00:00:01
Sebagai umat Yehuwa,00:00:03
00:00:03
kita tahu bahwa kita
tidak boleh mengandalkan diri sendiri,00:00:07
00:00:07
khususnya saat iman kita diuji.00:00:09
00:00:10
Seperti ayat harian hari ini,00:00:12
00:00:12
kalau kita mulai melihat suatu masalah
dari sudut pandang manusia,00:00:16
00:00:16
kita jadi tidak lagi mengandalkan Yehuwa
dan melupakan standar-Nya yang tinggi.00:00:21
00:00:21
Nah, waktu Setan menyerang iman kita
secara langsung atau frontal00:00:25
00:00:25
melalui tantangan atau penganiayaan,00:00:28
00:00:28
kita biasanya sudah siap,00:00:30
00:00:30
karena kita tahu prinsip Alkitab yang bisa bantu kita
menanggapi tantangan itu dengan cara yang benar.00:00:35
00:00:35
1 Petrus 3:15 mengingatkan kita00:00:38
00:00:38
bahwa kita harus ”selalu siap menjawab orang yang mempertanyakan harapan yang [kita] miliki.”00:00:43
00:00:43
Ini bukan berarti kita terlalu percaya diri
atau merasa diri lebih pintar dari orang lain.00:00:48
00:00:49
Tapi, itu artinya kita percaya
pada bimbingan Yehuwa dan hikmat-Nya. 00:00:53
00:00:53
Amsal 3:5, 6:00:00:55
00:00:55
”Percayalah kepada Yehuwa dengan sepenuh hatimu,
dan jangan andalkan pengertianmu sendiri.”00:01:01
00:01:01
Itu berarti saat kita percaya kepada Yehuwa,00:01:04
00:01:04
kita tidak akan dipengaruhi pikiran dunia ini,00:01:07
00:01:07
yaitu cara berpikir yang membuat orang
melakukan apa pun yang mereka inginkan. 00:01:11
00:01:12
Tapi, bagaimana kalau serangan yang kita hadapi itu
bukan serangan frontal,00:01:16
00:01:16
serangan yang tidak kita sadari,
mungkin itu datang dari keluarga?00:01:21
00:01:21
Bayangkan kalau situasi di keluarga kita sedang sulit,00:01:25
00:01:25
dan mereka membuat kita merasa bersalah.00:01:27
00:01:28
Itu bisa sangat menguras emosi kita,00:01:30
00:01:30
dan mungkin kita tidak siap
dengan serangan semacam itu. 00:01:34
00:01:34
Kita mungkin merasa00:01:36
00:01:36
ini hanya masalah biasa
yang sering terjadi di dalam keluarga.00:01:41
00:01:41
Yehuwa memahami kesulitan kita.00:01:44
00:01:44
Karena itu, Dia mencatat
contoh hamba-hamba-Nya yang setia,00:01:48
00:01:48
yang bertekun menghadapi kesulitan semacam itu. 00:01:51
00:01:52
Satu teladan yang bagus adalah Ayub.00:01:55
00:01:56
Kita tahu Ayub,
pria yang sangat berintegritas,00:02:00
00:02:00
mengalami banyak kesulitan.00:02:02
00:02:02
Tapi, tekanan yang paling berat
datang dari keluarganya sendiri,00:02:06
00:02:06
yaitu dari istrinya. 00:02:08
00:02:09
Waktu itu, Ayub dan istrinya
menghadapi ujian yang sangat berat.00:02:14
00:02:14
Mari kita baca kisahnya di Ayub 2:9.00:02:20
00:02:21
Ayub 2:9,00:02:23
00:02:23
waktu sedang berduka,00:02:25
00:02:25
istrinya mengatakan begini kepada Ayub:00:02:28
00:02:28
”Sampai kapan kamu mau
mempertahankan integritasmu dengan teguh?00:02:32
00:02:32
Kutuki saja Allah dan matilah!” 00:02:35
00:02:35
Ini adalah kata-kata
dari orang yang sedang berduka.00:02:39
00:02:39
Dia sebenarnya tidak bermaksud
mengatakan hal seperti itu.00:02:42
00:02:43
Itulah yang membuat keadaannya menjadi sulit.00:02:45
00:02:45
Ayub tidak sedang ditekan oleh musuhnya,00:02:48
00:02:48
dia ditekan oleh orang yang dia sayangi,
yaitu istrinya. 00:02:51
00:02:52
Pernahkah Saudara berada di situasi yang mirip?00:02:55
00:02:55
Mungkin orang tua Saudara
sedang dirawat di rumah sakit atau baru saja meninggal.00:03:00
00:03:00
Saat itu, semua orang sedang sedih dan berduka.00:03:03
00:03:03
Lalu keluarga Saudara,00:03:05
00:03:05
mungkin kakak atau adik Saudara, bilang,00:03:07
00:03:07
”Kenapa kamu gak sering-sering datang ke sini?”00:03:09
00:03:09
Atau, ”Kenapa kamu lebih mementingkan pelayananmu
daripada keluargamu sendiri?” 00:03:14
00:03:14
Kata-kata itu pasti menyakitkan
karena itu berasal dari orang yang kita sayang.00:03:19
00:03:19
Kita mungkin pikir,00:03:20
00:03:20
’Kenapa ya mereka ngomong begitu?00:03:22
00:03:22
Apa mereka gak tahu?00:03:24
00:03:24
Saya juga maunya sering-sering datang.00:03:26
00:03:26
Saya juga merasa bersalah
karena gak bisa banyak bantu orang tua saya.00:03:30
00:03:30
Saya gak bisa tidur
karena terus memikirkan mereka00:03:33
00:03:33
dan hanya bisa mendoakan mereka.’ 00:03:35
00:03:35
Di saat seperti itu,00:03:37
00:03:37
pikiran kita bisa dengan mudah
terpengaruh oleh perasaan kita.00:03:40
00:03:41
Nah, ujian yang Ayub hadapi
tidak hanya berasal dari istrinya.00:03:45
00:03:45
Dia juga harus menghadapi tekanan
dari tiga temannya, yaitu Elifaz, Bildad, dan Zofar.00:03:50
00:03:50
Elifaz menuduh Ayub melakukan sesuatu yang salah.00:03:53
00:03:53
Zofar menyuruh Ayub berhenti melakukan dosa.00:03:56
00:03:56
Dan, Bildad bahkan mengatakan
anak-anak Ayub mati karena dosa mereka sendiri.00:04:01
00:04:01
Mereka menyampaikan pikiran mereka sendiri,
bukan karena mengasihi atau peduli sama Ayub.00:04:07
00:04:07
Belakangan, di Ayub 42:7,
Yehuwa menegur Elifaz.00:04:11
00:04:11
Yehuwa bilang,
”Aku marah kepadamu dan kedua temanmu.00:04:15
00:04:15
Kalian tidak berkata benar tentang Aku,
tidak seperti hamba-Ku Ayub.” 00:04:20
00:04:21
Bukannya membantu Ayub,
mereka malah menyakiti hatinya.00:04:25
00:04:25
Nah sekarang, kita mungkin
menghadapi masalah yang sama.00:04:28
00:04:28
Mungkin bukan dari teman kita,00:04:30
00:04:30
tapi dari keluarga kita yang tidak seiman,
yang tidak menyembah Yehuwa. 00:04:34
00:04:35
Misalnya, kita mungkin sudah melayani
selama bertahun-tahun dalam tugas kita,00:04:39
00:04:39
tapi tiba-tiba tugas kita berubah atau berakhir,00:04:42
00:04:42
dan kita memutuskan untuk tetap melayani
dalam jenis pelayanan sepenuh waktu lainnya.00:04:48
00:04:48
Tapi bukannya didukung,
keluarga kita malah bilang,00:04:51
00:04:51
”Kamu masih mau jadi sukarelawan?00:04:54
00:04:54
Kenapa kamu gak cari kerjaan yang bagus
yang bisa jamin masa depanmu?” 00:04:58
00:04:59
Nah, keluarga kita mungkin tidak paham
kenapa kita memilih melayani Yehuwa sepenuh waktu.00:05:04
00:05:04
Dan kata-kata mereka bisa membuat kita
mempertanyakan keputusan kita,00:05:09
00:05:09
khususnya saat kita merasa kecil hati
waktu menghadapi perubahan tugas. 00:05:14
00:05:14
Tapi seperti teman-teman Ayub,
kata-kata mereka berasal dari pikiran manusia,00:05:19
00:05:19
bukan pikiran Yehuwa.00:05:21
00:05:21
Kalau kita mendengarkan kata-kata mereka,00:05:24
00:05:24
kita mungkin tidak lagi
mengikuti cara berpikir Yehuwa.00:05:27
00:05:27
Tekanan keluarga seperti ini bisa datang tiba-tiba,00:05:30
00:05:30
dan kita mungkin tidak siap menghadapinya. 00:05:33
00:05:33
Ayub ditekan oleh istri dan ketiga temannya,
tapi Ayub tidak menyerah pada tekanan.00:05:39
00:05:39
Ayub tetap setia kepada Yehuwa
meskipun dia tidak mengerti kenapa dia menderita.00:05:45
00:05:45
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari reaksi Ayub?00:05:48
00:05:48
Ada tiga hal yang bisa kita pelajari. 00:05:50
00:05:50
Pertama, kita bisa belajar dari Ayub
untuk bersandar pada hikmat Yehuwa,00:05:56
00:05:56
bukan pada perasaan kita sendiri.00:05:58
00:05:59
Sewaktu berduka,
istri Ayub memaksa dia untuk menyerah.00:06:03
00:06:03
Tapi, Ayub tidak bereaksi
dengan marah atau membela dirinya.00:06:08
00:06:08
Dia mengingatkan istrinya untuk
tetap percaya kepada Yehuwa. 00:06:11
00:06:11
Mari kita baca bersama
kata-kata Ayub yang dicatat di Ayub 2:10:00:06:17
00:06:17
”Ayub berkata, ’Kamu bicara seperti wanita bodoh.00:06:22
00:06:22
Apa kita hanya mau menerima
yang baik dari Allah yang benar,00:06:25
00:06:25
tapi tidak mau menerima yang buruk?’00:06:27
00:06:27
Meskipun mengalami semua itu,
Ayub tidak berbuat dosa dengan kata-katanya.” 00:06:33
00:06:33
Nah, Ayub tahu istrinya berkata seperti itu
karena sedang tertekan.00:06:38
00:06:38
Jadi Ayub tidak kesal,00:06:40
00:06:40
dia tidak terpancing untuk marah,00:06:42
00:06:42
karena dia tidak mau
bertindak mengikuti perasaannya.00:06:45
00:06:45
Sebaliknya, dia menanggapinya dengan tenang. 00:06:48
00:06:48
Sama seperti Ayub, kalau kita punya hikmat Yehuwa,00:06:52
00:06:52
kita bisa berempati saat orang yang kita sayangi
mengatakan sesuatu yang menyakiti kita.00:06:57
00:06:57
Kita tidak perlu tersinggung,00:06:59
00:06:59
kita justru perlu menunjukkan bahwa kita
mengasihi mereka dan percaya kepada Yehuwa. 00:07:05
00:07:06
Pelajaran yang kedua,00:07:07
00:07:07
Ayub menunjukkan bahwa dia bisa tetap setia00:07:10
00:07:10
meskipun dia tidak tahu kenapa keadaannya berubah.00:07:13
00:07:13
Kita tahu teman-teman Ayub
malah menuduhnya dan menasihati dia00:07:17
00:07:17
berdasarkan pikiran mereka sendiri.00:07:19
00:07:20
Saat itu, Ayub memang sedang sedih dan tertekan,
sampai-sampai dia ”bicara sembarangan”,00:07:26
00:07:26
tapi dia tetap bersyukur kepada Yehuwa. 00:07:29
00:07:29
Perhatikan apa yang dia katakan di Ayub 10:12. 00:07:34
00:07:36
Ayub 10:12:00:07:38
00:07:38
”Engkau memberiku kehidupan
dan mengasihiku dengan setia.00:07:42
00:07:42
Engkau memperhatikan aku
untuk menjaga nyawaku.”00:07:46
00:07:46
Di saat itu, dia tidak tahu
bagaimana Yehuwa akan membantunya.00:07:50
00:07:50
Dia merasa bingung, tidak berdaya,
tapi dia tetap percaya kepada Yehuwa. 00:07:56
00:07:56
Dia berkata kepada tiga temannya itu
bahwa dia mengasihi Yehuwa00:08:00
00:08:00
dan bersyukur atas apa yang sudah
Yehuwa berikan untuknya.00:08:04
00:08:04
Begitu juga, kalau kita
mengalami perubahan tugas,00:08:07
00:08:07
lalu kita juga mendapat tekanan
dari keluarga yang tidak seiman,00:08:11
00:08:11
kita bisa merasa tidak berdaya.00:08:14
00:08:14
Tapi, tetaplah tunjukkan
bahwa kita mengasihi Yehuwa00:08:18
00:08:18
dan bersyukur atas semua berkat-berkat-Nya.00:08:21
00:08:21
Keputusan kita untuk melayani Yehuwa00:08:23
00:08:23
kadang tidak dimengerti
oleh keluarga kita yang tidak seiman.00:08:27
00:08:27
Tapi ingatlah,00:08:28
00:08:28
Yehuwa sangat menghargai
keputusan yang kita buat untuk melayani-Nya. 00:08:32
00:08:32
Hal ketiga yang bisa kita pelajari
dari reaksi Ayub adalah00:08:36
00:08:36
pentingnya bersabar
menunggu Yehuwa bertindak.00:08:40
00:08:40
Kita tahu Ayub tetap setia
meskipun dia tidak tahu kenapa dia menderita.00:08:45
00:08:45
Nah, coba perhatikan
apa yang dia katakan di Ayub 19:25.00:08:51
00:08:52
Ayub 19:25:00:08:54
00:08:54
”Aku tahu betul bahwa aku punya seorang penebus.00:08:58
00:08:58
Dia akan datang nanti dan berdiri di atas bumi.” 00:09:01
00:09:02
Berapa lama penderitaan yang harus Ayub alami?00:09:05
00:09:05
Mungkin itu berlangsung beberapa bulan
atau kurang dari setahun.00:09:09
00:09:09
Tapi sesuai dengan ayat ini,00:09:12
00:09:12
Ayub yakin bahwa Yehuwa akan menebus dia
karena dia berharga di mata-Nya.00:09:17
00:09:17
Ini membantu Ayub bertekun
dan bersabar menunggu Yehuwa bertindak. 00:09:22
00:09:22
Nah, saat keadaan kita berubah,00:09:25
00:09:25
mungkin tugas kita berakhir, atau kita mengalami duka
karena orang yang kita kasihi meninggal,00:09:30
00:09:30
kita pasti butuh waktu untuk kembali bersukacita.00:09:34
00:09:34
Tapi seperti Ayub, kita mau bersabar
menunggu Yehuwa bertindak.00:09:39
00:09:39
Yakinlah, Yehuwa tidak akan pernah
melupakan kesetiaan kita,00:09:42
00:09:42
dan Dia menghargai ketekunan kita. 00:09:45
00:09:45
Teladan Ayub mengajarkan kita bahwa
waktu kita mendapat tekanan,00:09:49
00:09:49
khususnya dari orang terdekat kita,
itu bisa menjadi salah satu ujian iman terberat.00:09:54
00:09:54
Tapi, teladan Ayub juga mengajarkan kita
bahwa kita bisa tetap setia kepada Yehuwa00:09:59
00:09:59
meski menghadapi
keadaan tersulit dalam hidup kita.00:10:03
00:10:03
Di saat-saat seperti ini, sangat penting untuk
tidak bersandar pada perasaan kita sendiri.00:10:08
00:10:08
Sebaliknya, kita mau percaya pada hikmat Yehuwa.00:10:11
00:10:11
Kita mau tetap setia,
meski kita tidak tahu kenapa kita menderita.00:10:16
00:10:16
Bersabarlah menunggu Yehuwa,00:10:18
00:10:18
dan yakinlah bahwa
Dia menghargai ketekunan kita.00:10:21
00:10:21
Sama seperti Dia memberkati ketekunan Ayub,00:10:23
00:10:24
Dia juga akan memberkati ketekunan kita.00:10:27
Peter Price: Tetap Setia Meski di Bawah Tekanan (Ayb. 2:9, 10)
-
Peter Price: Tetap Setia Meski di Bawah Tekanan (Ayb. 2:9, 10)
Sebagai umat Yehuwa,
kita tahu bahwa kita
tidak boleh mengandalkan diri sendiri,
khususnya saat iman kita diuji.
Seperti ayat harian hari ini,
kalau kita mulai melihat suatu masalah
dari sudut pandang manusia,
kita jadi tidak lagi mengandalkan Yehuwa
dan melupakan standar-Nya yang tinggi.
Nah, waktu Setan menyerang iman kita
secara langsung atau frontal
melalui tantangan atau penganiayaan,
kita biasanya sudah siap,
karena kita tahu prinsip Alkitab yang bisa bantu kita
menanggapi tantangan itu dengan cara yang benar.
1 Petrus 3:15 mengingatkan kita
bahwa kita harus ”selalu siap menjawab orang yang mempertanyakan harapan yang [kita] miliki.”
Ini bukan berarti kita terlalu percaya diri
atau merasa diri lebih pintar dari orang lain.
Tapi, itu artinya kita percaya
pada bimbingan Yehuwa dan hikmat-Nya.
Amsal 3:5, 6:
”Percayalah kepada Yehuwa dengan sepenuh hatimu,
dan jangan andalkan pengertianmu sendiri.”
Itu berarti saat kita percaya kepada Yehuwa,
kita tidak akan dipengaruhi pikiran dunia ini,
yaitu cara berpikir yang membuat orang
melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Tapi, bagaimana kalau serangan yang kita hadapi itu
bukan serangan frontal,
serangan yang tidak kita sadari,
mungkin itu datang dari keluarga?
Bayangkan kalau situasi di keluarga kita sedang sulit,
dan mereka membuat kita merasa bersalah.
Itu bisa sangat menguras emosi kita,
dan mungkin kita tidak siap
dengan serangan semacam itu.
Kita mungkin merasa
ini hanya masalah biasa
yang sering terjadi di dalam keluarga.
Yehuwa memahami kesulitan kita.
Karena itu, Dia mencatat
contoh hamba-hamba-Nya yang setia,
yang bertekun menghadapi kesulitan semacam itu.
Satu teladan yang bagus adalah Ayub.
Kita tahu Ayub,
pria yang sangat berintegritas,
mengalami banyak kesulitan.
Tapi, tekanan yang paling berat
datang dari keluarganya sendiri,
yaitu dari istrinya.
Waktu itu, Ayub dan istrinya
menghadapi ujian yang sangat berat.
Mari kita baca kisahnya di Ayub 2:9.
Ayub 2:9,
waktu sedang berduka,
istrinya mengatakan begini kepada Ayub:
”Sampai kapan kamu mau
mempertahankan integritasmu dengan teguh?
Kutuki saja Allah dan matilah!”
Ini adalah kata-kata
dari orang yang sedang berduka.
Dia sebenarnya tidak bermaksud
mengatakan hal seperti itu.
Itulah yang membuat keadaannya menjadi sulit.
Ayub tidak sedang ditekan oleh musuhnya,
dia ditekan oleh orang yang dia sayangi,
yaitu istrinya.
Pernahkah Saudara berada di situasi yang mirip?
Mungkin orang tua Saudara
sedang dirawat di rumah sakit atau baru saja meninggal.
Saat itu, semua orang sedang sedih dan berduka.
Lalu keluarga Saudara,
mungkin kakak atau adik Saudara, bilang,
”Kenapa kamu gak sering-sering datang ke sini?”
Atau, ”Kenapa kamu lebih mementingkan pelayananmu
daripada keluargamu sendiri?”
Kata-kata itu pasti menyakitkan
karena itu berasal dari orang yang kita sayang.
Kita mungkin pikir,
’Kenapa ya mereka ngomong begitu?
Apa mereka gak tahu?
Saya juga maunya sering-sering datang.
Saya juga merasa bersalah
karena gak bisa banyak bantu orang tua saya.
Saya gak bisa tidur
karena terus memikirkan mereka
dan hanya bisa mendoakan mereka.’
Di saat seperti itu,
pikiran kita bisa dengan mudah
terpengaruh oleh perasaan kita.
Nah, ujian yang Ayub hadapi
tidak hanya berasal dari istrinya.
Dia juga harus menghadapi tekanan
dari tiga temannya, yaitu Elifaz, Bildad, dan Zofar.
Elifaz menuduh Ayub melakukan sesuatu yang salah.
Zofar menyuruh Ayub berhenti melakukan dosa.
Dan, Bildad bahkan mengatakan
anak-anak Ayub mati karena dosa mereka sendiri.
Mereka menyampaikan pikiran mereka sendiri,
bukan karena mengasihi atau peduli sama Ayub.
Belakangan, di Ayub 42:7,
Yehuwa menegur Elifaz.
Yehuwa bilang,
”Aku marah kepadamu dan kedua temanmu.
Kalian tidak berkata benar tentang Aku,
tidak seperti hamba-Ku Ayub.”
Bukannya membantu Ayub,
mereka malah menyakiti hatinya.
Nah sekarang, kita mungkin
menghadapi masalah yang sama.
Mungkin bukan dari teman kita,
tapi dari keluarga kita yang tidak seiman,
yang tidak menyembah Yehuwa.
Misalnya, kita mungkin sudah melayani
selama bertahun-tahun dalam tugas kita,
tapi tiba-tiba tugas kita berubah atau berakhir,
dan kita memutuskan untuk tetap melayani
dalam jenis pelayanan sepenuh waktu lainnya.
Tapi bukannya didukung,
keluarga kita malah bilang,
”Kamu masih mau jadi sukarelawan?
Kenapa kamu gak cari kerjaan yang bagus
yang bisa jamin masa depanmu?”
Nah, keluarga kita mungkin tidak paham
kenapa kita memilih melayani Yehuwa sepenuh waktu.
Dan kata-kata mereka bisa membuat kita
mempertanyakan keputusan kita,
khususnya saat kita merasa kecil hati
waktu menghadapi perubahan tugas.
Tapi seperti teman-teman Ayub,
kata-kata mereka berasal dari pikiran manusia,
bukan pikiran Yehuwa.
Kalau kita mendengarkan kata-kata mereka,
kita mungkin tidak lagi
mengikuti cara berpikir Yehuwa.
Tekanan keluarga seperti ini bisa datang tiba-tiba,
dan kita mungkin tidak siap menghadapinya.
Ayub ditekan oleh istri dan ketiga temannya,
tapi Ayub tidak menyerah pada tekanan.
Ayub tetap setia kepada Yehuwa
meskipun dia tidak mengerti kenapa dia menderita.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari reaksi Ayub?
Ada tiga hal yang bisa kita pelajari.
Pertama, kita bisa belajar dari Ayub
untuk bersandar pada hikmat Yehuwa,
bukan pada perasaan kita sendiri.
Sewaktu berduka,
istri Ayub memaksa dia untuk menyerah.
Tapi, Ayub tidak bereaksi
dengan marah atau membela dirinya.
Dia mengingatkan istrinya untuk
tetap percaya kepada Yehuwa.
Mari kita baca bersama
kata-kata Ayub yang dicatat di Ayub 2:10:
”Ayub berkata, ’Kamu bicara seperti wanita bodoh.
Apa kita hanya mau menerima
yang baik dari Allah yang benar,
tapi tidak mau menerima yang buruk?’
Meskipun mengalami semua itu,
Ayub tidak berbuat dosa dengan kata-katanya.”
Nah, Ayub tahu istrinya berkata seperti itu
karena sedang tertekan.
Jadi Ayub tidak kesal,
dia tidak terpancing untuk marah,
karena dia tidak mau
bertindak mengikuti perasaannya.
Sebaliknya, dia menanggapinya dengan tenang.
Sama seperti Ayub, kalau kita punya hikmat Yehuwa,
kita bisa berempati saat orang yang kita sayangi
mengatakan sesuatu yang menyakiti kita.
Kita tidak perlu tersinggung,
kita justru perlu menunjukkan bahwa kita
mengasihi mereka dan percaya kepada Yehuwa.
Pelajaran yang kedua,
Ayub menunjukkan bahwa dia bisa tetap setia
meskipun dia tidak tahu kenapa keadaannya berubah.
Kita tahu teman-teman Ayub
malah menuduhnya dan menasihati dia
berdasarkan pikiran mereka sendiri.
Saat itu, Ayub memang sedang sedih dan tertekan,
sampai-sampai dia ”bicara sembarangan”,
tapi dia tetap bersyukur kepada Yehuwa.
Perhatikan apa yang dia katakan di Ayub 10:12.
Ayub 10:12:
”Engkau memberiku kehidupan
dan mengasihiku dengan setia.
Engkau memperhatikan aku
untuk menjaga nyawaku.”
Di saat itu, dia tidak tahu
bagaimana Yehuwa akan membantunya.
Dia merasa bingung, tidak berdaya,
tapi dia tetap percaya kepada Yehuwa.
Dia berkata kepada tiga temannya itu
bahwa dia mengasihi Yehuwa
dan bersyukur atas apa yang sudah
Yehuwa berikan untuknya.
Begitu juga, kalau kita
mengalami perubahan tugas,
lalu kita juga mendapat tekanan
dari keluarga yang tidak seiman,
kita bisa merasa tidak berdaya.
Tapi, tetaplah tunjukkan
bahwa kita mengasihi Yehuwa
dan bersyukur atas semua berkat-berkat-Nya.
Keputusan kita untuk melayani Yehuwa
kadang tidak dimengerti
oleh keluarga kita yang tidak seiman.
Tapi ingatlah,
Yehuwa sangat menghargai
keputusan yang kita buat untuk melayani-Nya.
Hal ketiga yang bisa kita pelajari
dari reaksi Ayub adalah
pentingnya bersabar
menunggu Yehuwa bertindak.
Kita tahu Ayub tetap setia
meskipun dia tidak tahu kenapa dia menderita.
Nah, coba perhatikan
apa yang dia katakan di Ayub 19:25.
Ayub 19:25:
”Aku tahu betul bahwa aku punya seorang penebus.
Dia akan datang nanti dan berdiri di atas bumi.”
Berapa lama penderitaan yang harus Ayub alami?
Mungkin itu berlangsung beberapa bulan
atau kurang dari setahun.
Tapi sesuai dengan ayat ini,
Ayub yakin bahwa Yehuwa akan menebus dia
karena dia berharga di mata-Nya.
Ini membantu Ayub bertekun
dan bersabar menunggu Yehuwa bertindak.
Nah, saat keadaan kita berubah,
mungkin tugas kita berakhir, atau kita mengalami duka
karena orang yang kita kasihi meninggal,
kita pasti butuh waktu untuk kembali bersukacita.
Tapi seperti Ayub, kita mau bersabar
menunggu Yehuwa bertindak.
Yakinlah, Yehuwa tidak akan pernah
melupakan kesetiaan kita,
dan Dia menghargai ketekunan kita.
Teladan Ayub mengajarkan kita bahwa
waktu kita mendapat tekanan,
khususnya dari orang terdekat kita,
itu bisa menjadi salah satu ujian iman terberat.
Tapi, teladan Ayub juga mengajarkan kita
bahwa kita bisa tetap setia kepada Yehuwa
meski menghadapi
keadaan tersulit dalam hidup kita.
Di saat-saat seperti ini, sangat penting untuk
tidak bersandar pada perasaan kita sendiri.
Sebaliknya, kita mau percaya pada hikmat Yehuwa.
Kita mau tetap setia,
meski kita tidak tahu kenapa kita menderita.
Bersabarlah menunggu Yehuwa,
dan yakinlah bahwa
Dia menghargai ketekunan kita.
Sama seperti Dia memberkati ketekunan Ayub,
Dia juga akan memberkati ketekunan kita.
-