajar nubuat Alkitab.
Artikel Menara Pengawal Agustus 2023 yang
berjudul ”Belajar dari Nubuat Alkitab” mengatakan,
”Sewaktu kita menyadari bahwa beberapa nubuat
dalam firman Allah sudah menjadi kenyataan,
kita pun bisa percaya sepenuhnya kepada Yehuwa
dan semua petunjuk yang Dia berikan. . . .
Nubuat Alkitab tentang masa
depan juga bisa membantu kita
untuk tetap berpikiran positif, tidak soal
kesulitan apa yang kita hadapi sekarang.”
Pelajaran ketiga: Kasih setia Yehuwa berkaitan erat
dengan nama Yehuwa dan siapa Dia.
Daniel tahu hal itu, dan kita juga.
Salah satu cara Yehuwa menunjukkan siapa Dia adalah
dengan memperlihatkan kasih-Nya kepada kita.
Yehuwa akan bertindak
demi nama-Nya, dan itu pasti
membuat kita sangat yakin bahwa Yehuwa
akan menepati janji-Nya untuk menjaga kita.
Pelajaran keempat: Yehuwa menyingkapkan berbagai hal
pada waktu yang tepat.
Daniel bisa melihat kaitan peristiwa
saat itu dengan nubuat Alkitab,
dan Yehuwa memberikan informasi
yang dia butuhkan saat dia butuh itu.
Yehuwa juga lakukan hal yang sama untuk umat-Nya sekarang.
Ada semakin banyak pemahaman
yang diperjelas tentang nubuat Alkitab,
termasuk penjelasan tentang kesengsaraan besar.
Itu semua bukti bahwa Yehuwa sedang membimbing kita.
Jadi dengan merenungkan doa Daniel,
kita bisa semakin yakin akan kasih setia Yehuwa.
Dan kita bisa yakin tidak
soal apa yang pernah kita alami,
sedang kita alami, atau
akan kita alami di masa depan,
Yehuwa akan menunjukkan kasih setia-Nya.
Hanya dari beberapa ayat, pelajarannya banyak ya!
Saya suka poin soal mempelajari Alkitab
bisa membantu kita menatap masa depan dengan yakin. 
Nanti di masa depan, kita akan menyambut
jutaan orang yang dibangkitkan.
Siapa orang yang paling Saudara rindukan,
yang ingin sekali Saudara peluk?
Teruslah pikirkan orang itu sambil
menonton video musik bulan ini, Hidup Kembali. 
Tak mudah untuk berpisah
Kehilangan orang tersayang
Kawanku, luapkanlah
Rasa duka yang tak kunjung hilang
’Kan tiba waktunya, hari bahagia
Saat Kristus bangkitkan yang t’lah tiada
Kita menunggu dengan rasa rindu
Mereka ’kan dengar suaranya dan hidup kembali
Teringat kenangan indah
Kau mungkin merasa sepi di hati
Cerita pada Yehuwa
Dapatkan penghiburan sejati
’Kan tiba waktunya, hari bahagia
Saat Kristus bangkitkan yang t’lah tiada
Kita menunggu dengan rasa rindu
Mereka ’kan dengar suaranya dan hidup kembali
Coba bayangkan kau di sana, di Firdaus
Melihat senyuman itu,
senyum manis yang kau rindu
Dengan penuh haru, kau berlari memeluknya
Lenyap segala dukamu,
hal yang dulu t’lah berlalu
’Kan tiba waktunya, hari bahagia
Saat Kristus bangkitkan yang t’lah tiada
Kita menunggu dengan rasa rindu
Mereka ’kan dengar suaranya dan hidup kembali
Bersama kembali
Kita pasti merindukan orang-orang yang kita sayangi
yang sudah meninggal, dan Yehuwa juga.
Alkitab mengatakan:
”Di mata-Nya, mereka semua hidup.” 
Iman kita bisa dikuatkan waktu membaca
janji-janji Yehuwa di Alkitab dalam bahasa kita sendiri.
Nah, apa yang sudah dilakukan organisasi Yehuwa
untuk membuat Alkitab tersedia dalam banyak bahasa? 
Waktu Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru
dirilis dalam bahasa Inggris tahun 1950,
Saudara Knorr menjelaskan tujuannya,
yaitu untuk menyediakan . . .
Sejak itu, secara bertahap, jilid demi jilid dirilis
sampai pada tahun 1961,
Terjemahan Dunia Baru edisi lengkap
dalam bahasa Inggris diterbitkan.
Akhirnya, kita punya Alkitab
bahasa Inggris yang akurat,
mudah dibaca, dan memuat nama Yehuwa.
Selain itu, penerjemahan Kitab-Kitab Yunani Kristen
ke enam bahasa lain sedang berlangsung,
masing-masing oleh satu penerjemah.
Dan tahun 1963,
mereka berhasil menyelesaikan proyek itu. 
Tapi, proses menerjemahkan Alkitab
ke bahasa lain berjalan cukup lama.
Beberapa bahasa bahkan baru bisa selesai
setelah lebih dari 20 tahun.
Bayangkan, sekitar 30 tahun
sejak bahasa Inggrisnya dirilis,
baru ada 12 bahasa yang tersedia.
Karena itu, pada 1989, untuk mempercepat
proses penerjemahan Alkitab,
Badan Pimpinan membentuk departemen baru
di kantor pusat, yaitu Layanan Penerjemahan. 
Tugas departemen ini adalah untuk
mendukung para penerjemah menerjemahkan Alkitab
dan publikasi-publikasi berdasarkan Alkitab,
melatih para penerjemah,
dan menjawab pertanyaan dari para
penerjemah di seluruh dunia.
Pertanyaan yang sering diajukan
para penerjemah biasanya seputar keakuratan. 
Nah, bagaimana departemen ini mengatur
dan mempersiapkan tim penerjemah
sebelum memulai proyek Alkitab?
Pertama-tama, mereka akan memberikan
pelatihan tentang prinsip-prinsip penerjemahan.
Ini termasuk caranya menerjemahkan ungkapan,
makna dari ayat-ayat tertentu,
dan berbagai gambaran yang ada di Alkitab. 
Untuk beberapa ayat yang sulit diterjemahkan,
para penerjemah membutuhkan gambar atau diagram,
yang bisa membantu mereka
menerjemahkan dengan akurat.
Mereka juga akan memilih kata atau ungkapan yang bisa
dengan jelas menyampaikan makna dari teks aslinya. 
Nah, kalau mereka punya pertanyaan,
mereka bisa mengirimkan itu ke Layanan Penerjemahan.
Pertanyaan dan jawaban itu akan
tersimpan di sebuah program komputer.
Saat ini, sudah ada 140.000 pertanyaan
tentang penerjemahan Alkitab.
Nah, para penerjemah bisa belajar
dari pertanyaan dan jawaban itu
sehingga mereka bisa menerjemahkan
dengan lebih baik dan lebih cepat. 
Waktu ditanya, ”Alkitab Terjemahan Dunia Baru
akan diterjemahkan ke dalam bahasa apa saja?”,
Saudara Albert Schroeder dari
Badan Pimpinan menjawab,
”Ke dalam semua bahasa yang
menerjemahkan majalah Menara Pengawal.”
Dengan adanya terjemahan Alkitab yang akurat,
orang-orang jadi lebih mudah
mempelajari kebenaran. 
Tahun 1995,
saudara-saudara menyadari bahwa bahasa-bahasa lain
juga butuh terjemahan Alkitab yang akurat.
Kalau suatu bahasa tidak punya
Alkitab Terjemahan Dunia Baru,
Alkitab terjemahan lainlah yang akan dipakai.
Kadang, jumlahnya pun terbatas.
Beberapa sidang besar hanya punya satu
atau dua Alkitab untuk digunakan bersama.
Selain itu, terjemahannya tidak akurat
dan mendukung ajaran yang salah.
Bahkan, beberapa terjemahan mengganti nama Yehuwa
dengan nama dewa-dewa setempat. 
Nah, melihat pelatihan bagi penerjemah sudah
berjalan dan peralatan juga sudah tersedia,
tahun 2004, Badan Pimpinan memutuskan agar Alkitab
diterjemahkan ke dalam lebih banyak bahasa.
Tim yang berpengalaman
menerjemahkan Menara Pengawal
sekarang berfokus menerjemahkan Alkitab.
Ini terjadi seperti yang dikatakan Saudara Schroeder.
Bayangkan besarnya pekerjaan
yang harus dilakukan para penerjemah! 
Nah, setelah terjemahan Alkitab itu dirilis,
apa pekerjaan mereka sudah selesai?
Belum.
Karena bahasa terus berubah,
terjemahannya pun perlu diperbarui,
tapi tetap mempertahankan maknanya. 
Saat ini, ada hampir 700 saudara-saudari yang
bekerja sepenuh waktu untuk menerjemahkan Alkitab.
Bayangkan, Saudara hanya perlu
beberapa detik untuk mendownload Alkitab,
tapi butuh waktu lima sampai tujuh tahun
untuk menerjemahkannya.
Berkat bantuan Yehuwa,
sekarang Alkitab Terjemahan Dunia Baru
tersedia dalam lebih dari 325 bahasa.
Alkitab itu memuat nama Yehuwa,
isinya akurat, dan mudah dibaca. 
Bahkan, Terjemahan Dunia Baru juga tersedia
dalam bahasa-bahasa yang penyiarnya sedikit.
Bagaimana reaksi mereka waktu menerima itu?
Mereka senang dan bersemangat
membagikan isinya kepada yang lain.
Menerjemahkan Alkitab untuk
”setiap suku, ras, bahasa, dan bangsa”
adalah sebuah langkah agar kabar baik bisa
menyentuh hati sebanyak mungkin orang. 
Tapi, langkah terpenting ada pada Saudara.
Sewaktu membaca Alkitab,
biarkan isinya menyentuh hati Saudara
sehingga Saudara tergerak
untuk membagikan itu kepada yang lain. 
Apa Saudara ikut senang bersama
saudara-saudari di video tadi?
Pasti, ya.
Kita semua senang waktu menerima
Terjemahan Dunia Baru dalam bahasa kita.
Apa yang sudah kita pelajari?
Dengan bimbingan Alkitab, kita bisa menjaga
’mata kita tetap sederhana dan tubuh kita terang’.
Kita bisa semakin bahagia
kalau kita mau meluaskan pelayanan,
meski kita perlu membuat pengorbanan. 
Kalau tempat tinggal Saudara dekat dengan Betel,
bisakah Saudara membantu pekerjaan
di Betel dengan melayani sebagai komuter? 
Buku Zakharia bisa membantu kita
membayangkan kuasa Yehuwa yang sangat besar,
dan bagaimana kita bisa menguatkan orang lain.
Lagu bulan ini sangat bagus!
Apa Saudara tersentuh melihat video musiknya?
Kita pasti menunggu-nunggu saatnya orang yang kita
sayangi yang sudah meninggal dibangkitkan di dunia baru! 
Bulan ini kita akan jalan-jalan ke Luksemburg.
Mari kita kunjungi saudara-saudari di sana. 
Luksemburg adalah sebuah negeri kecil
yang terletak di jantung Eropa.
Namanya diambil dari kata yang berarti ”benteng kecil”.
Nama itu cocok karena ada lebih dari
70 kastil yang tersebar di sana.
Ini adalah Kastil Bourscheid yang dikelilingi
11 menara dan terletak di atas bukit di dekat Sungai Sûre.
Tidak jauh dari sana ada Kastil Vianden
yang sudah berdiri lebih dari 700 tahun.
Kastil ini dibangun di atas fondasi yang dibuat
oleh orang-orang Roma pada abad ketiga Masehi.
Sama seperti kastil-kastil ini
yang sudah lama berdiri kokoh,
Saksi-Saksi Yehuwa di sana juga punya iman
yang terbukti kokoh meski menghadapi banyak ujian.
Contohnya, Eugene Reuter, yang menyediakan
rumahnya sebagai tempat pekerjaan Kerajaan
meski ada tentangan dari para pemimpin agama.
Tahun 1933,
rumahnya menjadi tempat pertama di negeri itu
yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan
dan penyebaran publikasi kita. 
Eugene juga memasang tanda
Lembaga Menara Pengawal di samping pintu rumahnya.
Itu bukti dia berani menunjukkan imannya.
Waktu penjajahan Jerman tahun 1940,
Rosalie Fonck ditangkap karena
di rumahnya ditemukan bacaan Saksi Yehuwa.
Polisi memaksa dia untuk memberitahukan
nama-nama rekan seimannya dan pemimpinnya.
Tapi, dia mengatakan,
”Pemimpin saya adalah Allah Yehuwa.” 
Di tahun yang sama, Victor Bruch
dipenjarakan karena menolak untuk ikut berperang.
Dia lalu dikirim ke kamp konsentrasi Buchenwald.
Saudara-saudara kita di sana
dipaksa untuk berdiri berjam-jam,
bekerja di malam hari,
dan berjalan jauh menggunakan sepatu kayu
yang tidak nyaman, tapi mereka saling menguatkan.
Belakangan Victor dipindahkan ke Auschwitz.
Di sana, dia tetap setia dan terus
membagikan kebenaran kepada orang lain. 
Sampai sekarang, iman dan semangat yang sama masih
terus ditunjukkan oleh saudara-saudari di Luksemburg.
Saat ini, ada lebih dari 2.000 penyiar
yang mengabar dalam sepuluh bahasa.
Saudara-saudari saling menguatkan
dengan sering berkumpul bersama
sambil menikmati sup buncis serta
olahan daging babi dan kacang-kacangan.
Mereka juga sangat semangat
bernyanyi di perhimpunan. 
Mari dengar ke-84 saudara-saudari kita
dari Sidang Allemand yang bernyanyi memuji Yehuwa.
Saudara-saudari kita di Luksemburg mengirimkan
salam dan kasih Kristen untuk kita semua.
Kami menyayangi kalian.
Dari kantor pusat Saksi-Saksi Yehuwa,
inilah JW Broadcasting.