00:00:00
Hari ini, kita akan membahas tentang pengorbanan.00:00:04
00:00:04
Di pertemuan regional ”Ibadah Murni”,
kita belajar bahwa menyembah Yehuwa00:00:10
00:00:10
mencakup memberikan sesuatu untuk Yehuwa
dan membuat pengorbanan untuk-Nya.00:00:15
00:00:15
Nah, baik di sidang maupun di Betel,00:00:18
00:00:18
kita bisa melihat teladan dari banyak saudara-saudari00:00:21
00:00:21
yang sudah membuat pengorbanan
dalam melayani Yehuwa. 00:00:25
00:00:26
Tapi sekarang, yang mau kita bahas bukan apa00:00:30
00:00:30
atau seberapa banyak yang
kita berikan kepada Yehuwa.00:00:33
00:00:33
Tapi, kenapa, atau alasannya,
kita membuat pengorbanan untuk Yehuwa.00:00:40
00:00:40
Karena itu, kita mau belajar dari kisah putri Yefta.00:00:46
00:00:46
Kita akan lihat apa seharusnya alasan kita
membuat pengorbanan bagi Yehuwa. 00:00:52
00:00:53
Nah, kisahnya pasti sudah tidak asing lagi ya.00:00:56
00:00:56
Sebelum pergi berperang,00:00:58
00:00:58
Yefta membuat ikrar kepada Yehuwa bahwa kalau
Yehuwa membantu dia mengalahkan musuh,00:01:04
00:01:04
orang pertama yang keluar dari rumahnya untuk
menemui dia akan melayani Yehuwa di tabernakel. 00:01:10
00:01:11
Kita tahu apa yang terjadi ya.00:01:13
00:01:13
Orang pertama yang menemui Yefta
adalah putri satu-satunya.00:01:17
00:01:17
Berarti, putrinya yang akan melayani
Yehuwa seumur hidupnya di tabernakel,00:01:23
00:01:23
dan dia tidak bisa menikah.00:01:25
00:01:25
Sebenarnya, ada banyak yang
bisa kita pelajari dari kisah ini.00:01:29
00:01:29
Kisah ini sangat menarik.00:01:31
00:01:32
Tapi kali ini, kita akan berfokus
pada reaksi putri Yefta,00:01:36
00:01:36
atau tanggapan dia waktu mendengar ikrar ayahnya.00:01:40
00:01:40
Mari buka Alkitab kita di Hakim-Hakim pasal 11. 00:01:44
00:01:47
Bagaimana reaksi putri Yefta00:01:50
00:01:50
waktu mendengar bahwa ikrar yang dibuat
ayahnya bisa memengaruhi kehidupannya?00:01:56
00:01:56
Di Hakim pasal 11:35 bagian b, ayahnya berkata,00:02:01
00:02:01
”Aku sudah berjanji kepada Yehuwa,
dan aku tidak bisa membatalkannya.”00:02:05
00:02:05
Nah, bagaimana reaksi putri Yefta?00:02:08
00:02:08
Biasanya kita langsung lihat ayat 37 ya.00:02:11
00:02:11
”Izinkan aku sendirian selama dua bulan.”00:02:13
00:02:13
Jadi, dia butuh waktu untuk berdoa dan merenung. 00:02:16
00:02:17
Tapi sebenarnya, bukan itu reaksi pertama dia.00:02:20
00:02:21
Reaksi pertamanya dicatat di ayat 36.00:02:24
00:02:25
”Tapi anaknya berkata, ’Ayahku,
kalau Ayah sudah berjanji kepada Yehuwa,00:02:31
00:02:31
lakukanlah kepadaku seperti yang Ayah janjikan.’”00:02:34
00:02:34
’Lakukan kepadaku seperti yang Ayah janjikan.’00:02:38
00:02:38
Dia langsung mendukung janji ayahnya.00:02:40
00:02:41
Dia tidak ragu sama sekali, dia yakin.00:02:44
00:02:45
’Saya siap lakukan itu.’00:02:47
00:02:47
Luar biasa ya.00:02:49
00:02:49
Tapi, apa dia mengerti apa yang akan dia alami?00:02:53
00:02:54
Apa dia melakukannya karena
dia tahu bahwa tidak ada pilihan lain?00:02:58
00:02:58
Atau, apa dia melakukannya
untuk menyenangkan ayahnya? 00:03:02
00:03:02
Kita tidak perlu menebak-nebak.00:03:04
00:03:04
Putri Yefta menjelaskan
kenapa dia mau melakukannya.00:03:08
00:03:08
Perhatikan bagian akhir dari ayat 36:00:03:10
00:03:11
”Lakukanlah kepadaku seperti yang Ayah janjikan00:03:14
00:03:14
[Perhatikan alasannya] karena Yehuwa sudah
membantu Ayah membalas musuh Ayah,00:03:19
00:03:19
orang Ammon.”00:03:20
00:03:21
”Karena Yehuwa sudah membantu
Ayah membalas musuh Ayah.”00:03:25
00:03:26
Kita tidak tahu nama putri Yefta,00:03:29
00:03:29
tapi dari kata-katanya, kita tahu
apa yang ada dalam hatinya.00:03:33
00:03:33
Dia menyayangi Yehuwa dan
bersyukur atas apa yang Yehuwa lakukan. 00:03:37
00:03:37
Itulah kenapa dia rela mendukung ikrar ayahnya.00:03:40
00:03:40
Dia bersyukur atas apa yang Yehuwa
lakukan bagi Israel, bagi ayahnya,00:03:46
00:03:46
dan pasti bagi dia juga.00:03:48
00:03:49
Coba kita lihat kenapa kemenangan
Israel sangat berarti bagi putri Yefta.00:03:54
00:03:54
Untuk tahu lebih jelasnya,
mari kita lihat Hakim-Hakim pasal 10.00:03:59
00:03:59
Orang Ammon menindas
orang Israel selama 18 tahun.00:04:03
00:04:03
Jadi sejak kecil, putri Yefta merasakan hidup yang susah00:04:08
00:04:08
dan hidup dalam ketakutan,
takut ditindas, takut diserang.00:04:13
00:04:14
Apalagi putri Yefta tinggal di daerah
sebelah timur Sungai Yordan.00:04:18
00:04:18
Daerah itu sangat dekat dengan orang Ammon,00:04:20
00:04:20
karena itu daerah itu sering diserang. 00:04:23
00:04:24
Alkitab mengatakan bahwa orang Ammon
”menghancurkan dan menindas” daerah itu.00:04:30
00:04:30
Karena sangat tertekan,
orang Israel memohon kepada Yehuwa,00:04:33
00:04:33
’Selamatkanlah kami dari orang Ammon.’00:04:36
00:04:36
Bisa jadi, itu juga doa putri Yefta. 00:04:39
00:04:41
Nah sekarang, bayangkan waktu ayahnya
pergi berperang melawan orang Ammon.00:04:45
00:04:45
Alkitab bilang putri Yefta merasa senang
waktu ayahnya kembali dari peperangan.00:04:50
00:04:50
Tapi, apakah Saudara pernah
membayangkan bagaimana perasaannya00:04:54
00:04:54
waktu ayahnya pergi berperang? 00:04:56
00:04:57
Dia pasti bangga melihat ayahnya rela
untuk berperang demi nama Yehuwa.00:05:02
00:05:02
Tapi, apa mungkin dia juga merasa khawatir?00:05:05
00:05:06
Apa mungkin dia berpikir ini
terakhir kalinya dia lihat ayahnya?00:05:10
00:05:12
Bayangkan dia berdoa meminta Yehuwa untuk
melindungi ayahnya dan memberikan kemenangan. 00:05:18
00:05:19
Tidak heran, waktu dia dengar
bahwa orang Israel menang,00:05:23
00:05:23
dan dia lihat ayahnya pulang,00:05:25
00:05:25
dia langsung lari menyambut ayahnya
dan menari menggunakan rebana.00:05:29
00:05:31
Dia sangat bersyukur,00:05:33
00:05:35
dia sangat senang.00:05:36
00:05:36
Dan karena rasa syukurnya itulah dia
tidak ragu untuk mendukung ikrar ayahnya,00:05:41
00:05:41
meskipun dia harus membuat pengorbanan besar.00:05:44
00:05:45
Rasa syukurlah yang menggerakkan dia
untuk membuat pengorbanan.00:05:50
00:05:50
Ya, kita membuat pengorbanan untuk
Yehuwa karena kita menyayangi Dia00:05:55
00:05:55
dan bersyukur atas semua
yang Dia lakukan untuk kita.00:05:58
00:05:59
Kita perlu memikirkan ini:
Bagaimana hidup kita tanpa Yehuwa?00:06:03
00:06:04
Dia sudah memberi kita kehidupan.00:06:06
00:06:06
Dia sudah menarik kita kepada-Nya.00:06:09
00:06:09
Dan Dia juga sudah memberi kita keluarga rohani. 00:06:13
00:06:13
Dan kita masing-masing bisa pikirkan apa saja
berkat yang sudah Yehuwa berikan kepada kita.00:06:19
00:06:20
Pikirkan doa-doa kita yang Dia jawab.00:06:23
00:06:24
Kalau kita terus punya rasa syukur kepada Yehuwa,00:06:28
00:06:28
itu bisa membuat kita bahagia00:06:32
00:06:32
tiap kali kita membuat pengorbanan untuk-Nya. 00:06:36
00:06:36
Bahkan, sering kali kita tidak menyadari kalau yang
kita lakukan itu sebenarnya suatu pengorbanan.00:06:42
00:06:43
Tapi, Yehuwa lihat itu.00:06:46
00:06:46
Dia lihat pengorbanan yang kita lakukan untuk-Nya00:06:49
00:06:49
meski kadang kita tidak sadar
kalau itu suatu pengorbanan. 00:06:53
00:06:53
Coba lihat lagi contoh putri Yefta di Hakim 11:39.00:06:58
00:06:59
”Dua bulan kemudian, dia pulang kepada ayahnya,00:07:03
00:07:03
lalu ayahnya menepati ikrar tentang anak itu.00:07:05
00:07:05
Anak itu tidak pernah melakukan
hubungan dengan seorang pria.”00:07:09
00:07:10
Ayatnya singkat tapi punya makna yang dalam.00:07:13
00:07:13
Itu menunjukkan putri Yefta setia kepada ikrarnya. 00:07:16
00:07:17
Dan kesetiaannya dicatat karena
Yehuwa ingin kita tahu hal itu.00:07:21
00:07:22
Yehuwa pasti bangga kepadanya.00:07:24
00:07:24
Yehuwa memperhatikan pengorbanan
yang dia buat dan ketekunannya.00:07:28
00:07:30
Bagus ya.00:07:31
00:07:32
Ayat itu juga kasih tahu kita sesuatu.00:07:34
00:07:35
Nah, siapa yang menulis ayat itu dan
memperhatikan pengorbanannya? 00:07:39
00:07:40
Kita tahu buku Hakim-Hakim ditulis oleh Samuel.00:07:44
00:07:44
Publikasi kita sering bilang
bahwa Samuel dan putri Yefta00:07:47
00:07:48
kemungkinan melayani
di tabernakel di periode yang sama.00:07:51
00:07:51
Nah kalau itu benar, berarti Samuel
tidak hanya tahu bahwa putri Yefta itu setia.00:07:57
00:07:57
Tapi, dia juga lihat teladan putri Yefta setiap hari,00:08:02
00:08:02
bahkan di saat terjadi situasi sulit di tabernakel. 00:08:05
00:08:06
Samuel juga mungkin bisa
mengerti keadaan putri Yefta00:08:09
00:08:09
karena mereka berada di tabernakel
dengan alasan yang sama,00:08:13
00:08:13
yaitu karena orang tua mereka
membuat ikrar kepada Yehuwa.00:08:17
00:08:18
Pasti putri Yefta menjadi teladan
yang bagus bagi Samuel. 00:08:22
00:08:23
Saya jadi ingat dengan
anak-anak muda di sekitar kita.00:08:27
00:08:27
Misalnya, anak muda yang
mulai merintis waktu lulus sekolah.00:08:30
00:08:31
Atau mungkin Saudara sendiri,
waktu Saudara baru masuk Betel.00:08:35
00:08:36
Atau adik Saudara atau
teman Saudara yang masih muda. 00:08:40
00:08:41
Mereka mungkin tidak kasih tahu Saudara
bahwa mereka kagum sama Saudara,00:08:45
00:08:45
tapi sebenarnya selama ini
Saudara jadi teladan buat mereka.00:08:49
00:08:49
Mereka tahu pengorbanan yang Saudara buat.00:08:52
00:08:52
Bahkan mereka perhatikan waktu
Saudara dengan semangat dan sukacita00:08:56
00:08:56
menceritakan tugas-tugas Saudara.00:08:58
00:08:58
Mereka juga mungkin perhatikan
kemajuan rohani Saudara.00:09:02
00:09:02
Saudara jadi teladan yang bagus untuk mereka,00:09:04
00:09:04
dan itu bisa membantu mereka
membuat keputusan yang baik. 00:09:08
00:09:09
Jadi, apa yang sudah kita pelajari hari ini?00:09:12
00:09:12
Apa yang membuat kita tergerak
membuat pengorbanan untuk Yehuwa?00:09:16
00:09:16
Bukan karena kewajiban atau untuk dilihat orang,00:09:20
00:09:20
tapi karena kasih kita dan
rasa syukur kita kepada Yehuwa.00:09:24
00:09:24
Keputusan yang kita buat
tidak hanya memuliakan Yehuwa,00:09:28
00:09:28
tapi juga bisa memotivasi orang lain. 00:09:31
00:09:31
Semoga kita terus melayani
Yehuwa dengan sepenuh hati,00:09:35
00:09:35
karena kita tahu Yehuwa menghargai
setiap pengorbanan yang kita buat. 00:09:41
D’Arcy MacEwan: Membuat Pengorbanan Karena Kasih dan Rasa Syukur (Hak. 11:36)
-
D’Arcy MacEwan: Membuat Pengorbanan Karena Kasih dan Rasa Syukur (Hak. 11:36)
Hari ini, kita akan membahas tentang pengorbanan.
Di pertemuan regional ”Ibadah Murni”,
kita belajar bahwa menyembah Yehuwa
mencakup memberikan sesuatu untuk Yehuwa
dan membuat pengorbanan untuk-Nya.
Nah, baik di sidang maupun di Betel,
kita bisa melihat teladan dari banyak saudara-saudari
yang sudah membuat pengorbanan
dalam melayani Yehuwa.
Tapi sekarang, yang mau kita bahas bukan apa
atau seberapa banyak yang
kita berikan kepada Yehuwa.
Tapi, kenapa, atau alasannya,
kita membuat pengorbanan untuk Yehuwa.
Karena itu, kita mau belajar dari kisah putri Yefta.
Kita akan lihat apa seharusnya alasan kita
membuat pengorbanan bagi Yehuwa.
Nah, kisahnya pasti sudah tidak asing lagi ya.
Sebelum pergi berperang,
Yefta membuat ikrar kepada Yehuwa bahwa kalau
Yehuwa membantu dia mengalahkan musuh,
orang pertama yang keluar dari rumahnya untuk
menemui dia akan melayani Yehuwa di tabernakel.
Kita tahu apa yang terjadi ya.
Orang pertama yang menemui Yefta
adalah putri satu-satunya.
Berarti, putrinya yang akan melayani
Yehuwa seumur hidupnya di tabernakel,
dan dia tidak bisa menikah.
Sebenarnya, ada banyak yang
bisa kita pelajari dari kisah ini.
Kisah ini sangat menarik.
Tapi kali ini, kita akan berfokus
pada reaksi putri Yefta,
atau tanggapan dia waktu mendengar ikrar ayahnya.
Mari buka Alkitab kita di Hakim-Hakim pasal 11.
Bagaimana reaksi putri Yefta
waktu mendengar bahwa ikrar yang dibuat
ayahnya bisa memengaruhi kehidupannya?
Di Hakim pasal 11:35 bagian b, ayahnya berkata,
”Aku sudah berjanji kepada Yehuwa,
dan aku tidak bisa membatalkannya.”
Nah, bagaimana reaksi putri Yefta?
Biasanya kita langsung lihat ayat 37 ya.
”Izinkan aku sendirian selama dua bulan.”
Jadi, dia butuh waktu untuk berdoa dan merenung.
Tapi sebenarnya, bukan itu reaksi pertama dia.
Reaksi pertamanya dicatat di ayat 36.
”Tapi anaknya berkata, ’Ayahku,
kalau Ayah sudah berjanji kepada Yehuwa,
lakukanlah kepadaku seperti yang Ayah janjikan.’”
’Lakukan kepadaku seperti yang Ayah janjikan.’
Dia langsung mendukung janji ayahnya.
Dia tidak ragu sama sekali, dia yakin.
’Saya siap lakukan itu.’
Luar biasa ya.
Tapi, apa dia mengerti apa yang akan dia alami?
Apa dia melakukannya karena
dia tahu bahwa tidak ada pilihan lain?
Atau, apa dia melakukannya
untuk menyenangkan ayahnya?
Kita tidak perlu menebak-nebak.
Putri Yefta menjelaskan
kenapa dia mau melakukannya.
Perhatikan bagian akhir dari ayat 36:
”Lakukanlah kepadaku seperti yang Ayah janjikan
[Perhatikan alasannya] karena Yehuwa sudah
membantu Ayah membalas musuh Ayah,
orang Ammon.”
”Karena Yehuwa sudah membantu
Ayah membalas musuh Ayah.”
Kita tidak tahu nama putri Yefta,
tapi dari kata-katanya, kita tahu
apa yang ada dalam hatinya.
Dia menyayangi Yehuwa dan
bersyukur atas apa yang Yehuwa lakukan.
Itulah kenapa dia rela mendukung ikrar ayahnya.
Dia bersyukur atas apa yang Yehuwa
lakukan bagi Israel, bagi ayahnya,
dan pasti bagi dia juga.
Coba kita lihat kenapa kemenangan
Israel sangat berarti bagi putri Yefta.
Untuk tahu lebih jelasnya,
mari kita lihat Hakim-Hakim pasal 10.
Orang Ammon menindas
orang Israel selama 18 tahun.
Jadi sejak kecil, putri Yefta merasakan hidup yang susah
dan hidup dalam ketakutan,
takut ditindas, takut diserang.
Apalagi putri Yefta tinggal di daerah
sebelah timur Sungai Yordan.
Daerah itu sangat dekat dengan orang Ammon,
karena itu daerah itu sering diserang.
Alkitab mengatakan bahwa orang Ammon
”menghancurkan dan menindas” daerah itu.
Karena sangat tertekan,
orang Israel memohon kepada Yehuwa,
’Selamatkanlah kami dari orang Ammon.’
Bisa jadi, itu juga doa putri Yefta.
Nah sekarang, bayangkan waktu ayahnya
pergi berperang melawan orang Ammon.
Alkitab bilang putri Yefta merasa senang
waktu ayahnya kembali dari peperangan.
Tapi, apakah Saudara pernah
membayangkan bagaimana perasaannya
waktu ayahnya pergi berperang?
Dia pasti bangga melihat ayahnya rela
untuk berperang demi nama Yehuwa.
Tapi, apa mungkin dia juga merasa khawatir?
Apa mungkin dia berpikir ini
terakhir kalinya dia lihat ayahnya?
Bayangkan dia berdoa meminta Yehuwa untuk
melindungi ayahnya dan memberikan kemenangan.
Tidak heran, waktu dia dengar
bahwa orang Israel menang,
dan dia lihat ayahnya pulang,
dia langsung lari menyambut ayahnya
dan menari menggunakan rebana.
Dia sangat bersyukur,
dia sangat senang.
Dan karena rasa syukurnya itulah dia
tidak ragu untuk mendukung ikrar ayahnya,
meskipun dia harus membuat pengorbanan besar.
Rasa syukurlah yang menggerakkan dia
untuk membuat pengorbanan.
Ya, kita membuat pengorbanan untuk
Yehuwa karena kita menyayangi Dia
dan bersyukur atas semua
yang Dia lakukan untuk kita.
Kita perlu memikirkan ini:
Bagaimana hidup kita tanpa Yehuwa?
Dia sudah memberi kita kehidupan.
Dia sudah menarik kita kepada-Nya.
Dan Dia juga sudah memberi kita keluarga rohani.
Dan kita masing-masing bisa pikirkan apa saja
berkat yang sudah Yehuwa berikan kepada kita.
Pikirkan doa-doa kita yang Dia jawab.
Kalau kita terus punya rasa syukur kepada Yehuwa,
itu bisa membuat kita bahagia
tiap kali kita membuat pengorbanan untuk-Nya.
Bahkan, sering kali kita tidak menyadari kalau yang
kita lakukan itu sebenarnya suatu pengorbanan.
Tapi, Yehuwa lihat itu.
Dia lihat pengorbanan yang kita lakukan untuk-Nya
meski kadang kita tidak sadar
kalau itu suatu pengorbanan.
Coba lihat lagi contoh putri Yefta di Hakim 11:39.
”Dua bulan kemudian, dia pulang kepada ayahnya,
lalu ayahnya menepati ikrar tentang anak itu.
Anak itu tidak pernah melakukan
hubungan dengan seorang pria.”
Ayatnya singkat tapi punya makna yang dalam.
Itu menunjukkan putri Yefta setia kepada ikrarnya.
Dan kesetiaannya dicatat karena
Yehuwa ingin kita tahu hal itu.
Yehuwa pasti bangga kepadanya.
Yehuwa memperhatikan pengorbanan
yang dia buat dan ketekunannya.
Bagus ya.
Ayat itu juga kasih tahu kita sesuatu.
Nah, siapa yang menulis ayat itu dan
memperhatikan pengorbanannya?
Kita tahu buku Hakim-Hakim ditulis oleh Samuel.
Publikasi kita sering bilang
bahwa Samuel dan putri Yefta
kemungkinan melayani
di tabernakel di periode yang sama.
Nah kalau itu benar, berarti Samuel
tidak hanya tahu bahwa putri Yefta itu setia.
Tapi, dia juga lihat teladan putri Yefta setiap hari,
bahkan di saat terjadi situasi sulit di tabernakel.
Samuel juga mungkin bisa
mengerti keadaan putri Yefta
karena mereka berada di tabernakel
dengan alasan yang sama,
yaitu karena orang tua mereka
membuat ikrar kepada Yehuwa.
Pasti putri Yefta menjadi teladan
yang bagus bagi Samuel.
Saya jadi ingat dengan
anak-anak muda di sekitar kita.
Misalnya, anak muda yang
mulai merintis waktu lulus sekolah.
Atau mungkin Saudara sendiri,
waktu Saudara baru masuk Betel.
Atau adik Saudara atau
teman Saudara yang masih muda.
Mereka mungkin tidak kasih tahu Saudara
bahwa mereka kagum sama Saudara,
tapi sebenarnya selama ini
Saudara jadi teladan buat mereka.
Mereka tahu pengorbanan yang Saudara buat.
Bahkan mereka perhatikan waktu
Saudara dengan semangat dan sukacita
menceritakan tugas-tugas Saudara.
Mereka juga mungkin perhatikan
kemajuan rohani Saudara.
Saudara jadi teladan yang bagus untuk mereka,
dan itu bisa membantu mereka
membuat keputusan yang baik.
Jadi, apa yang sudah kita pelajari hari ini?
Apa yang membuat kita tergerak
membuat pengorbanan untuk Yehuwa?
Bukan karena kewajiban atau untuk dilihat orang,
tapi karena kasih kita dan
rasa syukur kita kepada Yehuwa.
Keputusan yang kita buat
tidak hanya memuliakan Yehuwa,
tapi juga bisa memotivasi orang lain.
Semoga kita terus melayani
Yehuwa dengan sepenuh hati,
karena kita tahu Yehuwa menghargai
setiap pengorbanan yang kita buat.
-